
Di lorong rumah sakit, langkah Alya terdengar memantul. Kebetulan ruangan itu sepi. Alya berjalan dengan tenang. Menikmati setiap langkah pengabdian dan baktinya sebagai istri.
Alya tersenyum menatap suaminya. Alya merasa hidupnya sekarang terasa sempurna. Pernikahan yang dulu dia benci kini terasa indah. Suaminya begitu mencintainya, memberikan limpahan kasih sayang tak terukur.
Bahkan Alya mendapatkan keluarga. Persahabatan Ardi dan teman-temanya terasa melengkapi hidupnya. Tanpa lelah Alya mendorong kursi roda Ardi. Itu harga yang bisa Alya bayar sebagai ujud terima kasih atas segalanya.
Bukan Ardi yang tidak kasian ke Alya. Membiarkan Alya yang sedang hamil mendorongnya, tapi Alya yang sekarang terlampau sayang ke suaminya. Karena Ardi belum sembuh sempurna.
"Sayang kalau kamu capek, Mas putar rodanya sendiri aja ya!" ucap Ardi di tengah lorong.
"Lian nggak capek Mas"
"Apa beli tongkat kruk aja ya?" tutur Ardi lagi mempunyai ide.
"Siapa yang mau beli Mas, kita istirahat bentar terus persiapan ke nikahanya Dokter Gery?"
"Mas telpon Dino" jawab Ardi enteng.
"Maas" ucap Alya hendak menegur.
"Hemm"
"Kasian Dino, udak berfikir keras gantiin Mas di kantor masih disuruh-suruh begitu. Jangan lah. Buat apa juga tongkat kruk? Mas kan nggak ada yang patah, sehari dua hari sembuh kok. Udah latian jalan aja ya pelan-pelan, Lian bantu. Lian nggak capek kok"
"Lama sayang nunggu sehari, kan kondanganya entar malam. Masa mas kondangan pake kursi roda? Terus jalanya terseok-seok. Enak jalan pakai kruk ada tumpuan. Mas telpon Arlan aja suruh belikan tongkat kruk ya!"
"Hemm, kasian Pak Arlan Mas, bolak balik"
"Sayang kok kamu kasian kasian terus sih sama orang? Mereka kan emang dibayar buat layani Mas. Sama Fitri kasian, sama Bu Siti kasian, sama Ida, sama Mia kasian. Jangan terlalu kasian sama orang" tutur Ardi lagi beda pendapat dengan Alya.
"Hemmm ya gimana? Lian emang kasian, Mas suruh-suruh mereka terus"
"Tenang aja, mereka bahagia kok disuruh sama Mas, sudah jadi pekerjaan mereka begitu"
"Ya, ya "
"Jangan bilang kamu juga kasian sama musuh-musuh kamu!"
"Ish. Lian nggak punya musuh kok"
"Bagus"
Mereka kemudian sampai di ruangan rawatnya. Setelah sampai kamar Ardi meminta Alya membiarkanya beraktivitas sendiri.
"Lian ke Mamah dulu ya Mas"
"Ngapain?"
"Kasih tau Mamah Papah, kalau Gery mau nikah"
"Nggak usah. Mamah nanti ribet pasti!" ucap Ardi melarang.
"Mas, Gery kan kenal sama Papa Mamah, nggak boleh gitu sama orang tua, harus dikasih tau"
"Ya udah terserah kamu lah, tapi jangan lama-lama, temani Mas"
"Iya, cuma di samping bentar doang kok!"
Alya kemudian pergi ke kamar rawat mertuanya. Ardi turun dari kursi roda sendiri, melatih bergerak mandiri.
****
"Pah, Mah, ini Lian, Lian masuk boleh ya" tutur Lian mengetok pitu.
"Iya sayang. Masuk aja ada apa?" jawab Bu Rita.
Alya kemudian masuk ke kamar rawat mertuanya.
"Lhoh Mamah sama Papah kok kemas-kemas?" tanya Alya kaget melihat Bu Rita dan Tuan Aryo sudah siap pulang.
"Mamah nggak betah di rumah sakit. Mamah udah sehat kok, mama mau pulang!"
__ADS_1
"Oh gitu"
"Suamimu juga udah sehat kan? Tadi Farid ke sini, katanya Ardi mau ke Bogor? Mamah nggak ijinin kamu ikut, kamu kan lagi hamil" tutur Bu Rita memberi perintah.
"Iya Mah"
"Bener lho! Kali ini kamu nurut Mamah. Kalau Ardi maksa biar mamah yang marahin"
"Iya Mah"
"Terus kamu kesini mau ngapain?"
"Mau ngabarin, Ibu nanti malam Dokter Gery mau nikah"
"Hah? Gery mau nikah?" tanya Bu Rita syok kemudian sesak lagi.
"Heeehhhaah heeehhaahh" Bu Rita tiba-tiba sesak lagi. Tuan Aryo yang dari tadi menyimak langsung sigap menolong Bu Rita.
"Mamah kenapa?" tanya Alya ikutan panik.
"Inhaller Pah, Inhaller" ucap Bu Rita meminta Tuan Aryo mengambil obatnya.
Alya dan Tuan Aryo duduk membiarkan Bu Rita memperbaiki nafasnya.
"Tenang dulu" ucap Tuan Aryo menepuk dan menengkan istrinya.
"Gery mau nikah? Nanti malem?" tanya Bu Rita menegaskan
"Iya Mah"
"Kalian itu aneh-aneh semua? Nikah gimana ceritanya? Kan dia juga baru sadar tadi pagi"
"Tuan Bayu udah pesen hotel, catering dan lain sebagainya untuk tunangan Dokter Mira dan anak Tuan Wira Mah, nggak mungkin dibatalin. Jadi Dokter Gery yang gantiin"
"Bayu kesini?" tanya Tuan Aryo
"Iya Pah"
"Papah kenal juga sama Pak Menteri?" tanya Alya.
"Ya jelas kenal sayang dia sahabat Papa juga, Pak Presiden aja kenal Papah" jawab Bu Rita.
"Oh gitu, he...."
"Ya udah papah mamah pulang duluan ya!" pamit Bu Rita ke Alya setelah nafasnya stabil.
"Satu lagi Mah, Pah"
"Apa?"
"Ibu lagi di kereta mau kesini"
"Oh iya, wah kebetulan! Mamah seneng banget kalau gitu, ya udah kamu wa tempat nikahnya Gery ya. Kabari ibumu juga kasih tau mamah kalau udah sampai, biar Pak Rudi yang jemput"
"Iya Mah"
"Ya udah mamah papah pulang dulu ya" pamit Tuan Aryo.
"Iya Pah"
"Pamitin sama suamimu" tutur Tuan Aryo lagi.
"Lhoh Papah Mamah nggak ke Mas Ardi dulu?"
"Nggak, Mamah sebbel sama dia" jawab Mama Rita meninggalkan Alya.
Alya hanya mengangguk, menatap Bu Rita dan Tuan Aryo pulang. Alya sendiri heran, kenapa Bu Rita sebbel sama anaknya sendiri. Ibu dan anak itu benar-benar aneh.
Alya kemudian kembali ke kamar, ternyata Ardi sedang kedatangan tamu. Ardi dan tamunya tampak mengobrol dengan muka serius.
"Siang Kak Riko" sapa Alya sopan dan menganggukan kepala.
__ADS_1
"Siang Nyonya Ardi" jawab Riko.
Alya kemudian duduk mendengarkan suami dan tamunya mengobrol.
"Tapi apa dia berani bertingkah Ar setelah Tito tertangkap?" tanya Riko ke Ardi.
"Sangat mungkin, Tuan Wira bukan orang yang mudah menyerah. Dia saja bisa menyabotase bisnisku. Klienku diambil dua sama dia"
"Berarti kita harus temuin dia?"
"Iya. Mereka pasti udah bayar karyawanya buat ngaku. Mereka pasti ngancem keluarganya biar dia bersedia jadi kambing hitam"
"Gue juga yakin gitu, tapi dia nggak mau ngaku!"
"Dia nggak mungkin ngakulah, bodoh kamu! Cari keluarganya, amankan keluarganya dulu. Baru dia mau berpihak ke kita" tutur Ardi ke Riko menasehati.
"Iya juga sih"
"Sory dua hari ini gue sibuk, gue nggak bisa bantu lo"
"Oke, gue akan cari sendiri. Pokoknya Lila nggak boleh berkeliaran bebas"
"Siip"
"Ya udah, gue cabut dulu!" pamit Riko.
"Oke"
"Saya pamit Nyonya Alya"
Alya hanya mengangguk mempersilahkan tamunya pergi.
Alya kemudian mendekat ke suaminya. Ardi terlihat sedikit memikirkan sesuatu.
"Apa semua baik-baik saja?" tanya Alya pelan mendekat ke Ardi dan menyentuh tangan suaminya yang tampak tegang.
"Lila berhasil menyelamatkan diri, dia ngorbanin karyawanya, mas khawatir sama kamu sayang"
"Maksudnya?"
"Lila bayar karyawanya buat ngaku, kalau dia yang fitnah dan sebarin foto-foto Mas, padahal kan niatnya Riko lapor ke pihak berwajib buat menjarain Lila, tapi malah orang lain yang kena. Dia masih berkeliaran dan pasti akan balas dendam"
"Kasian ya keluarganya"
"Iya. Kamu juga harus waspada! Mas lagi mikir gimana caranya buat nolongin karyawanya itu, biar dia ngaku dan juga nggak jadi korban Lila"
"Ya udah, tarik aja tuntutanya Riko Mas. Biar aja Riko maafin dia. Dia pasti akan berterima kasih ke Riko, dia juga pati akan bantu kita" tutur Alya memberi ide.
"Oh iya ya. Kamu cerdas sayang, panggil Riko lagi"
"Hemmmm, Lian harus kejar gitu?"
"Ya udah Mas telpon aja. Pokoknya Lila juga harus dipenjara seperti kakaknya" ucap Ardi geram.
"Emang Lila jahat banget ya? Mbok udah sih Mas, kita hidup tenang, nggak usah berurusan sama mereka, kasian juga kan Tuan Wira, kalau kedua anaknya dipenjara semua"
"Kan kamu mulai, semua orang dikasihani, kamu ke mereka kasihan! Di otak mereka, pengenya bunuh kamu, kamu mau apa?" tanya Ardi ke Alya.
"He.... , Lian pasti ditolong sama Alloh".
****
Hai hai kakak-kakak reader semuanya.
Maaf part kali ini bab Alya doang. Farid sama Anya lagi kencan. Gery sama Mira lagi siap-siap, Dinda lagi berdo'a dapet jodoh.
Sinta dan Intan? Tunggu mereka sadar ya.
Makasih ya, udah sayang sama mereka semua. Semoga Author bisa mengemas perpisahan mereka dengan alur yang baik. Aamiin.
Tetep kasih like koment da vote ya.
__ADS_1
Oh iya, kenalan yuk sama Kia dan Ipang, karya baru Author, "Sang Pangeran"