
Rumah Sakit
Siang itu kantin rumah sakit tampak ramai. Memang tidak begitu luas seperti restoran pada umumnya. Menu makanan yang dijual juga beberapa makanan daerah. Akan tetapi, suasananya bersih, rapih dan dijamin ke hygienisanya. Itulah sebabnya kantin dijadikan sebagai tempat merefresh otak bagi para pekerja kemanusiaan di rumah sakit itu.
Dokter Gery duduk di pojokan kantin, dengan segelas jus tomat di depanya, terlihat masih utuh. Padahal sudah satu jam dia di situ. Dia hanya duduk menggeser layar ponselnya tanpa bosan, entah apa yang dia baca dan cari.
"Pagii Dok" sapa perawat menganggukan kepala memberikan senyum.
"Pagi" jawab Dokter Gery ramah, dan entah sudah berapa kali Dokter Gery menjawab sapaan dari perawat berbeda yang berlalu lalang di kantin.
"Kenapa aku terlihat bodoh sih duduk di sini sendirian, kenapa gadis ceroboh itu tidak kesini?" gumam Gery mengedarkan pandangan mencari sosok gadis yang dia rindukan.
Karena sudah lelah menunggu, Dokter Gery menyeruput jus tomat di depanya. Dia berniat melalukan visit pasien ke ruang ICU lebih pagi.
"Pagi Dokter Gery"
Terdengar suara gadis cempreng dengan cerianya. Lalu Dokter Gery menghentikan aktifitas menyeruput jusnya itu, dia menoleh ke sumber suara. Dokter Gery pun mengurungkan niatnya visit pagi.
"Pagi" jawab dr. Gery datar.
"Kenapa yang muncul gadis cempreng ini siiih? bukan Alya?" gerutu dr. Gery dalam hati.
"Sendirian aja Dok?" tanya gadis itu duduk di depan Dokter Gery tanpa disuruh. Dokter Gery membiarkanya tidak berani mengusir.
"Iya, sekarang kan ada kamu jadi berdua" jawab Dokter Gery datar lagi. "Apa gue tanya-tanya aja ya ke dia tentang Alya. Gue kan belum tau apa-apa tentang Alya" Dokter Gery tampak berfikir sambil memperhatikan gadis kecil berambut pendek pirang dan imut itu.
"Kamu temanya dr. Alya kan?" tanya dr. Gery.
"Iya Dok" jawab Dinda mengangguk semangat. "Yang kemarin ditraktir makan sama Dokter"
"Tumben sendirian mana yang lain?"
"Yang lain di rumah lah Dok"
"Oh iya ya, berarti Dokter Alya nggak jaga?"
"Nggak Dok" jawab Dinda kikuk sambil merapihkan rambutnya di belakang telinga.
"Dokter Alya jaga apa?" tanya Gery lagi.
"Duh saya nggak hafal Dok, kalau nggak sore ya malam, kayaknya sih sore" jawab dr. Dinda asal.
"Ooh" Gery mengangguk. "Baiklah aku akan menunggumu sampai sore" gumam dr. Gery.
"Oh iya, kamu tau rumahnya Dokter Alya?" tanya dr. Gery usaha.
"Nggak Dok, kalau kita mau main, Dokter Alya selalu bilang besok saja, gitu." jawab dr. Dinda polos.
"Kalau boleh tau dia tinggal di daerah mana sih?" tanya Gery lagi.
"Kurang tau juga Dok, beberapa kali saya liat dr. Alya naik taxi online, pernah juga liat dr. Alya dianter pake mobil mewah sama sopir juga"
Dokter Gery mengangguk tanda mengerti, dia menyimpulkan kalau Dokter Alya berasal dari keluarga yang bukan orang sembarangan. Padahal kalau dilihat dari keseharianya pakaian Dokter Alya terlihat biasa saja bukan pakaian mahal. Tas, sepatunya, bahkan wajahnya terlihat biasa. Bersih tapi tidak glowing seperti dokter-dokter lain yang perawatan.
__ADS_1
"Dook" panggil Dinda menggerakan telapak tanganya ke kanan dan ke kiri di depan mata dr. Gery.
"Eh iya, maaf" jawab Gery mengedipkan matanya. Dia tersenyum malu ketahuan melamun.
"Gantengnya dokter Gery saat tersenyum" gumam Dinda dalam hati memandangi idola dadakanya itu.
"Ehm" Seorang perempuan dengan dress bunga-bunga berambut panjang pirang, dengan wajah blesteran Arab_Indonesia berdehem di samping meja dr. Gery. Perempuan itu membawa pouch camilan dan sebotol air mineral.
"Boleh gabung?" tanya perempuan bertubuh tinggi semampai itu.
Dokter Gery dan Dokter Dinda menoleh ke perempuan itu dan memberikan kursi.
"Silahkan Dok" Dinda menjawab terbata sambil memberikan kursi.
Dokter Mira pun ikut bergabung. Tapi Dokter Mira tidak duduk di kursi yang diberikan Dinda. Dokter Mira memilih kursi di dekat Dokter Gery, meski Dokter Gery tidak menawarkan. Hal itu membuat Dinda berhadapan dengan Dokter Mira. Dinda menjadi canggung dan gemeteran. Karena meskipun cantik Dokter Mira terkenal galak.
"Kamu kelompoknya dokter yang ku beri tugas itu kan?" tanya dr. Mira ke Dinda.
Dokter Gery tampak ikut memperhatikan perkataan dr. Mira.
"I-iyaa Dok" jawab dr. Dinda terbata.
"Ini kan jam kerja di ruangan, kamu nggak ada kerjaan? Pagi-pagi kok udah di kantin?" tanya dr. Mira sambil melihat jam di pergelangan tangan.
Dinda salah tingkah sambil menelan salivanya. Dia tau dia salah, niatnya hanya membeli minuman tapi melihat dr. Gery duduk sendirian dia tidak ingin membuang kesempatan, lalu dia menyapa dan akhirnya ngobrol jadi mengulur waktunya di kantin.
"Maaf Dok, saya ke sini mau beli minum, haus" jawab dr. Dinda sambil merapihkan rambutnya.
"Kamu memberi tugas tambahan Mir?" tanya dr. Gery tiba-tiba ke dr. Mira.
"Miiir, Miiir, suka sekali kamu mengerjai mereka, bahkan mereka kan sudah bukan lagi mahasiswa" tutur Dokter Gery.
"Biar saja, biar dokter magang di sini pinter-pinter, kerjanya nggak cuma pacaran terus, kecentilan sama senior" jawab dr. Mira ketus.
"Kita di sini sama-sama sama pegawai Mir. Biarlah mereka bekerja" jawab dr. Gery melanjutkan protesnya, dia tidak setuju kalau Mira masih memperlakukan dokter magang seperti mahasiswa.
Dokter Dinda diam termangu mendengar percakapan dr. Gery dan dr. Mira. "Sial, bener kan kecurigaan Anya. Dokter Mira memang nenek lampir, bisa bisanya dia mengerjai kita, gue harus bahas ini ke anak-anak. Dokter Gery, i love you so much. Pokoknya gue harus bilang ke Alya dan Anya" gumam dr. Dinda geram.
"Mohon maaf Dok, saya pamit dulu" Dokter Dinda pamit meninggalkan dua seniornya dengan wajah tidak bisa ditebak. Lalu Dokter Dinda memesan susu coklat panas dan cemilan.
Sambil menunggu coklat panas. Dokter Dinda meraih ponselnya dan segera menghungi kedua temanya. Setelah pesenan selesai dia segera ke ruangan.
"Kamu beri tugas apa memangnya?" tanya dr. Gery melanjutkan percakapan.
"Tidak banyak hanya membuat makalah".
"Kenapa kamu selalu begitu sih Mir? Please baby, kita sudah bukan anak-anak lagi"
"Aku dengar kamu berpacaran dengan gadis itu, aku hanya ingin sedikit mengenalnya"
"Darimana kamu mendengarnya?"
"Perawat bangsal" jawab dr. Mira datar.
__ADS_1
"Kamu percaya?"
"Tentu saja, bahkan pandanganmu tidak pernah lepas darinya"
"Apa kamu melihatnya begitu?"
"Semua orang tahu, dari matamu saat menatapnya. Kamu seperti, sangat terlihat tergila-gila pada gadis itu".
Dokter Gery dan dokter Mira tampak terdiam.
"Bahkan kamu belum tahu siapa dia" lanjut dr. Mira.
"Memang kamu tahu tentang dia?"
"Akan aku cari tahu"
"Bagaimana caranya kamu mencari tahu, bahkan aku sendiri susah menemuinya"
"Itu urusanku bukan urusanmu"
"Yaya... " Dokter Gery mengangguk pasrah menghadapi gadis yang sangat gigih, di sampingnya itu
"Kamu sungguh mencintainya?" tanya Dokter Mira lagi.
Dokter Gery diam.
"Apa kamu sungguh akan mengejarnya? Atau hanya main-main saja? "
"Apa urusanmu?" jawab dr Gery membuat skak matt dr. Mira, mengembalikan perkataanya.
Dokter Mira diam. Lalu mengunyah snack kentang di tanganya.
"Kamu bahkan menghabiskan waktumu seperti orang bodoh di sini" lanjut dr. Mira.
"Dari mana kamu tau dari tadi aku di sini? "
"Tentu saja aku tau?"
"Kamu menguntitku?"
"Tidak! "
"Lalu?"
"Ya aku tau saja" jawab dr. Mira datar.
"Kamu tidak ada kerjaan?" tanya dr. Gery.
"Jam poli kan masih 30 menit lagi" jawab Dokter Mira melihat jam tangan mahalnya.
"Kapan kamu berubah Miir?" tanya Dokter Gery pelan menatap Mira sedikit iba.
"Aku tidak akan pernah berubah!"
__ADS_1
"Sudahlah, pesanku jangan repotkan Dia". Ucap dr. Gery lalu pergi meninggalkan dr. Mira
****Ada hubungan apa dr. Mira dan dr. Gery? "entahlah" Nanti dipikirkaan ya. Oh iya, author mohon maaf kalau masih banyak tipo. Mohon dukungan Like dan vote nya biar thor semangat nulis. Ini novel pertamaku, mohon dukunganya.