
Mira berhasil mendorong Gery, melepaskan dari cengkeramanya dan segera pergi dari lorong sepi itu.
"Hoh" Mira menghela nafasnya sambil berjalan.
Setelah di ujung lorong belakang ruang instalasi bedah sentral itu Mira menoleh kebelakang dan sedikit melirik ke Gery. Gery masih tampak berdiri di posisinya.
"Yang benar saja? Dia mencintaiku? Benarkah?" tanya Mira dalam hati, ucapan Gery masih terus terngiang-ngiang di telinganya.
Mira menepuk dadanya yang berdetak kencang tidak karuan. Pipinya merona merah seperti kepiting rebus. Mira memilih duduk sebentar mengatur nafasnya.
"Ini hal yang gue tunggu, kenapa gue pergi dan hindarin dia? Kenapa gugup begini? Kenapa lo bilang sekarang Ger? Apa aku harus percaya? Apa begitu mudah buatmu mempermainkan perasaanku? Kenapa lo bilang sekarang Ger?" batin Mira menyandarakan tubuhnya ke sandaran bangku.
Sebenarnya Mira senang mendengar pernyataan Gery, bahkan itu impianya selama bertahun-tahun. Tapi waktunya tidak tepat.
Bagaimana Mira akan mengatakan ke orang tuanya. Apa buktinya dan alasanya Mira menyampaikan ke orang tuanya kalau Tito laki-laki tidak baik.
Kalau Mira bilang tidak mencintai Tito, Mira yang menyetujui sendiri perjodohanya. Orang tua Mira pasti murka ke Mira. Mira sayang banget ke kedua orang tuanya. Tapi masa depan Mira juga jauh lebih penting.
Mira dan Gery masih sama-sama di dekat gedung ruang operasi. Hanya saja berada di dua sisi berbeda.
Gery berada di belakang gedung, di tangga arah gudang. Sementara Mira di sisi samping gedung menghadap ke jalan lalu lalang orang.
"*Apa benar Tito brengsek? Tau darimana Gery? Apa aku sampaikan ini ke Papa? Papa pasti kecewa dan marah"
"Tapi bagaimana kalau yang Gery katakan benar. Ya Tuhan apa keputusanku salah*? Aku harus bagaimana? Sejujurnya aku juga nggak siap nikah sama Tito"
Mira bermonolog sendiri dalam hati. Meskipun di depan Gery Mira berkata tidak percaya dan menantang Gery. Tapi sebenarnya Mira sendiri juga penasaran dengan pernyataan Gery. Siapa Tito sebenarnya. Mira juga ragu terhadap Tito.
"Drrrt" ponsel Mira berdering, ternyata perawat poliklinik memberitahu kalau pasien rawat jalan sudah menunggu.
Mira menutup ponselnya, berdiri dan menuju ke tempat prakteknya. Mira memilih mengesampingkan pertanyaan dalam hatinya.
Fokus Mira sekarang adalah menunaikan tugasnya memberikan pelayan rawat jalan. Setelahnya Mira akan menemui Alya, dia satu-satunya tempat yang bisa Mira tanyai.
****
Di belakang gedung ruang bedah sentral Gery mengepalkan dan memukul ke tembok. Gery memainkan lidahnya sambil berfikir.
Kenapa bisa perempuan yang dulu bahkan menguntitnya, sekarang begitu sulit diraihnya. Kenapa makhluk bernama perempuan begitu rumit.
Bahkan secara tidak langsung hari ini Mira menolak cinta Gery. Apa sedalam itu sakit hatinya Mira, kenapa mudah sekali Mira melupakan cintanya ke Gery. Gery kira akan mudah mengambil hati Mira lagi. Gery kira dengan mengatakan cinta akan membuat Mira kembali.
"Tapi dia bilang, buktikan! Itu artinya Mira benar masih cinta ke gue? Gimana caranya gue kasih bukti kalau perkataan Ardi benar" gumam Gery sendiri.
"Itu artinya, gue harus bantu Ardi buat dapetin bukti kebobrokan laki-laki itu dan keluarganya"
Gery kemudian memikirkan apa yang harus dia lakukan. Waktu Gery hanya tinggal 2 hari. Apa bisa Gery dapat bukti buat buktikan ke Mira siapa Tito sebenarnya.
Lalu Gery memutuskan untuk membuntuti Lila dan Tito meski tanpa bekerja sama dengan Ardi dan Riko.
****
IGD
Setelah 3 bulan berlalu dan menyadari dengan sepenuh hati siapa dirinya sekarang. Alya terbiasa dengan keberadaan Fitri sebagai pengawal pribadinya. Alya mulai menyadari apa yang Ardi lakukan adalah bukti cinta Ardi ke dirinya.
Alya juga menyadari keposesifan Ardi ulah dari kesalahan Alya sendiri. Alya bersyukur Ardu masih mau memaafkan kesalahanya. Padahal jika Alya merenung lagi, Alya memang salah, kekanakan dan tidak dewasa.
Alya tetap menjalankan kewajibanya sebagai dokter seperti biasanya. Alya juga membiarkan Fitri mengawasinya. Alya dan Fitri berdamai.
Karena jaga pagi banyak dokter senior, Alya menyuruh Fitri menunggunya di mobil. Fitripun mulai berkompromi dan mengikuti Alya untuk tidak terlalu menunjukan siapa Fitri ke teman-temanya.
Alya masuk ke kamar untuk berganti pakaian kerja dan meletakan barang-barang.
"Al.. " panggil Dinda saat Alya meletakan tasnya.
"Dhalem sayang?" jawab Alya menjawab panggilan Dinda dengan jawaban khas Jawa.
__ADS_1
"Mana nomer handphone Dika?" tanya Dinda cemberut menagih janji Alya mendapatkan nomer hp Dika.
"He... maaf lupa, aku belum bilang ke suamiku" jawab Alya nyengir. Alya memang belum sempat cerita tentang Dika.
"Hish, jahat banget sih kamu!" ucap Dinda kecewa. Padahal Dinda sangat berharap, segera mendapat nomer Dika. Bertegur sapa, melepas rindu dan saling berbagi cerita.
"Sumpah aku lupa. Suamiku lagi sibuk, jadi aku suka lupa. Maaf" tutur Alya lagi menjelaskan.
"Lo tidur sekamar kan? Sesibuk-sibuknya suamimu emang nggak bisa tanya apa liat ponselnya?" jawab Dinda tidak terima Alya beralasan
"Iya ya, nanti aku tanyain" jawab Alya lagi.
"Ih, bete gue sama lo" keluh Dinda lagi.
"Kamu serius suka sama Dika?" tanya Alya menekankan
"Huum" jawab Dinda mengangguk.
"Din, coba deh dipikir lagi, dia 4 tahun lebih muda dari kita" tutur Alya lirih memastikan Dinda tahu siapa Dika.
"Ya nggak apa-apa, emang kenapa?" jawab Dinda percaya diri.
"Ya usia kita udah bukan masanya pacaran"
"Gue juga maunya seriusan sama dia"
"Emang dia mau?" tanya Alya lagi.
"Ya siapa tahu mau, yang penting kan aku usaha"
"Hemm, oke" Alya mengangguk dan menghela nafasnya. Jika Dinda emang suka, Alya bisa apa? Sebagai teman tidak berhak melarang yang penting temanya tidak salah jalur.
"Ya udah gue pulang ya" ucap Dinda hendak pulang.
"Oh iya Anya jaga apa ya?" tanya Alya.
"Ada yang mau omongin. Penting!"
"Apa?"
"Anya bentar lagi nikah, Kak Farid pengen menyegerakan merid" tutur Alya membocorkan informasi tentang Anya.
"Tuh kaaan, kalian pada jahat ninggalin gue" tutur Dinda cemberut kemudian duduk lagi.
Dinda merasa sedih, Dinda sekarang jomblo sendiri, boro-boro nikah. Pacar aja nggak punya. Alya setelah menikah jadi sibuk sama suaminya, Anya juga pasti begitu. Dinda akan menjadi kesepian.
"Ya udah kamu nyari yang udah mapan" jawab Alya memberi saran agar Dinda ikut nikah juga.
"Gue maunya nikah sama Dika aja" jawab Dinda menggebu-gebu mengingat Dika.
Buat Dinda Dika satu-satunya laki-laki yang mempunyai kharisma tersendiri. Tatapanya teduh, sikapnya begitu santun dan perkataanya sangat lembut.
"Hemmm" Alya hanya mengangguk. Rupanya Dinda beneran suka sama Dika.
Tidak lama Anya datang dengan wajah cemberut masuk ke ruang Alya dan Dinda operan.
"Pasien hari ini sepi yak?" tanya Anya agak ketus, melihat kedua temanya santuy. Kenapa kalau Anya yang jaga pasien banyak bahkan di ujung waktu operan.
"Rame semalem, rombongan. Kenapa?" jawab Dinda merasa disepelekan.
"Ya kalian asik ngobrol di sini, tumben!" ucap Anya.
"Baru juga dateng, aku baru sampe, aku nungguin kamu" tutur Alya.
"Ada apa?" tanya Anya kenapa Alya menunggu dirinya.
"Duduk sini" tutur Alya menepuk matras.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Anya lagi penasaran.
"Kapan kamu libur?"
"Lusa, apa 3 hari lagi coba liat jadwal, gue nggak hafal. Ada apa?"
"Kak Farid, mau nikah cepet. Dia mau lamar kamu, dan tentuin hari nikah kalian" ucap Alya membuat Dinda dan Anya kagetm
"What, lamar? Lamar gue? Apa maksud lo?" tanya Anya syok.
"Ya rencana lusa, Kak Farid minta tolong ke suamiku buat temenun ke rumahmu. Makanya kapan kamu ikut pulang ke Bogor"
"Nggak. Nggak. Nggak bisa! Kok A Farid ngomongnya ke elo sih nggak bilang ke gue. Enak aja! Nggak boleh! Nggak mau"
"Lhoh kok gitu? Apa alasan kamu nggak mau? Bukanya kalian emang udah sepakat menikah kalau kalian nggak bisa bawa pasangan masing-masing?" jawab Alya menatap Anya dengan tatapan sayang seperti kakak ke adeknya.
"Ya tapi nggak sekarang juga kali, gue belum siap"
"Tapi kamu mau kan nikah sama Kak Farid?" tanya Alya lagi.
"Nggak!" jawab Anya spontan menagan Gengsi.
"Anyaaa" panggil Alya lembut.
Dinda hanya menjadi pendengar yang baik.
"Al. Gue nggak cinta sama Aa Farid" jawab Anya memberontak.
"Aku sama Mas Ardi juga nggak cinta awalnya" jawab Alya merayu Anya.
"Terus gue harus ikutin jejak lo gitu? Ogah"
"Anya, apa kurangnya Bang Farid sih?" tanya Dinda akhirnya nimbrung.
"Al, gue tahu hati A Farid bukan buat gue. Gue nggak mau ya kalau gue malam pertama sama dia terus dia nyebut-nyebut nama lo, bayangin lo. Dia pikir gue siapa?" ucap Anya mengeluarkan pikiran cemburunya membuat Alya dan Dinda saling pandang dan tertawa.
"Kok kalian ketawa!" tutur Anya tersinggung.
"Kamu nggak mau sama Kak Farid karena cemburu sama aku?" tanya Alya tersenyum.
"Ehm" Anya berdehem salah tingkah.
"Kamu udah bayangin malam pertama sama Bang Farid Nya?" tanya Dinda meledek.
"Bukan gitu maksud gue. Din lo tau nggak sih? Aa Farid itu ngejar Alya, yang dia pengen jadi istrinya tuh Alya bukan gue. Bahkan dia tau kosan gue, tau gue, itu karena nganter Alya kabur. Dia nggak pernah ke kosan gue sendiri emang berniat deketin gue. Cowok macam apa dia?" ucap Anya tidak sengaja mengeluarkan unek-uneknya.
Alya dan Dinda kemudian mengambil kesimpulan kalau sebenarnya Anya hanya ingin dikejar dan diperjuangkan.
"Tapi kan meskipun dia nggak ngapelin kamu dia langsung bilang ke ortu lo, itu lebih keren. Daripada gue nggak ada yang ke rumah nggak ada yang ke gue" ucap Dinda membandingkan dirinya dan ingin membuat Anya bersyukur.
"Anya... kata Kak Farid dia wa kamu tapi nggak pernah dibales" potong Alya menyanggak pernyataan Anya.
"Ehm" Anya berdehem lagi, salah tingkah ketahuan berbohong.bAnya memang nyuekin Farid dan ingin Farid lebih agresif.
"Mau ya, ke Bogor. Kak Farid minta kamu yang tentuin waktunya" sambung Alya lagi.
"Nggak! Kenapa dia tanyanya ke lo? Dia mau nikahnya sama siapa?"
"Ciee cemburu?" ledek Dinda lagi
"Ihh, nggak gue nggak cemburu"
"Makanya kalau ditelp diangkat. Aku suruh Kak Farid jemput kamu nanti siang ya!" sambung Alya.
"Al. Gue belum siap nikah" ucap Anya lagi.
"Tapi Kak Faridnya harus nikah secepatnya, pokoknya nanti siang Kak Farid jemput kamu, titik" ucap Alya memaksa Anya untuk bersiap-siap.
__ADS_1