
Setelah menemukan obat yang Alya kenali sebagai perangsang keguguran. Alya menelan ludahnya tak percaya. Nafasnya memburu, sekali lagi pikiran bersihnya yang selalu berpositif thingking dan menyayangi semua orang tercemar. Dunia tak sebaik itu.
“Hah... hah...” Alya langsung terduduk tidak bisa berkata apa-apa. Bukti semakin jelas, ada musuh di dalam selimut, tapi siapa?
“Siapa yang tega nglakuin ini? Ya Tuhan, Astaghfirulloh, jadi ada yang mengincar nyawa anakku?” gumam Alya mengelus perutnya dan meneteskan air mata. Alya kemudian teringat Ardi dan ingin memeluknya.
Dengan langkah gontai, Alya meninggalkan dapur dan menggenggam bungkus obat itu masuk ke kamarnya. Rasanya masih sulit diterima, di dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman ternyata tidak. Dan kini Alya menjadi paranoid sendiri.
“Apa Bu Siti? Apa motifnya? Kenapa Bu Siti mau bunuh anakku? Tidak sepertinya bukan Bu Siti. Bu Siti kan yang paling lama di sini? Bu Siti juga selalu patuh pada Mas Ardi? Tapi kan yang bareng di dapur hanya dia”
Alya mulai menebak-nebak sendiri, bahkan kini Alya ketakutan berada di kamar dan tidak mau bertemu siapapun. Apalagi sekarang Alya sendirian, anggota keluarga yang lain tidak ada di rumah itu.
“Apa Ida? Apa Mia? Apa Fitri? Apa alasan mereka melakukan semua itu? Kenapa? Apa salahku? Apa salah kami?”
Beragam kata,pertanyaan dan spekulasi memenuhi otak Alya. Lalu Alya teringat perkataan Faisal, ternyata anak dari orang sebaik Mang Adi juga punya fikiran jahat. Kemudian Alya menyimpulkan ada Faisal- Faisal lain, yang diam- diam membenci dirinya dan suaminya.
“TF? Apa itu Fitri? Apa Faisal? Fitri karyawan yang paling baru di sini, tapi dia selalu baik ke aku. Apa iya dia? Bagaimana ini? Aku harus telpon Mas Ardi, harus bilang dan cerita hal ini”
Alya kemudian menghubungi suaminya, tapi Ardi tidak menjawab. Dan di saat Alya kebingungan dan ketakutan, Ida mengetuk pintu kamar Alya. Alya semakin kaget dan gelisah.
“Ada apa Mba?” tanya Alya dengan perasaan campur aduk, karena sejak saat itu Alya merasa semua orang
di rumah mencurigakan.
“Hiks hiks” Ida justru menangis di depan Alya.
“Ada apa?” tanya Alya.
“Polisi datang beneran Non, Ida takut, Ida kessel sama pacar Mia” jawab Ida polos.
“Polisi?” tanya Alya memastikan.
“Iya Non” jawab Ida menggangguk.
“Oke,aku ambil jibab dulu ya. Kamu boleh turun duluan”jawab Alya mengerti.
“Ya Non”
Alya mengambil jilbabnya dan merapihkan tubuhnya dan hendak turun menemui polisi. Alya berusaha bersikap tenang, dan di sini Alya juga ingin menunjukan bungkus obat itu. Sekalian saja biar masalahnya selesai.
“Selamat pagi Bu, kami dari kepolisian, hendak melakukan penyelidikan guna menindak lanjuti laporan, kalau di rumah ini terjadi upaya percobaan pembunuhan dengan racun, terhadap pasien atas nama Bapak Adi Waluyo” tutur polisi menunjukan surat tugas.
“Oh iya, silahkan” jawab Alya ramah dan kooperatif, meski dalam hatinya bercampur berbagai rasa.
Sebelum ke rumah Tuan Aryo ternyata polisi sudah menemui Faisal dan Mang Adi. Jadi polisi sudah fokus terhadap sambal tempe. Polisi meminta semua penghuni rumah yang hari itu datang kedapur ikut ke kentor polisi, termasuk satpam.
Lalu polisi memeriksa ruang tkp, mulai dari dapur, ruang makan, dan tempat Mang Adi pingsan. Dan di luar dugaan Alya dan yang lain,meski cobek tempat membuat sambal sudah dicuci, polisi masih menemukan sisa sambal tempe di tempat sampah dekat tempat cuci piring. Polisi megambilnya sebagai barng bukti dan hendak diperiksa.
Setelah olah tkp selesai Alya dan karyawanya dibawa menuju ke kantor polisi guna melakukan penyelidikan. Alya sudah selalu menghubungi suaminya. Tapi Ardi tak kunjung mengangkat telpon atau membaca pesan istrinya.
“Mia kemana?” tanya Alya saat menyadari karyawanya kurang satu orang.
“Tadi pamit mau ke pasar Non” jawab Mang Itong.
“Dia ikut beberes dapur nggak tadi pagi?” tanya Alya ke Bu Siti sekarang Alya sedikit dingin dan ketus.
__ADS_1
“Dia tadi pagi nyuci dan sarapan di dapur” jawab Bu Siti.
“Telpon dia, suruh susul kita” ucap Alya memberi perintah.
“Baik Non”jawab Bu Siti patuh.
Kini semua menjadi tegang. Alya masih membawa bungkus obat itu, tapi Alya juga berfikir ulang, kalau Alya menunjukanya, kira- kira akan menjadi pukulan balik menjeratnya atau tidak? Tapi itu jelas obat penggugur kandungan, dan yang hamil di rumah itu hanya Alya.
*****
“Plaak” sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mia.
“Hiks hiks” Mia hanya menerimanya dengan menangis.
“Bodoh kamu bodoh!, kenapa bisajutru dimakan bapak tua itu” umpat Kakak Mia.
"Maafkan Mia Kak, Mia juga nggak tahu"
“Jangan terlalu kasar pada adikmu” tutur seorang perempuan cantik yang hari ini datang menemui Mia dan kakaknya.
Lila tau anak buahnyA yang dipenjara berhianat. Lila tahu Riko dan Ardi hendak mencari ke vilanya. Jadi dia dan Tuan Wira kabur, meminta tolong pada Kakak Mia, tinggal dia aantek setianya, dan mereka sekarang bersama. Mendengar perintah bosnya kakak Mia berhenti memukul Mia.
“Kita masih butuh adik cantikmu ini, kita masih punya banyak rencana, jangan kasar!” tutur Lila dengan senyum liciknya dan memilin rambutnya mendekati Mia.
“Jelaskan detail, rumah itu, penghuninya, kebiasaanya dan petanya, beritahu informasi tentang resepsi mereka” perintah Lila ke Mia, entah apa rencana Lila.
Mendapat perintah itu Mia hanya diam, Mia ingin berontak dan menyudahi semua tugas dari kakaknya itu. Hati dan akal Mia berperang, Mia sadar keluarga majikanya baik, tapi Mia terlanjur masuk ke lingkaran kakaknya.
Mia tidak berfikir panjang saat bertemu keluarganya dan ijin menikah, kakaknya langsung memberi
syarat ke Mia. Mia langsung menyetujuinya. Dan kini Mia terjebak dalam pilihan bodohnya sendiri.
“Iya baik Nona” jawab Mia.
“Ya sudah sana, kerjakan tugasmu dengan baik! Kembalilah ke rumah itu! ” ucap Lila memberi perintah dan melepaskan Mia.
Mia kemudian keluar mengambil tas dan barang belanjaan yang dia pakai sebagai alasan keluar. Saat sampai rumah, Mia terbengong karena rumah sepi. Mia kemudian mendapat telepon dari Ida untuk menyusul mereka ke kantor polisi.
“Polisi, duh gimana ini? Kenapa aku harus ke kantor polisi?” gumam Mia panik mendapat telepon Ida. Seketika keringan Mia keluar, Mia semakin stress dan ketakutan. Mia tidak tahu kalau yang membuat masalah ini tersangkut
ke polisi ulah dari Faisal yang emosian.
“Apa babeh Adi meninggal? Hiks..hiks apa yang harus aku lakukan? Kenapa menjadi serumit ini? Aku harus gimana?”
****
Setelah Anya mandi dan sarapan, Anya berniat menelpon Alya untuk memberitahu kalau Pak Didi itu ayah Intan dan Anya juga mau curhat tentang Farid. Tapi telpon Anya ditolak.
“Jangan telepon. Sory aku lagi di kantor polisi”ketik Alya memberipesan.
“What ngapain?” tanya Anya kaget ngapain di kantor polisi.
“Ceritanya panjang, ini ada hubungannya dengan kecelakaan kalian kemarin. Tolong gantiin jaga aku sore ini ya” jawab Alya lagi justru meminta bantuan.
“Lo di kantor polisi mana?” tanya Anya.
__ADS_1
Lalu Alya memberitahu alamat kantor tempat penyidikan mereka. Alya juga menceritakan secara singkat, kalau dirinya dan beberapa asisten rumah tangganya sedang diperiksa. Karena salah satu di antara mereka terlibat dalam kecelakaan mobil Ardi malam itu.
Sebagai sahabat yang baik dan Anya juga hampir ikut mati pada saat kecelakaan, Anya ingin tau dan ikut mendampingi Alya menyelesaikan masalahnya. Apalagi setelah Alya cerita, kalau Ardi tidak mndampinginya,bahkan belum tau kabarnya.
Keinginan Anya menelpon Alya seperti firasat, dan ikatan batin mereka. Atau petunjuk Tuhan sebagai sesama sahabat. Anya menelpon di waktu yang tepat saat Alya butuh bantuan.
“Aa Farid kan dosen psikolog, harusnya Aa Farid bisa membaca mimik dan gerak-gerik orang dong” batin Anya memikirkan sesuatu.
“Aku harus ajak Kak Farid untuk menemui semua asisten rumah tangga Alya”
Lalu Anya mengirim pesan ke Farid agar Farid segera datang ke kos Anya. Meski sedang mengajar di kampus, membaca pesan Anya, senyum Farid mengembang dengan sempurna.
“Ternyata benar kata Ardi, yang penting dimiliki dulu, cewek akan luluh, yess” batin Farid senang, Farid mengira Anya merindukanya, mau mengajaknya berkencan, bukan datang ke kantor polisi dan menebak mimik wajah seseorang.
Farid kemudian memberikan tugas diskusi ke mahasiswanya, karena memang waktu perkuliahan sudah hampir selesai 10menit lagi. Dengan tancap gas, Farid menuju ke kos Anya. Rasanya Farid seperti mau melayang, hubunganya benar-benar di luar dugaan.
Bahkan farid sudah membayangkan, hari ini Farid ingin melangkah lebih maju, mencoba memegang tangan Anya, jalan- jalan dan sebagainya. Farid mengendarai mobilnya dengan bersiul senang. Setelah beberapa puluh menit, Farid sampai di kos Anya.
Anya sudah menunggu berjalan mondar mandir di depan teras, dengan tas selempang lucu warna hitam. Seperti biasa rambut Anya diikat ke belakang, leher mulus dan jenjangnya terpampang. Anya memakai dress warna pink dengan tinggi sebetis dan lengan pendek, sangat manis.
“Ehm.. udah lama Neng nunggu Aa?”tanya Farid berdehem salah tingkah menghampiri Anya.
“Aa nggak lagi sibuk kan?”tanya Anya lembut dan sopan.
“Nggak Neng, buat Neng Aa nggak pernah sibuk, makasih ya udah kangen sama Aa” ucap Farid ke gr_an.
“Hoh? Kangen?” tanya Anya melongo dan berdecak.
“Aa juga kangen sama Neng, sebentar lagi ya, kita hidup satu rumah, tapi Aa juga barusan langsung ke sini kok begitu Neng telpon?” jawab Farid masih ke Gr an.
“Aa tuh ngomong apa sih? Ngga jelas banget, siapa juga yang kangen, ishh gr” jawab Anya jutek dan mengatai Farid.
“Lha terus, Neng nyuruh Aa kesini? Ngapain? Neng kangen kan sama AA?”
“Nggak!” jawab Anya ketus, Anya jadi ragu,Farid tuh sebenarnya psikolog beneran apa bukan,kok malah kaya Farid yang kena menatal, mental ke GR_an.
“Terus kita mau apa? Kita bukan mau pacaran?”
“Hiih, ck, kita ke kantor polisi sekarang!” jawab Anya.
“Kantor polisi?” tanya Farid kaget dan menelan ludahnya malu.
“Iya, Aa belajar cara buat baca ekspresi dan mimik wajah orang kan?” tanya Anya.
“Iya belajar Neng, ngajarin juga, tapi mau ngapainkekantor polisi Neng?” jawab Farid.
“Alya lagi kena masalah , kita bantu dia, yuk!” ajak Anya.
“Alya?” tanya Farid kaget lagi.
“Iya”
“Kok Ardi nggak telpon Aa?”
“Udah sih, ayo buruan berangkat!”
__ADS_1
“Oke” jawab Farid
Lalu mereka berangkat mendampingi Alya.