
Alya duduk di depan sofa. Menunggu suaminya mandi. Alya menggigit bibir bawahnya berfikir, apakah yang dia dilakukan sudah benar? Kenapa Alya juga merasa sakit saat Ardi menawarkan kata perceraian. Tapi Alya juga tidak siap jika harus menyerahkan harta berharganya ke orang yang belum ada satu bulan dia kenal.
Pagi ini Alya tidak jaga di rumah sakit, Alya menyalakan televisi menghilangkan kegalauanya. Tidak lama Ardi keluar kamar dengan pakaian rapih dan berdasi. Alya menelan salivanya menatap getir ke suaminya. Ardi yang agresif dan hangat ke Alya hilang, kini yang tampak di mata Alya, sosok Ardi yang dingin, dewasa dan berwibawa.
"Ini kunci kamarnya, kamu boleh terima tamu perempuan. Tapi tidak untuk tamu laki-laki" ucap Ardi tiba-tiba memberikan kunci kamar yang dia sembunyikan.
"Iya, terima kasih" jawab Alya patuh mengambil kunci. "Benar kan dia tidak lupa naruh tapi memang sengaja" gumam Alya dalam hati melihat suaminya pergi meninggalkan apartemen.
Alya menggenggam kunci kamar, seharusnya Alya bahagia karena Alya sudah tidak diatur dan dikekang lagi. "Kenapa rasanya aneh Ardi tiba-tiba memberikan kuncinya dan bersikap dingin. Apa dia benar-benar marah? Apa dia sungguh akan menceraikan aku, karena aku menolaknya?"
Alya menghela nafasnya. Mencoba membuang semua perkiraanya, Alya yakin tidak akan semudah itu mereka bercerai, usia pernikahan mereka saja belum satu minggu. Kalaupun Ardi melakukanya, toh orang lain belum ada yang tau tentang pernikahanya. Alya harus siap apapun yang akan terjadi.
Alya kembali menonton televisi, mengalihkan pikiranya tentang nasib pernikahanya. Alya mengingat sahabatnya yang hendak curhat ke Alya. Alya pun menelfon Anya, memberitahu dimana dia tinggal.
Sekitar 30 menit Alya menonton televisi, bel apartemen berbunyi. Alya meraih jilbabnya dan bangun membuka pintu apartemen. Wajah Alya tersenyum melihat kedatangan sahabatnya.
"Yuk masuk" ajak Alya ke Anya.
"Ck, kenapa nggak dari awal kasih tau sih kalau kamu tinggal disini?" omel Anya baru tau Alya tinggal di depan rumah sakit.
"Aku hanya numpang, kemarin aku juga masih bolak balik jadi aku malu mau kasih tau" jawab Alya mengajak Anya ke ruang TV
"Hemmm, nyaman juga tau di sini, aku boleh sering main yah!" pinta Anya sambil duduk dan melihat sekeliling.
"Mau minum apa? Aku buatin ya?" tanya Alya hendak buatin minum ke Anya.
"Aku bawa jajan nih" jawab Anya mengeluarkan isi tas punggunnya, ternyata Anya beliin Alya eskrim dan beberapa camilan.
"Ya ampun aku jadi terharu, kamu main malah bawa jajan, bukanya aku yang siapin"
"Biasa aja kelles, kita kan sesama anak rantau" jawab Anya mengeluarkan isi tasnya.
"Katanya kamu mau curhat, curhat apa?" tanya Alya ingin mendengar curhatan sahabatnya.
"Nanti ajalah, gue pengen nonton film nih, nonton film yuuk" ajak Anya ke Alya
"Ish... dasar katanya mau curhat, ya udah nih, terserah mau nonton apa?" tanya Alya memberikan remote tv.
Lalu Anya mengambil remote dan menyambungkan ke internet untuk mencari film kesukaannya. Mereka berduapun menonton film bersama dengan genre hantu, film kesukaan Anya. Sementara Alya yang cenderung suka genre romantis hanya mengimbangi sahabatnya.
"Al" panggil Anya memulai ingin curhat.
"Iyah, kenapa?"
"Gue pengen ke Jogja" jawab Anya.
"Heh?" jawab Alya kaget menoleh ke Anya.
"Iya, gue pengen kabur ke Jogja"
"Kabur? Ngapain?" tanya Alya kaget mendengar kelakuan sahabatnya.
"Pacar gue lagi ppds di Jogja, gue pengen kabur dari orang tua gue"
"Kabur gimana sih? Dia kan lagi ppds, ya udah biarin lah, emang kamu ada apa sama ortumu?"
"Gue mau dijodohin?" jawab Anya cemberut.
"Hah? Dijodohin?"
"Iyah, tapi aku nggak cinta, dia juga nggak cinta sama aku, kemarin kita ketemu" cerita Anya mengingat pertemuan makan siang bersama keluarganya kemarin.
"Ketemu sama laki-laki yang mau dijodohin sama kamu?" tanya Alya terlihat antusias mendengar cerita temanya.
"Iyah, dia udah berumur, jadi kayaknya maunya nikah cepet, gue belum siap Al, terus dia itu juga katanya masih ngejar cwe yang dia suka juga, yang jelas tipenya bukan kaya aku" tutur Alya melanjutkan ceritanya.
"Hemm, terus kenapa laki- laki itu nggak bilang ke orang tua kalian, buat batalin perjodohan kalian" usul Alya ke Anya.
__ADS_1
"Nggak sesimple itu Al, gue juga udah bilang ke orang tua gue. Lo nggak tau gimana orang tua gue, makanya gue mau ke Jogja"
"Hemmm, gimana ya? Nggak bisa diomongin baik-baik?"
"Nggak tahu juga, kalau dia berhasil bawa perempuan yang dia suka ke orang tuanya dan gue juga berhasil ngeyakinin kalau cwo gue itu baik buat gue, perjodohan ini gagal. Tapi kalau kita berdua sama-sama gagal, gue harus nikah tahun ini"
"Ooh gituh, hemmm" jawab Alya berfikir dan menundukan kepalanya. "Seandainya kamu tau Nya, aku juga terjebak di pernihakan yang nggak bisa dijelasin"
"Ke Jogja yuuk!" ajak Anya tiba-tiba.
"Aku sih pengen banget ke Jogja, tapi kan kita belum selesai di sini" jawab Alya menolak Anya.
"Hemmm. Kapan kamu ke Jogja?"
"Kalau libur, minggu depan mungkin"
"Ikut yah!" pinta Anya ke Alya. Alya menelan salivanya, apa Ardi akan ijinin Alya ke Jogja bersama temanya, apa Ardi akan ikut? Apa kata ibunya?
"Ehm... Besok aku kabarin" jawab Alya menggantung.
"Oke, gue kangen banget sama pacar gue, gue juga harus jelasin ke dia dan ajak dia ke orang tua gue" jawab Anya.
"Udah lama pacaranya?" tanya Alya.
"Kenal udah lama, tapi jadianya baru"
"Kapan?"
"Kemarin pas wisuda, abis itu kita LDR, kasian kan gue?"
"Hemmm, yakin dia setia? Di Jogja banyak cewek cantik lhoh! Apa dia siap diajak ketemu orang tuamu?" tanya Alya membuat Anya berfikir.
"Ish apa sih loh? Sebbel deh" jawab Anya cemberut llu memeluk bantal sofa. "Gue yakin dia mau! Ahhh gue kangen banget Al, pengen cium dia pengen peluk dia" jawan Anya semakin kencang memeluk bantal.
"Dosa tau belum halal, nggak boleh peluk-peluk apalagi cium-cium" jawab Alya mengingatkan sahabatnya.
Alya diam, mendengar sahabatnya. "Aku udah pernah ngrasain itu semua Anya, lebih dari itu" gumam Alya menggigit bibirnya dan membetulkan jilbabnya. Jangan sampai Anya melihat jejak Ardi di lehernya.
"Gue boleh nginep di sini nggak?" tanya Anya tiba-tiba.
"Hah? Nginep?" mata Alya terbelalak mendengar pertanyaan Anya.
"Iyah, boleh kan? Gue bosan di kosan"
Alya menelan salivanya dan gelagapan. Gimana ngejelasinya kalau Alya tinggal bareng suaminya.
"Gimana ya Nya..."
"Pelit banget sih" jawab Anya bete melihat aura penolakan.
"Boleh, tapi nggak sekarang, gimana?" tanya Alya mencari alasan.
"Oke" jawab Anya tersenyum, lalu berjalan melihat ke dapur dan kamar. "Meskipun nggak luas, interior dan penataanya keren ya Al, tantemu kaya ya?" tanya Anya melihat beberapa aksesoris ruangan.
"Begitulah" Alya mengangguk mengiyakan. "Bahkan di apartemen ini ada cctvnya kecuali di kamar dan kamar mandi" gumam Alya dalam hati.
"Tantemu punya anak laki-laki nggak?" tanya Anya lagi.
"Hah, anak laki-laki?"
"Iyah, kenalin tuh sama Dinda, dia jomblo siapa tahu jodoh"
"Ehm, he.... " Alya hanya tersenyum tidak menanggapi Anya. "Iya tanteku punya anak laki-laki, satu doang dan itu buat aku" gumam Alya. "Kenapa aku jadi ngrasa memiliki mas Ardi sih? Bukankah aku udah nolak dia? Ya ampun"
"Lo kenapa?" tanya Anya melihat ekspresi Alya aneh.
"Nya, boleh tanya nggak?" tanya Alya ragu-ragu.
__ADS_1
"Boleh, tanya apa?"
"Apa kamu sering...?" tanya Alya memperagakan orang ciuman dengan tanganya.
"Sering apa?" tanya Anya aneh melihat sahabatnya yang udah tua tapi masih kaya anak ABG.
"Begini" jawab Alya memberi kode ciuman dengan kedua telapak tanganya.
"Ciuman?" tanya Anya memperjelas. Lalu Alya mengangguk malu.
"Ya... gimana ya? Dibilang sering nggak sering juga, gue kan belum nikah, gue juga LDR kaan, tapi ya kalau ketemu gue gitu" jawab Anya terus terang.
"Mungkin nggak sih seseorang melakukan itu tanpa ada perasaan cinta?" tanya Alya ragu-ragu.
"Emmm, mungkin sih, tapi kalau gue nggaklah. Pasti ada rasalah seseorang melakukan itu, ciuman terasa sangat menjijikan kalau melakukanya tanpa rasa cinta, sebaliknya akan jadi indah kalau pake rasa! Malah katanya bisa jadi candu! Kecuali pria brengsek yang nggak peduli itu semua" jawab Anya terus terang.
"Kemungkinan pria itu brengsek berapa persen dan bagaimana menilainya?"
"Lo kenapa sih tanya-tanya masalah ciuman? Lo dicium Dokter Gery?" tanya Anya menebak.
"Enak aja, ngawur kamu, nggaklah!" jawab Alya menolak, "Aku dicium suamiku Anya, bukan dokter gila itu" gumam Alya ingin jujur tapi malu.
"Terus ngapain tanya-tanya?"
"Ya pengen tau aja, biar aku bisa tau"
"Hemmm, dasar kamu ya, bodoh apa gimana sih? Ck ck" jawab Anya melihat kasian ke Alya yang seumur-umur belum pernah pacaran.
"Laki-laki brengsek yang gue maksud ya laki-laki yang menyentuh perempuan tanpa cinta, biasanya dia play boy, cuma karena nafsu atau biasanya karen mabok, bisa dikenalin kok, kalaupun perempuan ya tergantung lo suka nggak sama tu cowok, susah gue ngejelasinya" jawab Anya bete harus menjelaskan hal-hal yang nggak penting menurut Anya.
Alya diam tertegun, mencoba mencerna kata-kata Anya. "Mas Ardi tidak melakukanya dengan mabuk, tapi aku juga tidak tahu, dia playboy atau tidak? apa dia sungguh punya rasa ke aku?"
"Cara kita tahu, kita suka apa nggak ke cowok itu gimana sih?" tanya Alya lagi.
"Hihhh gemesh aku sama kamu, hal kaya gini tuh ngalir sendiri, nggak usah dijelasin kenapa harus ditanyain sih? Kamu nggak pernah suka atau jatuh cinta sama cowok?" tanya Anya gemas.
"Em.... " Alya diam membayangkan kekaguman sama kebaikan Kak Farid, "Apa itu yang dinamakan jatuh cinta, tapi aku juga tetap enggan disentuh Kak Farid, aku hanya kagum melihat ketulusan dia ke anak-anak panti" pikir Alya dalam hati.
"Kayaknya lo emang belum pernah cinta deh sama laki-laki" jawab Anya menebak ekspresi Alya.
"Bagaimana aku mau jatuh cinta, waktuku hanya habis untuk belajar agar aku bisa dapat beasiswa, ketrima di universitas negeri dan lulus kedokteran dengan baik, setelah itu aku harus bekerja membantu ibu" jawab Alya menunduk.
"Puk puk" Anya menepuk bahu Alya. "Lo pasti nemuin cinta lo" jawab Anya menguatkan Alya.
"Emang gimana rasanya?" tanya Alya polos.
"Gimana ya rasanya?" jawab Anya memejamkan mata sambil berfikir. Lalu menyentuh dadanya "Kalau kamu ketemu dia, atau berdekatan dengan dia, di sini kamu akan ngerasain detak jantung kita kencang banget, terus kamu berubah menjadi bahagia saat bersamanya"
"Terus?" tanya Alya ingin tahu lagi.
"Tanpa syarat apapun, kamu akan merasa nyaman saat bersamanya, kamu ingin selalu di dekatnya, kamu bisa jadi diri sendiri, kamu nggak bisa jauh darinya, di matamu, di otakmu habya muncul dia dia diaaa terus" jawab Anya meneruskan.
Alya diam, menundukan kepalanya, dibenaknya muncul wajah suaminya. "Ya ampun kenapa aku memikirkanya, apa aku menyukainya?" gumam Alya lalu memeluk tubuhnya sendiri, mengingat semua yang udah terjadi.
"Lo kenapa?" tanya Anya lagi melihat Alya memeluk dirinya sendiri dan bergidik seperti orang kedinginan.
"Nggak apa-apa" jawab Alya sambil tersenyum ke sahabatnya. Lalu mereka berdua melanjutkan nonton drama bersama dan melupakan obrolanya.
Anya main di apartemen Alya sampai sore, mereka menghabiskan waktu libur bersama. Nonton film, drama korea dan mengobrol. Mereka juga masak bersama, Alya sangat bahagia mempunyai teman sebaik Anya meskipun banyak hal yang berbeda dari keduanya.
"Makasih ya, Al. Kapan-kapan main lagi boleh kaan?" tanya Anya saat pamit.
"Iyah aku juga makasih udah ditemenin"
"Salam buat tantemu, kapan-kapan gantian kamu main ke kostku, kalau libur panjang ke rumah ortuku" jawab Anya lagi.
"Iyah beres, hati-hati di jalan ya" ucap Alya di depan parkiran mengantar Anya ke mobilnya
__ADS_1
"Iyah, Daah" Anya melambaikan tanganya ke Alya.