Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
107. Makan Bareng


__ADS_3

****


Rumah Sakit


"Selamat Sore Dok, istri Dokter Stefan inpartu, fetal distress. Infertil 10 tahun, Uk 38 minggu. Dokter Stefan menghendaki Dokter Mira ikut resusitasi" ucap salah satu perawat lewat telpon ke Dokter Mira.


*Dokter Stefen adalah direktur di rumah sakit tempat mengabdi Gery, Mira dan Alya. Istrinya kosong 10 tahun dan ini kehamilan pertama. Istrinya sudah kenceng-kenceng tapi denyut jantungnya menurun dan mengancam nyawa*


"Hish, kenapa harus lahiran di rumah sakit ini sih!" gerutu Mira yang baru dalam perjalanan pulang terpaksa harus putar balik. Padahal baru 10 menit Mira meninggalkan rumah sakit.


Biasanya jika pasien lain, saat jam kerja Mira sudah selesai. Mira mendelegasikan tugasnya ke dokter umum. Tapi kali ini yang lahiran adalah istri direktur rumah sakit, bayi mahal dan keadaanya bahaya. Sehingga Dokter Stefan meminta para dokter spesialis yang menanganinya. Dokter umum dan perawat tetap ikut membantu sesuai instruksi dokter spesialis.


Sore menjelang malam itu, Dokter Mira Spesialis Anak, Dokter Gery Spesialis Anestesi, Dokter Siska Spesialis Kandungan dan Dokter Stefan sendiri sebagai suami dan calon ayah berkumpul di ruang operasi. Semuanya tampak dheg-dhegan.


Dokter Stefan yang menunggu buah hatinya selama 10 tahun tapi berada dalam keadaan bahaya sangat gelisah, tanganya gemetaran. Sementara Siska, yang bertanggung jawab terhadap ibunya juga tampak panik tidak seperti biasanya. Dia harus berjuang sebaik mungkin mengeluarkan bayi bosnya dengan selamat. Padahal denyut jantungnya tidak baik, dan tidak bisa ditebak bagaiamanan keadaan lahirnya.


Mira yang bertanggung jawab pada bayinya juga sangat berhati-hati dan harap cemas. Dia harus memastikan bisa menyelamatkan anak bosnya itu. Gery sebagai Dokter Anestesi pun siap bergabung dalam tim. Dokter Gery satu-satunya dokter yang tampak tenang.


Seharusnya istri Dokter Stefan melahirkan di tempat dia program hamil. Tapi sore itu dia sedang menunggu suaminya. Air ketuban tiba-tiba rembes dan kenceng-kenceng, sehingga mau tidak mau harus dilahirkan di tempat kerja suaminya.


Dokter Gery dan Dokter Mira tampak berjalan bersama menuju ke tempat cuci tangan.


"Tenang, kita pasti bisa, wajahmu terlihat sangat panik, jangan panik" ucap Gery lirih menyemangati Mira pada saat cuci tangan.


Mira tersipu dan tidak menyangka Gery memperhatikan Mira dan membaca pikiranya. Karena Mira memang merasa panik. Entah bagaimana kecewanya jika Mira tidak berhasil menyelamatkan bayi yang sudah 10 tahun dinantikan Dokter Stefan.


Dan di saat mendebarkan seperti ini Mira harus bekerja sama dengan Gery. Laki-laki yang sekarang berusaha dia tepis dari pikiranya. Tapi kini justru Gery bersikap manis dan memberinya semangat. Mira pun merasa berdebar saat Gery memberi perlakuan itu.


"Iya, semoga tidak asfiksia, semoga bayinya menangis dan selamat" ucap Mira sambil mengeringkan tanganya.


Gery dan Mira berjalan ke tempat peralatan memakai alat pelindung diri di ruang operasi. Tidak lama Dokter Siska datang menyapa.


"Siap Dok Mir?" sapa Siska akrab ke Mira teman sejawatnya.


"Bismillah Dok, aku taruh harapanku padamu Dokter Siska" jawab Mira tersenyum. Gery di samping Mira ikut menyemangati. Saat ketiga dokter itu bersiap Dokter Stefan datang dengan wajah panik.


"Dokter Siska, Dokter Mira. Dokter Gery, tolong selamatkan bayi dan istri saya" ucap Dokter Stefan penuh harap. Dokter Gery yang belum sempat memakai sarung tangan menepuk bahu Dokter Stefan memberi semangat.


"Semangat Dok. Kami akan berusaha sebaik mungkin, kita berdo'a bersama, operasinya lancar. Ayo bersiap kita harus segera keluarkan bayi Dokter" ucap Gery dewasa dan tenang dan mengajak Siska siap melakukan operasi secar.


Sesaat Mira menatap Gery kagum, Gery memang suka rese, tapi di waktu tertentu dia menjadi sosok yang laki-laki banget, ganteng dan dewasa. Mira semakin patah hati mengingat Gery mengacuhkanya tapi Mira tetap saja tidak bisa membenci dan menghapusnya.


"Kenapa jantungku berdebar gini sih hanya mendengar Dokter Gery bicara, ingat Mira dia mencintai Alya, dan sebentar lagi aku tunangan dengan Mas Tito" gumam Mira dalam hati sambil memakai sarung tangan.


Mira segera menepis lamunanya dan bersiap melakukan resusitasi (menerima dan menyelamatkan bayi yang lahir tidak menangis). Mira menempatkan diri di tempat bayi bersama dokter umum dan perawat, menunggu jalanya operasi Dokter Siska dan Dokter Gery.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, benar saja, perawat berlari ke tempat Mira berdiri membawa bayi emas dari direkturnya. Bayinya tampak pucat, biru dan tidak menangis. Dengan jantung berdebar dan buliran kecil keringat di dahi Mira, Mira mempraktekan segala ilmunya dengan mengucap bismillah melakukan resusitasi dan tindakan upaya menolong bayi.


Di dalam ruang operasi Dokter Siska melanjutkan pekerjaanya menjahit perut istri sang direktur. Gery sebagai dokter anestesi, setelah memastikan kondisi ibu bayi stabil segera keluar melihat keadaan bayi dan penolongnya yang merupakan teman SMA nya itu. Dokter Stefan sang calon ayah dengan panik mendampingi istrinya.


"Tenang Mira jangan panik" ucap Gery yang tidak Mira sadari sudah mengambil alih tempat perawat.


Gery pun bekerjasama membantu Mira. Bahkan Gery yang terkesan lebih banyak menginteruksi apa yang seharusnya Mira lakukan. Karena meskipun Gery bukan spesialis anak, Gery memang berotak cerdas dan terbiasa menemui kegawatan.


Setelah berjuang dan bekerja sama, warna kulit anak emas itu mulai memerah, nafasnya mulai teratur, meski masih lemah suara tangisnya mulai terdengar. Alat-alat kesehatan pun terpasang di bayi mungil itu. Gery dan Mira saling pandang dan tersenyum. Hati mereka sangat lega. Bayi bosnya melewati masa kritis, Tapi masih harus dirawat ekstra.


"Terima kasih sudah membantuku" ucap Mira melepas sarung tanganya.


"Di sini kita bekerja bareng ada perawat juga" jawab Gery bijak.


"Sebaiknya dirawat di Nicu" ucap Mira lirih ke Dokter Gery.


"Iya. Yang penting sekarang kita berhasil menyelamatkan di kehidupan awalnya. Ya udah gue masuk dulu" balas Gery lalu meninggalkan Mira karena merasa dirinya sudah cukup membantu Mira dan timnya.


"Oke" jawab Mira tersenyum.


Perawat pun membawa bayi direkturnya itu ke ruang rawat intensif bayi. Dokter Stefan mengucapkan terimakasih banyak ke ketiga bawahanya itu. Karena meskipun masih lemah anaknya berhasil hidup. Kemudian Mira, Gery dan Siska bersiap-siap pulang.


"Bawa mobil?" tanya Gery bosa basi sambil jalan.


"Tanya aja" jawab Gery ketus sebenarnya ingin sekali mengantar Mira.


"Oh" jawab Mira lagi dengan singkat. "Kalau gue jawab enggak, apa lo akan antar gue Ger?" gumam Mira dalam hati sambil berjalan menunduk.


"Lo udah makan?" ceplos Gery tiba-tiba. Mengingat saat itu sudah jam 7 malam. Mendengar pertanyaan Gery jantung Mira semakin berdegub kencang.


"Ehm. Belum" jawab Mira salah tingkah merasa diperhatikan.


"Makan yuk!" ajak Gery menahan malu juga, karena ini pertama kalinya Gery duluan yang mengajak Mira makan, setelah bertahun-tahun saling mengenal.


Mira menelan salivanya tidak percaya, seorang Gery mengajaknya makan. Jantung Mira berdebar keras tidak terkendali dan tidak mampu menolak. Dengan reflek Mira mengangguk. Merekapun menuju kafe yang disebutkan Gery meski naik mobil sendiri-sendiri.


"Kenapa Lo jadi baik begini sih Ger, di saat gue udah terima cowok lain" gumam Mira dalam hati sambil nyetir mobil.


"Oke Mira, Gery cuma anggap lo temen dan pertner kerja. Cinta dia bukan buat gue. Makan bareng sama partner kerja itu normal kok" Mira berbicara sendiri dalam hati. Menghilangkan debaran jantungnya yang tidak normal dan tidak ingin ke GR_an.


Lalu malam itu mereka berdua makan berdua. Entah apa status mereka, tapi Gery merasa bahagia menikmati dinner berdua dengan rekan kerjanya itu. Mira juga merasa lebih nyaman dan dekat dengan Gery.


Mereka makan sambil mengobrol, mereka tampak asik bercerita tentang pasien-pasien mereka, tentang kebijakan rumah sakit yang menurut mereka menyebalkan dan tidak ketinggalan juga menggunjing sedikit teman-teman mereka.


****

__ADS_1


Kantor Gunawijaya.


"Shit!" umpat Ardi membanting kertas di meja Risa. Ardi memijat keningnya.


Meskipun Ardi berhasil menikahi Alya, memilikinya bahkan menghamilinya. Tapi Ardi juga menyadari, Ardi menikahi Alya dengan cara tidak baik. Ardi menikahi Alya dengan cara berbohong dan sedikit memaksa. Ardi belum berhasil mendekati Lian dengan hatinya.


Setelah menikah Ardi dan Alya saling disibukan dengan pekerjaan masing-masing. Bertemu hanya malam hari. Itu saja terkadang Alya jaga malam. Hubungan Ardi baru berada di tahap dekat karena terbiasa. Menyatu dalam hubungan badan dan sadar hak kewajiban. Tapi mengobrol dari hati ke hati saling mengerti visi misi dan masalalu belum mereka jalani.


Melihat pasangan pada umumnya, seharusnya Ardi mengenal Alya, dan Ardi jujur tentang semua masalalunya ke Alya. Suami istri seharusnya saling mengenal, lalu mereka menghabiskan waktu berbulan madu. Tapi Ardi sudah memulainya dengan bohong dan menutupi pernikahanya. Dan Ardi banyak menyembunyikan sesuatu dari Alya.


Dan kini Ardi kelabakan darimana dan bagaimana dia harus bercerira dan menjelaskan ke Alya tentang semua masalalunya. Bahkan Ardi masih mempunyai PR menjelaskan ke Farid. Sahabat rasa kakak yang dia hianati.


Ardi duduk di bangku Risa dan mengusap mukanya kasar. Ardi tau dia salah dan banyak menyakiti orang-orang di sekelilingnya. Terutama istrinya Berlian.


Mendengar Ardi mengumpat Dino masuk ke ruangan. Dino segera memberesi kertas yang Ardi buang.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Dino.


"Ponsel gue mana?" tanya Ardi gusar menyadari dari pagi belum memegang ponselnya.


Mendapat pertanyaan Ardi, Dino gelagapan dan kesal. Dino memang menghandle segala kegiatan Ardi. Tapi yang dia pegang ponsel kantor. Ponsel khusus untuk kepentingan kerja Ardi yang diperbolehkan di simpan orang luar. Kalau ponsel pribadi Ardi, ponsel khusus teman, saudara dan keluarga, Dino tidak berani menyentuhnya. Kenapa Ardi menanyakanya.


"Mohon maaf Tuan, bukankah Tuan Ardi yang menyimpanya sendiri" jawab Dino dheg-dhegan takut disalahkan lagi sama bosnya, bosnya sering egois dan mau menang sendiri.


"Cari dan ambil di tasku!" perintah Ardi sudah sangat penat, dia butuh segera melihat dan mendengar suara istrinya.


Dino mematuhi Tuanya mengambil tas yang tadi dia letakan di ruang kerja Ardi. Dino memeriksa tas bosnya. Dan benar saja, ponselnya ada di tas. Dino berdecak kesal. Meskipun Dino sayang dan hormat ke Ardi tetap saja bosnya itu sering menyebalkan.


"Ck. Dasar, ponsel dia sendiri, dia naruh sendiri. Nyusahin orang" gumam Dino membawa ponsel Ardi dan memberikanya.


Ardi segera meraihnya masih di ruangan Risa. Sambil merebahkan badanya di bangku Ardi membuka ponselnya. Matanya terbelalak, ada 50 panggilan dan 20 pesan dari istrinya. Ardi tambah panik lagi.


"Duh, bodohnya gue. Dia pasti nangis lagi, maafin mas sayang" gumam Ardi khawatir istrinya merajuk lagi.


"Apa sesuatu terjadi padanya? Apa dia baik-baik saja. Sayang maafin mas, secepatnya mas ambil cuti"


Dengan segera Ardi menekan tombol panggilan ke nomor istrinya.


****


Kakak-kakak, Author minta maaf ya kalau updatenya nggak banyak. Soalnya Author di dunia nyata, udah kerja lagi. Udah gitu di rumah juga ngerjain pekerjaan rumah. Jadi update kalau selow. Kemarin pas isoman masih bisa banyak. Tapi kalau like dan komenya banyak, Author usahain buat rajin Up.


Semoga Author bisa lebih baik lagi dalam menulis. Makasih like, koment dan dukunganya.


#Salam sehat buat semuanya. Selalu jaga prokes ya.

__ADS_1


__ADS_2