Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
97. Gara-gara jus mangga


__ADS_3

"Ceklek" Ardi membuka pintu rumah sakit menahan kesal. Wajahnya ditekuk kusut karena hasratnya kembali tertunda.


"Pagi Tuan" sapa orang yang berdiri di depan pintu membawa parcel buah dan ditemani perempuan cantik membawa buket bunga.


"Kamu! Haish selalu datang di waktu yang salah!" umpat Ardi ke tamunya, membuat tamunya saling pandang tidak mengerti.


"Maksud Tuan?" tanya Dino ingin tau.


"Ingat satu detik satu juta!" ancam Ardi Gila ke sekertarisnya boleh jenguk istrinya tapi tidak boleh liat wajahnya.


"Baik Tuan" jawab Dino paham dengan kecemburuan Ardi yang overdosis. Sementra Risa hanya memendam tanda tanya percakapan bos dan pacaranya.


Dino dan Risa pun masuk ke ruang rawat Alya. Dino langsung menempatkan diri sejauh mungkin dari Alya. Menghindari tuduhan Tuanya yang sedikit gila. Menyadari ada tamu Alya membetulkan jilbabnya. Dan menyandarkan tubuhnya dengan baik.


"Pagi Nyonya" sapa perempuan cantik dengan rambut diikat rapi memakai seragam setelan kantor, rok setinggi lutut dan sepatu berhak tinggi.


"Pagi" jawab Alya kikuk karena baru pertama kali bertemu dengan karyawan suaminya.


"Dia Risa, pacar Dino, sekertarisku" tutur Ardi memberi tahu Alya.


"Perkenalkan, saya Risha Nyonya" Risa pun memperkenalkan diri dengan sangat manis.


"Alya" jawab Alya mengulurkan tangan menjabat sekertaris kedua suaminya. Alya memandangi Risa dengan takjup, tidak menyangka karyawan Ardi secantik itu, untung Risa sudah punya pacar.


"Silahkan duduk Mbak" sapa Alya mempersilahkan Risa duduk.


Sementara Dino tidak perlu dipersilahkan sudah duduk tenang di tempatnya. Dia sudah berpengalaman bagaimana bersikap. Menghindari hukuman karena cemburu kelewat batas dari bosnya. Padahal Ardi tahu cintanya Dino hanya untuk Risa seorang.


"Baik Nyonya" jawab Risa kemudian duduk di sebelah Dino


"Jangan panggil aku Nyonya, aku malu dipanggil begitu" jawab Alya polos membuat Dino, Risa dan Ardi menoleh ke Alya.


Ardi pun mengusap tengkuknya, istrinya ada-ada saja. Dia kan memang Nyonya Ardi Gunawijaya, terus mau dipanggil apa?


"Terus mau kamu dipanggil siapa sayang?" tanya Ardi ke istrinya.


"Lian dan Risa seumuran kan Mas?" tanya Alya melirik ke Lisa. Sementara Lisa jadi canggung dan bingung.


"Nggak tahu, kamu umur berapa Ris?" tanya Ardi ke Risa.


"Saya umur 23 tahun, Tuan"


"Tuh kan? Bener! Aku 1 tahun lebih tua" sahut Alya.


"Lebih tepatnya 1 tahun 8 bulan lebih tua" timpal Ardi mengingatkan kalau Alya hampir 25 tahun


"Ya. ya. Panggil Mba aja ya? Apa Kak? Saya kan bukan bos kamu, biar kita akrab" jawab Alya lagi.


Risa tersenyum sambil melirik Ardi takut dikira lancang dan tidak sopan. "Baik Kak" jawab Risa masih kaku.


"Hemmm" Ardi hanya membatin melihat istrinya tidak bisa bersikap selayaknya istri bos.


"Mas, tamunya dikasih minum" ucap Alya lagi.


"Minum apa?" jawab Ardi yang tidak pernah meladeni tamu.


"Nggak usah Kak, terima kasih" jawab Risa sopan. "Selain melihat keadaan Mba Lian, kami kesini karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan Tuan Ardi" jawab Risa sopan membuat Alya heran.


"Pekerjaan?" tanya Alya kecewa.


Ternyata kedatangan karyawan suaminya tidak murni menjenguknya tapi karena kerjaan. Menjenguknya hanya formalitas saja. Bahkan Risa dan Dino tidak menanyakan kabar Alya. Alya kemudian diam dan mengangguk melirik ke suaminya.


"Iya Nyonya" jawab Risa lupa dengan panggilan yang tidak disukai Alya.


"Ya sudah silahkan dilanjut" jawab Alya mempersilahkan Ardi dan kedua karyawanya bekerja dari rumah sakit.


Risa mengeluarkan beberapa dokumen dan i-pad kantor. Entah apa yang mereka bahas. Alya hanya berbaring dan memperhatikan tidak mengerti.

__ADS_1


"Menyebalkan, bahkan menjengukku hanya karena pekerjaan" batin Alya kesal sambil bermain ponsel. Karena merasa dicueki dan tidak mengerti dunia suaminya, lama-lama Alya tertidur. Sampai Alya tidak tahu kapan karyawan suaminya itu pergi dan pamitan. Ardi pun membiarkan istrinya terlelap.


"Cup" Ardi mencium kening istrinya dan menyelimutinya. Ardi kembali berkutat dengan laptopnya menyelesaikan pekerjaanya.


Waktu dzuhur tiba. Petugas dari instalasi gizi juga sudah membawakan makan siang untuk Alya. Tapi Alya masih terlelap. Ardi menutup laptopnya dan bersiap ke masjid untuk sholat dzuhur. Tapi Ardi ragu meninggalkan istrinya sedang tidur.


Daripada Alya bangun mencari dirinya. Ardi memilih membangunkan Alya dan berpamitan ke masjid rumah sakit. Toh Alya sudah tidur lama dan waktunya makan siang.


"Sayang" panggil Ardi lembut menepuk pipi Alya. Alya pun membuka matanya


"Sayang, Mas ke masjid dulu ya" pamit Ardi lembut.


Alya pun mengangguk mempersilahkan suaminya sholat ke masjid yang agak jauh dari ruangan rawat Alya. Saat tidak ada orang, meskipun belum boleh turun dari tempat tidur Alya memeriksa celananya. Alya bersyukur perdarahanya berhenti.


"Maafin ibu Nak, ibu egois, ibu tidak menanyakan dulu kebenaranya ke ayahmu" batin Alya tersenyum mengelus perutnya. Tidak tahu kenapa Alya perasaanya menjadi sangat sensitif dan mudah menangis. Jadi dia merasa keputusan meninggalkan suaminya adalah tindakan tepat. Tidak menyadari hal itu membahayakan diri dan janinya.


"Terima kasih kamu sudah kuat dan bertahan, teruslah tumbuh sehat ya. Ibu janji tidak akan menyusahkanmu lagi" sambung Alya lagi mengobrol sendiri dengan bayinya yang belum terlihat.


"Eyang Utimu, Oma dan Opamu pasti senang mendengar kamu datang di perut Ibu"


Alya seketika ingat orang tua dan mertuanya. Alya mengambil ponselnya sambil tersenyum sendiri. Sekarang waktunya memberitahu Bu Rita dan Bu Mirna, kalau sebentar lagi mereka punya cucu. Cucu pertama di kedua keluarga itu. Pasti mereka akan sangat bahagia. Alya pun membuka menu kontak di ponselnya.


Alya menggenggam ponselnya berhenti melanjutkan niatnya, menunda melakukan panggilan video ke orang tuanya. Kalau Alya menelfon orang tuanya sekarang saat di rumah sakit, pasti orang tuanya akan khawatir dan bertanya. Alya pasti akan dimarahi habis-habisan jika orang tuanya tau Alya kabur dari rumah.


"Ya sudah telfon yangti sama oma, nanti saja nunggu ayah ya Nak" ucap Alya lagi mengelus perutnya. Lalu Alya memainkan ponsel lagi menunggu suaminya selesai sholat.


Sekitar 15 menit Alya memainkan ponsel. Suaminya datang membawa jajanan dari kantin.


"Bawa apa Mas?" tanya Alya melihat ke suaminya menenteng kresek.


"Jus mangga, tadi ketemu Gery sama Mira, katanya kamu suka jus mangga" jawab Ardi datar.


"Makasih" jawab Alya tersenyum bahagia.


"Bahagia banget. Kok Gery sampai tau sih minuman kesukaan kamu, tau makanan kesukaan kamu, bahkan dia tau bekal apa saja yang sering kamu bawa" ucap Ardi datar mulai cemburu lagi.


"Deket banget ya sama Gery?" tanya Ardi lagi.


Alya malah tersenyum melihat ekspresi suaminya. Menurut Alya Ardi sangat imut dan lucu ketika cemburu dan manyun-manyun.


"Kenapa malah senyum?" tanya Ardi kesal melihat istrinya senyum-senyum melihatnya.


"Udah marahnya?" tanya Alya meledek


"Mas nggak marah kok. Biasa aja"


"Oke, sini jusnya Lian laper" Lalu Alya menyeruput jus itu "Ah, segernya" ucap Alya senang menikmati jus kesukaanya.


"Segitu enaknya ya? Kenapa di rumah nggak pernah suruh Ida dan Mia buat, mas bisa beliin mangga yang banyak dan yang terbaik. Bikinya di rumah aja, nggak usah ke kantin, kantin lagi"


"Haish, masih dilanjut ternyata. Cobain dulu deh, nih diminum, ini tuh emang seger" jawab Alya menyodorkan sedotan jus ke suaminya berusaha menetralkan cemburu suaminya.


"Nggak! Mas mau makan ini aja" jawab Ardi mengambil bungkusan yang dibawakan Dino.


"Aih, sayang, ayahmu lagi cemburu sama ibu, lihat ayah lucu sekali" ucap Alya mengelus perutnya keras menyindir suaminya


"Sayang, bilangin sama ibumu, kalau kerja jangan dekat-dekat dokter cowok, keganjenan!" jawab Ardi menimpali sambil membuka bungkus burger.


"Mas!" jawab Alya tidak terima dikatai ganjen. "Aku tuh nggak ganjen ya! Enak aja ganjen"


"Hhhh" Ardi menghela nafasnya kasar menatap Alya.


"Kenapa liatin aku begitu?" tanya Alya merasa tidak terima dikatai ganjen.


"Mulai sekarang nggak usah kerja!" ucap Ardi spontan.


"What? Coba ulangi katamu Mas!" tanya Alya kaget dan emosi.

__ADS_1


"Mas nggak ijinin kamu kerja lagi!" jawab Ardi tegas dan muka serius.


"Astaghfirulloh, Mas! Yang benar saja, hanya gara-gara jus mangga mas larang aku kerja. Nggak bisa gitu dong!" tolak Alya tegas merasa suaminya kelewatan.


"Mas nggak tahan bayangin kamu tiap hari makan bareng sama laki-laki lain, sementara mas di kantor makan sendirian"


"Ya ampun Mas, sukanya lebay deh. Nggak setiap hari juga kali, Lian kan juga sering shif sore dan malam, Dokter Gery aja jadwalnya nggak tentu, nggak mesti ketemu. Itu juga Lian nggak sendiri, kadang ada Dokter Mira yang nemenin!" tutur Alya mencoba menjelaskan


"Kadang? Berarti seringnya berdua kan?" tanya Ardi semakin meradang dan curiga.


"Nggak juga" jawab Alya mengelak.


"Pantes Gery tergila-gila dan nggak move on dari kamu, kamunya ngeladenin sih!"


"Allohu Akbar! Ck. Mas, nggak gitu. Sejak Lian pindah di IGD, Lian jarang ketemu Dokter Gery lagi. Lian nggak begitu mas"


"Pokoknya sepulang dirawat, ajuin surat pengunduran diri kamu, fokus di rumah buat kesehatan anak kita!"


"Nggak!"


"Nggak ada penolakan dan harus nurut!"


"Mas. Ini tuh cita-cita Lian, cita-cita ibu, perjuangan Lian buat selesein semua program untuk sah jadi dokter tinggal berapa bulan lagi. Nggak boleh gitu dong hargai perjuangan Lian dan ibu. Ini tuh mimpi Lian"


"Tapi kamu sekarang hamil. Dan apa yang sih yang kurang dari mas, semua kebutuhan kamu mas tanggung. Kamu mau berapa rupiah belanjanya setiap bulan mas kasih berapapun yang kamu mau! Tinggal di rumah, dan jadi istri yang baik buat mas!"


"Nggak! Aku hamil ulah siapa juga?"


"Jadi kamu menyesal hamil? Tuh Dek, dengerin Ibumu. Dia nyesel ada kamu, jahat ya ibu! Padahal ibumu juga sangat suka pas ayah bikin kamu" jawab Ardi berbicara pada perut istrinya yang masih rata.


"Haish bukan begitu maksudnya Mas! Lian seneng kok dengan kehamilan Lian. Tapi Lian juga mau tetap raih impian Lian. Lian mau jadi dokter sungguhan. Punya tempat praktek, lanjut spesialis!" jawab Alya mencoba menjelaskan ke suaminya.


"Kamu tetap jadi dokter, dokter spesialis hatinya mas"


"Mas, hargai ibu dong. Ibuku bekerja keras sampai jual rumah buat kuliah Lian. Ibu pengin Lian jadi dokter PNS di daerah bantu orang-orang. Lian belajar mati-matian buat cita-cita Lian"


"Oke. Berapa biaya yang udah ibu keluarin buat kuliah kamu dan gaji yang akan kamu dapat sampai pensiun. Mas bayar sekarang. Bekerjalah menjadi ibu dari anak-anak kita"


"Mas, Lian tetap akan jadi ibu untuk anak-anak, Lian juga tetap jadi istri mas. Tapi ini bukan tentang uang"


"Pokoknya secepatnya mas akan bilang ke pihak rumah sakit. Mulai besok kamu nggak usah berangkat!


"Mas. Ini tuh bukan tentang uang! Lian juga pengen jadi perempuan yang punya identitas, punya kebanggaan. Lian ngrasa hidup Lian berarti dan bahagia kalau Lian bekerja. Lian juga pengen anak Lian nanti bangga liat Lian" tutur Lian masih berusaha mempertahankan prinsipnya.


"Anak kita tidak butuh itu Lian"


"Lagian kan nggak ada yang bisa mastiin umur mas sampai kapan? Bagaimana nasib rumah tangga kita? Pokoknya Lian tetap masih akan kerja Lian mau jadi perempuan yang punya identitas sendiri, Lian pastiin Lian bisa urus anak!" jawab Lian kekeh dengan prinsipnya.


"Jadi kamu doain mas cepet meninggal atau kita pisah, makanya kamu ganjen-ganjen di tempat kerja iya?" tanya Ardi salah paham semakin emosi.


"Aduh. Bukan gitu maksudnya. Sebagai perempuan di era sekarang Lian juga harus punya identitas, nggak mau bergantung. Mas Lian janji tetap jadi ibu dan istri yang baik buat keluarga kita" rayu Alya berharap suaminya mengerti.


"Nggak, keputusan mas udah bulat, nggak ada ijin buat kerja. Tiap hari ketemu sama laki-laki lain, apalagi shift malam ninggalin anak sama suami"


"Mas, Dokter Gery sebentar lagi WKDS nya selesai. Mas percaya dong sama Lian" tutur Lian berusaha membuang curiganya Ardi.


"Dokter Gery selesai nanti ada dokter lain" jawab Ardi tidak kalah kekeh.


"Mas, percaya nggak sih sama istri?"


"Nggak! Kamu aja nggak pernah bilang cinta sama mas"


"Ya ampun Mas. Aku lho hamil anak Mas, masih juga nggak percaya? Pusing ah. Nggak jadi makan kan? Jadi ilang lapernya" tutur Alya mengeluh tidak tahu lagi bagaimana menjelaskan ke suaminya.


"Ya udah makan" jawab Ardi singkat masih emosi.


"Mas, please ijinin Lian kerja. Lian janji Lian setia banget sama Mas, Lian juga akan urus anak kita dengan sangat baik"

__ADS_1


__ADS_2