Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
268. Terserah Ibu


__ADS_3

“Jangan sentuh istriku!” pekik Ardi gusar saat masuk ke ruangan rawat istrinya. 


Ardi sangat risih melihat tangan istrinya digenggam orang lain, meskipun lelaki Tua.


Setiap inci tubuh Alya adalah miliknya, yang  tidak jijik bisa dia ciumi dan dia jil*ati setiap dia mau. Baginya Alya seperti pabrik semangat dan kebahagiaan buat dia. Hanya milik dia.


Tuan Didik, Intan dan Baby El memenuhi janjinya, pagi-pagi datang menjenguk Alya dan ingin mengungkapkan sebenarnya. Dengan membawa asa semangat yang berlimpah. Tuan Didik masuk ke ruangan Alya, duduk di depanya dengan tatapan bangga, kerinduan dan penyesalan. 


Wajah Alya mirip Tuan Budi Satrio, hidungnya juga, tapi bibir dan matanya mirip Bu Nurma. Kenapa Tuan Didik baru menyadari sosok kakaknya ada pada diri Alya. 


“Pak Didik, Mba Intan?” sapa Alya ramah segera meraih hijabnya dan memakainya, karena sebelumnya Alya membiarkan dirinya tidur bersantai dengan daster yang di bawakan Arlan dan menguncir rambutnya asal. 


“Pagi, Dokter Alya, apa kabarnya? Udah baikan?” tanya Intan memberikan senyum tulusnya. 


“Alhamdulillah baik, silahkah duduk! Pak Didik gimana? Udah sembuh?” tanya Alya ramah mempersilahkan mereka duduk. 


Intan dan Baby El, duduk di sofa, sementara Tuan Didik, ambil kursi di dekat Alya. Bahkan tanpa permisi meraih tangan Alya sehingga membuat Alya kaget.


Semenjak nikah, bahkan berpelukan dengan Anya, itu bisa membuat Ardi ngambek nggak jelas sepanjang malam. Alya tau itu, suaminya parah cemburunya.


“Nak Alya, benarkah kamu anak dari Budi Satrio?” tanya Tuan Didik to the point dengan sorot mata penuh harapan. 


Alya bengong dan bingung saat nama ayahnya disebut, di saat yang bersamaan suamiya datang membawa air mineral, buah-buahan dan makanan yang dia suka. 


Ardi datang mengeratkan rahangnya tidak suka. Alya langsung menarik tanganya. Dan memberikan senyum getir ke Tuan Didik. Merasa tidak nyaman dengan sikap Tuan Didik. Memberi kode jangan menyentuhnya.


Tuan Didik dan Intan sendiri langsung menciut nyalinya melihat kedatangan Ardi. Mereka tau watak Ardi yang bisa mendadak arogan dan galak, tapi bisa dalam waktu singkat berubah menjadi sesosok yang sangat lembut dan bucin. 


“Ehm. Nak Ardi!” ucap Tuan Didik merasa malu, segan, takut dan putus asa ikut menarik tanganya. 


Jika sendirian Alya merupakan sesosok humble yang mudah didekati dan bisa membaur dengan siapapun. Tapi jika ada Ardi, mereka akan terasa jauh, seperti ada tirai besar yang menghalangi.


Ardi langsung duduk di samping Alya menyuruh Alya munduran dan Ardi yang berhadapan langsung dengan Tuan Didik.


Meskipun dulu Tuan Didik menjadi orang yang dihormati sebagai calon mertua. Tapi sekarang dia sadar siapa dirinya, sehingga Tuan Didik segan ke Ardi.


“Om Didik mau bilang apa? Katakan! Tapi jangan sentuh istriku, aku tidak suka kepunyaanku dipegang orang lain!” tutur Ardi di depan Tuan Didik.


“Maas, beliau orang tua, jangan galak- galak” bisik Alya menarik kaos dan pinggang Ardi lembut. 


“Ehm!” Ardi berdehem melenturkan otot- otot wajahnya agar tidak terlihat galak. 


“Kenapa Pak Didik menanyakan ayah Alya? Apa Pak Didik kenal dengan ayah Alya?” tanya Alya ragu dan dheg- dhegan.


Setelah melihat Ardi segera mengendur Alya ingin kembali menciptakan suasana santai dan membuat Pak Didik tidak anggung menyampaikan niatnya. 


Pak Didik menunduk sebentar, mengambil nafas dan mengumpulkan mental. Setelah merasa siap dengan semua hasilnya , Tuan Didik mengangkat wajahnya, menatap Ardi sebentar kemudin fokus ke Alya. 


“Aku om mu Nak, ayahmu kakak kandung om” tutur Pak Didik tegas dan mantap. 


Ardi dan Alya kemudian saling tatap dan terbengong, mereka seperti orang bodoh. Sesaat setelah mengedipkan mata dan otaknya terkonek lagi, baru mereka berfikir dan merasakan kejutan yang luar biasa. 


“Apa maksud Om?” tanya Ardi sigap bertanya sebelum Alya bertanya. 


“Maafkan Om, maafkan kakek nenekmu Nak Alya. Maafkan kami sudah banyak berbuat dzolim terhadap ibumu dan ayahmu Nak!” ucap Tuan Didik lagi dengan tulus menatap ke Alya. 


Alya terdiam, seketika jantungnya berdetak tak beraturan. Ada rasa terkejut, senang, tidak menyangka tapi sekaligus getir dan timbul kebencian.


Mulut Alya terkunci, Alya hanya menatap suaminya dengan penuh ketergantungan. Alya merasa pusing dan tidak cukup tenaga menjawab Tuan Didik, biar Ardi yang mejawabnya. 


“Sayang, apa maksudnya ini? Om Didik saudaramu?” tanya Ardi. 


“Lian nggak tahu Mas!” ucap Alya lirih.


“Iya, Om sudah ketemu ibumu, kamu boleh menanyakanya. Budi Satrio itu kakak Om, aku Didik Satrio kami bersaudara!” tutur Tuan Didik lagi menjelaskan.


Ardi dan Alya terdiam menelan salivanya sambip berfikir. Mereka mencoba mencerna dan menerima kenyataan yang tidak terbayangkan sebelumnya.


Alya seperti orang linglung. Sebenarnya syok, tapi karena dia masih lemas, dia jadi bingung mau berbuat apa. 

__ADS_1


“Om mohon, ijinkan Om mendapatkan kesempatan untuk menjadi Om mu. Terima kasih atas semua kebaikanmu! Maafkan kami!” tutur Tuan Didik lagi.


Ardi memilih diam dan memberikan kesemptan ke Alya untuk menjawab. 


Alya kemudian menatap Intan dan Baby El yang mendengarkan dengan tenang. 


“Benarkah kita saudara? Jadi Mba Intan sepupuku?” tanya Alya.


“Iya!” jawab Tuan Didik dan Intan mengangguk. 


Alya kemudian menarik kedua sisi bibirnya, Alya tersenyum tapi senyumnya terasa getir. Kemudian Alya mulai membuka suara san merangkai kata.


“Alya seneng dengernya. Alya bahagia, akhirnya Alloh temuin Alya dengan keluarga bapak!” lanjut Alya lagi dan matanya mulai nanar. 


Tuan Didik dan Intan kemudian tersenyum lega. Seperti perkiraanya, Alya memang mempunyai hati selapang stadion atau lapangan bola dunia. Pasti Alya akan menerima mereka.


“Tapi” lanjut Alya lagi. 


Semuaya kemudian menegang, saat Alya bilang tapi.


“Om Didik kalau mau minta maaf, minta maaflah pada ibuk. Alya sudah dengar semua cerita ibu. Alya bukan tidak mau menyambung silaturrahim dengan kalian lagi. Tapi Alya jaga perasaan ibu. Jika dengan saya bertemu dengan kalian membuat ibuku bersedih, saya mohon maaf, tolong jangan temui saya lagi!” tutur Alya melanjutkan kata- katanya dengan terisak, dan sedikit sedikit air yang menggenangi matanya merembes. 


“Tapi“ lanjut Alya lagi. 


“Kalau ibu Alya memaafkan Om, Alya akan sangat bahagia punya keluarga dari bapak Alya, Alya juga ingin tau seperti apa kakek neneek Alya” tutur Alya mengakhiri sambil menatap Tuan Didik yang menunduk.


Tuan Didik dan Intan terdiam mencerna perkataan Alya. 


Melihat dan mendengar istrinya menangis, Ardi langsung merangkul Alya, mengusap pipi Alya dan menyeka air matanya lembut. 


“Om Didik dengar kan kata istriku, minta maaflah pada ibu kami” sahut Ardi. 


“Terima kasih Nak. Om akan temui ibumu! Kapanpun kamu butuh Om dan Intan, katakan kami saudaramu, kami akan selalu ada untuk kalian, ijinkan kami menebus kesalahan kami di masalalu” tutur Tuan Didik lagi.


“Saya kira saya tidak perlu mengulangi perkataan istriku! Om Didik paham kan maksudnya?” jawab Ardi lagi mengusir Om Didik secara halus. 


Tuan Didik dan Intan pun peka. Lalu mereka undur diri. 


Ardi diam berusaha tidak menatap Intan. Sementara Alya mengangguk tersenyum. Lalu Tuan Didik dan Intan berpamitan. 


Ardi kemudian membetulkan duduknya menghadap ke istrinya. Ditatapnya lekat- lekat wajah Alya yang masih tampak merah di ujung matanya.


“Kenapa nggak pernah cerita?” tanya Ardi lembut.


“Lian juga nggak tahu dan nggak nyangka Mas, kalau Mba Intan saudara Lian”


“Jadi gimana ceritanya? Kenapa sampai kalian tidak saling mengenal?” 


“Kakek dan Nenek nggak suka sama ibu, mereka mengusir ibu dan ayah dari rumah. Ibu dan ayah pergi ke Jogja itu sebabnya ibu dulu melarang Lian buat jatuh cinta sama orang sini” tutur Alya pelan. 


Ardi langsung meraih Alya ke dalam pelukanya. Tidak menyangka Ardi berhubungan dengan dua perempuan yang ternyata mempunyai hubungan darah.


“Cinta dan takdir itu memilih jalanya sendiri Sayang, dia tau kemana mereka memilih rumahnya. Apa kamu menyesal bertemu dan menikah sama mas sehingga harus bertemu mereka?” 


“Nggaklah Mas, mas itu seperti keajaiban buat Lian, Mas buat Lian merasa hidup Lian sempurna. Lian nggak benci sama Om Didik dan Mba Intan. Lian hanya bingung harus bagaimana. Lian harus pertimbangkan perasaan ibu juga” 


“Kalau mas setuju nggak usah kenal mereka , mereka kan yang usir kalian!” 


“Tapi mereka tulus Mas, lihatlah Mba Intan, dunia seperti sudah memberikan karma ke  mereka. Buat Lian, biarlah hukum Tuhan yang berbicara, kita cukup diam dan tetap jadi orang baik” 


“Hemmm” 


“Lian akan bicarakan dan sampaikan ke Ibu, semoga ibu ijinin Lian buat deket sama Mba Intan. Kalau perlu tolong mereka mas!” tutur Alya mulai mengeluarkan sifatya yang terlampau baik.


“Hmmmm” Ardi hanya berdehem, kalau sudah begini pendapat Alya susah dipatahkan.


“Maaas, Lian lagi hamil lhooh, kita harus banyak berbuat baik, agar Alloh sehatkan Lian dan anak kita” 


“Udah yuk makan yuuk, obatnya udah diminum?” jawab Ardi mengalihkan pembicaraan tidak mau bahas Intan dulu. Biar nanti sama Bu Mirna.

__ADS_1


Lalu dengan lembut Ardi menyuapi Alya, pagi itu mereka sarapan dengan makanan kaki lima. Prinsip Ardi yang selama ini memegah teguh gengsi dan kehygienisan pun berubah. Ternyata sate lontong di pinggir jalan rasanya tidak kalah guring dan nagih. 


****


Tanpa mereka rasakan. Berduaan di rumah sakit, sepanjang waktu Alya rebahan di pangkuan Ardi, sementara Ardi memeriksa beberapa laporan pekerjaan dari Dino, tau- tau siang. Dokter pun melakukan visit, dan Alya diperbolehkan pulang. 


Ardi dan Alya tersenyum lebar dan bersemangat. Mereka kemudian berkemas. Tanpa menunggu sopir atau dijemput keluarga, mereka pulang mengendarai mobil ferarrinya sendiri.  Ardi mulai terbiasa melakukan aktivitas tanpa pelayan.


“Sayang...” panggil Ardi di perjalanan.


“Hmmm” jawab Alya menoleh. 


“Bener kan udah sehat?’” 


“Iiih kok tanya begitu? Lian sehat. Sehat banget. Emang Lian terlihat sakit?” jawab Alya malah salah paham, merasa menjadi beban dan tidak enak jika jadi dianggap lemah dan terlihat kasian. 


Tapi Ardi yang bertanya dengan maksud lain tersenyum dengan penuh arti sambil mengencangkan laju mobilnya. 


“Iih malah senyum, aneh!” cibir Alya. 


“Mas nyalain musik ya?”


“Oke..” jawab Alya. 


Lalu Ardi menghidupkan pemutar musik di mobilnya. Menyalakan lagu- lagu romantis kesukaan mereka, yang nada dan syairnya membuat hati mereka ikut mengembang.


Lalu dengan inisiatif Alya meraih satu tangan Ardi, menelusupkan jari jemarinya sehingga mereka saling menggenggam. 


“Makasih ya Mas, udah milih Lian” 


“Makasih juga udah datang ke hidup Mas” 


Mereka berdua saling senyum. Ardi kemudian mengangkat tangan Alya dan menciumnya sambil menyetir.


Siang itu seakan jalanan dipenuhi bunga dan bertebaran dimana-mana. Perjalanan pulang terasa membahagiakan. Tidak ada kemacetan pula. Mereka sampai rumah dengan cepat.


Sampai rumah ternyata di rumah baru diselenggarakan pengajian anak- anak yatim. Itu sebabnya Bu Rita dan Bu Mirna tidak menjenguk. 


Melihat masing- masing anggota keluarga sedang sibuk,mereka langsung menuju ke kamar. Ikut nimbrung di pengajian juga bukan waktu yang tepat mengingat mereka baru pulang dari rumah sakit. 


Sesampainya di kamar, Alya meletakan tas nya. Lalu mencuci tangan dan kakinya. Setelah itu duduk di sofa kamar mengambil air putih yang tersedia. 


Ardi melepaskan pakaian luarnya. Dan mendekat ke istrinya. 


“Jilbabnya dilepas Sayang” ucap Ardi mencondongkan mukanya mencari jarum peniti di bawah dagu Alya. Diperlakukan seperti itu Alya jadi gelagapan. 


“Lian bisa lepas sendiri” jawab Alya menolak, menepis tangan Ardi.


Alya bangun dari duduknya. Berdiri melepas jilbabnya, lalu meletakan di keranjang kotor. 


Ardi mengikutinya, kemudian memeluknya dari belakang, menciumi bahu dan lehernya dengan lembut sehingga membuat sensasi rasa yang tidak bisa diungkapkan. 


“Geli Mas” jawab Alya menghindar.


Alya berjalan kembali ke tempat tidur. Ardi kemudian langsung sigap menyusulnya dan mengunci Alya di bawah kungkunganya. 


“Udah sehat kan? Nggak boleh beralasan!” bisik Ardi mengerlingkan matanya.


Alya menatap wajah suami yang tepat di atasnya denga tersenyum, tapi tanganya menjauhkan suaminya sehingga membuat Ardi tersinggung dan marah. 


“Tuh kan mas ditolak lagi? Dosa kamu lho. Mas udah lama nahanya” 


“Bukan nolak. Tuh pintunya belum ditutup!” ucap Alya tersenyum.


****


Maaf Author muutnya dan badanya lagi nggak siip. Jadi Upnya lama.


kalau dipaksain ngetik takut feelnya nggak ngena.

__ADS_1


makasih ya udah sayang mereka sampai ke titik ini.


love love sekebon dari Author dan keluarga Gunawijaya buat pembaca budiman semuah.


__ADS_2