
"Hai Dokter Alya" panggil Dokter Gery yang duduk di depan ruang magang Dokter Alya.
"Hai juga Dok?" jawab Alya keluar dari ruangan dengan wajah sayunya.
"Mau pulang nih?"
"Iyah" jawab Alya memegang lebih erat tasnya tas punggungnya.
"Boleh aku antar nggak?"
"Nggak usah Dok, tempat Alya deket kok. Jalan kaki nyampe" jawab Alya.
"Oh ya. Kalau boleh tau mang tinggal dimana?"
"Di apartemen depan" jawab Alya mulai terbuka dengan Gery.
"Apartemen Megayu?" tanya dokter Gery.
"Iya"
"Waah, ternyata, kenapa baru tau ya? Kalau dokter Alya tinggal disitu? Jadi malam itu?"
"He... Nggak usah dibahas. Saya emang tidak pernah ada yang jemput" Alya menjawab tersenyum.
"Boleh main nggak?" tanya Dokter Gery masih berusaha deketin Alya.
"Maaf Dok, saya mau istirahat capek pasien semalam rewel" jawab Alya menolak.
"Dulu temenku ada yang tinggal di situ juga" ucap Dokter Gery.
"Oh ya? Apa sekarang masih? Tinggal di lantai berapa?" tanya Alya.
"Lupa, udah lama, udah nggak di situ sih" jawab Gery, karena memang Ardi sudah tinggal di istana Tuan Aryo.
"Ooh, kirain? Ya sudah Dok, saya permisi pulang dulu, pengen cepet- ceper tidur"
"Ok, hati-hati yaa". "Hemmm gagal lagi deh" Gery ngebatin kecewa melihat Alya pergi.
"Makasih Dok! Daah" jawab Alya menganggukan kepala, dan melambaikan tangan meninggalkan
dr. Gery.
"Hari ini capek sekali, untung libur, tapi aku mau langsung tidur, aku nggak mau masak, beli sarapan dulu ah" guman Alya dalam hati saat melewati kantin rumah sakit.
"Woy...." sapa Dokter Anya melihat Alya tengah duduk dengan sepiring nasi rames.
"Ya ampun aku kira sapa, kaget akunya" jawab Alya.
"Tumben lo sarapan di kantin? Biasanya kan lo masak!"
"Capek aku tuh, pasiennya penuh, abis ni bersih-bersih langsung tidur" jawab Alya lalu melanjutkan makanya.
"Gue tadi liat lu ngobrol sama Dokter Gery, lo dah jadian belon sih?"
"Ish, kenapa selalu tanya itu? Berapa kali aku jelasin, aku berdamai denganya untuk jadi sahabat aja!"
"Sayang tau, lo tolak Dokter ganteng, tajir, baik begitu" cibir Anya menyesalkan keputusan Alya.
__ADS_1
Tapi Alya tetep melanjutkan mengunyah makanannya tanpa memperdulikan Anya.
"Apa lo udah punya pacar di Jogja?" tanya Anya kepo lagi.
Mendengar pertanyaan Anya yang agak aneh Alya menghentikan makanya dan menjawab pertanyaan Dokter Anya.
"Aku nggak punya pacar, dan kalaupun aku terima Dokter Gery, aku nggak bakalan diijinin sama ibuku"
"Kenapa? Harusnya ibu lo seneng dong, lo dapet jodoh ganteng tajir gitu?"
"Aku juga nggak ngerti. Intinya aku nggak boleh pacaran sebelum aku kerja jadi dokter beneran"
"Ya ampun Alya, polos banget si loh, hari ini gini masih kek gitu, emang kalo lo pacaran di sini ibu lo tau? Nggak kan?"
"Tapi tetep aja. Perasaan kita nggak enak Anya! Udah sih nggak usah bahas begituan"
"Jadi lo beneran belum pernah pacaran?"
"Huum!" jawab Alya mengangguk.
"Yah lo berarti belum pernah ciuman dong?" tanya Anya kegirangan
"Hiissh, Sstt! Apa siih? Nggak usah teriak- teriak, malu tau bahas gituan ih, udah ah aku mau makan"
*****
Seperti hari sebelumnya, Ardi bangun pagi-pagi mandi dan bersiap ke kantor. Ardi langsung pergi tanpa pamit dan tidak lagi menunggu papa dan mamahnya turun untuk sarapan bersama. Bahkan dia melupakan untuk sarapan di rumah.
Tuan Aryo yang duduk di balkon kamar pagi itu, melihat mobil Ardi meninggalkan gerbang rumah pukul 06.00 pagi. Jam yang tidak wajar mengingat jarak kantor dan rumah yang dekat. Pak Aryo mengambil ponselnya, menghubungi orang kepercayaanya untuk mengikuti Ardi, tanpa diketahui istri dan anaknya.
"Pagi Pak Yon" sapa Ardi ke satpam apartemen yang selalu berjodoh ketemu Ardi.
"Pagi Den, ada perlu lagi nih?" tanya Pak Yon meledek.
"He. Iya Pak" Ardi hanya tersenyum sambil berlalu.
Ardi menuju lantai 7, tempat apartemen sederhananya yang dia beli sendiri dengan uangnya. Ya meski menurut Alya apartemen itu mewah tapi sebenarnya Ardi yang sekarang punya dan mampu membeli apartemen yang jauh lebih besar, bahkan Tuan Aryo menaruh saham di beberapa apartemen mewah di kota itu.
"Thing Thong" Ardi memencet Bel. Menunggu sejenak tapi tidak dibukakan pintu.
"Thing Thong" Ardi kembali memencet bel dan menunggu lagi. "Apa dia sedang mandi? Kenapa lama sekali?"
"Thing Thong" Untuk ketiga kalinya Ardi memencet bel. Tidak juga ada tanda-tanda dibukakan pintu.
"Apa aku masuk saja? Ah tapi nanti dia marah? Apa dia masih tidur? Parah sekali, sudahlah aku masuk saja" Karena kesal akhirnya Ardi nekat masuk ke apartemen.
"Thit thit thit thit thit thit" Ardi memencet password apartemen
"Pagi" sapa Ardi di ruang tamu takut Alya marah kalau langsung masuk, padahal Ardi yang punya apartemen.
"Lian, Berlian" panggil Ardi lagi mencari jawaban. Tapi ternyata nihil. Lalu Ardi masuk ke ruang tengah, melihat ke dapur sepi, lalu ke kamar.
"Thok thok" Ardi mengetok pintu kamar karena tidak ingin dikatai penjahat lagi. Tapi sama saja tidak ada jawaban. Akhirnya dia membuka pintunya dan ternyata sepi tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia.
"Apa dia benar- benar pergi dan mencari kos. Bahkan aku belum tau dimana dia magang? Dan berapa no handhphon_nya" gumam Ardi, lalu merebahkan badanya di kasur miliknya yang kini sudah ditempati Alya.
"Huuuft dia menggemaskan sekali" Ardi melihat langit-langit kamar mengingat pertama kali bertemu dengan Alya di kamar itu. Bosan sendiri Ardi turun meninggalkan apartemen.
__ADS_1
"Kok cepet amat Den?" tanya Pak Yon.
"Kosong Pak" jawab Ardi.
"Den Ardi nyari Non Lian?"
"Iya. Kemana dia emang Pak?"
"Non Lian tadi malam berangkat malam Den, dia belum pulang"
"Oh emang dia kerja dimana Pak?"
"Lhoh Den Ardi belum tahu?"
"Belum makanya saya tanya"
"Non Lian kan Dokter Den, katanya sih masih magang, di RSUD depan" jawab Pak Yon menunjuk ke arah rumah sakit di seberang jalan.
"Oh gitu?" Ardi mengangguk tanda mengerti. "Ya udah makasih Pak, sampaiin ya nanti saya kesini lagi"
"Ya Den"
Ardipun masuk ke Ferari merahnya dan meninggalkan apartemen menuju ke kantornya. "Kalau gitu Lian satu rumah sakit dong sama Gery, Gery kan lagi di rumah sakit itu juga, apa gue tanya Gery ya?" gumam Ardi sambil melajukan ferarinya.
Lalu Ardi mengambil earphone dan menghubungi Gery
"Halo boss, tumben lo telp pagi-pagi"
"Gue mau tanya sama lo, kenal Dokter Lian nggak, di rumah sakit lo kerja sekarang?"
"Nggak ada tuh, nggak ada Dokter Lian" jawab Gery singkat
"Berlian namanya" sambung Ardi.
"Nggak ada boss , gue baru denger, pastiin dulu dia dokter apa? Beneran dokter, perawat, apoteker atau apa, kan banyak bro"
"Ya udah makasih" Ardi langsung mematikan ponselnya kesal.
"Tambah penasaran gue, dia bilang di sini nggak ada saudara dan belum lama di sini, siapa Lian? Kenapa gue pengen liat dia terus sih? Apa gue tanya ke mamah. Ah tapi gue males ribut , mamah ribet" gumam Ardi melajukan mobilnya menuju ke kantor.
*****
"Tuan muda sudah meninggalkan apartemen Tuan" ketik anak buah Tuan Aryo.
"Lanjutkan pekerjaanmu"
Tuan Aryo membaca pesan whastapnya. Lalu meletakan ponselya kembali ke saku.
"Papah chatingan sama siapa sih? Serius banget ekspresinya?" tanya Bu Rita yang sedang mengambilkan sepatu kerjanya.
"Biasa Mah"
"Hemm, kapan papah libur lagi? Mamah pengen jalan- jalan Pah"
Tuan Aryo tersenyum membelai rambut istrinya.
"Secepatnya Mah, setelah urusan papah selesai, kita liburan ke tempat yang mama pengin".
__ADS_1