
“Keasinan nggak Mom?” tanya Dinda di dapur.
Mama Dinda yang merupakan seorang ASN di daerah ibu kota asal Padang itu mendekat. Lalu mencicipi kuah masakan asam padeh dari tangan Dinda.
“Kalau kata Mama udah pas Uni”
“Hihi, semoga Mas Dika suka ya Mom” tutur Dinda malu- malu.
“Hah anak mama udah besar ternyata. Mama jadi nggak sabar pengen liat seperti apa pria yang udah merubah anak manja mama jadi begini?” tutur Mama Dinda menatap anaknya haru.
Dinda yang manja sekarang mulai dewasa. Bahkan tanpa disuruh Dinda merubah penampilanya. Dinda juga jadi lembut dan nggal ambekan ke mamanya.
“Dia tampan Mah, tampan sekali, Mama pasti suka” jawab Dinda memuji Dika.
“Iya Mama percaya pilihan anak mama pasti yang terbaik” jawab Mama Dinda.
Mengetahui Dika mau main, mengingat Dika menempuh jalur darat dengan membawa muatan dagangan dari Jogja. Dinda ingin menyambut Dika dengan istimewa. Dengan meminta bantuan mamanya, Dinda nekat masak sendiri.
Karena ibu Dinda asli Padang, Dinda minta diajari masak masakan Padang. Ikan patin asam padeh, rendang, sambal hijau terong dan telur dadar khas Padang. Sepulang jaga Dinda sekarang selalu menyempatkan belajar masak.
“Tapi orang Jawa biasanya suka nya manis Sayang” tutur Mama Dinda.
“Nggak apa- apa Mah, sesuai khas kita aja, selama Dinda liat Mas Dika dia makan apa aja, dia sagat terbuka dia juga menghargai apapun, nggak pernah nyela” jawab Dinda lagi lagi memuji- muji Dika.
Pokokya hati Dinda sedang dipenuhi semua tentang Dika.
“Oke.. sampai sini katanya jam berapa?” tanya Mama Dinda lagi.
“Dia lagi ke rumah suami temen Dinda, Mah”
“Yang kata papah keluarga Gunawijaya?” tanya Mama Dinda.
“Iya Mah”
“Kok kamu nggak cerita kamu kenal sama keluarga mereka?”
“Mama ih? Perasaan Dinda sering cerita deh, menantu Gunawijaya itu temen Dinda Mah. Masa mama lupa”
“Kan kamu cuma cerita orang kaya. Mama penasaran menantu Bu Rita yang sosialita itu seperti apa?” tanya Mama Dinda kegirangan, keluarga Gunawjaya kan keluarga ternama. Bisa kenal dengan keluarga itu suatu kebanggaan.
“Emang mama belum pernah liat Alya?” tanya Dinda.
“Belum, emang pernah main ke sini?”
“Lupa juga Dinda Mah”
“Nanti fotoin ya. Temenmu dateng kan? Mamah mau foto sama menantu keluarga konglongmerat hihi”
“Ishh... Mom, jangan lebay deh. Alya tuh orangnya nggak begitu”
“Kenapa? Dia nggak mau foto ya?”
“Bukan nggak mau foto. Alya nggak suka yang berlebihan begitu. Terus suami Alya, kalau ada dia sih, dia nggak akan negbolehin Alya bersentuhan atau deket- deket sama siapapun. Harus di deket suaminya. Kecuali suaminya lagi kumpul sama teman- teman laki- laki baru Alya boleh menjauh” jelas Dinda menceritakan aturan bertemu temanya itu.
“Hmmm gitu, apa temenmu itu cantik banget sampai sebegitunya?”
__ADS_1
“Cantik sih, tapi nggak banget juga, kalau kata Dinda cantikan Dinda hehehe”
“Iya ya anak mamah memang paling cantik” jawab Mama Dinda.
“Alya itu baik lucu, baik banget pokoknya Mah, dia manis nggak ngebosenin kalau dilihat. Dan Dinda seneng banget, karena Alya yang udah buat Dinda ketemu Mas Dika” ucap Dinda lagi tersenyum ke mamahnya.
“Uluh uluh anak mamah, tu rendangnya tambah santanya lagi. Udah empuk belum dagingnya?” tegur Mama Dinda keaasikan ngobrol nggak memperatikan masakanya.
“Iya- ya. Hehe”
Mereka kemudian lanjut masak.
****
Di rumah besar Tuan Aryo.
“Makanya dikit banget Dik?” tegur Ardi karena Dika makan sangat cepat dan sedikit.
Alya kemudian menginjak kaki suaminya memberi kode.
“Ehm” Dika hanya berdehem canggung.
“Nanti kalau di rumah Dinda disuruh makan kan nggak enak kalau kenyang duluan Mas” ucap Alya memperjelas. Ardi memang kadang- kadng kurang peka.
“Oh ya yah! Oh ya, gimana teman- temanmu dan Farid udah beres belum? Geramehnya sesuai pesanan kan?” tanya Ardi lagi.
“Insya Alloh sesuai pesanan Pak kualitas nomer satu” jawab Dika menjamin kualitas daganganya.
“Siip urusan pembayaran sama orang panti ya!” ucap Ardi lagi, untuk bisnis kecil dan uang yang masih di bawah 50 juta itu urusan karyawan Ardi.
Managemen panti Gunawijaya memang selalu berusaha menepati janji terhdap rekan bisnisnya.
“Oke siip.. sipp!” jawab Ardi sebagai bos merasa lega pihaknya sudah menunaikan kewajibanya.
Saat mereka selesai makan alarm adzan maghrib terdengar. Lalu mereka bergegas berkumpul di salah satu ruangan yang keuarga Ardi gunakan sebagai mushola.
Dan di saat yang bersamaan Fardi dan 4 karyawan Dika tiba. Meski Dika muda , tapi di kampungnya Dika bos tambak yang punya karyawan usianya lebih tua.
Peserta pengajian yang mendoakan Mia sudah pulang. Tuan Aryo dan Bu Rita kemudian ikut menyapa tamu anaknya itu.
“Nak Dika ini lulusan pondok pesantren lho” tutur Bu Mirna mereka hendak sholat.
“Oh ya udah kalau gitu, Nak Dika saja yang jadi Imam” tutur Tuan Aryo menangggapi.
“Ah mboten Pak, Pak Aryo saja yang lebih tua yang jadi imam” jawab Dika mereendah.
“Sudahlah Dik, yang bacaan tajwidnya lebih bagus, itu yang lebih utama jadi imam” tutur Ardi menengahi.
“Iya udah sana jadi imam” imbuh Farid.
“Ehm baiklah” jawab Dika santun, akhirnya dengan membungkukan kepala , Dika maju ke posisi imam.
Farid kemudian melantunkan adzan dan iqomah. Di mushola kecil di dalam keluarga Gunawijaya itu mereka kemudian melakukan jamaah.
Rumah Tuan Aryo memang berada di khawasan terpisah dari warga yang lain. Halaman dan pagarnya juga begitu luas.
__ADS_1
Masjid tempat juga agak jauh, jadi mereka jamaah di rumah. Jika sholat jum’at biasanya juga Ardi dan Tuan Aryo jamaah di dekat kantornya.
Selesai sholat kemudian mereka bersiap. Bu Rita dan Tuan Aryo yang mendengarnya pun menepuk bahu Dika menyemangati. Dika menjdi sungkan dan malu.
“Niatmu sungguh mulia Nak, semoga lancar ya. Saya beberapa kali ketemu Nak Dind, dia dokter yang manis. Ibu seneng dengernya” tutur Bu Rita ikut besrikap ramah terhadap teman putra dan menantunya.
"Aamiin, terima kasih Bu" ucap Dika santun.
Sementara Ardi dan Alya sedang ke kamar sebentar untuk berhias dan berganti pakaian.
“Sekarang percaya kan sama Lian?” ucap Alya menyindir Ardi sambil mengoleskan lipstik di bibirnya, tempo hari kan Ardi menolak Alya meminta nomer Dika.
“Emang Dinda dapet nomer Dika darimana Yang? Kamu nyuri dari hp mas ya?”
“Ishh” Alya mendesis dan mencubit pinggang suaminya yang sedang berdiri mengancingkan kancing kemeja di sampingnya.
“Apa sih?”
“Lian bukan istri yang begitu Mas, ponsel mas mana pernah Lian otak atik, enak aja! Ibu yang mintain ke orang tua Dika. Perasaan Lian pernah cerita deh” jawab Alya.
“Oh...” jawab Ardi sambil ngaca. Karena Alya sudah selesai berdandan Alya pun berdiri dan menghadap ke suaminya.
“Sini rambutnya Lian rapihin” ucap Alya berjinjit lalu membantu Ardi menyisir rambutnya. Ardi pun pasrah membiarkan Alya menata rambut suami sesukanya.
“Begini aja” ucap Alya tersenyum.
“Mas dimodel apapun tetap ganteng Yang” ucap Ardi percaya diri.
“Ish” Alya hanya mendesis.
“Cup” kemudian Ardi mencium kening istri di depanya itu. Lalu mereka keluar kamar.
Rupanya Dika dan rombongan sudah menuggu di mobil mereka. Dika menggunakan dua mobil bak dari Jogja. Sementara Farid bawa mobil sendiri.
“Ini mau pake mobil bak?” tanya Ardi kemudian.
“Iya Pak” jawab Dika.
“Kasian ih, bau ikan, pakai mobilku aja, tuh tinggal milih!” ucap Ardi menunjuk gudang koleksi mobilnya.
“Tidak Tuan terima kasih, kami sudah mandi dan pakai parfum kok. Bekas ikanya juga kami susun rapih dan tidak bau” jawab Dika sopan menolak tawaran Ardi.
Ardi pun manggut- manggut tidak memaksa.
“Baiklah kalau begitu” jawab Ardi lalu mereka masuk ke mobil masing- masing. Dan meski perempuan sendiri Alya ikut menempel di suaminya.
Mereka pun berangkat menuju ke rumah Dinda.
****
Dengan perasaan campur aduk. Dinda sudah duduk manis di atas ranjangnya. Dinda memilih menunggu di kamar. Karena kata mamahnya nanti kalau udah dateng Dinda akan dipanggil.
Dinda memilih mengenakan gamis cantik berwarna peach. Dinda tampak anggun. Dinda memegangi ponselnya menunggu kabar dari Dika. Tapi dika tidak kunjung menghubunginya padahal waktu sudah menunjukan pukul 18.40 Wib.
__ADS_1