Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
34. Masakan


__ADS_3

Malam itu Alya tidur di sofa bed dan Ardi tidur di kamarnya. Meski tidur larut malam, karena kebiasaan, Alya terbangun jam 4. Itu berarti, malam itu Alya tidur sangat sebentar. Untung sebelumnya Alya tidur seharian jadi Alya tetap fit.


Alya bangun menyingkap selimutnya. Lalu duduk sebentar mengumpulkan kesadaranya.


"Malu sekali kalau sampai mama Rita tahu apa yang terjadi tadi malam, kira-kira mama Rita bakal jodohin Mas Ardi dengan siapa ya? Sampai Mas Ardi segitunya ke Mama Rita?"


"Kenapa aku memikirkanya ya? Apa urusanya denganku. Bangun Alya! Alya memukul - mukul kepalanya sendiri lalu bangun menuju ke dapur.


Sebelum aktivitas Alya mencuci muka dan sikat gigi. Setelah itu Alya menanak nasi.


"Masak apa ya hari ini?" Alya membuka kulkas.


"Ya ampun sayur dan lauknya habis, hanya ada tempe dan telur" gumam Alya.


Alya duduk di bangku minibar sambil menatap sisa bahan makanan itu.


"Apa Mas Ardi doyan ya masakanku, kalau aku buat sambel tempe?"


"Ah terserahlah. Nggak doyan ya udah yang penting bisa buat sarapan aku" Lalu pagi itu Alya membuat telur mata sapi dan sambel tempe. Alya memasak sambil mendengarkan musik


Mendengar suara musik dan aktivitas di dapur Ardi terbangun. "Berisik sekali, apa yang perempuan itu lakukan?" gumam Ardi.


Ardi keluar kamar, penasaran apa yang Alya lakukan, tapi saat keluar dia tidak mendapati Alya.


Alya sedang di kamar mandi dekat dapur. Untung saat Ardi ke kamar mandi tadi malam, Alya mengambil beberapa pakaianya. Jadi Pagi ini Alya bersiap-siap di luar kamar.


Mencium aroma masakan, Ardi penasaran. Ardi melihat meja makan. Dibukanya tudung saji itu.


"Masakan apa ini? Aneh sekali, tapi kenapa baunya enak ya?" gumam Ardi melihat sambel tempe.


Karena masih terlalu pagi, Ardi tidak menyentuh makanan itu. Ardi kembali menutup tudung saji. Lalu kembali ke kamar, menunaikan sholat subuh kemudian tidur lagi.


****


"Semoga dia baca, kalau tidak? Ya terserah lah" gumam Alya menuliskan memo untuk Ardi diletakan di meja makan.


Alya sudah rapih dan siap berangkat jaga pagi. Alya membiarkan Ardi terlelap tanpa membangunkanya.


Untung Alya di Jakarta dan di apartemen, coba di kampung, meski tidak melakukan apapun bisa digerebek dan dinikahkan saat itu juga karena bermalam berdua di dalam satu atap.


*****


Kediaman Tuan Aryo


"Paaah, kok Ardi ngga pulang ya?" tanya Mama Rita selesai sarapan


"Dia sudah dewasa Mah" jawab Aryo tidak peduli.


"Pah, tetap saja mamah khawatir, kalau dia mabuk, terus bermalam dengan perempuan yang tidak jelas?"


"Mamah harus percaya dengan Ardi. Dia anak Papah, Papa percaya Ardi tidak seperti itu".


"Terus dia menginap dimana?"


"Kata asisten papah dia menghadiri acara Tuan Wira, mungkin dia bermalam di hotel" jawab Tuan Aryo tenang


"Kenapa tidak pulang saja" jawab Mama Rita.


"Semalam hujan deras Mah, mungkin Ardi lelah seharian bekerja" Tuan Aryo membela anaknya.


"Bahkan dia mengabaikan pesanku" gerutu Mama Rita.


"Mama jangan terlalu posesif denganya, dia sudah dewasa"

__ADS_1


"Mamah hanya ingin mengenalkanya dengan Alya Pah, Mama nggak mau Ardi menikahi perempuan yang tidak tepat".


"Maah, Ardi sudah dewasa, Ardi bisa tentukan hidupnya. Jangan mencampuri urusanya"


"Kenapa Papah nyalahin mamah sih?"


"Papa nggak nyalahin Mamah, papa hanya mengingatkan. Kalau Mama terlalu mencampuri urusanya, Ardi akan tidak nyaman"


"Tapi kan mama ibunya, dia anakku" Mama Rita masih membela diri.


"Dia sudah menjadi laki- laki dewasa. Dia sudah waktunya jadi pemimpin dirinya sendiri dan keluarganya nanti. Apalagi Ardi akan menjadi pemilik Gunawijaya Grup. Papa nggak suka mamah terlalu buruk sangka dan posesif terhadapnya, percaya dengan anak kita Mah"


Mama Rita diam mencerna omongan suaminya. Memang benar apa yang disampaikan suaminya, tapi namanya juga emak-emak. Meski tau salah, di hati Mama Rita tetap ingin menjodohkan Alya dengan Ardi.


*****


Apartemen Megayu


"Hooamm" Ardi terbangun. Ardi membuka matanya melihat sekeliling. Lalu melihat jam dinding menunjukan pukul 9.


"Ya Ampun, aku kesiangan". Ardi meraih ponselnya dan menanyakan ke Dino, apa saja dan jam berapa jadwal hari ini.


"Syukurlah semua jadwalku siang" Ardi tersenyum membaca pesan dari Dino. Ardi berjalan ke dapur karena lapar. Di dapatinya menu aneh yang dia lihat tadi pagi. Karena lapar dan adanya hanya menu itu, Ardipun mencicipinya.


"Lumayan enak" tidak terasa Ardi menghabiskan sambel di tempe di piringnya.


"Apa ini?" Ardi mendapati kertas memo Alya di bawah piring.


"Mas, Jangan beritahu Bu Rita kejadian semalam ya.


Itu sangat memalukan"


Setelah membaca pesan Alya dan merasa kenyang Ardi berniat pulang. Di apartemen sudah tidak ada baju Ardi jadi dia berniat mandi di rumah.


*****


"Pagi Mah" sapa Ardi datar.


"Darimana kamu" tanya Mama Rita penuh telisik.


Ardi meraih tengkuknya, mengingat pesan Alya jangan cerita ke Mama Rita. Ardi sendiri malu ketahuan Mama Rita bertengkar dengan Alya. Ardi memilih tidak menjawab pertanyaan ibunya.


"Kenapa wajahmu terluka?" tanya Mama Rita curiga melihat perban di pelipis Ardi.


"Nggak apa-apa Mah, nggak usah khawatir. Ardi mau mandi" jawab Ardi mengindari Mamahnya.


"Semalam menginap dimana?" tanya Mama Rita sedikit teriak tapi diacuhkan oleh anaknya.


"Hhh anakku satu-satunya kenapa membuatku sangat pusing" gerutu Mama Rita kecewa karena diabaikan anaknya.


Setelah mandi dan berganti baju Ardi pergi ke kantor untuk bekerja.


****


Rumah Sakit


"Kenapa aku ngantuk sekali?" gerutu Alya di pojokan kantin Rumah Sakit. Setelah meminum satu gelas jus, Alya berniat istirahat sejenak dan menyandarkan kepala di meja. Tapi ternyata Alya benar-benar lelah sehingga dia terlelap di meja kantin.


"Dokter Alya?" sapa seseorang membuat Alya kaget.


Alya pun terbangun dan mengucek matanya. Lalu tersenyum kikuk tersenyum kepada orang yang duduk di depanya.


"Kamu baik-baik saja kaan?"

__ADS_1


"Saya baik dok" jawab Alya menunduk.


"Wajahmu terlihat lelah sekali"


"Benarkah?"


"Iya"


Alya diam mengingat peristiwa tadi malam, jelas saja membuatnya lelah, Ardi membuat Alya tidur di atas jam satu malam.


"Dokter Alya...." panggil orang di depan Alya.


"Iya Dok"


"Terima kasih ya?"


"Untuk?"


"Karena sudah membuka pesanku, aku harap kamu bisa menerimanya" ungkap dr. Gery tulus. Membuat Alya bingung dan canggung. "Kenapa diam?"


"Saya bingung mau jawab apa".


"Kenapa kamu tidak memakainya?" tanya dr. Gery.


"Ini terlalu mahal untuk saya" Lalu Alya meraih kresek di samping bangkunya dan menyodorkan ke dokter Gery.


"Harga barang ini tidak setara dengan kenanganmu di ponsel lamamu. Mungkin banyak nomer hilang dari teman-temanmu. Aku juga bersalah menguntitmu malam itu" Dokter Gery menjelasakan dengan rasa bersalah. "Apa malam ini ada acara?" tanya dokter Gery.


"Hah?" Alya kaget dengan pertanyaan dr. Gery.


"Setelah hari ini dan malam ini, saya janji nggak akan ganggu kamu, tapi kumohon, terima ponsel ini dan temani aku ke Kafe Estela jam 8 malam" dr. Gery meminta dengan tulus.


Alya diam. Alya teringat wajah dr. Mira.


"Apa saya boleh bawa teman?" jawab Alya tidak menolak tapi juga tidak menerima.


"Teman?" tanya dr. Gery menggaruk kepala berfikir. "Kenapa bawa teman sih kan mau pedekate berdua, tapi kalau nggak diijinin nanti Alya nolak?" gumam dr. Gery melihat Alya.


"Iya, saya akan terima ponsel ini dan saya juga akan datang ke Kafe Estela, tapi dengan membawa teman" jawab dr. Alya.


"Tapi aku pengen ngobrol berdua denganmu Alya"


"Sayangnya aku ingin ada temanku di sampingku" jawab Alya tegas.


Dokter Gery diam menatap lekat ke wajah Alya. "Gadis ceroboh ini tetap sama, benar-benar keras kepala" gumam dr. Gery.


"Siapa temanmu?" tanya dr. Gery.


"Dokter Mira"


"Apa katamu?"


Alya mengangguk, "Iya, kalau dr. Gery menolak, aku juga menolak, dan ini ponselnya" Alya kembali mendorong bingkisan Alya ke Ardi.


"Alya.... " panggil Dokter Gery.


"Iya Dok"


"Apa kamu diancam sama Mira?"


"Sama sekali tidak" jawab Alya tersenyum.


"Kenapa kamu mengajaknya?"

__ADS_1


"Karena dia temanku" jawab Alya tersenyum.


__ADS_2