
Untuk mempersingkat waktu, dan karena kamar mandi di rumah Lian sudah di dalam. Lian juga pernah mendengar mandi bersama suami itu pahalanya banyak. Lian dan Ardi mandi bersama.
Pagi itu Ardi seperti lampu senter yang baru selesai dicharge. Menyala terang. Ardi terlihat sangat cerah dan bersemangat. Berbeda dengan Lian, matanya tampak kosong, wajahnya tampak gusar. Jangan sampai kecerobohanya terbuai sentuhan suaminya itu berakibat buruk.
Ardi mengulurkan tanganya dan berbalik ke belakang seusai sholat. Lian yang masih melamun tidak menyadari kalau suaminya mengajaknya bersalaman.
"Ehm" Ardi mendehem melihat Lian masih melamun.
"Yang" panggil Ardi mengulurkan tangan karena Lian masih belum menoleh.
Mendengar panggilan Ardi, Lian menoleh dan mencium tangan suaminya.
"Ada apa sih? Kok lemes gitu" tanya Ardi peduli.
"Lian takut Mas" tutur Lian mengungkapkan kekhawatiranya.
"Haish, bawel dibilangin. Udah nggak usah dipikirin. Ibadah, nyenengin suami juga kok disesali" jawab Ardi menghibur Lian.
"Seharusnya kan bisa tanpa masuk mas, kalau ada apa-apa gimana?"
"Bahas lagi. Emang kamu sakit? Emang perutmu kontraksi? Mules? Nggak kan?"
"Nggak sih"
"Ya udah. Udah terjadi, nggak usah disesali, nggak usah negatif thingking. Apa mau diulangi?"
"Heem" jawab Lian memanyunkan bibir. "Maunya" cibir Lian melepas mukenahnya.
"Senyum dong! Enjoy, rileks aja" ledek Ardi pingin istrinya tenang semua akan baik-baik saja.
"Mas mau minum apa? Teh? Kopi atau jahe?" tanya Lian mengalihkan pemicaraan, hendak ke dapur membuat air untuk suaminya.
"Ada yang selain itu nggak?" tanya Ardi membercandai istrinya.
"Hum?"
"Nggak. Canda. Mas mau tidur lagi aja"
"Kok tidur lagi? Nggak baik mas tidur abis subuh gini?" tutur Lian menasehati suaminya.
"Mas semalem nggak bisa tidur Yang, bentar aja yah! Nanti kalau udah siap ke ibu bangunin Mas"
"Ya udah Lian udah siap, ayok ke rumah sakit sekarang" jawab Lian tidak mau suaminya tidur lagi.
"Ya nggak bisa gitu. Mas udah booking Dika buat jadi tour guiede kita. Dika datang nanti jam 8"
"Hemmm, kasian ibu mas kelamaan sendirian kalau sampai jam 8"
"Ibu pasti ngerti kok, udah ya, mas mau istirahat. Bentar aja!"
"Ya udah mas mau makan apa? Biar Lian masakin"
"Terserah, masakan Lian apa aja mas suka"
"Lian mau ke pasar mas, beneran nggak ada pesenan apa gitu?"
"Hah? Apa? Mau ke pasar?" tanya Ardi kaget lalu bangun tidak jadi tidur.
"Iya. Lian mau masakin ibu sama Anya juga"
"Nggak! nggak nggak! Kamu nggak boleh ke pasar!"
"Ishh, terus mau sarapan sama apa? Kasian Anya Mas, Mas nggak kasian juga sama Lian sama anak mas di perut Lian?
"Haduh, tetap saja mas khawatir. Di pasar kan kotor sayang banyak orang juga. Banyak preman. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana?"
"Astaghfirulloh, Mas. Lebay deh sukanya! Sebelum kenal mas, Lian tiap hari ke pasar bantu ibu jualan, pasar di sini nggak ada preman"
"Hemmm"
"Boleh ya!"
"Nggak. Pesan grab aja. Apa nanti pesen Dika?"
"Apa? Grabfood? Gofood? Hahaha aduh mas mas. Ini bukan Jakarta. Kita di desa mas"
"Ya Jogja kan juga kota"
"Tapi kan kita di gunungnya. Sok aja nyari ojek online yang kesambung dari sini ada apa nggak? Kalaupun ada sampai sini jam berapa? Coba dicek makanan apa jam segini yang bisa didelivery order?"
"Hemm, dulu kayaknya masaknya cuma ambil di depan rumah"
"Dulu halamanya belum dibangun rumah banyak sayuran. Tuh sekarang tempat nanem sayuranya udah mas jadiin kamar"
"Ya udah boleh. Tapi Mas ikut"
"He...." Alya tersenyum lebar menatap suaminya. Sementara Ardi menatap kesal tidak jadi tidur.
__ADS_1
"Kasih pajak dulu"
"Pajak?" tanya Alya heran
"Hemmm" jawab Ardi menepuk pipi minta dicium.
"Ck. Ya!" jawab Alya mencibir tapi tetap mengabulkan permintaan suaminya. Lalu mencium pipi suaminya sambil berjinjit karena bahagia.
"Gitu kan manis" tutur Ardi bahagia lalu mereka memakai baju bersiap ke pasar kecil di dekat rumah Alya.
"Anya diajak nggak ya mas?" tanya Alya ke Ardi.
"Yang penting pamit aja, biar nggak nyariin. Mas tunggu di depan" jawab Ardi menasehati.
"Oke" jawab Alya mengangguk, Alya berjalan ke kamar Anya.
"Thok thok.. Anya" panggil Alya tidak ada sahutan.
"Thok thok" Alya kembali mengetok pintu tidak ada jawaban lagi.
"Thok thok. Nyaa. Kamu udah bangun kan?" tanya Alya lagi. Tapi tetap tidak ada sahutan. Alya memutar gagang pintu ternyata tidak dikunci. Alya kemudian masuk, ternyata Anya udah nggak ada di kamarnya.
"Anya kemana?" gumam Alya berfikir. Lalu mengintip dari jendela kamar melihat ke depan rumah. Hanya terlihat Ardi duduk di teras sendirian.
"Di depan nggak ada, apa Anya di belakang?" gumam Alya lagi lalu berinisiatif ke rumah belakang dan mencari Anya. Kebetulan di rumah bagian belakang juga ada pintu dan taman kecilnya, di situ ada kolam ikanya.
"Anya" panggil Alya melihat Anya sedang duduk sambil telponan. Anya pun melepas headsetnya.
"Hai. Tuh Alya" Ucap Anya mengarahkan kamera ponsel ke Alya. Ternyata sedang telponan dengan Dinda.
"Hai Dindaa" sapa Alya ramah.
"Ahh kalian jahat. Liburan nggak ajak-ajak curaang"
"Kita nggak liburan kok, ibu aku sakit. Kamu kapan libur. Nyusul sinih" jawab Alya lagi.
"Ah. pasien IGD banyak banget. Heactingan semua, dari kemarin kasusnya kll luka luar. Bete gue! Kalian malah enak-enakan, huh" omel Dinda merasa terabaikan.
"Lo turun jaga kan? Cus pesen kereta gue jemput tar sore" sahut Anya ke Dinda.
Anya masih punya waktu satu setengah hari di Jogja sebelum lusa harus berangkat jaga malam lagi.
"Gue belon tidur nyong" jawab Dinda baru selesai jaga malam.
"Tidur di kereta aja. Buru. Gue nggak mau tau. Ntar sore sampe Jogja" jawab Anya memaksa Dinda menyusul.
"Iya Din. Kita tunggu di sini" imbuh Alya.
"Gitu dong. Daah sayangkuuh. Nanti malam kita seneng-seneng" jawab Anya ke Dinda.
Lalu mereka menutup telepon. Alya dan Anya berpandangan tertawa bersama. Akhirnya mereka bertiga bisa main bareng.
"Aku mau ke pasar mau ikut nggak?" tanya Alya mengajak Anya.
"Nggak! Ogah gue jadi obat nyamuk, lo sama suami lo kan?" tanya Anya.
"Kok kamu tau?" tanya Alya heran darimana Anya tau Ardi di rumah, kan belum ketemu.
"Gue denger lo teriak, sebelum subuh"
"Ternyata kamu denger? Maaf ya? He" tutur Alya malu.
"Dengerlah. Lo bikin gue panik. Taunya lagi enak-enak" jawab Anya lagi sambil mencibir.
"Ehm. Ehm" Alya sedikit gerogi "Maksud kamu?"
"Makanya lain kali tuh tutup pintunya baik-baik, jadi nggak kedengeran sampai luar. Gue denger lo teriak. Gue kira lo kenapa? Gue nyamperin lo ke kamar lo, untung aja gue nggak keburu masuk" jawab Anya menjelaskan.
Alya menelan salivanya. Benarkah pintunya terbuka? Alya tidak memperhatikan itu semua. Tapi nggak mungkin kan Anya dengar dan lihat bagian itu. "Ah, kenapa selalu ceroboh sih?" gumam Alya menggigit bibirnya menahan malu.
"Kamu lihat aku? Liat apa? He..." tanya Alya pelan dan ragu
"Hmmm, awalnya gue cuma mau mastiin lo kenapa? Ternyata ada suami lo? Gue terus ke kamar mandi belakang, pas gue mau balik lagi ke kamar. Ya gue denger dan liat lagi lah. Salah siapa nggak ditutup pintunya, bukan salah gue dong" tutur Anya jujur.
"Hee...." jawab Alya nyengir dan mukanya merah padam.
"Udah sono. Suami lo nungguin tuh!"
"Kamu jangan cerita-cerita ya? Kamu nggak liatin lama kan?" bisik Alya malu.
"Lama! Gue videoin" jawab Anya meledek.
"Ishh"
"Nggak, nggak. Malu juga kali gue liat lo begituan. Gue cuma lewat sekilas. Cuma liat punggung suami lo dan kaki lo, gue langsung masuk kamar pake headset. Makanya lain kali hati-hati. Ingat ada gue!"
"Iya ya"
__ADS_1
"Udah sono pergi"
"Aku tinggal dulu ya" pamit Alya mencengkeram tanganya siap ngomel ke suaminya. Alya berjalan keluar. Menghampiri Ardi.
"Mas"
"Apa sayang?"
"Tadi pagi mas nggak nutup pintu yah? Anya liat kita. Lian malu mas"
"Mas lupa" jawab Ardi merasa santai.
"Maas! Kok gitu ekspresinya. Lian malu"
"Udah terjadi juga. Udahlah biarin, suer mas lupa kalau ada Anya di rumah. Udah nggak usah dibahas ayo ke pasar keburu siang"
"Ish"
Alya dan Ardi pun pergi ke pasar bersama naik motor Lian. Mereka berdua menikmati suasana pagi di lereng gunung merapi. Melewati jalanan di tengah-tengah perkebunan. Sampailah ke pasar kecil di kampung Lian. Mata Lian berbinar-binar melihat banyak sayuran segar.
Alya teringat ibunya di rumah sakit. Alya harus memilih masakan sehat dan disukai ibunya. Pasti Bu Mirna rindu masakan Alya.
Kemudian Alya memilih membuatkan tempe bacem dan sup daging, dibawa ke rumah sakit. Sementara untuk sarapan di rumah bersama Anya dan suaminya, Alya membeli sate kelinci dan jajanan pasar. Alya berbelanja dengan semangat. Berbeda dengan Ardi yang tampak kesal.
"Udah sih Yang. Pulang yuk" keluh Ardi kesal menenteng tas belanjaan.
"Bentar Mas, Lian pengen beli jajanan" jawab Alya menuju ke tempat penjual makanan.
"Nanti nggak mateng lho kelamaan belanja" omel Ardi lagi sudah tidak nyaman di pasar.
"Ya bentar abis ini pulang" jawab Alya di depan penjual klepon dan jaddah. Alyapun membeli camilan tradisional itu. Setelahnya mereka pulang ke rumah.
"Udah ya mas mau rebahan" tutur Ardi meletakan belanjaan
"Ih, sini aja, bantuin Lian dulu" sanggah Alya mencegah suaminya pergi.
"Bantuin apa lagi?"
"Bantuin masak, he" jawab Lian tersenyum nakal.
"Anya aja sih!" jawab Ardi menolak.
"Liat tuh Anya udah nyapu Mas. Bagi tugas! Motong-motong doang kok. Ini dicuci terus dipotong-potong. Lian bikin bumbu sama masak ini" jawab Alya menyerahkan beberap bahan makanan.
"Ck. Ya.. " jawab Ardi lemas tidak bisa menolak lagi.
Sekitar 40 menit. Lian dan Ardi bekerja sama membuat bekal menjenguk ibunya. Setelah masakan dibungkus rapih, siap dibawa. Mereka bertiga sarapan bersama.
"Al. Agung nunggu gue di kampusnya. Gue nggak tau arah. Dari sini gue naik apa ya? Jauh nggak dari rumah sakit tempat ibu lo dirawat ke kampusnya Agung?" tanya Anya tiba-tiba setelah selesai makan.
"Kamu ikut kita ke rumah sakit dulu aja. Nanti dari rumah sakit bisa pesen taksi online" jawab Alya memberitahu.
Mendengar percakapan istri dan kawanya Ardi mengepalkan tanganya. Mengeratkan rahangnya dan memikirkan sesuatu.
"Ehm. Sayang, Dokter Anya" panggil Ardi serius dengan tatapan dewasanya.
"Ya mas" jawab Alya lembut.
Anya juga ikut menatap ke suami sahabatnya yang 5 tahun lebih tua itu dengan tatapan hormat.
"Karena Dokter Anya ke sini bareng kita. Mas ngrasa bertanggung jawab sebagai wali Dokter Anya di sini" tutur Ardi serius.
Anya memperhatikan kata-kata Ardi dengan seksama dan bertanya-tanya. Mau ada apa, tiba-tiba Tuan Ardi bicara formal begitu.
"Maksudnya?" tanya Alya mulai merasa ada hawa-hawa aneh yang bakal dilakukan Ardi. Alya yang mulai paham sifat Ardi merasa sedikit curiga akan ada sesuatu yang konyol.
"Mas nggak mau disalahin orang tua Dokter Anya, kalau terjadi apa-apa dengan dia selama di Jogja bareng kita. Jadi tolong, Dokter Anya patuhi aturan dari saya" lanjut Ardi mantap.
"Mas!" pekik Alya menginjak kaki suaminya. Benar kan? Ardi mulai berulah.
"Dokter Anya tidak boleh pergi sendiri, kalau Agung mau ketemu harus jemput, harus ketemu saya dulu. Boleh pergi tapi tidak lebih dari 1 jam. Dan sebelum jam 4 sore harus sudah kembali!" tutur Ardi mantap.
Anya dan Alya langsung melotot tidak percaya. Atas dasar hak apa Ardi memberlakukan peraturan itu.
"Maaf Kak Ardi, saya tidak terima, ini terlalu" sanggah Anya spontan tidak terima hidupnya diatur. Tapi belum selesai bicara sudah dipotong lagi.
"Saya tidak menerima kritikan atau penolakan. Selama Dokter Anya pergi bersama saya. Itu berarti Dokter Anya tanggung jawab saya, jadi patuhi kata-kata saya" potong Ardi mantap.
Anya menatap kesal ke Ardi ingin berontak. Begitu juga Alya. Alya merasa suaminya keterlaluan. Lalu Alya menarik suaminya dan mengajak bicara.
"Mas kita perlu bicara" bisik Alya bangun dan pergi ke ruang tengah.
Anya melongo benar-benar merasa illfeel ke suami Alya. "Emang dia siapa ngatur-ngatur gue? Enak aja!" gumam Anya dalam hati.
"Mas apa-apaan sih? Kok Anya diposesifin begini. Dia udah dewasa mas. Kita nggak boleh kaya gini" tegur Alya ke Ardi.
"Sayang dengar Mas. Ini tuh Jogja, Anya orang Bogor, cantik dan nggak tau apa-apa di sini. Apalagi mereka pacaran jarang ketemu. Nggak mungkin mereka nggak ngapa-ngapain kalau ketemu. Mas nggak mau Farid nikah sama bekas orang. Kalau bisa mas akan buat mereka putus hari ini!" jawab Ardi percaya diri.
__ADS_1
"What? Maas, ini tuh hidup Anya. Kita nggak berhak ikut campur" tutur Alya lagi.
"Diam. Dan nggak usah protes. Bentar lagi Dika datang kita ke rumah sakit sekarang!" jawab Ardi tegas lalu berjalan meninggalkan Alya mengambil barang-barang dan bersiap ke rumah sakit.