
****
Kantor Pengadilan.
"Thok. thok" suara palu hakim terdengar jelas.
Riko mengepalkan tanganya karena mendapati kekalahan. Ternyata yang dijatuhi hukuman bukan Lila, tapi karyawanya yang Lila suruh mengerjakanya dan mengakuinya.
Meski Lila tidak datang tapi dia menang mengalahkan Riko. Karyawan Lila kemudian dibawa oleh polisi. Berganti memakai pakaian orange.
"Tunggu!" panggil Riko ingin bibaca sebentar.
Polisi dan anak buah Lila berhenti.
"Kenapa kamu mengakuinya? Kenapa kamu mengorbankan dirimu Pak? Katakan kau disuruh Lila kan? Kalian tidak lihat berita pagi ini. Mereka tamat, mereka terbukti bersalah. Keluarga Tuan Wira orang jahat! Jangan takut katakan kau disuruh Lila" ucap Riko memohon.
Tapi karyawan Lila itu hanya diam menatap Riko.
"Maaf Tuan, sidang sudah diputuskan, silahkan anda pergi!" ucap Polisi menyuruh Riko pergi.
Riko mengalah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kini dia tinggal berdiri dengan nafas penuh kekecewaan.
"Huuft" Riko mengeratkan rahang dan membuang nafasnya.
"Gue harus jenguk Ardi dulu" batin Riko dalam hati.
****
Rumah Sakit Healthiest.
"Boleh Mas pegang perut kamu? Jagoan papa lagi apa?" tutur Ardi lembut dengan tatapan cinta.
"Huum? Jagoan? Emang Mas udah tau kelaminya?" jawab Alya mendelik dan membercandai suaminya.
"Ucapan kan do'a sayangkuh. Mas yakin dia jagoan"
"Kalau ternyata cewek?"
"Ya nggak apa-apa asal tidak cerewet dan pundungan kaya mamanya"
"Iih, Lian kan sekarang nggak pundungan"
"Mas yakin kok dia cowok. Yang ganteng kaya papanya" jawab Ardi percaya diri sangat yakin anaknya laki-laki.
Meskipun mau laki-laki atau perempuan semua membahagiakan.
"Ayah bukan Papa" tutur Alya memberi pilihan nama panggilan untuk mereka nanti.
"Kenapa?" tanya Ardi tidak terima.
"Nggak suka!"
"Ya sudah Abah aja!"
"Ketuaan Mas, Ayah! Titik!"
"Hemm ya ya! Sini Mas mau sapa dia
"Dia mulai berdenyut Mas. Hihi"
"Makasih ya sayang, kamu hamil sehat dan sangat mandiri tanpa keluhan" ucap Ardi berterima kasih karena Alya tidak merepotkan.
Kedua insan itu tampak duduk di bangku taman depan rumah sakit Gery. Bersantai dan menikmati waktu berharganya masing- masing.
Waktu dimana Ardi tidak dikelilingi data-data daftr ekspor dan kerja sama. Waktu dimana Alya tidak dikelilingi jarum-jarum dan spuit berbagai ukuran.
Tangan kekar Ardi mendarat di perut istrinya yang mulai menampakan pembesaran. Perut yang di dalamnya terdapat kehidupan. Kehidupan insan hasil buah cinta mereka.
Jari-jemari Ardi bergerak lembut berputar putar. Sekaan meraba dan menyalurkan kasih sayang untuk kehidupan kecil di dalamnya.
"Sayang berdenyut" ucap Ardi kegirangan dan wajah berseri-seri.
"Huum, dia memang mulai berdenyut, bulan depan dia akan mulai bergerak dan menendang" ucap Alya lagi.
__ADS_1
"Cup cup" Ardi membungkukan badanya dan mencium perut istrinya yang masih kecil tapi mulai membesar.
"Tumbuh sehat jagoan Ayah, baik-baik pada ibumu. Kalau ibumu tidak menjagamu lapor ayah yaa"
"Haiish, nasehat macam apa itu? Mana ada Lian nggak jaga anak Lian" ucap Lian gemash ke Suaminya, di saat seperti ini masih saja Ardi ngebanyol.
"Iya. Soalnya ibumu sangat keras kepala. Padahal kan seharusnya dia cukup diam di rumah melayani ayahmu dan menjaga dirimu. Buat apa dia bekerja? Iya kan?" lanjut Ardi lagi seakan mengadu pada anaknya. Menyindir istrinya, Ardi ingin Alya berhenti bekerja.
"Hemmm" Alya hanya manyun mendengar penuturan Ardi.
Sementara Ardi melirik ke Alya menunggu responya.
Alya diam menundukan kepala dan memikirkan permintaan suaminya itu. Sebenarnya Alya mulai menimbang-nimbang memilih keluar atau lanjut bekerja.
Tapi jika berhenti di tengah jalan rasanya sia-sia Alya magang. Alya hanya ingin dapet STR dan selesai pendidikanya.
"Mas sungguh ingin Lian di rumah?" tanya Lian serius.
"Sangat sungguh-sungguh Sayang, mas akan bekerja keras memberikan yang terbaik buat Kalian. Berapapun uang yang kamu minta, mas akan usahakan! Di rumahlah, jadi istri yang patuh dan buat mas tenang"
"Tinggal beberapa bulan lagi magang Lian selesai Mas. Lia setuju setelah magang selesai, Lian fokus ke Mas dan anak kita. Tapi ijinin Lian seleseikan intership ya!"
"Ya Mas ijinkan, hanya sampai magang selesai!"
"Iya"
"Mas sangat khawatir atas kesehatan dan keselamatanmu"
"Tawakal sama Alloh Mas, semua hidup kita udah diatur"
"Tapi kita harus berupaya sayang, Lila juga pasti tidak tinggal diam karena kakaknya ditangkap, kita tunggu kabar Riko"
"Iyah. Kan Lian selalu ada Fitri. Oh iya mana Pak Arlan ko belum sampai?"
"Sebentar lagi. Eh itu dia"
Sopir Ardi yang tampak aris dan ramah itu terlihat mendekat, menenteng tas besar berisi barang permintaan Tuan dan Nyonyanya.
"Selamat siang Tuan Nyonya" sapa Arlan
"Ini pesanan yang Tuan dan Nyonya minta" tutur Arlan menyerahkan tas.
"Terima kasih ya Pak. Ponsel saya dimana ya?" tanya Alya tidak sabar memeriksa ponselnya.
Arlan kemudian menunjukan tempat meletakan ponsel mahal Alya.
"Antar ke ruanganku. Ruang VVIP nomer dua. Nomer 3 itu ruangan Papa Mama" ucap Ardi memberi perintah.
"Baik Tuan. Pak Rudi sudah menuju ruang Tuan Besar" jawab Arlan
"Oke" jawab Ardi.
Lalu Arlan berlalu menuju tempat Ardi dirawat. Sementara Alya langsung menyalakan ponselnya.
Ada puluhan panggilan tak terjawab. Baik dari Mira, Anya dan yang paling membuat Alya kaget Bu Mirna menelponya.
"Hoh Ibu telpon Mas" ucap Alya senang.
"Benarkah?"
"Iya" jawab Alya masih melanjutkan selancarnya, menyusuri deretan pesan masuk yang menumpuk.
"Mas ibu mau kesini, Ibu nanyain keadaan kamu Mas. Kok ibu tau ya?"
"Taulah, pasti dari berita di tivi dan surat kabar"
"Tivi?"
"Kenapa"
"Mas masuk tivi gitu?"
"Haish kamu baru tau? Memang kamu tidak pernah sadar seberapa populer suamimu ini. Tidak lihat betapa tampanya Mas"
__ADS_1
"Hiiisshh mulai"
"Tito itu orang partai, sudah pasti jadi trending topik. Kamu tidak liat? Tuh banyak polisi di depan pintu gerbang. Itu udah pencegahan dari Papah sama Dokter Nando. Itu sebabnya kita santai-santai di sini. Coba keluar kamu pasti mendadak jadi artis"
"Humm nggak suka"
"Makanya manut sama Mas"
"Iya, ini Lian bolos"
"Jadi istri harus nurut, Mas ngelakuin yang terbaik buat kita kok!"
"Iya, ya, maafin Lian ya"
"Ya"
"Ya udah balik yuk, Lian mau mandi"
"Tunggu Arlan. Biar dia yang dorong Mas. Nanti kamu kecapekan"
"Ya ya. Oh iya Mas"
"Apa?"
"Hemm Lian terlihat seperti pembantu Mas ya pakai mukenah begini?"
"Kamu tetap cantik pakai apapun"
"Aihh, Lian ngrasa kaya karung berjalan"
"Malah lebih baik nggak ada yang lirik-lirik istri Mas"
"Hummm, udah ah ayo balik. Lian risih belum mandi. Mang dari tadi mas nggak bau asem?"
"Nggak Mas suka baumu"
"Masa?"
"Huum, makanya mas suka peluk kamu"
"Uuluuh so sweetnya! Bohong juga"
"Hehehe. Mas masih pengen hirup udara bebas sayang, mas nggak suka kaar rumah sakit. Bentar nunggu Arlan ya!"
"Ya"
****
Di sebuah bar.
"Pak tambah wine nya" ucap seorang perempuan cantik berambut pirang yang tampak kacau.
"Sin! Stop!"
"Gue mau minum Tan" jawab Sinta meneguh wine lagi.
"Lo nggak boleh gini" cegah Intan ke Sinta.
"Gue udah nyerah! Farid udah mau nikah, sama perempuan itu. Dia jelek sekali. Ahhh aku tidak tahu siapa namanya" jawab Sinta mulai ngelantur.
"Tapi lo nggak boleh gini!"
"Gue mau pergi aja, gue mau keluar dari tempat membosankan itu, gue benci tempat itu!" jawab Sinta berencana pergi dari yayasan.
"Lo nggak mau bantuin gue lagi?"
"Bantu, bantu apalagi?"
"Lo dapet obat itu mahal dan susah payah kan? Gue belum pake obat itu. Masa mau nyerah" jawab Intan masih tidak menyerah dengan usahanya.
"Oh iya ya, hahahahaha"
"Gue akan pergi setelah pastikan perempuan udik itu mampus dan menangis"
__ADS_1
"Tapi sekarang dia bukan tandinganku, Alya bukan musuhku lagi."
"Oke gue akan kerja sendiri"