
Rasanya langit seperti mau runtuh, tulang- tulang mereka seperti mau putus. Mereka berjalan tanpa rasa. Tuan Didik diam seribu bahasa. Bahkan ke Intan pun Tuan Didik bingung mau berkata apa.
Ya inilah kehidupan. Banyak hal yang bisa yang terjadi tanpa kita mengerti sebelumnya. Tapi semua menjelaskan, bahwa kejahatan selalu berakhir menghinakan. Dan kebaikan akan selalu beridiri tegak dalam tempatnya. Mau seperti apapun keadaanya.
Setelah menyadari kesalahanya. Tuan Didik kemudian tersenyum, mendapatkan sedikit asa untuk tetap hidup dan mengangkat wajahnya. Setidaknya meski malu, meski menyesal, Tuhan masih memberinya kesempatan hidup dan bernafas.
Dan buat Tuan Didik sekarang, waktu adalah peluang sebelum dia menyesal jika pergi ke dunia tanpa melakukan apa- apa. Tuan Didik yakin Alya mempunyai hati yang tulus seperti kakaknya, Budi Satrio. Tuan Didik ingin meminta kesempatan pada Alya.
“Nak” panggil Tuan Didik saat mereka menuggu taksi online datang.
“Kenapa papah tidak pernah cerita ka Intan kalau Intan punya sepupu Pah?” jawab Intan terhadap panggilan papahnya merasa jengkel.
Tapi Intan sendiri menyadari, dirinya dan keluarganya, semuanya memang busuk dari dulu.
“Maafkan Papah. Apa nak Alya sudah menghubungimu lagi?” tanya Tuan Didik.
“Belum sih Pah!”
“Kamu tadi dengar kan? Entah ada masalah apa dengan kematian anak asuh Gunawijaya. Tapi Nak Alya sekarang dirawat, kenapa tidak kita jenguk saja dia” tutur Tuan Didik masih bertekad ingin menemui Alya.
“Tapi Alya dijagain Ardi Pah. Ardi lebih seram dari tante Rita dan ibunya Alya” jawab Intan.
“Tapi Papah ingin beritahu kenyataan ini ke Nak Alya sebelum Nurmala mengatakanya. Papah ingin minta maaf”
“Pah...yang ada Alya akan marah dan benci Papah. Coba Papah pikirkan kalau Alya tau, kakek dan nenek yang dulu usir Ibu Alya dari rumah? Yang terbaik buat kita, kita benahi hidup kita Pah. Jangan buat mereka semakin benci ke kita. Itu sudah cukup” tutur Intan menasehati papahnya.
Tidak lama taksi yang mereka pesan datang. Intan pun segera masuk. Di dalam taksi mereka saling terdiam dengan pendapatnya masing- masing.
Jika Intan berfikir malu bertemu Alya, Intan ingin hidup baik dan mnghindar untuk selamanya. Berbeda dengan Tuan Didik, dia ingin menemui Alya secepatnya, memeluknya sebagai om yang baik. Berterima kasih dan meminta maaf.
Om Didik juga ingin meminta pengampunan dosanya ke Ayah dan ibu Alya melalui Alya. Bahkan Om Didik ingin menawarkan sisa hidupnya untuk melakukan apapun asal Alya mau menerima dan memaafkanya.
__ADS_1
****
Rumah Sakit Gery
“Benarkah Nurmala besan Aryo?”
Di lantai teratas rumah sakit elit, di ruangan besar dan megah. Seorang laki- laki paruh baya yang garis wajahnya masih menampakan ketampanan tampak berputar- putar di kursi kebesaranya.
Hari itu dia kembali mendelegasikan jadwal operasinya pada juniornya. Selepas jogging tadi pagi, Dokter Nando hanya diam dan terus memikirkan perkataan menantunya tempo hari.
Dan sekarang di tempat kerjanya, selama berjam- jam Dokter Nando juga hanya duduk dengan tangan mengetuk- ngetuk meja dan menengadahkan kepalanya.
“Apa sepeninggal Trio kamu terus sendiri? Apa salah jika aku sekarang mendekatimu lagi?” batin Dokter Nando tiba- tiba.
Lalu dokter Nando mengambil fotonya di laci kerjanya. Di situ ada foto ibu Geri. Saat sebelum meninggal, ibu Gery sudah pernah berpesan pada dokter Nando.
“Hal yang paling aku takutkan, bukan aku takut menghadapi waktuku, tapi aku takut kau akan kesepian tanpaku. Aku tidak mau kau terlalu bersedih karena kepergianku sayang”
“Waktuku sudah tidak banyak lagi. Berjanjilah padaku, kau akan bahagia tanpaku, berjanjilah hidupmu tidak akan kesepian tanpaku, menikahlah dengan orang yang kamu cinta”
Kata – kata terakhir ibu Gery selalu terngiang di kepala dan ingatan Dokter Nando. Meski Dokter Nando dan ibu Gery menikah karena perjodohan, tapi Dokter Nando tidak salah pilih. Ibu Gery sangat mencintainya, sayangnya Tuhan berkehendak lain, mengambil ibu Dokter Gery lebih dulu.
Karena ketulusan dan kebaikan Ibu Gery, hal itu yang justru membuat Dokter Nando selama ini selalu canggung dan merasa bersalah jika hendak menjalin hubungan dengan perempuan.
Meskipun sejatinya sebagai naluri normalnya laki- laki Dokter Nando butuh istri, pendamping dan penghangat di setiap hari harinya. Apalagi dokter Nando hidup sendiri.
Dan kini setelah Gery menikah. Dokter Nando mulai memikirkan pesan istrinya. Ditambah pertemuanya dengan Bu Nurma, Mirna Nurmala Sari. Mahasiswa yang tanpa sengaja bertemu denganya di terminal.
Saat itu Bu Mirna baru datang ke Jakarta, Dokter Nando sendiri habis bertengkar dengan si Bandot Bayu. Dokter Nando babak belur ditemui Bu Mirna ditolongnya. Mereka berkenalan dan berteman baik.
Tapi sayangnya Dokter Nando tidak pernah mengungkapkan perasaanya. Dia hanya selalu menjadi malaikat penjaga Bu Mirna. Yang selalu ada saat Bu Mirna butuh, berkedok sebagai sahabat.
__ADS_1
Hingga pada suatu waktu, Bu Mirna magang di perusahaan keluarga Intan. Bu Mirna bertemu dengan Pak Dhenya Intan.
Dan langsung tancap gas, Tuan Budi Satrio dari awal bertemu dengan Bu Mirna tanpa ragu mendekati dan mengungkapkan ketertarikanya. Sampai akhirnya Bu Mirna mantap menerima Tuan Budi Satrio sebagai suaminya.
Dokter Nando pun hanya bisa gigit jari, mengikhlaskan gadis cantik yang dia anggap sebagai sahabatnya menikah dengan temanya. Hingga terdengar kabar keluarga Satrio bertengkar, Bu Mirna memilih meninggalkan Jakarta dan pulang ke kampung Bu Mirna.
“Aku harus pastikan siapa menantu Nurma” batin Dokter Nando lagi.
Kemudian Dokter Nando ingat undangan Ardi. Dokter Nando kemudian bergegas meninggalkan ruanganya. Sampai saat di depan pintu dokter Nando bertabrakan dengan salah satu stafnya.
“Mohon maaf Dok, hari ini ada jadwal meeting bersama para dokter spesialis untuk meluncurkan program tambahan rumah sakit kita” tutur salah satu staf Dokter Nando.
“Cancel dulu” jawab Dokter Nando singkat saking gupuhnya.
Dokter Nando ingin segera memeriksa undangan Ardi dan memastikan siapa nama mertua Ardi.
Tidak memakai sopir, Dokter Nando melajukan mobilnya sendiri dengan cepat.
“Ck, astaga kenapa lampu merah segala sih?” umpat Dokter Nnado tidak sabar gelisah dan dheg- dhegan.
Kenapa tidak dari kemarin Dokter Nnado memeriksa undangan dari Ardi.
Saat lampu menyala hijau dokter Nando langsung tancap gas, sampai hampir menabrak seorang pengendara motor. Pokoknya Dokter Nando harus menemukan Bu Mirna. Karena bertemu dengannya lagi seperti keajaiban.
Dan setelah menempuh perjalanan yang melelahkan Doker Nando sampai di rumah. Segera dia mencari kartu undangan itu. Akhirnya undangan itu sampai di tanganya. Mata Dokter Nando kemudian berkeliling ke setiap kata di dalam undangan itu dengan perasaan berdebar- debar.
“Hah....ternyata” seketika dokter Nando menghela nafasnya lega dan terduduk di sofa. Dokter Nando menyunggingkan senyum semangatnya. Seakan menghidupkan sel- sel di dalam tubuhnya agar hidup muda kembali.
“Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku harus menemuinya!” batin Dokter Nando memegang undangan resepsi Ardi.
Lalu dengan semangat Dokter Nando bangun, kembali mengambil kunci mobilnya. Dokter Nando pergi mencari pakaian dan sepatu terbaik untuk dirinya esok hari.
__ADS_1