
****
Jakarta
Hari demi hari Tito semakin gencar mendekati Mira. Orang tua Mira pun menyambut hangat niat baik Tito. Mira hanya bisa pasrah mengikuti perjalanan waktu.
Menjadi perempuan setia yang mengejar cinta dan merasakan sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan menjadikan hatinya mengeras. Bahkan Mira seperti tidak percaya cinta lagi.
Hari itu rencananya sepulang praktek dari rumah sakit, Mira, Tito dan keluarga mereka berkumpul makan siang.
Mira meninggalkan rumah sakit dengan langkah berat. Dia tidak tahu arahnya benar atau salah. Yang dia tahu pendidikan spesialisnya sudah selesai, masa wkds nya juga sudah selesai. Usia dia sekarang sudah masuk kepala 3, waktunya dia menepati janji kedua orang tuanya, menikah.
Sebelumnya Mira berjanji pada orang tuanya, Mira akan kenalkan pria yang dia cintai. Tapi sampai detik ini cintanya masih bertepuk sebelah tangan. Ya, akhirnya Mira menyerah pada kedua orang tuanya. Dan makan siang hari ini kedua orang tua mereka membahas hari pertunangan dan pernikahan mereka.
Tito menjemputnya ke rumah sakit. Diam-diam Gery memperhatikan dan melihatnya. Bohong kalau Gery biasa saja, entah kenapa rasanya tidak rela, Gery masih ingin Mira mengejarnya, terobsesi dan mencurahkan waktu untuknya.
Tapi kini bahkan saat Gery duduk di bangku dekat jalan yang dilewati Mira, Mira tidak menoleh, peduli atau menyapanya. Mira berjalan begitu saja. Netranya mencari seseorang yang berdiri di samping mobil yang terparkir depan rumah sakit.
"Sudah selesai prakteknya?" tanya Tito lembut membukakan pintu mobil
"Sudah" jawab Mira datar lalu masuk ke mobil mereka menuju restoran tempat keluarga mereka berkumpul.
Gery diam menghela nafasnya. Dia tertunduk lemas, Gery sadar dia sudah menyia-nyiakan Mira selama ini. Sudah sepantasnya Mira bahagia.
Kalau bisa ditanya dan disuruh memilih Gery ingin mengobati sakit Mira dan menebus kesalahan Mira dengan mencintai Mira segenap hati. Berdiri di samping Mira. Setia terhadapnya seperti yang Mira lakukan selama ini.
Tapi waktu sudah berlalu. Sebagai sahabat, hal terbaik yang bisa Gery lakukan saat ini membiarkan Mira bahagia, mengikhlaskanya. Gery hanya bisa berdo'a, Tito sungguh menjadi laki-laki terbaik yang bisa membahagiakan Mira.
Sementara tentang nasib Gery sendiri. Gery tidak mau memikirnya, terserah apa mau takdir dan kehendak Tuhan. Gery mau fokus mengurusi rumah sakitnya. Toh nanti jodoh aka datang sendiri, begitu kata orang.
Gery bangun dari duduknya, berjalan menuju ruang instalasi bedah sentral. Melakukan tugasnya, menuntaskan pekerjaanya yang hanya tinggal sebulan lagi.
Iya satu bulan lagi Gery akan meninggalkan RSUD yang baru berapa tahun berdiri. Meninggalkan masa dan tempat dimana dia berpartner dengan Mira. Meninggalkan semua kenangan tentang Alya. Entah kenapa di ujung masa wkds nya Gery harus menemui masa menyakitkan dalam hidupnya.
****
Makan siang selesai, tanggal pertunangan Mira dan Tito sudah ditentukan. Orang tua Mira sepakat Mira dan Tito bertunangan 1 hari setelah masa wkds Mira selesai. Sepanjang berkumpul Mira diam, tidak ikut berkomentar tapi juga tidak menolak.
"Yah, yang terbaik aja Pah, Mah" tutur Mira pasrah. Fokus Mira bukan pada isi percakapan keluarganya. Melainkan pada pesan dari temanya. Intan mengajaknya bertemu.
"Intan mengajakku makan? Untuk apa?" gumam Mira salah fokus.
"Sayang, Papa Mama pulang duluan ya!" tutur Mama Mira. Mereka semua sudah berpamitan pulang.
"Iya Tante, biar saya yang antar Mira" jawab Tito di samping Mira.
"Baiklah, terima kasih Nak Tito" jawab Mama Mira.
Sementara Mira hanya tetap tersenyum dan mengangguk. Lalu mereka mencium tangan kedua tua orang mereka. Kini tinggal Mira dan Tito.
"Mir" panggil Tito ke Mira.
"Iya Mas"
"Sebentar lagi kita tunangan. Boleh aku memanggilmu dengan panggilan lain" tanya Tito
"Hah? Apa maksudnya Mas? Panggilan apa?" tanya Mira kaget.
__ADS_1
Mira merasa itu hal berlebihan,mereka sudah dewasa, untuk apa-apa hal seperti itu. Mereka bukan lagi remaja yang baru saja jatuh cinta. Mereka sudah menjadi orang dewasa yang menjalani kehidupan berdasarkan tujuan, menghitung nilai realita dan untung rugi. Bukan tentang cinta lagi.
"Ya biar kita lebih dekat, dan terbiasa" jawab Tito lagi.
"Sepertinya tidak perlu Mas. Oh iya Mira ada janji dengan teman di kafe estela. Bisa antar ke sana?" jawab Mira ke Tito.
"Ya" jawab Tito mengangguk.
Tito ingin berusaha semaksimal mungkin berusaha mengambil hati Mira. Berusaha benar-benar memiliki Mira, seutuhnya hati dan fisiknya. Tito tahu dari sikap dan tatapan Mira, Mira selalu tidak fokus menghadirkan hati dan pikiranya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat Tito dan Mira sampai ke kafe Estela. Kafe dimana tempat Mira, Gery dan Alya bertemu dan membuat kesepakatan, mereka hanya berjanji akan menjadi teman yang baik. Tempat dimana, Mira bertekad dan mulai sadar untuk menyerah dari Gery. Tapi kenapa mengingatnya tetap saja membuatnya sakit, padahal ada Tito di sampingnya.
"Kenapa Intan memilih tempat ini? Huuf" batin Mira melihat sekeliling.
"Makasih ya Mas" tutur Mira ke Tito.
"Pulang jam berapa? Biar Mas jemput"
"Nggak usah, takutnya lama. Mira naik taksi aja, kalau nggak nanti minta jemput sopir dari rumah" jawab Mira sopan.
"Oke" jawab Tito
Mira masuk ke kafe. Intan sudah menunggunya.
"Hai Tan? Udah lama?" tanya Mira ramah.
"Belum kok!"
"Sendirian aja?"
"Tadi sama Sinta. Dia ada perlu katanya jadi pergi"
Lalu Mira dan Intan memesan minuman. Mira sedikit tidak nyaman bertemu dengan Intan. Apa benar Intan hanya mengajak makan sekedar meet up. Atau ada maksud lain? Mira pun ingat pesan Gery, jangan mudah percaya omongan Intan. Tapi hari ini Intan tampak sangat ramah dan baik.
"Maaf ya kalau gue ganggu waktu lo. Makasih udah sempetin waktu lo buat gue" ucap Intan dengan nada ramah dan merendah.
"Ah nggak Tan. Kita kan juga udah jarang ketemu, nggak apa-apa kali kita meet up. Gue juga mau undang lo ke acara tunangan gue" jawab Mira spontan dengan ramah juga. Melihat keramahan dan kebaikan Intan hati lembut Mira tersentuh. Apa iya Intan sejahat itu. Tidak ada tatapan jahat dari Intan ke Mira.
"Lo mau tunangan? Kapan? Selamat ya, semoga lancar sampai hari H. Gue usahain gue akan datang!" ucap Intan lembut.
"Baru tadi sih diputuskan, masih satu bulan lagi. Baru lo yang gue kasih tau" tutur Mira ramah dan terharu.
"Oh benarkah? Beruntungnya gue jadi yang pertama lo kasih tau. Gue doain lo bahagia ya Mir, pesen gue, kalau udah tunangan jangan lama-lama ya nikahnya, gue nggak mau lo kaya gue" tutur Intan lembut, dengan mata berkaca-kaca.
Sumpah Intan pandai bersandiwara dan mengambil hati Mira. Melihat raut wajah sedih Intan, Mira benar-benar tersentuh dan percaya.
"Aamiin, makasih ya doanya. Betewe, lo tumben ajak gue makan bareng, ada apa?" jawab Mira bersimpati.
"Ehm" Intan berdehem, memasang muka sedih dan menunduk, lalu menata perkataan dan kalimat baiknya.
"Gue mau tanya sesuatu ke lo"
"Tanya sesuatu?"
"Gue denger Ardi udah nikah, bahkan istrinya lagi, hamil. Hiks" tutur Intan berkata dengan terbata.
Intan terhenti membiarkan air matanya turun, seakan mencurahkan sakit hati dan penderitaan yang mendalam. Hal itu pun membuat Mira simpati. Mira menelan ludahnya membayangkan di posisi Intan.
__ADS_1
"Gue denger dia satu kerjaan sama lo. Apa lo kenal dia?" Intan menyeka air matanya dan melanjutkan niatnya.
"Sory ya Tan. Lo denger dari siapa?" tanya Mira lembut.
"Gue denger sendiri nggak sengaja. Dari Ardi sendiri, Lo tau tentang ini?"
"Emem" jawab Mira mengangguk dan merasa bersalah .
"Istri Ardi junior gue, namanya Alya Berlian Sari, gue juga berteman baik sama dia" jawab Mira jujur.
Lalu tiba-tiba Mira ingat cemburunya dia dulu ke Alya. Mira juga sempat benci dengan Alya. Mira tahu pasti perasaan Intan.
"Hiks hiks" Intan kembali pura-pura menangis di depan Mira.
"Lo yang sabar ya Tan, gue nggak tahu kalau lo punya anak dari Ardi, lo harus kuat ya" tutur Mira bersimpati.
"Nggak apa-apa Mir. Gue sadar siapa gue. Gue nggak nyangka aja setega itu Ardi ke gue. Dengan mudah dia nikahin orang lain" Intan mngeluarkan jurus dramanya di depan Mira
"Gue selalu setia nunggu dia. Gue tau dulu dia begitu gigih meraih masa depan untuk melanjutkan kuliahnya, makanya gue bertahan, gue mengalah dan coba mengerti untuk tidak menuntut menikah. Gue kira dia akan kembali dan mengakui anaknya, tapi ternyata dia begitu. Hiks....lo tau kan perasaan gue Mir?"
"Iya Tan, gue tau. Gue juga nggak nyangka Ardi bakalan gitu. Terus lo mau gimana?"
"Gue nggak pingin ngrusak kebahagiaan Ardi Mir. Dari dulu sampai sekarang perasaan gue masih sama, gue cinta sama Ardi, gue pengen dia bahagia dengan pilihanya"
"Lo baik banget sih Tan, tapi kan lo juga berhak bahagia. Terus gimana nasib anak lo?" jawab Mira bersimpati dan perhatian ke Intan.
Mira percaya anak Intan anak Ardi, secara mereka tunangan lumayan lama.
"Gue juga bingung Mir. Gue ikhlas melihat Ardi bahagia, tapi gue juga, gue pengen anak gue tau ayahnya, diakui ayahnya" jawab Intan masih dengan drama memelasnya.
"Lo udah pernah bilang ke Ardi?"
"Udah, tapi dia mengelak, kadang gue berfikir, apa gue cerita ke istrinya? Mungkin dia akan mengerti sebagai sesama perempuan. Ah, tapi gue nggak mau rusak kebahagiaan mereka. Gue tanya pendapat Lo, menurut lo gimana? Gue pengen tau istri Ardi"
"Lo berhak sampaiin kenyataan ini Tan, meskipun menyakitkan, Alya juga harus tau kenyataan ini. Karena Alya sendiri bilang ke gue. Mereka menikah mendadak" Mira bercerita ke Intan sebagai bentuk pedulinya.
"Maksud lo?"
"Gue tau mereka menikah juga baru aja. Ardi emang keterlaluan dan berengsek. Alya merahasiakan pernikahanya, dari teman-temanya selama ini. Mereka menikah di Jogja. Alya bilang mereka menikah karena orang tua Ardi. Gue nggak tahu persisnya. Tapi sebaiknya lo emang harus bilang Tan"
"Apa lo bisa bantu gue buat ketemu istrinya?"
"Bisa, tapi nggak sekarang. Dari story temen-temen Alya, mereka lagi di Jogja, mereka lagi liburan di sana" tutur Mira lancar menjelaskan ke Intan.
Kemudian Mira menyerahkan foto Alya, Anya, Dinda, Ardi, Farid dan Dika sedang makan bersama di halaman belakang rumah Alya. Foto yang menggambarkan betapa bahagia dan hangat mereka. Bahkan Ardi terlihat merangkul Alya. Anya dan Dinda tampak memegang makanan.
Mendengar penjelasan Mira, mimik wajah Intan yang tadi tampak memelas dan bersedih sedikit berubah. Intan mengepalkan tanganya tanpa sepengetahuan Mira. Pantas saja Intan muter-muter nyari nggak ketemu. Mereka ada di Jogja.
"Makasih sebelumnya lo udah bantu gue. Tapi apa nggak apa-apa gue temuin istri Ardi?" tanya Intan lagi masih bersandiwara.
"Nggak apa-apa Tan. Kalian sama-sama perempuan dan sama-sama ibu dari anak-anak kalian. Lo berhak perjuangin anak lo. Alya juga orangnya baik, sangat baik. Meski ini menyakitkan, ini lebih baik untuknya tau tentang suaminya"
"Kira-kira kapan gue bisa ketemu?"
"Secepatnya setelah mereka balik, gue kasih tau lo. Mereka dokter magang di sini. Jadi mereka nggak bisa libur lama-lama. Lusa mungkin mereka udah balik" .
"Makasih ya Mir, makasih banget lo udah bantu gue"
__ADS_1
"Iyah sama-sama"