
****
Jembatan penyebarangan.
"Liaan!" panggil Ardi dengan wajah memerah dan nafas ngos-ngosan. Bayangan Ardi segera memeluk istrinya dengan mesra dan bahagia hilang. Ardi justru menjadi emosi. Ardi langsung menarik kasar tangan istrinya, yang Ardi lihat sedang dipegang laki-laki lain.
"Sakit Mas! Lepas" ucap Alya berusaha melepas tanganya dari cengkeraman suaminya
"Mas khawatirin kamu, nyariin kamu, ternyata kamu di sini sama dia. Ngapain kamu sama dia? Heh!" bentak Ardi meluapkan cemburunya. Pertanyaan tentang kehamilan istrinya lenyap tertutup emosi.
"Lian nggak ngapa-ngapain mas!" jawab Alya jujur.
"Jelas-jelas mas liat dia pegang tangan kamu. Apa ini sifat kamu yang sebenarnya?"
"Apa maksud kamu mas?"
"Berani kamu keluar rumah tanpa ijin mas. Berdua-duaan di tengah jalan sama laki-laki lain! Ayo pulang sekarang!" bentak Ardi tidak memperdulikan laki-laki yang sedang memperhatikan mereka bertengkar.
****
Flashback
Pada saat Alya berdiri menikmati pemandangan jalan. Gery yang dalam perjalanan ke rumah sakit, berhenti di atm di bawah jembatan penyeberangan. Beberapa pemuda yang duduk di bangku pedangan kaki lima dekat atm, berbincang membicarakan Alya dikira mau bunuh diri.
"Itu perempuan mau ngapain di atas penyeberangan sendirian gitu?" ucap salah satu pemuda yang sedang merokok di pedangang kaki lima.
"Istirahat kali liat-liat pemandangan" jawab teman pemuda itu.
"Eh jangan-jangan dia mau bunuh diri? Kayaknya lagi nangis tuh" ucap pemuda itu lagi.
Gery yang berdiri di dekat pemuda itu. Ikut melihat ke atas. "Alya?" gumam Gery membulatkan matanya memastikan itu Alya.
"Tolongin, tolongin! Kayanya lagi patah hati tuh perempuan" ucap pemuda satunya.
"Dia teman saya Bang, biar saya yang ke sana" jawab Gery lalu berlari ke jembatan penyeberangan.
"Dokter Alya! Jangan lompat!"
Alya hanya menoleh bengong. "Dokter Gery?"
"Jangan bodoh Al! Lo kenapa? Kalau ada masalah bilang ke gue, gue selalu ada buat Lo" tutur Gery khawatir mengira Alya mau lompat.
"Alya nggak kenapa-kenapa. Alya pengen liat jalan aja, istirahat bentar, di sini udaranya sejuk" ucap Alya santai menjelaskan
"Ya Tuhan gue kira lo kenapa? Syukurlah kalau begitu" jawab Gery lega. Lalu melihat tas Alya dan wajah pucat Alya.
"Kamu mau kemana? Wajahmu pucat sekali? Kamu udah sehat?" tanya Gery panik mengingat kemarin Alya pingsan di rumah sakit.
"Sehat" jawab Alya mengangguk dengan polos, meskipun sebenarnya dia sedang menahan pusing dan mual.
Gery yang seorang Dokter langsung memastikan menyentuh kening Alya. Dan meraih tanganya memastikan suhu tubuh dan denyut nadi Alya normal. Tiba-tiba dari ujung jembatan datang Ardi dengan nafas ngos-ngosan, langsung marah cemburu buta melihat istri dan sahabatnya.
Flasback off
****
"Keterlaluan kamu ya Mas, harusnya mas ngaca! Apa yang mas lakuin, kenapa Lian pergi. Jijik aku liat kamu mas, lepas! Lian nggak mau pulang" jawab Alya keras mengeluarkan emosinya.
"Lian! Berani kamu?" balas Ardi menarik tangan Alya kasar.
__ADS_1
Gery yang dari tadi diam tidak sabar melihat gadis yang dia kejar diperlakukan kasar. Dia yang tidak berniat ikut campur akhirnya ikut campur. Gery maju dan menepis tangan Ardi.
"Ar, jangan kasar dong! Lo denger nggak Alya nggak mau ikut Lo. Alya mundur dulu gue mau ngomong sama dia" ucap Gery melerai Alya dan Ardi, dan menyuruh Alya mundur. Alya pun mundur membiarkan suami dan seniornya bicara.
"Eh Lo, jangan ikut campur urusan gue!" jawab Ardi emosi masih termakan rasa cemburu.
"Ar. Gue tau dulu kita berteman, tapi gue nggak suka liat lo kasar begini sama Alya"
"Dia istri gue. Itu urusan gue sama istri gue. Minggir lo! Lo nggak perlu ikut campur"
"Hah? Hahaha. Jadi lo nikah sama Alya? Kapan? Bener lo dah nikah sama dia Al?" tanya Gery tertawa masam, mengetahui kenyataan sahabatnya menikahi gebetanya.
Alya yang dibelakang Ardi mengangguk cemas.
"Iya, Alya Berlian Sari itu istri gue. Gue nikah dua bulan lalu" lalu jawab Ardi mengungkapkan kebenaranya.
"Selamat ya.Hebat Lo nikah nggak kabar-kabar. Tapi lo taik, tau nggak?" ucap Gery emosi.
"Apa maksud Lo? Lo nggak terima?"
"Kalau emang Lo nikahin dia baik-baik, gue ikhlas Bro, asal lo bisa bahagiain dia. Tapi kalau lo kasar begini, jangan salahin gue kalau gue ambil dia!"
"Brengsek lu ya! Gue tau, gimana cara gue urus istri gue. Lo nggak perlu urusin gue dan ngancem-ngancem"
"Gue nggak akan ikut campur Bro, tapi gue nggak akan diam kalau lo nyakitin Alya. Lo tau nggak istri lo sakit, pingsan di kantin, lo tau nggak? Peduli nggak lo, lo urus aja tu terong-terongan lo, biar dia sama gue!" tutur Gery emosi lagi.
"Apa lo bilang? Lo ngatain gue? Lo nggak tau apa-apa! Sialan, Bug!" Ardi emosi memukul Gery keras.
Alya yang melihat suaminya memukul seniornya langsung berlari melerai.
"Mas, stop!" teriak Alya menengahi. Tapi justru Alya terkena pukulan kedua suaminya sendiri.
"Auw" pekik Alya lalu terdorong jatuh membentur dinding tembok penyeberangan.
"Al!" panggil Gery panik karena mulut Alya berdarah dan terkulai lemas.
"Sayang maafin mas" ucap Ardi meneteskan air mata karena menyesal. Ardi mendorong Gery kasar lalu merebut menggendong Alya. Gery mengalah menyadari Alya istri Ardi dan membiarkan Ardi menggendong Alya.
"Pakai mobil gue Ar, ada di bawah lewat sini" ucap Gery memberi tahu sahabatnya.
Ardi yang panik, mengikuti Gery. Anya yang sudah selesai istirahat dan menyusul Ardi, kaget melihat pemandangan di jembatan penyeberangan jalan itu. Alya digendong Ardi dan di situ ada Gery juga.
"Alya kenapa?" tanya Anya ke Gery.
"Ikut ke rumah sakit" jawab Gery mengekori Ardi dan Alya.
Mereka berempat menuju ke rumah sakit.
Gery dan Anya tampak tenang, memainkan ponsel menunggu Alya diinfus dan ditangani perawat dan dokter jaga. Karena Anya tidak berseragam Anya membiarkan rekanya yang menolong Alya. Sementara Gery yang berprofesi sebagai dokter spesialis juga merasa bukan wewenangnya, Gery lebih memilih menunggu.
Sementara Ardi duduk di pojokan terpisah. Ardi tampak menunduk dan menangis, Ardi menutupi mukanya dengan tanganya. Ardi menyesal tidak bisa mengendalikan emosinya. Masalah dengan Lila belum selesai, dirinya malah menambah masalah dengan istrinya.
Tidak lama dr. Ana yang menangani Alya mendekat ke Dokter Gery dan Dokter Anya. Dokter Ana tidak tahu kalau Ardi suaminya Alya. Tahunya Alya dekat dengan Gery dan Anya.
"Gimana keadaan Alya?" tanya Anya ke rekan dokter umumnya itu.
"Dia lemes banget. Hb nya turun, tensinya juga rendah banget, padahal kemarin bagus, dia harus bedrest" ucap dr. Ana menjelaskan sambil duduk di samping Anya.
"Gimana kehamilanya?" tanya Anya lagi membuat Gery tercengang mengetahui Alya hamil.
__ADS_1
"Sempet kontraksi dan perdarahan juga. Tapi belum ada pembukaan kok, insya Alloh aman, sebaiknya nanti USG. Ngomong-ngomong ayah bayinya?" tanya dr. Ana melirik ke Gery.
"Bukan gue!" jawab Gery merasa dicurigai.
"Bukanya Dokter Alya pacar Dokter Gery?" tanya Ana mengingat kejadian waktu Alya awal datang ke rumah sakit. Ana pun mengira Alya hamil di luar nikah.
"Tuh suaminya!" jawab Gery menoleh ke Ardi yang berdiri cemas.
"Hemm. Gue jelasin ulang dong? Eh tapi kapan Alya nikah? Kok gue nggak tahu, tahu-tahu hamil" bisik dr. Ana ke Anya sambil menggerutu lalu menatap ke suami Alya.
"Tanyalah ke Alya, gue juga baru tahu kalau Alya udah nikah" jawab Anya ketus.
"Heh? Tunggu! Dia kok mirip sama Ardi Gunawi?" tanya dr. Ana kaget dan ragu mau melakukan health edukasi setelah melihat wajah suami Alya.
"Iya itu emang dia?" jawab Anya dengan wajah datar.
"Duh, kok gue dheg-dhegan, jadi Dokter Alya ternyata? Waah, gue nggak nyangka. Duh kok gue takut" ujar dr. Ana mentalnya menciut mengingat kemarin ikut bergosip. Dan mengetahui ternyata Tuan Ardi Gunawijaya suami rekan sejawatnya.
"Mau jelasin nggak? Dah gue aja!" jawab Gery kesal.
"Dok" panggil Anya mencegah Gery dan menggelengkan kepala. "Bukan hak kita buat kasih tau keadaan Alya. Biar Dokter Ana bekerja profesional, kita bicara setelahnya"
"Ya. Oke" jawab Gery mengiyakan peringatan juniornya.
Meski dengan langkah gerogi Anya menghampiri Ardi.
"Permisi. Benar dengan suami Dokter Alya?" tanya Dokter Ana sopan.
"Ya, saya suami Alya, bagaimana keadaan istri saya Dok? Dia baik-baik saja kan?" jawab Ardi berdiri masih dengan wajah khawatir.
"Mari silahkan masuk, biar saya jelaskan" jawab Dokter Ana lembut mempersilahkan Ardi ke tempat konsultasi.
****
"Ke Alya yuk!" ajak Gery tidak sabar melihat keadaan istri sahabatnya yang kini dia anggap adik.
"Ayuk" jawab Anya mengangguk yang kini menjadi akrab dengan senior gantengnya.
Gery dan Anyapun masuk menemui Alya yang sudah selesai ditangani. Sementara Ardi masih mendengarkan penjelasan Dokter Ana.
"Alya" panggil Anya lembut merasa bersalah karena sudah mengusir Alya.
Mendengar sahabatnya datang Alya tersenyum dengan wajah cantiknya.
"Anya, Dokter Gery? Sini duduk" jawab Alya mempersilahkan temanya duduk di samping bednya.
"Lo baik-baik aja kan? Gue minta maaf Al, gue yang udah buat lo gini, gue udah jahat sama lo"
"Sssttt, Anya. Kamu nggak salah apa-apa, aku yang salah udah bohongin kalian" ucap Alya sendu menatap Gery dan Anya.
"Aku minta maaf ya, nggak seharusnya aku rahasiain statusku" ucap Alya lagi.
Dokter Gery dan Anya hanya mengangguk. Sebenarnya mereka masih memendam banyak pertanyaan. Tapi melihat keadaan Alya yang lemah mereka lebih memilih tenang, dan memaafkan Alya.
Setelah selesai mendengarkan penjelasan, Ardi datang menghampiri istri dan kedua temanya. Anya dan Gery pun memberikan ruang ke Ardi. Anya bangun dari duduknya.
"Nggak apa-apa Dokter Anya, silahkan duduk. Saya minta tolong temani istri saya dulu" ucap Ardi sopan dan dewasa. Lalu mengelus tangan istrinya.
"Mas keluar sebentar sayang" ucap Ardi lembut ke Alya.
__ADS_1
Anya pun kembali duduk. Sementara Alya masih diam menahan emosi dan membuang muka dari suaminya. Lalu Ardi menepuk bahu Gery mengajak keluar.
"Gue pengen ngobrol sama lo, Ger" bisik Ardi ke Gery. Gery pun mengikuti Ardi. Raut muka cemburu dan emosi Ardi hilang. Dua sahabat yang bersitegang itu kembali terlihat hangat.