
Tbc
di Mall.
Setelah selesai urusan di toko perhiasan Ardi menggandeng Alya pergi, tidak menghiraukan Lila. Sementara Alya merasa ditatap dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan sinis jadi penasaran.
"Mas" panggil Lian menggoyangkan tangan suaminya.
"Hemmm" jawab Ardi santai melihat sekeliling mall.
"Lian penasaran Mas. Kok Mas berurusan dengan penjara?"
"Kamu mau belanja apa sayang? Tas? Baju? Sepatu?" tanya Ardi mengalihkan pembicaraan tidak menanggapi istrinya.
"Ish Lian nggak pengen apa-apa" jawab Alya manyun.
"Bukanya biasanya perempuan suka belanja?"
"Baju Lian udah banyak. Lian juga nggak boleh pergi-pergi. Buat apa beli lagi?" jawab Lian jujur, meski Lian orang kaya, Lian selalu menimang manfaat atau tidaknya barang.
"Buat anak kita?"
"Ih 4 bulan belum. Nanti kalau mau lahir!"
"Terus kamu mau apa?"
"Nggak pengen apa-apa. Lian cuma pengen abisin bareng Mas? He... "
Alya menggoda Ardi dengan senyuman centilnya dan memegang tangan suaminya erat.
"Kalau itu harus, sampai tua sampai mati. Waktumu buat mas!" jawab Ardi menoel hidung Lian. Mereka berdua tampak seperti anak muda yang baru jadian. Berjalan mesra di keramaian mall.
"Mas, Lian pengen tau. Kenapa mas bawa-bawa penjara?" tanya Alya lagi masih ingin tahu.
"Hemmmm" Ardi menghentikan langkahnya lalu menatap istrinya serius.
Alya ikut terdiam dan menggigit bibirnya.
"Kebetulan Riko ngajakin kita ketemu. Sekarang kita temui Riko, nanti kamu tau sendiri?" jawab Ardi tegas melihat jam tangan yang bernilai ratusan juta di tanganya.
"Tapi Lian pengen tahu dari mas sekarang" jawab Alya bawel.
"Mas kan udah pernah crita sayang, sekarang kita temui Riko yah!" tutur Ardi mengajak Alya naik ke lift turun dan meninggalkan mall. Kemudian Ardi menghubungi Arlan.
"Lian pengen denger cerita lengkapnya Mas" tutur Alya terus merengek didongengi tentang Lila.
"Waktu di rumah sakit, udah liat videonya kan? Dia suka mas. Dia sakit hati sama mas. Makanya dia berbuat curang buat ancurin mas"
Ardi menjelaskan masalahnya tentang Lila dulu yang membuat Lian pingsan di kantin.
"Udah liat. Tapi kenapa Mas pengin masukin dia ke penjara segala?"
"Ya biar dia tahu dia berhadapan dengan siapa?"
"Kenapa nggak dimaafin dan dilupain aja Mas? Itu kan lebih baik"
"Awalnya mas pikir gitu. Tapi dia udah buat istri mas nangis dan kabur dari rumah"
"Mas, kan Lian sekarang udah sama mas, Lian sama Mas juga udah bahagia. Udah ya, nggak usah berurusan sama mereka!" ucap Lian menasehati suaminya.
Sebagai perempuan normal dan berprofesi dokter yang mencintai kedamaian. Alya hanya ingin hidup tenang tanpa masalah. Bertemu dengan Intan saja membuat Alya jengah, ini dipertemukan dengan Lila, semakin membuatnya pusing.
"Dia berani berulah, ya dia harus siap dengan akibatnya" jawab Ardi santai.
Lift terbuka, merekapun berjalan ke mobil. Arlan sudah menunggu. Alya menjeda aksi mewancarai suaminya beberapa saat.
Setelah masuk ke mobil dan duduk, Alya kembali mengeluarkan unek-uneknya.
"Emang kalau udahan, dilupain aja nggak bisa ya? Lian sungguhan menyesal udah nggak percaya sama Mas. Lian nyesel kabur-kabur dari Mas" tutur Lian jujur menyadari kesalahanya.
"Sayang, ayah Lila buat mas rugi. Mas kehilangan dua klien. Dan nama baik Riko jadi tercemar, kamu tau kenapa waktu di rumah sakit mas cuekin kamu? Itu karena dia!" jawab Ardi menjelaskan ke Alya kenapa Ardi merasa harus menuntaskan urusanya dengan Lila.
"Tapi kan itu udah berlalu. Udah sih? Dilupain aja yah!"
"Kamu nggak ada dendam atau pingin kasih dia pelajaran gitu? Dia udah buat orang ngatain mas gay lho! Suamimu dituduh kelainan, kamu juga terpengaruh waktu itu!" tanya Ardi heran, bisa-bisanya Alya menyuruh suaminya melupakan orang yang sudah jahat ke mereka.
"Yang penting kan sekarang Lian tahu mas nggak begitu. Kan kita nanti mau resepsi. Cukupkan buat mematahkan gosip itu? Lian nggak mau mas kenapa-kenapa berurusan sama orang jahat dan polisi" jawab Lian khawatir dan jujur.
"Udah sih sayang ini urusan laki-laki. Kamu cukup doain Mas"
"Tapi kan masalahnya sekarang udah selesai. Mending udahan kita fokus sama hidup kita. Nggak usahlah dendam-dendam atau kasih pelajaran ke orang, biar Alloh yang membalas"
"Sayang kamu itu bodoh apa gimana sih? Ini bukan perkara kecil yang bisa dilupain gitu aja. Kamu nggak mikirin karir Riko?"
"Lian takut mas kenapa-kenapa, Lian nggak mau mas berurusan sama orang jahat. Bertikai sama orang"
"Mas itu di posisi yang benar sayang. Mas itu korban, kamu santai aja. Ada banyak anak buah yang bantuin kok"
__ADS_1
"Nggak bisa diselesain secara damai apa?"
"Sayang, orang seperti mereka nggak bisa diajak damai. Lila itu lebih ngeri dari Intan. Dia bisa nyelakain kamu juga"
"Hemmm. Jadi Mba Intan lebih baik nih? Baik-baikin Mba Intan nih?"
"Bukan sayang. Mereka sama-sama jahat. Tapi Intan yang sekarang nggak punya kekuasaan. Kalau Lila punya semuanya. Kalau otaknya dibiarkan liar. Dia bisa berbuat sesukanya nyakitin orang"
"Emang sejahat apa sih?"
"Ya dia fitnah mas dan Riko, dia kasih obat ke minuman Mas, dia juga pemake Yang. Bantu polisi buat nangkep dan buat dia sadar juga kebaikan kok, buat dirinya sendiri juga. Biar dia mikir"
"Pemake?"
"Iya, Riko tau dari gaya hidupnya, nyelidiki dia. Itu juga bisa bantu pemerintah buat nangkep penyelundup barang itu ke kalangan atas"
"Kok tambah ngeri sih Mas?"
"Iya. Orang kaya kayak dia kalau dibiarin, bahaya buat orang-orang dibawahnya, bisa nglakuin segala cara buat dapetin yang dia mau. Otakny udah geser. Banyak pengusaha juga yang udah jengah sama dia"
"Tapi mas jadi punya musuh Mas"
"Daridulu mas emang udah punya musuh sayang, banyak malah!"
"Benarkah?"
"Dalam hidup, apalagi berbisnis kita nggak bisa selamanya kaya prinsip kamu. Apalagi laki-laki. Berani mereka usik kehidupan kita, itu berarti mereka juga harus siap nanggung resikonya"
"Kok gitu? Agama kita nggak ngajarin gitu lho Mas"
"Kata siapa? Membela diri itu perlu sayang. Biar mereka nggak sepelehin kita! Dan biar mereka tidak melakukan kejahatan yang sama ke orang lain"
"Humm"
"Kamu jadi istri mas, harus siap, makanya nurut sama Mas. Yah!"
"Iya, Lian usaha nurut!"
"Bener?"
"Bener! Lian sekarang nurut kan?"
"Ya udah nggah usah kerja ya!"
"Maas" jawab Alya manyun untuk yang satu itu Alya belum rela.
"Ck. Katanya nurut, masih nawar! Itu namanya nggak nurut" jawab Ardi mengejek istrinya.
"Gimana Lan. Udah ketemu orangnya?" tanya Ardi tidak menghiraukan Lian lagi.
Ardi tahu permintaan Lian tidak buruk, makanya dia masih mengijinkan Alya menyelesaikan magangnya. Tapi akan Ardi pastikan setelah magang selesai Alya tidak akan menjadi karyawan lagi, baik di pemerintah apalagi swasta.
"Dia tiba di sini nanti sore Tuan!" jawab Arlan hormat.
"Oke"
"Siapa Mas?" tanya Lian lagi ingin tahu.
"Pengawal kamu"
"Pengawal?" tanya Alya syok.
"Udah nggak usah berdebat! Jadilah istri yang patuh! Nggak usah sok kaget. Apalagi nawar. Mas udah pernah bahas ini. Mulai nanti malam, kamu kerja diantar pengawal"
"Dia ikut ke rumah sakit? Nungguin Lian? Kasian dia dong" tanya Lian lagi.
"Dia Mas bayar mahal kok! Kerjanya cukup duduk manis ngawasin kamu dari kejauhan"
"Hemm, menurut Lian nggak perlu deh mas. Kalau temen-temen Lian tahu gimana?"
"Terserah kamu! Mending nggak kerja atau ada pengawal?" tanya Ardi memberikan pilihan.
Sebenarnya Ardi juga tahu kalau bekerja diikuti pengawal berlebihan. Biar saja Lian tidak nyaman dan lama-lama menyerah, dan memilih di rumah saja. Kalaupun tidak menyerah, ya, yang penting Ardi merasa aman, istrinya tidak akan kabur-kabur lagi.
Alya diam tidak menjawab. Tidak kerja atau diikuti pengawal keduanya bukan pilihan. Alya ingin hidupnya kembali normal. Tapi nasi sudah menjadi bubur.
Alya sekarang sudah sepenuhnya sadar dan ikhlas menjadi istri Ardi. Tugasnya sekarang berusaha jadi istri yang baik. Meski banyak negosiasi. Nurut aja.
"Kamu mau ikut Mas ketemu Riko dan Gery atau mas antar pulang?" tanya Ardi lagi.
Ardi tau istrinya sudah mulai kehabisan kata-kata, pokoknya Ardi nggak boleh kalah sama Alya.
"Ikut" jawab Alya lirih.
"Ya udah, ikuti syarat mas. Apapun yang kamu lihat dan dengar jangan protes. Cukup diam, ikuti mas, jangan pernah lepas dari tangan mas!"
"Iyaa"
__ADS_1
"Cincinya dipake ya, suka kan?"
"Suka. Suka banget. Tapi," jawab Alya lirih dan nyengir mau mengatakan sesuatu.
"Tapi apa?" tanya Ardi gusar merasa Alya di luar ekspektasinya.
"Mas, kalau Lian kerja itu nggak boleh pake cincin! Lian nggak terbiasa pake cincin. Lian simpen dulu ya"
"Kok gitu?" tanya Ardi kecewa.
Ardi ingin istrinya memakai cincin mahal agar cantik dan orang tahu kelas Alya sekarang sudah berbeda.
"Ya kalau nglakuin tindakan medis pake cincin, sayang dong cincinya. Terus pake handscoon. Susah! Bahaya juga, kata petugas PPI pakai perhiasan di tangan bisa buat tempat bersarang kuman"
"Apa itu PPI?"
"Pencegahan dan Pengendalian Infeksi"
"Percuma dong mas beliin cincin bagus-bagus!"
"Nggak percuma, nanti kalau di rumah Lian pakai"
"Hemmm"
"Hehe, bagus kok bagus banget. Suka. Makasih ya" tutur Lian menyenangkan suaminya.
Lian memang perempuan yang bersahaja, terlebih memang latar belakangnya yang miskin. Berhias tidak perlu ditunjukan ke orang banyak. Kecantikan dan berhiasnya cukup di rumah bersama suaminya saja.
Lian juga merasa tidak perlu menunjukan siapa dirinya sekarang. Yang penting hatinya bahagia menjalani kehidupanya sekarang. Itu lebih dari apapun.
Ardi tersenyum lega karena istrinya suka dengan hadiahnya. Ardi membelai kepala Alya, membiarkan Alya bersandar menikmati perjalanan.
Tidak lama mereka sampai ke sebuah kasino. Seperti dugaan Ardi, Alya sedikit syok melihat tempat itu. Tempat yang baru pertama kali didatangi Alya. Apalagi dengan penampilan Alya yang memakai jilbab dan gamis longgar. Dia jadi pusat perhatian.
"Pegang tangan Mas"
"Iyah, jangan lama-lama ya Mas" bisik Lian manja.
"Iya" jawab Ardi menenangkan istrinya dengan mengelus istrinya.
Mereka berdua masuk ke gedung megah dan tinggi. Tapi untuk masuk ada lorong dan ruangan. Masing-masing ruang ditempati orang bergerombol dalam sebuah meja. Di atasnya tersedia minuman berbotol dan gelas yang Alya tidak kenal minuman apa. Lebih seperti kafe, tapi kafe klasik.
Kebanyakan bapak-bapak bertato di tangan dan beraksesoris. Beberapa ada perempuan cantik dengan pakaian seksi. Beberapa lagi sekelompok pria dewasa dan tampak mapan. Alya tidak mengira ada tempat seperti ini di negaranya, seperti di film-film luar yang dia tonton.
Alya menutup hidungnya saat dirinya membau aroma yang menurutnya aneh. Aroma rokok dan alkohol yang berbaur menjadi satu. Kemudian mereka masuk ke sebuah ruangan yang di dalamnya sudah ada dua orang menunggunya.
"Selamat siang Tuan?" sapa salah seorang dengan wajah gemetar menatap Ardi dan Alya. Orang itu tampak sangat biasa.
"Akhirnya lo datang" sapa satu orang lagi.
Orangnya sangat tampan, dengan wajah blesteran inggris, lenganya berotot lebih besar dari otot Ardi. Padalah menurut Alya suaminya sudah sangat perkasa dan gagah, tapi ternyata ada yang lebih kekar dan berotot.
"Kenalin dia istri gue" jawab Ardi menoleh istrinya.
Alya mengangguk sopan dan sedikit minder.
"Selamat siang Nyonya. Kenalkan saya Riko, silahkan duduk" sapa Riko sopan ke Alya dan Ardi.
Kemudian mereka berempat duduk. Rupanya mereka bertemu di tempat itu untuk menemui satu teman Riko yang bernama Jack.
Jack bekerja di Kasino itu. Dia yang tau kapan dan dimana, Lila dan Kakaknya bertransaksi barang terlarang.
"Tolong jangan libatkan saya Tuan. Saya punya anak dan istri" tutur Jack setelah menceritakan kapan Lila biasanya mendapatkan barang itu.
"Baik Pak. Saya akan lindungi Bapak. Kalau orang ini sudah ketangkep. Bapak bisa keluar dari tempat ini dan bekerja dengan saya" tutur Ardi ramah.
"Terima kasih Pak" jawab Jack sopan.
"Saya juga tidak akan mengusik orang seburuk apapun itu, kalau dia tidak mengusik kehidupan saya" ucap Ardi lagi.
"Lila dilindungi Kakaknya Bro" ucap Riko menimpali penjelasan Jack.
"Oh ya?"
"Dengar-dengar dia punya channel yang bisa lindungi dia, dalam waktu dekat katanya Tuan Wira akan berbesan dengan pejabat negara" tutur Riko lagi.
"Gue nggak takut. Negara kita negara hukum, kalau kita bisa tangkap basah Lila sedang transaksi atau berpesta, dia nggak akan bisa ngelak. Setinggi apapun pelindungnya" jawab Ardi percaya diri, Ardi juga punya channel pejabat lebih banyak.
"Okeh. Waktu dan tempat udah kita kantongi, gue pastiin kali ini nggak akan lolos lagi" sambung Riko.
"Gue percayakan ini sama Lo" jawab Ardi.
Riko mengangguk kemudian menoleh ke Alya dengan penuh hormat.
"Senang bertemu dengan anda Nyonya? Maafkan saya waktu itu tidak sempat menjenguk" ucap Riko sopan ke Alya.
Alya menoleh ke suaminya yang duduk di sebelahnya. Alya masih menggenggam tangan suaminya merasa tidak nyaman berada di tempat banyak asap rokok.
__ADS_1
"Dia Riko temen mas. Dia cemburu Rik sama kamu" tutur Ardi membercandai Alya.
"Ish" Alya mendesis malu.