
Setelah mendapat penjelasan dari istrinya. Wajah Ardi yang sempat sembuh dari kemuraman datang lagi. Ibu mertuanya sakit, itu berarti dia juga harus bertanggung jawab mengurusnya. Ardi tidak langsung menyalakan mesin mobil. Tapi menghela nafas mencari solusi. Ardi mengambil ponsel dan menghubungi karyawanya.
"Mas mau telpon siapa? Ayo jalan!" ucap Lian mulai kesal lagi mengingat waktu sudah siang.
"Pake jet nya papah ya? Mas hubungi karyawan Papa dulu"
"Hah?" Alya dan Anya terbengong spontan bersamaan. Anya tidak menyangka mertua temanya punya jet pribadi.
"Iyah, biar cepet, nyaman juga" jawab Ardi mantap.
"Nggaklah Mas" jawab Lian menolak
"Kenapa sayang? Ini demi kamu, demi anak kita"
"Lian nggak suka naik pesawat. Nanti malah Lian mual, naik kereta juga cepet kok. Nyaman juga" jawab Lian jujur, karena Lian memang tidak terbiasa. Lian bepergian paling jauh hanya Semarang itu juga keperluan koas.
Ardi menghela nafas melihat istrinya. Rasanya pengen nguwel-uwel dan merenas pipinya. Ditawari pake yang lebih bagus dan cepet tapi nggak mau.
"Oke" jawab Ardi sudah lelah tidak mau berdebat. Lalu mereka ke stasiun.
Sepanjang jalan Alya terdiam, Anya asik sendiri dengan ponselnya di belakang. Ardi menyetir sesekali melirik ke istrinya. Bayangan Ardi melihat Alya berduaan dengan Farid kembali muncul, tapi Ardi juga tau ada raut kesedihan di wajah istrinya.
"Ehm" Ardi berdehem memancing Alya buyar dari lamunanya.
Alya masih diam menatap ke jalan. Membayangkan perempuan paruh baya dengan senyum khasnya. Senyum terhangat sedunia yang menjadi sumber kekuatan bahagia.
Alya membayangkan perempuan tua itu sekarang berbaring dengan selang infus di tangan sendirian. Padahal biasanya aktif menggendong teggok berjalan ke pasar. Tubuh yang aktif mengayunkan cangkul menanam sayuran kini lemah tak berdaya. Alya tidak sanggup membayangkannya.
Ada rasa bersalah di hati Alya. Alya berhutang dengan janjinya, pulang ke Jogja. Bekerja di puskesmas atau RS terdekat, merawat ibunya setiap saat, menemani hari-hari ibunya yang kesepian. Membuka pratek mandiri di rumah, mempermudah tetangganya mendapat pertolongan pertama.
Tapi sekarang, Alya tinggal di tempat yang jauh. Bahkan ada kehidupan di perutnya yang harus dia perjuangkan. Perjalanannya sekarang saja mengancam nyawa makhluk di perutnya.
Belum lagi status Alya sekarang, setiap saat dan tindakan harus Alya utuskan berdasar keputusan suaminya. Hidup Alya sekarang bergantung dan terikat dengan manusia yang baru dia kenal. Laki-laki yang bahkan belum Alya kenali dengan baik.
Kalau saja Alya belum menikah, Alya bisa langsung cus kemana-mana sendiri. Pulang pergi naik apa aja terserah Alya, tidak memikirkan bahaya apa nggak. Nggak memikirkan boleh apa nggak tanpa bertanya pada siapapun. Alya menghela nafasnya menyadari statusnya sekarang berbeda.
"Apa ibu mau diajak ke Jakarta? Atau aku yang harus menetap di Jogja lagi?" sekarang otak Alya dipenuhi pertanyaan tentang ibunya. Bayangan perempuan cantik yang menempel pada suaminya tenggelam dan hempas entah kemana. Alya tidak peduli lagi kemarahanya tadi pagi.
"Ehm" Ardi berdehem lebih keras berusaha membuat istrinya menoleh. Ardi tidak tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya. Dan ternyata berhasil, Alya menoleh ke suaminya.
"Apa sih Mas? Ham hem ham hem? Mas radang? Atau haus?" tanya Alya ketus.
"Ngelamun terus? Sama suami nggak pernah lembut atau ceria" ucap Ardi lirih dan setengah mencibir. Ardi ingin mencairkan suasana. Tapi salah sasaran.
Alya menghela nafas. Di saat Alya sedih, suaminya malah menyuruh Alya ceria. Tentu saja macan tidur Alya bangun.
"Maksud nya apa Mas? Mas mau bilang Lian istri durhaka iya?"
"Nggak sayang, nggak gitu maksudnya, ck" jawab Ardi berdecak tidak berkutik sambil menggaruk rambutnya. Niatnya menghibur Alya malah salah paham.
"Terus maksudnya apa? Tadi pagi sebelum mas pergi juga Lian udah ramah sama Mas, Lian udah usaha buat jadi istri yang baik. Lia juga udah patuhi Mas. Masih juga Lian selalu salah!" Lian mulai mode on. Perkataan Ardi hanya satu membuat Alya mengeluarkan banyak kalimat.
Lian merasa, dirinya mengikuti kemana Ardi tinggal, belajar memahaminya dan melayaninya itu bentuk patuh. Berbeda dengan patuh yang Ardi harapkan. Harus mengkuti semua perkataanya.
Mendengar kata patuh, telinga Ardi tergelitik. Emosi yang tertahan nongol. Patuh apaan, Alya selalu mendebat dan beralasan jika Ardi membuat peraturan. Bahkan Ardi lebih banyak mendengarkan dan mengikuti mau Alya. Dan hari ini Alya melanggar aturan Ardi keluar rumah.
"Patuh?" tanya Ardi membuka bahan pertikaian.
Alya diam gelagapan. Dia menyadari juga hari ini sudah melanggar perintah Ardi.
"Ehm" jawab Alya membuang muka dan berdehem tau dirinya salah.
__ADS_1
"Wajar dan salah nggak ya? Perempuan bersuami pergi meninggalkan rumah dengan laki-laki lain?" sindir Ardi mencengkeram stir.
Alya menelan salivanya. "Tuh kan bener, mode serigala suaminya mulai bangun. Siap-siap nih bakal ada peraturan gila lagi" batin Alya mencari benteng pertahanan agar Alya tetap merasa benar.
"Di sini yang seharusnya dipertanyakan siapa? Lian udah nolak Kak Farid Mas, Lian telpon Mas nggak diangkat, Lian ijin sama Mas, dibaca nggak? Dan Mas sadar nggak kenapa Kak Farid sampai jemput Lian?" tanya Alya menyebutkan kesalahan Ardi.
Giliran Ardi sekarang tidak berkutik karena memang Ardi salah.
"Mas udah jelasin ke Kak Farid, siapa Lian di hidup Mas? Hah? Belum kan? Aku siapa sih sebenarnya di hidup Mas? Istri mas siapa sih? Hah?" lanjut Alya melampiaskan emosinya.
"Lian!" jawab Ardi setengah membentak Alya sedikit tersinggung. Bagaiman Alya bisa bertanya seperti itu, padahal menurut pemikiran Ardi, Ardi sudah selalu memikirkan Lian dalam segala hal. Lian prioritas Ardi sekarang. Kenapa tidak juga paham.
Ardi dan Lian sama-sama menelan ludah menahan emosinya menyadari di belakang ada Anya. Ardi sadar tidak seharusnya bertengkar di depan orang lain.
"Mas nggak bisa jawab kan? Mas belum jelasin ke Kak Farid kan? Mas malu kan akuin Lian sebagai istri Mas?" lanjut Lian menyerbu Ardi dengan pertanyaan tidak jelas. Berbeda dengan Lian, Ardi yang memilih diam.
Ardi memang benar salah belum jelasin ke Farid. Tapi Ardi juga sangat tidak terima dibilang malu mengakui Lia sebagai istri. Bahkan Ardi sudah umumkan di depan umum betapa bangganya Ardi memiliki Lian. Sayangnya Lian tidak mendengar dan mengetahuinya.
"Lian!" bentak Ardi lebih keras membuat Anya ikut kaget dan berdebaran jantungnya.
Alya langsung diam menahan emosi dan air matanya hampir menetes lagi. Ardi memelankan mobilnya dan mencari parkir karena mereka sudah sampai di stasiun. Ardi masih diam, karena merasa bukan sekarang waktunya menjelaskan. Apalagi ada Anya di belakang.
"Tunggu di sini. Mas yang pesan!" ucap Ardi dingin tidak peduli Alya meneteskan air mata. Lalu Ardi keluar dan menanyakan tiket ke jogja.
Alya menyeka air matanya. Rasanya belum puas melampiaskan kekesalanya. Bahkan Ardi tidak minta maaf. Ardi juga tidak menjawab pertanyaan Alya. Ardi juga tidak mengeluarkan pernyataan yang meyakinkan dan menenangkan Alya. Alya berfikir Ardi benar-benar memang malu mengakuinya sebagai istri di hadapan Farid dan orang panti karena ada Intan.
"Al" panggil Anya merasa takut melihat kawanya berantem.
Alya hanya meneteskan air mata lagi.Tidak menjawab panggilan Anya.
"Lo tenang dong. Gue nggak nyangka lo bisa seberani itu ke suami lo. Gue salah ya ikut kalian? Apa gue balik aja?" ucap Anya merasa tidak nyaman.
"Nggak Anya. Aku yang minta maaf. Aku nggak bisa kontrol emosiku. Mas Ardi emang keterlaluan dia, nggak pernah ngerti perasaan ku. Tetep ikut yah!"
Alya diam menunduk. Alya dari awal ketemu Ardi memang tidak pernah takut, malah Alya gebugin. Alya hanya menghormati Ardi di beberapa waktu menyadari Ardi suaminya.
Tapi di banyak hal Alya merasa pemikiran Ardi sangat konyol dan tidak masuk akal, Alya selalu tidak bisa mngerti mau Ardi. Latar belakang Ardi dan Alya berbeda jauh. Tapi mereka berdua sama-sama anak tunggal, sifatnya sama keras. Pemikiran Ardi selalu membuat Alya marah. Meskipun Alya sendiri juga salah.
"Dosa Al. Marah-marah ke suami" ucap Anya lagi lirih.
"Aku cuma pengen dia sadar dan tau kesalahanya. Ya aku salah kasar ke suami sendiri" jawab Alya lirih.
Dari luar Ardi mendekat dan membuka mobil lalu masuk dan duduk lagi. Lalu menyalakan mesin mobil tanpa bicara.
"Kok nyalain mobil lagi Mas?" tanya Alya dengan nada berbeda. Seharusnya kan mereka keluar dan turun.
"Kereta yang ke Jogja udah berangkat. Ada lagi besok" jawab Ardi dingin.
Mata Alya dan Anya melotot kaget. Lalu Alya mengambil ponselnya, memastikan lagi di pemesanan kereta api online.
"Mas masih banyak kursi ke Jogja!" sanggah Alya dengan mimik serius.
"Masih banyak kelas ekonomi sama bisnis" jawab Ardi memutar mobil hendak keluar.
"Terus mau Mas apa?" tanya Alya tidak mengerti.
"Mas pesen yang luxury atau priority, udah berangkat"
"Astaga!" umpat Alya kesal dan ingin menjerit sekencang-kencangnya. Di saat genting begini masih bahas masalah kelas kereta. Sementara Ardi dengan muka datar memberi uang parkiran.
"Balik nggak! Atau Lian turun dan lompat!" ancam Alya setelah Ardi keluar dari parkiran rumah sakit. Ardi hanya diam.
__ADS_1
"Mas!" bentak Alya. Lalu Ardi menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Balik sekarang. Terserah kalau mas nggak mau naik ekonomi dan nggak ikut, Lian bisa pergi bareng Anya atau bahkan Lian pulang sendiri!" ucap Lian sambil menangis. Lian benar- benar tidak tahu manusia macam apa yang jadi suaminya ini.
"Mas nggak mau sayang kamu berdesak-desakan sama orang banyak, Oke? Kita pergi! tapi naik jet papa aja, ya!" jawab Ardi berusaha menahan emosi tidak bertengkar.
"Astaghfirulloh Mas. Lian mual naik pesawat. Nggak ada kereta sesak jaman sekarang. Semua nyaman Kita duduk di kursi masing-masing. Lian mau ketemu ibu Mas, Ibu sakit!"
"Nggak berdesakan gimana? Tempat duduknya gitu? Namanya juga kendaraan umum. Mas nggak mau kamu kenapa-kenapa"
"Ya ampun Mas. Mas itu lebay. Please Mas, Lian sehat, Lian nggak apa-apa. Lian nyaman naik keretea. Ini ibu mas. Ibu Lian. Ibu sakit, ibu sendirian di rumah sakit. Mengertilah!" jawab Lian sambil terisak.
Ardi diam menatap istrinya. Mencoba memahami istrinya. Ardi mengalah lagi.
"Oke" jawab Ardi lalu mereka kembali putar balik dan masuk ke stasiun.
Sekarang mereka bertiga turun. Dan memesan tiket. Ternyata tiket bisnis yang tadi masih ada sekarag tinggal satu. Yang masih banyak tinggal kelas ekonomi.
"Maaf, Tuan yang kelas binis tinggal tersisa dua. Itu juga berlainan gerbong" jawab pelayan kereta.
"Haish" jawab Ardi mengusap rambutnya kasar.
"Nggak apa-apa Bu, yang ekonomi aja, saya pesan tiga kursi yang berdekatan" jawab Alya memotong. Ardi menatap gusar istrinya. Tidak bisa membayangkan selama berjam-berjam berbagi tempat duduk dengan banyak orang.
"Pesan 8 kursi" jawab Ardi menimpali.
Anya dan Alya melotot melihatnya. Ardi langsung mengeluarkan uang. Karena kursi ekonomi masih sisa banyak pelayan pun mengangguk. Setelah membayar dan menunjukan identitas mereka masuk ke ruang tunggu. Alya dan Anya masih menatap heran ke Ardi.
Ardi menghubungi Pak Rudi mengurus mobilnya.
"Pantas saja mereka berantem terus, suami Alya memang aneh" batin Anya memegang tasnya, hidup berumah tangga ternyata tak seindah pacaran. Anya kira Alya beruntung dapat suami kaya dan ganteng. Tapi ternyata sifatnya aneh.
Setelah semua beres mereka masuk menunggu kereta datang. Alya yang masih marah diam mengatur nafasnya. Alya duduk di samping suaminya. Karena suaminya sangat lebay, Alya tidak boleh duduk berjauhan. Harus selalu menempel.
"Mas belum jawab pertanyaanku! Dan sekarang apa maksudnya, pesan 8 kursi?" tanya Alya jengkel.
"Yang penting kita jenguk ibu dulu. Nggak usah mikir aneh-aneh. Sekarang buka ponselmu, kamu belum baca pesan mas kan?" jawab Ardi malas menjelaskan kalau Ardi sudah mengumumkan pernikahanya. Bagaimana bisa dikatai malu mengakui Alya.
Alya menunduk karena dia memang belum membaca pesan dengan baik. Alya membuka pesanya, membaca pesan dari suaminya. Suaminya sudah mengumumkan pernikahanya. Tepat beberapa saat setelah Alya meninggalkan acara. Alya menatap suaminya merasa bersalah.
"Benar Mas udah umumin aku istri Mas?" tanya Alya lirih.
"Emem" jawab Ardi mengangguk mengusap kepala Alya lembut. "Kita adain resepsi setelah mama pulang dan ibumu sehat" jawab Ardi meyakinkan Alya.
Alya menunduk menyadari dirinya salah. Lalu teringat Intan dan perkataan pengurus panti.
"Perempuan berambut panjang pakai dress biru itu siapa, dia selalu di samping Mas?" tanya Alya lirih. Ardi kaget mendengarnya ternyata Alya sempat melihat Intan.
"Dia Intan, mantan Mas, Mas udah pernah cerita kan?"
"Baju seragam yang dibagikan ke pengurus panti, itu apa? Terus kenapa aku baru liat dia?"
"Hemmmm" Ardi mengela nafas melihat sekeliling.
"Dia datang ke Mas, dia minta pekerjaan" terang Ardi singkat. Lalu melihat jam tangan.
"Jadwal kereta masih 40 menit lagi. Cari makan yuk. Sholat sekalian" ajak Ardi lembut.
Alya mengangguk dan mengajak Anya sholat dan beli makan.
*****
__ADS_1
Selamat ulang tahun buat Indonesia. Salam Merdeka dari keluarga Gunawijaya. Doakan mereka berubah dewasa bersama ya.
Salam juga dari sahabat-sahabat Ardi. Happy reading.