Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
105. Sahabat


__ADS_3

****


Kosan Anya.


Setelah beristirahat dua jam, Anya dan Alya terbangun dari tidurnya. Mereka berdua bergegas mandi dan menunaikan sholat ashar yang hampir kesorean.


"Udah mau maghrib, suami lo belum kasih kabar Al?" tanya Anya ke Alya.


Alya duduk di kasur Anya sambil memegang ponselnya. Dengan wajah panik dan merasa tidak enak ke Anya, Alya memencet tombol panggilan untuk yang kesekian kali ke suaminya. Tapi tetap saja hanya berdering dan tidak diangkat.


"Kamu nggak lagi ngusir aku kan Nya?" tanya Alya sedikit tersinggung karena dia belum juga berhasil menghubungi suaminya.


"Ehm, bukan ngusir Alya. Ya lo kan lagi hamil muda. Kata orang tua di kampungku nggak boleh lo kelayapan, bentar lagi kan maghrib, apalagi kalau lo pulangnya kemaleman, ya percaya nggak percaya sih. Lagian lo kan baru sembuh lo harus istirahat, gue khawatir sama lo" jelas Anya ikut greget suami temanya belum jemput.


"Suamiku belum angkat telponku, pesanku juga belum dibaca" jawab Alya lemas.


Alya menundukan kepala dengan mata berkaca-kaca dan menahan kesal. Alya sendiri tidak tahu semenjak hamil Alya susah mengontrol emosinya. Padahal sebelum menikah Alya terbiasa sendiri, tidak suka bergantung apalagi merepotkan orang lain.


"Sory" ucap Anya melihat sahabatnya tertunduk sedih.


"Ya udah aku pesan taksi online aja" jawab Alya hendak nekat pulang, karena merasa tidak enak ke Anya. Alya selalu repotin sahabatnya itu.


"Jangan deh, gue lebih khawatir kalau elo pergi sendiri. Ya udah Lo di sini aja, daripada lo sendiri, maafin gue yah. Suami lo sering kek gini? Atau baru sekali ini aja?" jawab Anya merasa bersalah dan iba ke Alya.


Alya menggigit bibirnya menahan sedih. Cerita atau tidak ke Anya. Alya tahu membicarakan masalah rumah tangganya dosa. Tapi Alya yang emosinya sedang sangat sensitif, butuh teman berbagi.


Untuk yang kesekian kalinya, air mata Alya keluar lagi. Pikiran negatif, curiga dan minder datang menghinggapi otaknya. Alya selalu berusaha mengusirnya tapi tetap saja Alya hanya bisa nangis. Alya sendiri kesal kenapa dirinya dan pikiranya sekarang menjadi bergantung pada suaminya.


"Lo jangan nangis dong, gue jadi terkesan jahat sama lo, lo boleh kok nginep sini lagi, sini peluk" tutur Anya tidak tega melihat Alya menangis, lalu memeluk Alya.


"Cerita sama gue" bisik Anya ke Alya.


Beberapa saat Alya menangis di pelukan sahabatnya. Setelah lega, Alya melepaskan pelukan Anya dan menyeka air matanya. Alya mengeluarkan segala sesaknya ke Anya.


"Aku mencoba percaya Nya ke suami aku. Tapi, dia emang gitu. Dari awal nikah dia selalu pergi malam-malam ninggalin aku. Nggak tahu kemana?" tutur Alya mulai bercerita.


"Bahkan dia pernah pergi seminggu nggak kasih kabar, hampir setiap hari pulang kerja seringnya malam, nggak ngerti aku dia nggak pernah bilang, aku harus gimana?" tutur Alya bercerita sambil terisak.


"Kadang aku juga ragu dengan apa yang dia katakan, dia sebenarnya kemana? Dengan siapa? Dia selalu bilang kerja, meeting. Awalnya aku cuek, karena awal nikah aku belum ada perasaan ke dia. Tapi sekarang beda. Aku selalu kepikiran, apalagi sejak berita di tv itu muncul, aku jadi kepikiran yang nggak-nggak"


"Sabar ya. Mungkin emang gitu kali kalau jadi pengusaha. Apalagi suami lo kan perusahaanya gede, Lo jangan mikir macem-macem dulu" jawab Anya mencoba menghibur Alya.


"Tapi lama-lama kalau begini terus aku juga nggak kuat Anya, kadang aku ngrasa dia pulang cuma butuh badan aku doang. Aku butuh perhatian dia juga" jawab Alya dengan pikiran minder dan khawatirnya datang lagi.


"Ck. Lo nggak boleh ngomong gitu. Ya gue tahu, pasti menyebalkan sih punya suami pergi-pergi terus gitu. Tapi kan dia udah jadi suami pilihan Lo Al, Lo harus siap konsekuensinya. Lo yang sabar ya! Lo harus kuat"

__ADS_1


"Aku nggak milih dia kok, dia yang maksa nikahin aku" gerutu Alya lirih merasa terjebak dalam pernikahan yang mengikatnya. Anya yang mendengar perkataan Alya terhenyak menatap ke Alya.


"Maksud Lo Al?" tanya Anya penasaran.


Alya menggeleng merasa keceplosan. "Nggak, nggak jadi" jawab Alya menggigir bibirnya malu mengingat awal mula dia menikah.


Alya tau Alya salah berkata seperti tadi. Seperti apapun alasan Alya menikah, nyatanya Alya sekarang hamil. Jadi Alya tidak boleh menyesali apapun termasuk sikap suaminya. Alya juga tidak mau bercerita tentang alasan Alya menikah.


"Gue nggak ngerti gimana cerita lo bisa nikah. Gue tau nikah dengan cara perjodohan emang nggak mudah. Tapi kan lo sekarang udah jadi istri sah nya Alya. Dan bahkan lo sekarang hamil, lo hamil Al! Lo hamil anak dia" jawab Anya menyadarkan Alya. Anya sempat mendengar Alya menyesalkan pernikahanya.


"Iya aku tau"


"Ya udah, lo jangan nangis, lo harus bisa jalanin ini. Positif thinking aja. Yang masalah Riko, suami lo dah kasih bukti kalau nggak ada apa-apa kan?"


"Iya, dia udah nunjukin video aslinya"


"Ya udah lo harus percaya suami lo. Mungkin emang bener suami lo sibuk. Orang tua temen-temen gue juga gitu. Banyak temen gue yang sering ditinggal ortunya. Percaya ya sama suami lo" tutur Anya tersenyum menasehati Alya berharap Alya tidak sedih lagi.


"Aku mencoba mengerti suamiku, tapi entah, apa aku bisa sekuat itu, aku butuh dia di sampingku di saat begini Nya" jawab Alya lagi.


"Gue ngerti, di saat lo hiperemesis begini. Pasti lo pengin ada suami lo. Tapi kalau lo stress, bahaya buat bayi lo, lo kan juga baru sembuh. Lo harus kuat dan terbiasa, gue percaya lo bisa Al" ucap Anya menguatkan Alya.


"Aku selalu berusaha menerima dia jadi suamiku, menerima pernikahan ini, berusaha mengikuti apa yang dia ingin. Tapi sampai sekarang aku merasa aku belum kenal suamiku. Aku merasa. Suamiku datang dan baik ke aku, ketika dia butuh badanku saja. Aku tidak tahu masalalunya, teman-temanya. Aku tahu kalau Dokter Mita teman dia juga baru. Dia nggak pernah ajakin aku ngobrol" tutur Alya lagi melanjutkan curhatnya.


"Hemmm, gimana ya Al? Gue belum nikah jadi gue nggak bisa ngomong dan bantu apa-apa ke elu. Sekarang gini deh. Lo itu lagi hamil kan? Rahim lo juga bermasalah. Lo nggak mau kan lo kehilangan bayi lo karena suami Lo. Lo sekarang fokus ke kesehatan Lo dan bayi Lo deh, oke?" jawab Anya penuh perhatian ke Alya.


"Ya udah, sekarang lo dengerin gue. Meskipun lo menikah mendadak. Lo juga baru sebulan lebih kan nikah? Ya udah pelan-pelan, yang penting sekarang lo percaya. Dan lo jaga pernikahan lo! Apapun yang lo pengen tahu, lo komunikasi ke suami lo. Jangan berfikir sendiri atau ambil keputusan sendiri. Oke?"


Alya mengangguk mencerna perkataan Anya.


"Suami lo punya sopir dan asisten kan?" tanya Anya.


"Punya"


"Ya udah kalau suami lo nggak angkat telpon lo. Lo tanya aja ke asistenya, dimana dia sekarang, suruh dia jemput lo kesini"


"Aku nggak punya nomernya" jawab Alya lirih.


"Ya ampun, Alya" jawab Anya spontan menghela nafas dan menepuk jidat. Sementara Alya menatap Anya polos. Tidak merasa bersalah


"Lo istri sahnya kan?"


"Iyah"


"Masa lo nggak minta nomer hp orang- orang terdekat suami Lo. Gimana lo bisa ngawasin suami lo Al. Suami lo itu ganteng, kaya pula, hati-hati lho!"

__ADS_1


"Maksud kamu? Katanya aku disuruh percaya. Kok kamu malah bilang gitu?"


"Ya lo jangan pasrah gini, meskipun lo dulu nggak cinta. Tapi lo sekarang hamil, demi lo anak lo. Selain percaya lo juga harus usaha mastiin suami lo. Lo harus tau suami lo dan jagain suami lo, ngerti?" tutur Anya menasehati Alya dengan gemas.


"Ya nanti aku minta nomer sekertaris dan supir suamiku. Kalau suamiku udah pulang"


"Masa gitu aja harus gue kasih tau sih! Lo nggak pernah pacaran sih ya? Kalau gue jadi lo, gue datengin tuh kantor suami lo tiap hari. Gue harus tau jadwal suami gueh. Catet nomer orang-orang terdekatnya. Beneran deh Al. Hati-hati, suami lo itu ganteng" tutur Anya lagi membuat Alya merasa bodoh.


"Kok kamu ngomongnya gitu?"


"Ya aku bener. Habis aku gemes sama kamu. Nih ya Al. Di luar sana, perempuan yang **** bebas, cewek kalau hamil itu bakal ngejar cwoknya. Nah kamu udah jelas istri sah, kemarin lo malah kabur! Harusnya kalau suami lo cuek atau ada masalah. Lo datengin tuh kantor suami lo, tanya ke sekertarisnya apa aja jadwalnya! Atau anterin makan siang, atau apa kek. Gitu!"


"Iya iya, aku salah"


"Ya udah gue ijinin lo istirahat di sini. Nginep juga boleh. Tapi tetep kabarin suami lo kalau lo di sini! Wajib"


"Iya"


"Gue kasian sih sama lo. Sabar yah! Pokoknya lo harus agresif! Ingat Ardi itu suami lo, kalau lon pengen dia perhatian lo harus usaha" sambung Anya lagi.


"Iya"


"Gue laper nih" ceplos Anya mengakhiri ceramahnya.


"Ya udah sambil nungguin suamiku. Ini juga udah maghrib kita sholat dulu abis itu pesen makan yak!" jawab Alya.


"Oke"


"Makasih ya Nya. Kamu mau jadi sahabat aku, aku cuma punya kamu di sini, aku beruntung punya kamu"


"Uw kok lo so sweet sih. jangan ngomong gitu, peluk sinih," lalu mereka berpelukan.


****


"Tuan, Nyonya Intan datang kantor lagi" ucap Dino dalam perjalan bersama Ardi dan Arlan, menyampaikan pesan dari Risa.


"Mau apa dia?" tanya Ardi gusar.


Ardi baru saja menemui klien yang membatalkan kontrak akibat hasutan Tuan Wira. Ardi harus menanggung rugi 2 M. Karena ada satu klien yang tetap membatalkan kerjasamanya. Untung tiga klien lain bisa Ardi bujuk dan bersedia melanjutkan kerja sama. Sehingga meski masih rugi, setidaknya Ardi bisa menyelamatkan perusahaanya.


"Dia bersikeras tidak mau pergi dan menunggu anda"


"Huft. Apa lagi sih? Ya sudah putar balik ke kantor" ucap Ardi memberi perintah ke Arlan.


Selama meeting dan bertemu klien, Ardi fokus dan tidak memegang ponsel. Ardi juga mengejar waktu agar bisa menemui keempat klienya di waktu dan tempat yang berbeda. Setelah selesai Ardi hanya kepikiran segera kembali ke rumah sakit tanpa melihat ponsel. Ardi tidak tahu istrinya sudah diperbolehkan pulang dan menelponya puluhan kali. Karena ponsel Ardi dia silent dan diletakan di tas.

__ADS_1


Mendengar Intan menunggunya di kantor Ardi mengurungkan niatnya langsung balik ke rumah sakit. Ardi khawatir Intan membuat masalah di kantor, jadi Ardi mampir ke kantor dulu menemui Intan.


__ADS_2