Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
148. Harus Menang


__ADS_3

****


Masih di kafe.


"Satu lagi, saya sangat suka dengan tahi lalat di atas pantat suamimu" ujar Sinta dengan wajah sok polosnya dan tersenyum senang.


Intan tau wajah Alya menegang. Bahkan mata Alya berkaca-kaca. Rencana pertamanya berhasil. Begitu fikir Intan.


Sebenarnya Ardi belum pernah menjamah Intan sama sekali. Hubunganya sebatas mencium dan memeluk, sebagai dukungan emosional mereka. Hanya saja Intan pernah menjebak Ardi pada saat berkumpul bersama teman-temanya.


Untung saja Ardi orang yang sangat payah terhadap alkohol. Ketika dia minum bukan hanya akalnya yang tidak terkendali, tubuhnya juga ambruk. Dia bukan ngefly dan bernafsu. Tapi Ardi muntah-muntah pusing dan tertidur. Juniornya sama sekali tidak bekerja.


Karena Ardi muntah, Intan membawa Ardi ke kamar, mengganti bajunya dan menidurkanya.


Saat membuka bajunya Intan sempat melihat tubuh bagian belakang Ardi. Ada tanda lahir atas pantatnya, di atasnya bukan bagian lain. Tidak begitu besar tapi timbul, sehingga tanda itu terlihat.


Sehingga jika celanaya sedikit longgar, jongkok, atau kemejanya tersingkap bahkan dibuka akan kelihatan, apalagi kulit Ardi bersih dan putih.


Di kesempatan itu pula Intan membuat foto rekayasa. Mengaku seolah-olah terjadi sesuatu.


Tapi Ardi juga tidak kalah cerdas, karena waktu itu mereka tidak sendiri. Ardi meminta kesaksian temanya, Ardi juga meminta cctv hotel. Memastikan pada malam itu dia benar-benar tertidur dan sangat payah. Intan sendiri meninggalkan Ardi karena tidak tahan bau muntahan Ardi.


***


Alya menghela nafasnya bangun dari duduknya dan berdiri, mendengar ucapan Intan Alya diam. Alya menatap Intan dengan berani kemudian duduk lagi.


"Oh gitu? Kasian sekali anda Mba Intan. Hanya menyukai tahi lalat saja tapi tidak bisa memilikinya. Ah tidak, tidak. Anda bukan hanya tidak bisa memilikinya. Tapi saya pastikan Anda tidak akan bisa melihatnya lagi!" jawab Alya geram menahan kesalnya.


Alya terlihat sangat berani dan menantang Intan. Meski semua itu hanya tampak di luar saja. Hanya Alya yang tahu perasaanya.


Bohong kalau Alya tidak sakit mendengar perkataan Intan. Hati Alya terbakar, kupingnya serasa tersambar maghma, sangat panas. Cinta Alya membuat rasa cemburunya begitu besar.


Rasanya Alya ingin merobek dan memukul perempuan di hadapanya itu. Untung saja mereka belum memesan minuman. Kalau saja sudah pesan minuman, mungkin reflek tangan Alya akan menyiram minuman itu ke wajah Intan.


Tapi sekarang Alya sadar. Alya berhadapan dengan perempuan yang menjadi rivalnya. Alya tidak mau terlihat lemah dan kalah di hadapan Intan. Alya harus bermain cantik dan harus menang.


Meski entah apa yang akan dia lakukan terhadap suaminya nanti, itu urusan rumah tangga mereka. Hanya Ardi dan Alya yang boleh tahu aib rumah tangganya. Di depan musuhnya Alya harus tunjukan kalau mereka baik-baik saja.


Intan mengeratkan rahangnya mendengar jawaban Alya. Kemudian dia kembali tersenyum tidak ingin terlihat menyedihkan. Mereka berdua sama-sama ingin menunjukan kalau mereka baik- baik saja.


"Ah iya. Kita lihat saja nanti, sebenarnya saya juga tidak ingin melihatnya lagi. Tapi yah, giamana? Ternyata kenangan itu susah dilupakan" sambung Intan lagi masih pura-pura tersenyum. Meski dalam hatinya dia geram.


"Ternyata besar juga nyalinya" batin Intan.


"Tapi sayangnya saya tidak suka hidup dalam kenangan Mba Intan. Sebaiknya anda bangun dan menata hidup anda"


"Di sini saya yang mangkhawatirkan anda, Nyonya Alya. Ah ya bahkan usia pernihakan kalian belum genap tiga bulan. Tentu saja anda tidak akan percaya. Tapi adahal yang harus saya beri tahu. Mau aku beritahu sesuatu?" jawab Intan lagi membalas dengan sindiran tidak kalah panjang.


Kali ini Alya benar-benar geram. Bisa gila lama-lama menghadapi Intan. Dia masih saja tidak mengerti apa ucapan Alya, padahal Alya sudah jelas-jelas tidak teratarik dengan ceritanya. Tidak mau otaknya semakin mendidih, Alya memilih pergi.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya. Saya bisa urus hidup saya sendiri, dan saya pastikan kehidupan saya akan baik-baik saja" jawab Alya bangun dan tidak mendengarkan Intan lagi.


Alya berjalan keluar menghentakan kakinya. Alya mencari tempat yang tidak dijangkau Intan. Alya memili berjalan ke arah taman bermain dekat dengan tempat madrasah anak- anak. Tangisnya pecah juga begitu Alya duduk.


"Hagh hagh... " Alya menangis sesenggukan sampai nafasnya engaps dan menahan sesak.


Bisa-bisanya perempuan lain menyebutkan bagian tubuh suaminya. Alya sendiri tidak memperhatikan sedetail itu.


Padahal mungkin jika di hitung lamanya hari mereka menikah dengan frekuensi mereka melakukan hubungan bisa lebih banyak frekuensi mereka berhubungan.


"Apa Mas Ardi juga melakukan itu bersama Mba Intan? Menjijikkan!" gumam Alya meremas ujung bajunya.


Bagaimana tidak jijik, jika ternyata benda kesukaanya itu bekas orang. Padahal Alya utuh bersegel dan hanyan dipersembahkan untuk suami halalnya.


Didikan Bu Mirna sangat ketat mengajarkan Alya untuk jaga diri. Sama sekali tidak boleh pacaran. Bergaul dengan laki-laki juga sangat hati-hati.


Alya selalu memakai baju dan jilbab longgar. Alya hanya diperbolehkan fokus sekolah dan kuliah.


"Hiks hiks hiks" Alya masih meneruskan tangisnya di taman. Hati Alya merasa sakit dan dihianati. Laki-laki macam apa suaminya di masalalu nya itu.


Lalu lalang orang berjalan silih berganti. Beberapa cuek, beberap iba melihat Alya. Tidak ada yang tahu dan peduli kalau perempuan bertubuh kecil berisi dengan tinggi 154cm itu Nyonya dari keluarga Gunawijaya.


Keluarga yang mereka kagumi jika sedang menonton berita. Atau nama yang muncul di pencarian menyebutkan nama konglongmerat di negaranya.


Setelah nafasnya sesak, hidungnya tersumbat dan rasanya seperti tercekik. Alya menetralkan pikiranya. Meredam emosinya dan berfikir tenang. Alya kemudian mengelus perutnya. Menyadari dia tidak sendiri lagi.


Tiba-tiba perutnya sedikit tegang. Mungkin karena dia menangis terlalu keras, sampai terbatuk dan sesak.


"Sayang maafin Ibu, please kamu baik-baik saja ya" gumam Alya dalam hati.

__ADS_1


Alya mengusap air matanya. Mengatur nafasnya agar kembali normal. Alya melihat sekeliling. Di pojokan taman ada penjual minuman. Kemudian Alya mendekat ke penjual minuman.


"Bu air mineralnya satu" tutur Alya ramah.


"Ini Neng"


"Berapa Ibu?"


"4000 Neng"


"Oh ya" kemudian Alya menyerahkan uang 10ribuan.


"Kembalianya buat ibu aja" tutur Alya saat ibunya hendak mengambil kembalian.


"Makasih Neng. Neng matanya sembab. Neng yang tadi nangis sesenggukan ya?"


"Ah iya, maaf, apa ibu mendengarnya?"


"Tadi beberapa orang menggunjing Neng, jadi saya ikut memperhatikan. Nggak apa-apa nangis keluarkan aja biar plong. Tapi harus tetap jaga kewarasan ya Neng"


"Iya Bu Makasih"


"Terus cerita atuh Neng. Ke orang terdekat. Lebih bagus lagi cerita sama Alloh"


"Makasih Bu"


Alya diam, meneguk air mineral di tanganya. Ditatapnya lekat-lekat ibu itu. Garis wajahnya mulai nampak, Alya pun teringat ibunya.


Alya ingat pesan ibunya tempo hari sebelum berangkat.


"Kehidupan rumah tangga itu bukan hanya tentang hubungan suami istri. Bukan hanya tentang dua orang. Tapi hubungan kalian, hubungan yang terikat dengan seng Moho Kuoso, Gusti Alloh.


Yo hubungan kalian harus didasari dengan hubunganmu karo Gusti Alloh. Libatkan Gusti Alloh dalam setiap masalahmu"


Langkah yang kamu ambil disukai ndak sama Alloh. Tindak tanduk dan ucapanmu apek orak mungguhe gusti Alloh?


Niat nikah itu ya untuk ibadah. Ibadah terlama dalam hidup kita. Yang sesuatu mulanya haram menjadi pahala.


Ibadah yang tidak cukup hanya dihafalkan teorinya. Tapi di dalamnya akan banyak masalah yang datang, seng buat kamu menyelesaikanya tidak cukup dengan teori.


Tapi, rasa, akal, dan hati, dan tentunya keterikatanmu karo Sang Moho Gusti.


*Maka, jaga, jaga dan jaga. Jaga rumah tanggamu.


Dadio wong wedhok sek mar'atus sholikhah.


Harus bisa menjaga aib suamimu, menjaga kehormatanya, menjaga harta dan anak-anaknya. Kamu sekarang menjadi pakaian untuk suamimu!"


Nek ada masalah diselesaikan baik-baik berdua. Dengan kepala dingin. Laki-laki itu dipatuhi selama masih dalam takwa. Di hormati"


Alya meneteskan airmatanya lagi, tapi kali ini perlahan. Dirinya menyandang gelar dokter, kenapa berfikirnya tidak lebih baik dari penjual minuman.


Kenapa Alya lari ke taman dan menangis sendirian. Kenapa Alya tidak mencari masjid, ambil air wudzu, sholat dan berfikir tenang.


"Makasih ya Bu! Masjid terdekat di sebelah mana ya?" tanya Alya sopan.


"Di belakang pom bensin depan Neng"


"Oh iya makasih ya Bu"


Alya melihat ponselnya ternyata memang sudah masuk waktu dzuhur. Suaminya belum menghubunginya, itu berati meetingnya belum selesai.


Alya ke masjid, ambil air wudzu dan sholat dzuhur.


Bayangan jalan-jalan dan makan enak sirna. Padahal Alya sudah membawa kartu unlimitid yang diberikan suaminya. Alya bersiap-siap diajak shopping Dokter Mira.


Tapi kenyataanya, kini Alya sendirian di dalam masjid. Hanya bertemankan sebotol air mineral. Untung saja servis Ardi di kantor full. Menyediakan banyak makanan sehingga Alya kenyang.


Meski ada kegetiran membayangkan Alya berbagi burung dengan orang lain. Alya sadar dia istri sah Ardi. Dia tidak boleh kalah. Alya harus memastikan ke suaminya.


"Apa iya ada tahi lalatnya? Di sebelah mana? Kenapa aku tidak tahu? Ah istri macam apa aku ini? Kenapa malah perempuan lain yang tahu! Ish"


Alya ingin buktikan perkataan Intan. Tapi bukan salah Alya juga kalau Alya tidak tahu.


Selama ini kan hampir selalu Ardi yang memimpin permainan. Lian hanya diberi kesempatan untuk merem melek menikmati setiap sentuhan suaminya. Mana sempat Lian memperhatikan hal kecil itu.


Berbeda dengan Intan yang hanya sekali punya kesempatan melihat Ardi. Itu saja Ardi tidak sadar, makanya sangat detail.


Tidak lama Ardi menelpon Alya. Menanyakan kabar dan keberadaanya. Kemudian menjemputnya.

__ADS_1


"Sayang kok kamu di sini?" tanya Ardi heran karena menjemput Alya di masjid bukan mall atau kafe.


"Iyah" jawab Lian sendu.


Lian masih ingin berbaikan dengan suaminya, tapi hati rasanya sakit membayangkan Ardi memasukan benda yang Lian suka ke tempat orang lain.


"Mira mana?" tanya Ardi lagi mengedarkan pandangan.


"Udah sih kan yang penting Lian selamat!" jawab Lian sedikit emosi.


"Ya ya. Ya udah ayo pulang, nggak usah sewot gitu!" jawab Ardi mengajak Alya pulang.


Mereka masuk ke mobil. Alya diam menelan salivanya menatap ke jendela.


"Dokter Mira kenapa tega? Aku cerita nggak ya ke Mas Ardi? Ah yang ada aku dihukum. Yang ada aku dimarahi. Biar aja aku cari tahu sendiri. Kalau aku cerita nanti aku nggak dibolehin keluar lagi"


"Yang" panggil Ardi melihat Alya melamun.


"Hemm" jawab Alya merasa sangat malas bicara dengan suaminya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Ardi khawatir.


"Nggak apa-apa" jawab Alya singkat masih malas bicara.


"Kamu abis nangis?" tanya Ardi lagi melihat ada yang beda dengan bentuk mata istrinya


"Nggak!" jawab Alya sedikit membentak.


"Oh oke!" jawab Ardi mengangguk tapi masih melirik ke istrinya.


Karena habis makan bersama klien, Ardi pergi bersama Dino dan Arlan. Jadi Ardi dan Alya menjaga sikap dan obrolan. Mereka sama-sama tidak mau terlihat buruk di hadapan orang lain.


"Kita ke kantor atau mengantar Nyonya Tuan?" tanya Arlan.


"Mau kemana sayang? Mas masih ada kerjaan. Mau ikut mas lagi atau pulang?" tanya Ardi lagi dengan lembut.


"Pulang!" jawab Alya ketus.


Ardi menelan salivanya semakin curiga. Ada apa dengan istrinya, kenapa moodnya jauh berbeda. Tadi pagi sangat agresif. Sekarang kenapa ngegas terus?


"Baik Nyonya" jawab Arlan mengangguk.


Mereka bertiga mengantar Lian pulang ke rumah Tuan Aryo. Di rumah Mia dan Ida sudah menyambut Alya dengan riang.


"Istirahatlah, tidur dan makan yang baik" tutur Ardi lembut dan membelai kepala Alya saat mengantar masuk.


Alya diam, rasanya risih disentuh suaminya. Alya berusaha menjauhkan tubuhya dari suaminya. Tidak menjawab iya ataupun tidak. Wajahnya masih ditekuk.


Ardi sedikit tersinggung dan ingin bertanya. Karena sudah ditunggu Dino dan Arlan, Ardi memilih mengalah. Lalu berpamitan.


"Mas kerja lagi ya!"


"Ya" jawab Lian singkat membiarkan suaminya pergi.


Mia dan Ida tersenyum mengangguk ke Alya. Mengisyaratkan ingin mengobrol, tapi Alya sangat lelah dan suntuk. Alya memilih masuk ke kamar.


Satu persatu pakaian Alya, Alya tanggalkan. Alya memilih memakai daster pendek rumahan.


"Ah nyamanya" gumam Alya merebahkan badan, menikmati semua kemewahan kamar suaminya.


Tapi tiba-tiba tanganya kembali mengepal. Perkataan Intan kembali terngiang-ngiang.


"Tidak tidak. Dia hanya masalalu suamiku. Hanya masalalu" gumam Alya lagi mengingat Intan. Tapi kenapa rasanya begitu sesak.


"Yakin Alya, yakin! Mas Ardi udah lupain dia. Mas Ardi milikku! Milikku!" gumam Alya lagi memukul-mukul bantal.


"Benarkah semua yang Mba Intan katakan? Apa aku tanya ke Mas Ardi?"


"Ah tapi aku tidak mau dihukum dan dikurung di kamar terus"


Alya diam lagi. Kalau ternyata benar Ardi sudah melakukan itu. Apa Alya sanggup mendengarnya. Tapi darimana Intan tahu hal sekecil itu.


Seperti apa masalalu suaminya.


"Apa aku tanya Mia dan Ida?"


Kemudian Alya turun mencari Ida dan Mia ke dapur. Dengan percaya diri memakai daster dan membiarkan rambutnya terurai.


"Mba Ida... Mba Mia" panggil Alya mencari teman curhatnya.

__ADS_1


__ADS_2