Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
42. Makan Gratis


__ADS_3

Ardi masuk ke kamarnya dengan membawa emosi yang membuncah. Emosi terhadap ibunya yang tidak bisa dia lampiaskan secara bebas. Di hadapan orang lain Bu Rita memang seorang ibu yang baik, lemah lembut dan penyayang. Tapi di mata Ardi ibunya seorang yang sangat posesif.


Ardi tidak habis pikir, bagaimana bisa ibunya tetap kekeh ingin menjodohkan dirinya dengan seseorang yang dicintai sahabatnya. Malam itu Ardi menahan kekesalanya, Ardi mengunci kamarnya dan menutup dirinya.


Seperti hari sebelumnya, pagi- pagi sekali Ardi sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Ardi tidak sarapan atau menunggu papa mamanya turun. Ardi meninggalkan rumah pukul 6 pagi. Jarak Kantor dari rumah hanya 10 menit. Ardi sudah melewatinya, tapi dia memilih meneruskan laju mobilnya. Kemana lagi? Entah apa yang membawanya Ardi menuju ke apartemen Megayu.


"Pagi Pak Yon" sapa Ardi ke Pak Yon.


"Pagi Den, kesini lagi?" tanya Pak Yon curiga, setelah kejadia malam itu Den Ardi jadi sering ke apartemen.


"Iya, ada perlu pak" jawab Ardi


Ardi melangkah memasuki apartemen, sebenarnya Ardi sendiri bertanya- tanya, kenapa dia memilih datang ke apartemen bukan ke kantornya.


Tidak seperti sebelumnya kini Ardi memencet bel masuk apartemen, padahal Ardi sendiri yang membuat sandi di pintu masuk. Ardi ingin menghargai Alya yang menempati apartemenya.


"Thing Thong" suara bel berbunyi.


Alya yang baru selesai mandi mendengar Be, segera bergegas memakai jilbab menutupi auratnya. Pagi itu Alya memakai celana kulot berwarna coklat, blouse putih tulang dan jilbab coklat muda. Penampilan Alya pagi itu tampak lembut dan sederhana.


"Ceklek..." Alya membuka pintu apartemen dengan hati-hati.


"Kamu?" tanya Alya kaget melihat tamunya di depan pintu. Lalu celingak celinguk melihat lorong apartemen.


"Boleh masuk?" tanya Ardi sopan ke Alya.


"Iya... silahkan" Alya mempersilahkan Ardi masuk. "Kenapa dia datang lagi sepagi ini? Apa ada masalah?" tanya Alya dalam hati mengekori Ardi


Pagi itu Ardi terlihat lesu, tampang galak seperti vampirnya entah pergi kemana. Melihat hal itu membuat Alya menjadi bingung. Tanpa disuruh Ardi masuk ke ruang tengah dan duduk di sofa depan televisi.


"Ehm" Alya berdehem bingung melihat Ardi diam.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Mas Ardi?" tanya Alya sopan memecahkan kecanggungan.


"Duduklah" jawab Ardi lesu menatap Alya.


"Baik" jawab Alya lembut lalu duduk di samping Ardi. Mereka berdua duduk berhadapan dengan suasana canggung.


"Apa dompetmu ketinggalan lagi?" tanya Alya menebak kedatanga Ardi


"Nggak!" jawab Ardi dingin.


"Ehm, masih jam setengah delapan, sudah sampai sini?" tanya Alya mencoba mencari tahu apa keperluan Ardi.


"Kenapa memangnya?" tanya Ardi merasa disindir.


Alya mengusap tengkuknya yang tertutup jilbab. Suasananya semakin membuat canggung. Hati Alya juga tiba- tiba menjadi dheg-dhegan. Sikap Ardi kemarin dan hari ini sangat berbeda.


"Apa mas Ardi mau tinggal di sini lagi? Kalau iya, aku akan kemasi barangku! Aku kos aja. Aku nggak lama kok di Jakarta" jawab Alya merasa tidak enak.


"Aku tidak berfikir begitu, tetaplah disini, aku ingin ambil kemejaku" jawab Ardi sekenanya. Padahal Ardi sama sekali tidak butuh itu.


"Oh iya, kemeja?" jawab Alya tersenyum dan mengangguk. Lalu Alya teringat kalau kemeja Ardi masih di jemuran dan belum disetrika.


"Iya, mana kemejaku? Itu kemeja mahal kesayanganku?" tanya Ardi.


"Belum ku setrika. He" jawab Alya merasa bersalah.


"Ya udah cepat setrika! Harus wangi"


"Hemmmm, Apa harus sekarang? Parfum setrikaku habis, aku beli dulu"


"Nanti saja" jawab Ardi membuat Alya aman.


Ardi diam memperhatikan wajah Alya yang polos berbalut jilbab.


"Apa kamu selalu pakai jilbab jika bertemu dengan orang lain?" tanya Ardi tiba-tiba mengalihkan pembicaraan tentang setrikaan.

__ADS_1


"Kenapa bertanya begitu?" tanya Alya heran tiba-tiba Ardi menanyakan penampilanya.


"Bahkan malam itu aku melihatmu. Kamu sangat seksi" ungkap Ardi mengingat kejadian malam itu.


Mendengar perkataan Ardi, wajah Alya memerah, dan membuat Alya mode galak lagi.


"Maksudmu apa bilang begitu? Malam itu bahkan kamu seperti penjahat! masuk ke kamar malam-malam tanpa ketok pintu, tentu saja aku pakai piyama, aku kan sedang tidur!"


"Kamu terlihat sangat berbeda" jawab Ardi.


"Kurang ajar, menyebalkan, dasarrr" cibir Alya.


"Siapa namamu?" tanya Ardi memastikan ingin mencari tahu siapa gadis di depanya dan memastikan bukan dia perempuan yang hendak dijodohkan ibunya.


"Bukanya kamu sudah tau namaku?"


"Kenapa kamu selalu mengalihkan pertanyaanku dengan pertanyaan sih, aku tanya apa, kamu jawab apa?"


"Bahkan kamu sudah memanggil namaku, kenapa masih tanya? Itukan kamu yang aneh" jawab Alya merasa kesal Ardi banyak bertanya.


"Jadi benar namamu Lian?"


"Iya lebih tepatnya Berlian" sambung Alya.


"Ada hubungan kamu dengan ibuku?"


"Kata Ibuku, Ibuku berteman dengan Bu Rita sewaktu SMA" jawab Alya.


"Kenapa ibuku menyuruhmu tinggal di sini?" tanya Ardi serius masih ingin tahu siapa Berlian.


Alya diam, mengingat kenangan saat di Jogja. Bagaimana Bu Rita mengajak Alya ikut dengannya.


"Kata Bu Rita, dia mengkhawatirkanku, karena aku tidak punya saudara di sini. Dan apartemen ini kosong, jadi.."


"Apa ibuku pernah menjanjikan sesuatu?" Ardi memotong cerita Alya memastikan apa Bu Rita hendak menjodohka Berlian dengan dirinya.


"Apa kamu sudah bekerja?"


"Aku, aku belum bekerja, aku masih magang di..."


"Kriiiing.....Kriiiiing" suara ponsel Ardi ada panggilan masuk. Ardi langsung meraih ponselnya dan mengangkatnya.


"Ya Din ada apa?"


"Tuan Aryo hari ini tidak masuk, semua proyek dan pertemuan diserahkan ke Tuan Ardi"


"Papa nggak masuk? Apa dia sakit?" tanya Ardi.


"Bukankah Anda yang satu rumah, Tuan?"


"Hemmmm, Ya sudah satu jam lagi saya ke kantor"


"Ya Tuan"


Ardi mematikan ponsel, lalu kembali melihat Alya yang sedang duduk mendengarkan.


"Apa kamu tidak pernah memakai make up?" tanya Ardi membuat Alya heran, Alya langsung melotot melihat Ardi. "Pasti akan dijawab kenapa aku bertanya?" sambung Ardi menebak, mulai hafal dengan sifat Alya


"Tentu saja aku pernah memakai make up" jawab Alya ketus.


"Kenapa aku tidak pernah melihatnya?"


"Bagaimana kamu melihatnya, kita bertemu saja baru tiga kali, lagipula siapa kamu?" jawab Alya.


"Bukankah perempuan sangat suka berdandan?"


"Aku berdandan untuk suamiku nanti, dan saat aku suka, untuk apa aku memperlihatkan padamu. Bahkan kamu bukan siapa- siapanya aku" jawab Alya.

__ADS_1


"Kalau aku jadi siapa -siapanya kamu, berarti kamu akan berdandan untukku?"


"Apa maksudmu?" tanya Alya sedikit tersipu.


"Apa kamu sudah masak?" tanya Ardi


"Sudah" jawab Alya ketus. Alya diam lalu memperhatikan Ardi dengan tatapan heran. Pertanyaan Ardi sangat aneh dan tidak penting.


"Untuk apa menanyakan aku sudah masak apa belum? Bahkan di rumahnya banyak sekali makanan. Ada koki juga. Kenapa dia terlihat kasian sekali meminta makanan padaku"


Merasa dipelototi Ardi bangun menuju ke dapur dan membuka tudung saji di meja. Sudah ada sayur bayam dan ayam goreng. Tanpa disuruh Ardi langsung sarapan.


"Dia aneh sekali?" gumam Alya masih duduk di sofa menunggu Ardi sarapan. Selesai sarapan Ardi bangun.


"Tetap tinggal di sini, tidak usah cari kos, setrika kemejaku, aku besok kesini lagi. Oh iya, aku sedang tidak ingin berurusan denga ibuku, jangan cerita apapun tentangku" ucap Ardi lalu pergi.


Alya masih tidak percaya dan mengerti dengan perubahan sikap Ardi.


"Dia kan kaya, kenapa juga masih mengingat kemeja itu, dia kan bisa membelinya lagi yang banyak, bahkan dia kesini hanya untuk sarapan, Ish".


Alya kembali ke dapur. Dia melihat meja.


"Dia mencuci piringnya sendiri, tanpa mengeluh, dia terlihat sedih sekali, kenapa dia? Apa dia ingin tinggal di sini?"


"Drrrrt drrrrt"


Hp Alya bergetar. Alya bangun dan mengambil hp nya.


"Sayang, kamu jaga apa hari ini?"


"Malam Mah" ketik Alya


"Mamah mau ke apartemen ya?"


"Iya Mah" jawab Alya.


***


Pagi itu Tuan Aryo tidak bekerja, Tuan Aryo menemani istrinya. Tuan Aryo tidak tahan setiap hari melihat dan mendengar istrinya merajuk membahas putranya yang hampir menjadi bujang tua.


"Ardi pergi lagi, Pah" ucap bu Rita.


"Mama semalem berantem sama Ardi kan?" tanya Pak Aryo hendak menyalahkan Bu Rita.


"Hem..." jawab Bu Rita


"Papah kan sudah bilang. Dia sudah bukan anak kecil Mah"


"Iya Mamah salah"


"Setelah kita ketemu Alya, berjanjilah untuk tidak mencampuri urusan mereka, kita tinggal memantaunya saja. Kalau kita dibutuhkan baru kita bertindak, bisa Mah?"


"Mamah akan berusaha Pah!"


"Ya sudah, Mama sudah siap?" tanya pak Aryo.


"Udah Pah"


"Yuuk!"


Setelah selesai sarapan, Tuan Aryo dan Bu Rita keluar rumah. Di depan pintu sudah ditunggu Pak Rudi. Pak Rudi pun membukakan pintu untuk Tuan dan Nyonyanya.


"Ke Apartemen Megayu Pak"


"Baik Tuan"


Perjalanan dari rumah Tuan Aryo ke apartemen sekitar satu jam, ditambah dengan macet bisa lebih lama 2 jam atau tiga jam, bersyukur pagi itu jalanan tidak macet. 55 menit perjalanan Pak Rudi sudah sampai di lampu apil dekat dengan Rumah Sakit. Pak Rudi berhenti saat lampu menyala merah.

__ADS_1


"Tuan, bukankah itu mobil Tuan Ardi?" tanya Pak Rudi melihat spion. Lalu bu Rita dan Pak Aryo menoleh ke jendela mobil mencari mobil yang berpapasan ke arah berlawanan.


__ADS_2