
Di sudut kamar megah di lantai dua, Mira berdiri di dekat jendela. Memandang langit yang membentang luas. Hari ini matahari bersinar terik. Langit pun tampak indah dengan warna birunya.
"Hhh" Mira menghela nafasnya pelan.
"Tuhan, jika cinta adalah kata benda, dan mencintai kata kerja. Beri aku cinta yang terbaik. Dan biarkan aku mengerjakanya dengan baik"
"Tapi jika cinta kata sifat, apa aku bisa membohonginya?"
Mira bermonolog dalam hati. Setiap saat dan setiap waktu, Mira selalu berusaha meyakinkan hatinya. Kalau pilihan Mira adalah benar dan yang terbaik.
Mira melihat jam tanganya. Tito janji menjemputnya jam 10 pagi. Sekarang baru jam 9 pagi. Hari itu Mira mengambil waktu libur. Hari ini Mira akan mengambil kebaya untuk acara lamaran.
"Thin thin" suara klakson mobil Tito terdengar di halaman rumah Mira menyapa satpam.
"Huuuft, ayo Mira. Ini takdirku, Tito lelaki terbaik yang Tuhan kirim buat aku" ucap Mira dalam hati sambil mengambil nafas memantapkan hatinya.
Mira mengambil tasnya, melihat ke kaca sebentar memastikan rambutnya sudah rapih. Kemudian Mira meraih tas gucci-nya. Menyemprotkan sedikit minyak wangi. Mira turun ke bawah menemui calon suaminya.
"Baru mau Mama panggil" ucap Bu Ike Mmah Mira di depan pintu.
"Mira berangkat ya Mah" ucap Mira.
"Nggak mau istirahat minum dulu?"
"Nggaklah, kasian Intan Mah, nanti nunggu lama"
"Salam ya buat Nak Intan"
"Iyah"
"Ya udah hati-hati!" ucap Bu Ike mengantar Mira turun ke ruang tamu.
Di Ruang tamu Tito sudah menunggu. Tito tampak gagah dengan tampilan necisnya, memakai kaos berkerah dan celana jeans.
"Kita berangkat dulu Tante" tutur Tito sopan berpamitan
"Hati-hati Nak Tito" jawab Bu Ike.
"Daah Mah" ucap Mira berpamitan.
Mira mengikuti Tito menuju ke mobil. Dengan lembut dan sopan Tito membukakan pintu mobil untuk Mira.
"Terima kasih Mas" tutur Mira tersenyum.
"Sama-sama Tuan Putri" jawab Tito merayu Mira.
"Andaikan Gery bisa memperlakukan aku semanis ini, aku pasti sangat bahagia" gumam Mira dalam hati sambil memakai sitbealt.
Setelah semua siap Tito segera melajukan mobilnya menuju ke butik Gunawijaya. Seperti biasa, Mira dan Tito saling diam dan bicara seperlunya. Untuk mengurangi rasa canggung Tito menyalakan musik.
Entah kenapa Mira masih canggung ngobrol dengan Tito.
Cinta memang selalu tau pada siapa dia harus mengeluarkan signalnya. Hati Mira seperti mati dan membeku saat bersama Tito.
Semanis apapun Tito memperlakukan Mira, semua terasa hambar, tanpa rasa, berlalu tidak ada yang membekas.
Berbeda saat bersama dengan Gery. Meski Gery hanya memanggil Mira menanyakan mau visit ke ruangan atau mau pulang. Jantung Mira berdetak kencang, seluruh tubuh Mira terasa memanas dan membuatnya salah tingkah.
10 tahun lebih, sejak Mira pertama kali melihat Gery. Rasa itu selalu sama, tidak pernah berubah dan berganti. Entah terbuat dari apa hati Mira. Mira sendiri sangat membenci perasaan dan hatinya, kenapa begitu koko tanpa goyah.
Segimana Gery mengacuhkanya, segimana Gery mengusirnya, jantung dan hati Mira tidak mau berganti. Mira hanya akan merasakan detakan jantungnya yang keras saat berdekatan dengan Gery. Meski Mira ingin menyudahinya.
"Mir" panggil Tito ingin mencairkan suasana.
__ADS_1
"Iya" jawab Mira dingin.
"Boleh aku panggil kamu sayang?"
"Ehm" Mira berdehem, mulutnya tercekat.
Ini kedua kalinya Tito meminta memanggilnya dengan panggilan intim.
Sebenarnya Tito meminta sesuatu yang wajar mengingat status mereka akan segera berganti. Tapi entah kenapa, Mira merasa tidak rela panggilan sayang untuk dirinya diucapkan orang, selain Gery.
Tapi tidak ada pilihan lain. Sebuah kewajaran jika tunangan memanggil pasanganya dengan sebutan sayang.
"Kamu masih malu ya? Aku hanya ingin kamu terbiasa" ucap Tito lagi tidak menyerah.
"Ya, nggak apa-apa" jawab Mira ragu-ragu.
"Terima kasih sayang. Kamu udah siapin nama-nama tamu undangan kita?" tanya Tito lagi.
"Mm" Mira menjadi canggung.
"Mira paling undang temen-temen rumah sakit. Mira tidak begitu banyak temen soalnya"
"Oh gitu. Temen kuliah mungkin"
"Temen kuliah Mira berkarir di luar. Mereka juga masih pada wkds. Jadi susah jadwalnya"
"Oh gitu. Yaya. Kamu suka kan cincinya?" jawab Tito lagi.
"Sukak" jawab Mira dingin.
Tito selalu kehabisan kata-kata juga, bingung mau tanya apa lagi karena Mira hanya menjawab seperlunya. Mereka berdua kembali terdiam. Setelah beberapa saat mereka sampai ke butik.
Karena sudah janjian Intan menyambutnya dengan baik. Kebetulan siang itu Dara ada kuliah, jadi hanya ada Intan bersama dengan karyawan Ardi.
"Hai Mir" sapa Intan ramah.
"Nggak kok. Kalian tepat waktu. Ke atas Yuk!" ajak Intan ke ruangan barunya di lantai dua bekas gudang. Intan tidak mau di bawah berbagi dengan Dara.
"Sekarang ruanganmu di atas?" tanya Mira.
"Iya. Lo tau kan dua tahun gue vakum. Ibunya Ardu merekrut orang baru" ucap Intan sambil berjalan menuju ke ruanganya.
"Oh, jadi sekarang ada dua desainernya?" jawab Mira.
"Iya. Tapi dia masih kuliah. Biasa anak yayasan"
"Oh. Gue tetep padamu Tan"
"Makasih" jawab Intan tersenyum
Mereka pun sampai di ruang kerja Intan. Tidak diragukan lagi, tangan Intan memang ajaib jika sudah menyentuh kain dan payet-payet indah.
Di ruangan Intan berdiri dua manequeen, satu dengan kebaya cantik yang sudah siap pakai dengan warna gold, satu lagi dengan gaun panjang untuk pernikahan belum jadi.
"Ini kebaya gue?" tanya Mira takjup.
"Iya"
"Wauw, lo emang nggak berubah ya Tan. Cantik banget" ucap Mira menyentuh kebayanya, mengagumi ketelatelan Intan menyusun mutiara payet membentuk gambar angsa.
"Gue lembur demi Lo" ucap Intan bersemangat.
"Thanks ya"
__ADS_1
Mira memandangi setiap detail kebayanya. Tiba-tiba, hati Mira seperti tersentak. Ada rasa sakit yang kembali menjalar. Mira sendiri benci perasaan itu datang lagi.
"Coba saja aku memakai kebaya ini bersama Gery" gumam Mira tiba-tiba. Lalu segera dia tepis pikiran yang menurutnya gila itu.
"Sok dicoba. Punya laki lo juga" tutur Intan membuyarkan lamunan Mira.
Intan mempersilahkan Mira dan Tito mencoba setelah batik dan kebaya mereka.
Mira dan Titopun mengangguk. Masuk ke ruang ganti mencoba memakai pakain mereka. Lalu keluar untuk saling mengaca dan meminta pendapat Intan
"Perfect. Kalian pasangan serasi" ucap Intan melihat Mira dan Tito memakai baju couple.
Mira dan Tito kemudian saling pandang. Tito merasa puas dan bangga. Sementara Mira menatap getir ke Tito, tapi dia memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
Tiba-tiba ponsel Tito berbunyi keras. Tito mengambil ponselnya dan melihatnya. Seketika wajah Tito berubah. Lalu dimatikan. Mira dan Intan hanya melihatnya tidak ingin mencampuri.
"Gue suka kebayanya Tan. Sekali lagi thanks ya" ucap Mira.
"Sama-sama" jawab Intan.
Tiba-tiba ponsel Tito berbunyi lagi, membuat Intan dan Mira salah fokus.
"Diangkat aja. Takutnya penting" ucap Mira memperingati Tito.
Karena merasa tidak nyaman, Tito mengangguk dan mengangkat panggilan. Tito sedikit menjauh dari Mira dan Intan.
Intan dan Mira kembali melanjutkan percakapanya. Membahas konsep gaun pernikahan Mira.
"Sh*ttt. Kurang ajar" umpat Tito keras dengan seseorang ditelpon.
Mira dan Intan sontak kaget mendengar umpatan Tito. Terutama Mira. Ini pertama kalinya Mira mendengar Tito emosi. Selama ini Tito terlihat sangat halus dan lembut.
Merasa diperhatikan Mira dan Intan, Tito kembali mengatur nafas dan intonasi bicaranya. Tito sedikit berbisik sehingga tidak didengar Mira lagi. Tidak lama Tito mengakhiri sambungan telponya. Lalu Tito mendekat ke Mira.
"Ada apa Mas Tito? Apa ada masalah?" tanya Mira.
"Sory aku harus pergi sayang, ayo aku antar pulang" jawab Tito gusar.
"Ada masalah apa? Kenapa bentak-bentak gitu ngobrolnya?" tanya Mira lagi.
"Biasa, bawahan gue kerjaanya nggak bener" jawab Tito datar memberikan alasan.
Sementara Mira masih terlihat syok dan curiga.
"Nggak apa-apa Mir. Laki-laki biasa gitu. Ardi juga dulu sering emosi gitu" ucap Intan sok dekat dan menasehati.
Mendengar kata Ardi Tito langsung melotot dan kaget.
"Ardi? Nona Intan kenal dengan Ardi?" tanya Tito.
Mendengar pertanyaan Tito Intan tertawa, sementara Mira merasa tidak nyaman. Mira tau Ardi juga bermasalah dengan Lila. Karena tempi hari Lila juga cerita dengan memfitnah , kalau Ardi mempermainkan hati Lila.
"Tentu saja Intan kenal. Ini kan butik punya Ardi" sela Mira menjawab Tito tidak ingin Tito salah sangka.
"Saya mantan tunanganya" sahut Intan tidak terima hanya dianggap karyawan seperti yang disebutkan Mira.
"Duh" gumam Mira dalam hati takut Tito tanya macam-macam.
"Oh" jawab Tito singkat. Mira sedikit lega. kemudian Tito tersenyum tapi tanganya mengepal tidak ada yang melihatnya.
"Mira mau di sini dulu. Selesaikan dulu urusanya" ucap Mira mengambil keputusan masih ingin ngobrol dengan Intan.
"Oke" jawab Tito mengangguk dan menyetujui permintaan Mira.
__ADS_1
"Gue packing dulu ya batiknya" ucap Intan meminta ijin merapihkan kemeja Tito.
Tito melepas batiknya dan membiarkan Intan merapihkanya. Setelah dibungkus, Tito berpamitan pulang. Entah menemui siapa.