Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
272. Alya tau Kok


__ADS_3

"Terima kasih atas jamuan dan sambutan yang baik ini Tuan Surya. Kami, saya sendiri, istri, dhek Dika dan semuanya mohon maaf kalau ada salah-salah kata" tutur Ardi berpamitan


"Tidak ada yang salah Tuan. Saya sangat bahagia sekali Tuan Ardi beserta istri dan rombongan bersedia mampir ke gubuk saya. Apalagi mau menyambung silaturrahim dengan kami" jawab Tuan Surya ramah.


"Dokter Alya. Nak Dika dan Pak Farid. Ini ada sedikit oleh-oleh" tutur Mamanya Dinda. Lalu ART di rumah Dinda memberikan beberapa paper bag sebagai tali kasih ikatan persaudaraan mereka.


"Ah terima kasih Bu" jawab Alya.


"Ya sudah kalau begitu kami pamit" tutur Ardi lagi.


"Ya hati-hati"


Tuan Surya, istrinya dan Dinda pun mengantarkan rombongan sampai depan. Karena Ardi ketua suhu, meski masih tergolong muda. Dia yang banyak vokal, Dika terima diam dan mengangguk.


Tapi tetap saja sesekali mata Dika dan mata Dinda terpaut. Berkomunikasi tanpa suara dan kata. Tapi memancarkan sejuta cerita dan harapan. Betapa mereka berdua sangat bahagia lampu hijau menyala terang agar mereka bisa secepatnya bersama.


Meski harus bersabar dan menahan untuk tidak banyak bersua dan bertatap mata. Tapi yakinlah kelak mereka akan bahagia selalu bersama selamanya.


Rombongan pun meninggalkan halaman. Dan mereka hendak ke mobil masing-masing.


"Ingat jangan buru-buru balik Dik" pesan Ardi sebelum mereka berpisah.


"Ya Tuan!" jawab Dika.


"Lusa resepsiku. Tetaplah di Jakarta sampai resepsiku selesai ya!"


"Ya Tuan" jawab Dika lagi.


"Oke hati-hati, sukses ya. Gue bangga sama Lo!" tutur Ardi menepuk bahu Dika.


Dika pun mengangguk tersenyum dan santun ke Ardi. Disusul dengan Farid yang juga memberikan salam dan selamat.


Dika dan anak buahnya kemudian masuk ke mobil baknya. Mereka menuju ke hotel yang Dika pesan dengan uangnya sendiri.


Semantara Arlan, Farid, Ardi dan Alya masuk ke mobil mewah Ardi.


"Hati-hati Sayang, jangan cepet-cepet jalanya" tutur Ardi mengulurkan tangan menggandeng istrinya.


"Ya ampun Mas, jalan ke mobil doang. Lian bisa jalan sendiri" jawab Alya menolak suaminya karena malu. Lalu mereka masuk ke mobil.


"Dika keren ya Mas? Pasti Dinda ngerasa berharga banget jadi perempuan" tutur Alya spontan.


"Ehm" Ardi berdehem tersinggung dengan pertanyaan istrinya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Alya


"Kerenan Mas lah!" jawab Ardi tidak suka Alya memuji laki-laki lain.


"Keren darimananya? Boro- boro ngelamar dengan cara yang baik. Mas jebak Lian. Maksa! Mas aja nipu ibu Lian, nipu mama Rita" jawab Alya. Terkadang sifat tidak bersyukurnya keluar.


Meski kini Alya bahagia, tapi tidak dipungkiri sebagai manusia biasa kadang Alya juga merasa ingin merasakan rasanya dilamar. Melalui beberpa proses pernikahan yang sakral dan bahagia.


"Nipu gimana Al!" tanya Farid di depan ikut penasaran.


Sampai sekarang Farid dan Gery masih belum tahu misteri pernikahan Ardi dan Alya yang mendadak dan bersembunyi dari kawan-kawanya. Mereka hanya tau Ardi dan Alya saling cinta dan lebaynya kebangetan.


"Tuh tanya sama Mas Ardi?" jawab Alya.


"Udah sih masalalu nggak usah dibahas. Mang kamu nyesel nikah sama Mas? Udah ada bayi juga kali Yang di perut kamu" jawab Ardi malu dan tidak mau bahas masalalu.


"Lian bukan nyesel Mas. Lian cuma bahas Dika. Dika keren lhoh. Sebagai anak muda berani dengan hormat menyampaikan niat baik-baik ke orang tuanya" jawab Alya lagi


"Eh beneran gue penasaran. Mang Ardi nipu Ibu sama Tante gimana?" tanya Farid masih penasaran


"Udah lo budurr, nggak usah kepo. Lo nikah dulu geh sama Anya kapan lo nikah?" jawab Ardi tidak mau rahasianya terbongkar.


Ardi tengsing banget kalau nanti diketawain teman-temanya. Ardi kan ngaku-ngaku udah nidurin Alya biar dikawinin. Padahal nyentuh aja sebelum nikah belum pernah..


"Kapan lo nikah?" tanya Ardi mengalihkan pembicaraan


"Al nipu gimana Al?" tanya Farid tidak peduli pertanyaan ardi.


"Mas Ardi itu maksa biar kita nikah, bilang ke ibu dan Mama kalau kita.. emppt" ucap Alya ingin membully suaminya tapi langsung di bekap dengan tangan Ardi.


"Ingat, aib suami itu aib kamu juga Yang! Sampai rumah tak hukum nanti kamu!" ucap Ardi mengancam Alya.


"Hemmm" Farid kemudian berdehem melihat kedua orang itu. Dan Arlan yang dulu ikut memata-matai Ardi tersenyum.


"Pak Arlan tau sejarah mereka?" tanya Farid.


"Tau Pak" jawab Arlan.


"Pak Arlan berani buka mulut besok nggak usah berangkat Pak!" ancam Ardi lagi.


"Iya Tuan tidak"


"Ih sumpah deh ya. Gue nggak ngerti emang gimana sih?" tanya Farid.

__ADS_1


"Udah lo nggak usah kepo. Yang penting lo sekarang udah mau nikah sama Anya! Kapan Lo nikah? Buru nikah?" jawab Ardi lagi.


"Secepatnya calon mertua gue bilang butuh waktu buat tentuin hari, konsep dan tempatnya" jawab Farid lagi.


"Hemm"


"Semoga lancar ya Kak Farid" sahut Alya.


"Makasih Al" jawab Farid.


Farid pun harus mengubur rasa penasaranya. Mungkin di kesempatan mereka ngumpul lagi Ardi akan cerita.


Setelah melakukan perjalanan beberapa waktu. Mereka sampai di kediaman Tuan Aryo. Farid kemudian berpamitan. Dan keluarga Tuan Aryo berkumpul.


"Sayang Mama mau bicara" tutur Bu Rita mengawali.


"Iya Mah!" jawab Alya lalu Ardi dan Alya ikut duduk.


Bu Rita kemudian mengambil paper bag yang diterimanya tadi pagi.


"Ini, ada titipan dari seseorang untuk kamu! Apa benar itu kamu yang menginginkan?" tanya Bu Rita.


Alya diam, belum buru-buru menjawab. Lalu Alya membuka isi paper bagnya itu. Diambilnya dan dipandanginya dengan teliti. Bahkan Alya berdiri menggelar lipatan kain berwarna cantik itu. Dan Alya menatapnya dengan berbinar


Ya gamis sesimple dan seelegan ini yang Alya mau.


"Jadi itu syarat kamu ajukan ke mamah. Mau ganti sebanyak yang mama mau asal kamu pake gaun itu?" tanya Mama Rita lagi melihat wajah Alya bahagia.


"Iya Mah. Ini gaun yang Lian pingin" jawab Alya.


"Apa kamu tahu siapa yang mengantar dan membuatnya?" tanya Bu Rita.


Alya kemudian diam dan menoleh ke Bu Mirna. Ini kan tema pembahasan yang akan Alya tanyakan malam ini ke ibunya. Dan ternyata adegan dimulai dari Bu Rita dulu.


"Kenapa memang nya Mah?" tanya Alya lirih suasananya mulai tidak enak.


"Kamu tau kan siapa?"


"Lian tau Mah. Lian yang minta mba Intan yang buat. Dan Mba Intan dan Pak Didik yang menhantarnya" jawab Alya.


"Apa kamu tau siapa mereka?" tanya Bu Rita lagi.


"Lian tau Mah siapa mereka" jawab Alya tegas. Dan tatapan Alya kini ke ibunya. Alya ingin menanyakan banyak hal ke Bu Mirna

__ADS_1


__ADS_2