
"Meskipun ibuku mengijinkan, aku tidak" jawab Ardi ketus.
"Sudah kuduga" jawab Alya lirih.
"Apa katamu?" tanya Ardi
"Secepatnya aku akan mencari kos-kosan, jangan khawatir!" jawab Alya.
"Enak saja!" jawab Ardi mode dingin.
Mendengar perkataan itu membuat kuping Alya gatel tidak mengerti kenapa Ardi menjawab begitu.
"Terus?" tanya Alya kesal.
"Meskipun ibuku yang mengijinkan, tapi apartemen ini miliku"
"Aku tau!" jawab Alya tidak kalah ketus
"Kamu bahkan tinggal di sini tanpa sepengetahuanku"
"Ya itu bukan salahku, tanya saja sama ibumu" jawab Alya tidak mau disalahkan.
"Aku tidak peduli, yang tinggal di sini kan kamu"
"Ya! Oke! Aku salah karena menerima tawaran Bu Rita tinggal di sini. Secepatnya aku akan pergi!".
"Enak aja!" jawab Ardi ketus lagi.
"Terus mau kamu apa?" jawab Alya kesal.
"Sewa tinggal di apartemen perharinya 5 juta, kalikan saja sudah berapa lama kamu tinggal, itu utang yang harus kamu lunasi baru boleh pergi!"
"Apa! Yang benar saja! Tidak ada aturan seperti itu. Aku tidak terima!" jawab Alya tegas.
"Yang punya apartemen ini siapa?"
"Kamu!"
"Pintar! Berarti yang berhak diikuti aturanya di apartemen ini siapa?"
"Haiiiishhh" Alya menggigit bibir bawahnya karena kesal.
"*Bahkan vampir rasa serigala ini lebih menyebalkan dari dokter gila itu*". Gumam Alya sambil menatap sinis ke Ardi.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Ardi tidak terima ditatap dengan tatapan sinis.
"Nggak, aku tidak terima peraturan sinting ini. Aku akan telp Bu Rita sekarang juga!" ancam Alya tidak sadar kalau dia belum punya handphone, selain pemberian dr. Gery.
"Jangan!" cegah Ardi.
"Kenapa?"
"Untuk apa kamu menelfon ibuku?"
"Tentu saja membelaku keluar dari peraturan sintingmu".
"Baiklah aku turunkan penawaranku"
"Apa-apaan? Nggak! Nggak ada tawar-tawaran, secepatnya aku akan cari kos!"
"Kamu boleh tinggal di sini, asal setiap aku ke sini sediakan makanan untukku. Dan kamu bersihkan apartemen ini setiap hari" jawab Ardi.
Alya menarik nafas dalam melihat Ardi.
"Memang kamu tidak ingin tinggal di sini lagi?" tanya Alya melunak.
__ADS_1
"Nggak"
"Terus kenapa kamu malam-malam kesini?"
"Aku baru pulang kerja, tidak jauh dari sini. Aku juga menghindari ibuku, dia sangat ingin menjodohkanku"
"Hemmmm, apa Bu Rita tau kamu kesini?" tanya Alya.
"Tentu saja tidak, untuk apa aku memberitahunya"
"Ya ampun, benar-benar ya! Bahkan wajahmu tidak sesuai dengan otakmu" omel Alya ke Ardi.
"Apa kamu bilang? Kamu menghinaku?"
"Ya! Kamu sangat kekanakan, wajahmu saja yang terlihat tua dan seram" ejek Alya. Padahal ingin bilang kalau wajahnya terlihat gagah, cool, manly dan berwibawa.
Mendengar perkataan Alya, Ardi menepuk pipinya "Apa aku terlihat seram?"
"Ya, seperti serigala! Tapi sikapmu sangat kekanakan, Bu Rita melakukan hal seperti itu karena sangat menghkhawatirkanmu, kamu sudah tua tapi tidak berfikir juga, kenapa juga harus kabur-kabur"
"Kurang ajar! Apa maksudmu bilang begitu, kamu bahkan belum mengenalku" jawab Ardi.
"Terus malam ini? Apa kamu akan menginap di sini?"
"Tentu saja ini kan apartemenku"
"Hah?"
"Kenapa kaget begitu?"
"Itu berarti kita akan bermalam di sini berdua?" tanya Alya.
"Terserah kamu lah. Kalau kamu mau menginap di luar dan pergi silahkan, kalau mau tidur sini ya silahkan tidur di luar" jawab Ardi menunjuk sofa bed depan tv.
"Hmmmmm" Alya mencengkeram kotak P3K lalu keluar dari kamar Ardi.
Alya meletakan kotak itu di tempatnya, lalu duduk di sofabed depan televisi.
"Bahkan di luar hujan deras" gumam Alya memandangi dinding kaca.
"Aku tidak bisa pergi -pergi, apa aku tidur di rumah sakit? Aku telp Anya dan Dinda saja"
Tanpa pikir panjang Alya langsung mengambil tas yang dia taruh di lemari dekat televisi. Diambilnya bingkisan hp dari Gery.
Kali ini Alya tidak banyak pertimbangan. Alya mengambil Handphone dari Gery dan menyalakan tombol on nya. Lalu ponsel itu menyala. Benar saja apa yang dikatakan Anya dan Dinda. Ternyata sudah siap pakai. Bahkan Gery sudah mencoba menghubungi Alya beberapa kali. Alya kaget mendapati pesan beruntun dari Gery.
"Dokter Alya.."
"Sungguh saya menyesal, saya ingin minta maaf, bisa temui saya di kantin jam 1 siang nanti"
"Dokter Alya, saya sungguh minta maaf atas semua salahku , pakailah hp ini, sebagai permintaan maafku"
"Dokter Alya, saya dengar hari ini jaga malam. Boleh saya ke ruangan?"
"Dokter Alya Apa yang Mira lakukan padamu"
"Katakan padaku jika dia menyakitimu"
"Dokter Alya, bisakah bertemu di kantin jam 1 "
"Baiklah dokter Alya.
Mungkin kesalahan saya terlalu besar. Saya merasa sangat bersalah karena membuatmu menangis malam itu. Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Tapi saya mohon sekali lagi ijinkan saya menemuimu. Terimalah permohonan maafku. Saat pesanku ini dibuka. saya berharap itu artinya kamu memaafkanku".
"Banyak sekali pesanya, ternyata dia menungguku?" gumam Alya dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba aku menjadi kasian ya?"
"Aku harus telp Anya, Anya bilang tinggal di daerah sini"
Alya mengambil buku catatan kecilnya mencari nomer telepon orang-orang yang Alya kenal. Alya mencatat nomer teman-temanya dan menyimpannya di ponsel baru itu. Begitu juga nomer bu Rita dan Bu Mirna yang Alya minta waktu itu.
"Thuuuuuut thuuuuuut" Alya mencoba menelfon Anya dan Dinda. Setelah berkali - kali telfon hasilnya Nihil. Alya melihat jam di ponsel barunya, "01.15"
"Hmmm pantas saja Dinda dan Anya nggak angkat telp. Mereka sudah terlelap. Itu Artinya tidak ada pilihan lain, malam ini aku tidur di sini berdua dengan serigala itu, semoga aku tidak dimakanya" gumam Alya berniat tidur di ruang tengah.
"Liaaan" panggil Ardi dari dalam kamar.
"Iya" jawab Alya dari ruang tengah. "Benar saja kan dia mulai berulah" gumam Alya mendengar teriakan Ardi.
"Ambilkan aku minum"
"Ambil saja sendiri" jawab Alya. "Punya kaki kenapa nyuruh-nyuruh, emang siapa dia?" gerutu Alya lirih
"Saya mendengarnya. Pinggangku sakit, besok saya akan rontgen kalau ada apa-apa.." omongan Ardi terputus.
"Iya yaa. Saya ambilkan!" sahut Alya. Alya bangun dari duduknya lalu ke dapur mengambil minum. Setelah itu masuk ke kamar memberikan pada majikan dadakannya.
"Ini minumnya Tuan Serigala" ucap Alya lirih memberikan minum.
"Apa kamu bilang?"
"Nggak!"
Ardi meraih segelas air putih yang diberikan Alya lalu meminumnya. Setelah itu memberikan gelas ke Alya lagi. Menyuruh Alya meletakan di meja. Malam itu Alya benar-benar seperti pelayan.
"Bawa ini... sudah malam tidurlah" ucap Ardi memberikan bantal dan selimut.
Alya menerima bantal dan selimut yang diberikan Ardi.
"Terima kasih" jawab Alya
"Tidak gratis" jawab Ardi
"Heh" sahut Alya kaget lalu menoleh ke Ardi.
"Bantu aku ke kamar mandi pinggangku sakit sekali"
"Maksudmu? Aku harus memapahmu ke kamar mandi? Nggak mau! "
"Aku begini bahkan karena ulahmu. Ya sudah aku kencing di sini!" jawab Ardi mengancam.
"Ya.. ya..!" akhirnya Alya membantu Ardi. Ardi berusaha berdiri sambil mengelus pinggangnya yang ngilu, karena jatuh didorong Alya dan membentur kayu. Tapi sebenernya ngilunya sudah jauh berkurang daripada tadi.
Ardi sengaja iseng dan ingin dekat- dekat dengan Alya. Yang tiba- tiba menjadi candu untuk selalu dia lihat. Ardi pun meraih bahu Alya, Alya meraih pinggang Ardi, dan mereka berjalan ke berdampingan kamar mandi di dalam kamar.
"Ibu.... ampuni aku, ternyata anak Tante Rita ini sangat menyebalkan, di malam selarut ini Alya masih berduaan dengan laki-laki buu" ucap Alya dalam hati merasa bersalah, sambil memapah badan besar di sampingnya itu.
"Kenapa aku suka sekali mencium bau rambutnya, rambutnya indah, panjang hitam dan lebat. Kenapa bukan dia perempuan yang mamah mau kenalkan ke aku?" gumam Ardi dalam hati, karena setau Ardi perempuan yang mau dikenalkan Mama Rita sedang menginap di rumah Mama Rita.
"Aku tidak perlu masuk kan?" tanya Alya cemberut berhenti di depan pintu.
"Tidak, kamu tunggu aku di sini" jawab Ardi sambil meraih gagang pintu, berjalan tertatih. Lalu Ardi masuk ke kamar mandi menunaikan hajatnya.
Ardi memandangi kamar mandinya yang sudah dua tahun tidak dia datangi. "Bahkan dia membajak kamar mandiku" gumam Ardi, melihat ada pot tanaman kecil menggantung di pojokan kamar mandi. Ardi juga menangkap ada bungkusan benda berbentuk kotak-kotak seperti roti di laci bawah wastafel.
"Menjijikan sekali berbagi kamar mandi dengan perempuan, bukankan ini pembalut? Jadi dia sedang datang bulan? Apartemenku benar-benar sudah dikuasainya, kenapa bisa mama membiarkan dia di sini, tanpa memberitahuku?"
Saat Ardi di kamar mandi, Alya mengambil kesempatan, Alya mengambil beberapa pakaian panjang dan jilbabnya dari lemari.
"Tuan, saya sudah ngantuk sekali. Saya rasa anda bisa berjalan sendiri" teriak Alya di depan pintu penuh penekanan. Lalu Alya meninggalkan kamar dan pergi tidur di depan televisi. Alya mengganti pakaian pendeknya dengan pakaian panjang.
__ADS_1