Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
84. Menunggu waktu


__ADS_3

"Dokter Gery stop!" ucap Alya spontan melerai.


"Alya dia mencium kamu! Dia melecehkan kamu!" ucap Gery gemas dan tidak terima. Gery hanya ingin mengajak Alya jalan saja sangat susah, orang lain main tarik dan menciumnya. Gery berusaha melihat laki-laki yang ditonjoknya itu.


"Dok, Dia tidak melecehkan dia su..." ucap Alya hendak menjelasakan. Tapi Gery sudah melihat duluan wajah laki-laki yang ditonjoknya.


"Ardi?" panggil Gery lirih mengabaikan penjelasan Alya.


Ardipun menatap Gery dengan kaget. "Gery?"


Melihat Gery dan Ardi saling memanggil Alya lebih kaget dan bingung.


"Dokter Gery? Mas Ardi? Kalian saling kenal?" tanya Alya lirih.


Sementara Gery tertawa sinis mengibaskan tangannya. "Hah, hahaha, Taik lo Ar?"


Ardi hanya menunduk mengelap sedikit darah yang keluar dari bibirnya, Ardi berusaha mendekat ke Gery. "Kita perlu ngobrol Ger"


"Taik Lo! Kenapa harus dia Ar? Dia Alya Ar, junior yang gue critain ke Lo! Bug" Gery menonjok Ardi lagi, tanpa menghiraukan Alya. Ardi menerima pukulan Gery tidak melawan.


"Persahabatan kita berakhir sampai di sini. Lo tega sama gue. Mulut lo basi!" umpat Gery tambah kesal saat tau laki-laki itu sahabatnya sendiri yang selama ini menyemangati Gery.


Ardi menghela nafasnya, dia hanya diam melihat sahabatnya pergi. Alya mematung masih belum mengerti apa yang terjadi dengan Ardi dan Gery.


"Ada apa ini?" tanya Alya meminta penjelasan ke suaminya.


"Masuk!" perintah Ardi melihat ke Arlan yang berdiri di samping mobil.


"Masuk gimana? Lian mau kerja mas, sini aku bersihkan dulu lukanya!"


"Masuk!" perintah Ardi lebih keras.


"Mas!" jawab Alya merasa tidak terima dibentak.


"Masuk ke mobil" bentak Ardi menarik Alya.


"Apaan sih?" jawab Alya lebih keras membuat Gery yang belum jauh mendengar dan menoleh ke Alya.


"Masuk nggak!" Ardi mencengkeram Alya dan mendorong Alya masuk ke mobil dengan kasar. Alya syok melihat suaminya kasar.


Gery berusaha balik dan ingin balik menyeret Alya meminta penjelasan. Tapi mobil Ardi pergi lebih dulu.


"Shit!" umpat Gery. "Bodoh gue, bodoh. Selama ini gue ditipu abis-abisan sama sahabat gue sendiri!"


"Ger Lo kenapa?" tanya Mira dari belakang melihat Gery marah-marah sendiri berdiri di dekat parkiran.


"Alya ternyata ada hubungan sama Ardi Mir?" ungkap Gery nanar ke Mira.


"What?" tanya Mira kaget. "Ardi? Temen SMA kita? Sama Alya?"


"Ya!"


"Kok bisa? Bukanya sampai sekarang kalian masih dekat?"


"Gue nggak tau! Gue nggak nyangka Alya semunafik itu, dan gue lebih nggak nyangka lagi Ardi bohongin gue"


"Sabar yah! Tapi kok bisa? Kenal dimana mereka?"


"Gue nggak tau"


"Lo nggak tanya? Lo ambil kesimpulan mereka ada hubungan darimana?"


"Gue liat pake mata gue sendiri, Ardi nyium Alya? Padahal gue selalu terbuka sama Ardi Mir"


"Hah? Ciuman? Wait? Ardi tau Alya tuh gebetan kamu? Alya tau nggak kalau kamu dan Ardi saling kenal?"


Gery diam, mengingat-ingat. Gery memang belum pernah menunjukan foto Alya atau mempertemukan mereka. Gery sendiri nggak tahu kalau ternyata Alya dan Ardi saling kenal. Dan sampai sekarang Gery nggak tahu asal usul Alya.


"Masa bodo gue sekarang, udahlah nggak usah bahas mereka" jawab Gery frustasi.


"Tapi Ger, menurutku jangan salahin Alya dulu deh. Bukanya dari awal dia udah nolak elo?" ucap Mira jujur, membuat Gery menelan salivanya dan menatap Mira. Mira bener sih, Gery tidak berhak marah karena Alya bukan siapa-siapanya Gery. Tapi tetap saja, kenapa harus Ardi?


"Menurutku kalian perlu ngobrol deh" ucap Mira lagi.

__ADS_1


"Gue emosi, jijik gue liat mereka!"


"Ger, lo dah lama sahabatan sama Ardi" ucap Mira mengingatkan.


Gery hanya diam lalu berdiri meninggalkan Mira menuju tempat kerjanya. Mira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mira tau betul apa yang dirasakan Gery. Cinta bertepuk sebelah tangan memang sangat menyakitkan. Tapi Mira berusaha ikhlas.


"Gue tau rasanya jadi Lo Ger, karena gue lebih dulu ngrasain itu" gumam Mira lalu ikut berjalan menuju ruang prakteknya sendiri.


****


Kantor Gunawijaya


Sepanjang perjalanan Alya dan Ardi saling diam. Alya sesekali menyeka airmatanya. Rasanya ingin kabur dan lari dari laki-laki yang tiba- tiba sangat kasar terhadapnya. Tapi Alya sendiri tidak tahu harus kabur kemana? Dan mengadu pada siapa? Hidup Alya sudah terlanjur terikat dengan laki-laki di sampingnya.


Sementara Ardi diam menahan sakit karena pukulan sahabatnya, dia ingin segera sampai ke kantornya. Menanyakan semua hal tentang sahabatnya.


Mobil Ardi sampai di parkiran sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Alya menelan salivanya saat melihat betapa megah gedung itu. Bahkan tingginya melebihi batas pandang mata Alya. Ini pertama kalinya Alya datang ke kantor suaminya.


"Ikut mas" ucap Ardi menarik tangan Alya. Alya mengikuti suaminya dengan harap-harap cemas. Ekspresi Ardi tidak mudah ditebak. Ardi langsung masuk lift dan memencet tombol 55.


Alya hanya diam mengikuti suaminya. Alya tidak menyangka kantor suaminya sampai 55 lantai. Bahkan ini pertama kalinya Alya masuk ke bangunan setinggi itu.


Tidak menunggu lama Alya dan Ardi tiba di ruangan Ardi. Ruangan kerja yang begitu luas, ada satu meja kerja yang terdapat nama suaminya. Di situ juga ada sofanya, tv dan tempat makan. Ada kamar mandi, ada ruangan khusus untuk istirahat juga.


"Duduk!" perintah Ardi ke Alya untuk duduk di sofa. Alya mengikuti suaminya.


"Mana ponselmu?" tanya Ardi dingin meminta ponsel Alya.


"Buat apa?" tanya Alya gemetaran karena wajah Ardi memerah menahan marah entah apa sebabnya. Alya sendiri tidak tahu. Alya merasa Alya tidak berbuat salah tapi wajah Ardi menegang.


"Jangan ngelawan!" bentak Ardi lagi.


Alya membuka tasnya dan menyerahkan ponselnya.


Ardi mengambil ponsel Alya dan memperhatikan baik-baik. Sesaat dia tersenyum sendiri.


"Kenapa aku tidak pernah sadar, bahkan dia mencarimu ke apartemen megayu?" gumam Ardi tertawa sinis. Alya hanya bingung melihat suaminya.


"Mas" panggil Alya meneteskan air mata.


"Ikut mas!" Ardi menarik tangan Alya. Menyeret Alya masuk ke ruangan kecil di tempat kerjanya.


Ardi menghempaskan Alya dengan kasar, mendorongnya ke kasur, menarik jibab Alya dengan paksa. Alya menjadi ketakutan dan syok dengan sikap suaminya. Sebelumnya Ardi tidak pernah sekasar ini.


"Jadi dia udah lihat ini? Iya?" tanya Ardi dengan wajah memerah, merobek paksa kancing dada gamis Alya. Ardi sangat marah teringat semua cerita Gery. "Lalu mana lagi? Mana lagi? Terus dia udah ngapain aja? Heh?" bentak Ardi kasar.


"Plak!" Alya menampar Ardi spontan tidak tahan melihat suaminya menggila. Lalu mendorong suaminya sekuat tenaga.


"Sadar mas! Kamu kenapa? Apa salah Lian?"


"Kamu nampar mas? Heh? Berani? Mas Suami kamu!"


"Iya aku tau mas suami aku! Tapi nggak begini, Mas kenapa? Kenapa kasar? Lian takut mas. Hiks hiks" jawab Alya merapihkan gamisnya dan menangis keras.


Ardi terdiam menyadari dirinya dikuasai hawa nafsu. Ardi mengusap wajahnya kasar. Kemudian menghela nafasnya menatap langit-langit. Mereka berdua terdiam beberapa saat.


"Maafin mas" ucap Ardi tiba-tiba.


"Jelasin ke Lian, ada apa? Apa salah Lian?"


"Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang Gery ke mas?"


"Lian harus cerita apa?"


"Selama ini Gery mendekatimu kan? Kenapa nggak pernah cerita kalau kamu perempuan yang Gery ceritakan?"


"Ya memangnya Lian tau mas tuh temenya Dokter Gery? Mas aja nggak pernah cerita masalalu mas. Temen- temen mas"


"Sudah berapa dekat kamu denganya? Sudah berapa kali kamu kencan sama dia? Kemana aja? Ngapain aja? Ponselmu dari dia kan? Heh!"


"Mas!" pekik Alya tidak menyangka suaminya menanyakan hal yang tidak dia lakukan.


"Alya!" bentak Ardi memanggil nama Alya. Ardi menelan salivanya.

__ADS_1


"Mas keterlaluan tau nggak?"


"Berhenti bekerja, dan diam di rumah"


"Mas, Lian benar- benar nggak ngerti! Gimana cara Lian ngadepin mas! Lian magang itu tugas Lian. Itu program profesi Lian sebagai syarat Lian jadi dokter. Dan itu nggak lama, Lian harus selesain magang"


"Jawab pertanyaan mas, berapa kali kamu menghabiskan makan dan kencan bersama Gery, apa saja yang kamu lakukan selama di rumah sakit? Membayangkan saja rasanya mau pecah kepalaku!"


"Lian nggak ada melakukan itu semua! Di rumah sakit tuh sibuk, mana ada kesempatan begitu?"


"Jangan bohong kamu, Gery cerita sering makan bareng sama kamu, berkencan sama kamu. Sampai dia tergila-gila begitu sama kamu! Nggak tahan mas ngebayanginya!"


"Astaghfirulloh mas, itu salah mas sendiri yang terlalu cemburu menuduh nggak jelas! Ya mana Lian tau perasaan Dokter Gery, Lian makan di kantin juga bareng Dokter Mira! Biasa aja!"


"Gery itu sahabatku, kita sering bertemu. Bahkan setiap detik setiap menit. Yang dia bahas hanya kamu, kamu dan kamu!"


"Bukan salah Lian" Alya membela diri.


"Dan mas nggak tahu kalau yang dia ceritakan itu kamu" lanjut Ardi lagi.


"Ya salah mas! Sampai nggak tahu!"


"Ponsel yang kamu pakai, bahkan itu mas yang bawakan. Mas yang pilihkan, mas nggak bisa biarin kamu terus bekerja di sana!"


"Mas! Nggak bisa gitu, masa cuma karena itu Lian berhenti kerja! Dengerin Lian Mas" ucap Alya menatap suaminya.


"Mas" panggil Alya lembut meraih tangan Alya. Menetralkan emosi. Alya berusaha menenangkan suaminya.


"Mas Liat Lian? Semua yang Lian punya udah mas miliki! Lian istri mas, Lian punya mas? Apa yang mas khawatirkan?"


Ardi diam, menatap istrinya. Buliran airmata masih menggenang di sudut matanya. Tapi Alya terlihat lebih tenang dan dewasa. Alya tau bagaiamana menenangkan suaminya.


"Ini semua salah kita karena kita tidak jujur ke teman-teman kita? Kita hanya perlu sampaikan baik-baik. Kita perlu mempublikasikan status kita, oke? Baik ke Kak Farid, Dokter Gery, Anya, Dinda dan semuanya. Harus!"


"Mas belum siap sayang" jawab Ardi pelan tampak memikirkan sesuatu.


"Ya ampun, Mas! Kapan siapnya? Kita menikah bukan selingkuh atau backstreet! Kita harus kasih tau orang lain agar tidak terjadi kesalahpahaman"


"Mas pasti akan lakukan itu, Mas juga akan persiapkan resepsi, tapi ada hal lain yang harus mas jaga!"


"Apa? Kalau mas bilang jaga perasaan Kak Farid seharusnya mas memikirkan itu sebelum ijab qobul. Telat kalau sekarang berfikir begitu"


Ardi membalas menggenggan tangan Alya. "Maafin mas! Tunggu sebentar lagi"


Alya diam, menghela nafas kecewa terhadap jawaban suaminya.


"Ya udah nggak usah cemburu-cemburu nggak jelas! Lian tunggu kapan mas siap. Jangan sampai Lian keburu hamil" ucap Alya kesal.


"Kamu hamil?"


"Ya takutnya!"


"Mas usahain secepatnya" Lalu Ardi memeluk Alya karena merasa bersalah. "Mas minta maaf" ucap Ardi lirih mengeratkan pelukanya.


"Sesak mas, lepas dulu!" ucap Alya melepaskan pelukan suaminya.


"Pengen rasain di sini nggak?" bisik Ardi tiba-tiba.


"Lian mau balik ke Rumah Sakit?" jawab Alya menolak.


"Ngapain?"


"Ya kerjalah, pumpung masih pagi, jadi nggak telat banget, Lian balik yah!" pinta Alya memegang pipi suaminya, Alya melihat jam dinding masih jam 8.


"Boleh tapi nanti dulu! Mas mau ngrasain di sini!"


"Semalem kan udah mas"


"Tapi kan nggak disini"


"Kalau ada yang masuk gimana?"


"Nggak! Seluruh lantai ini cuma ada ruangan mas, papah sama sekertaris" jawab Ardi.

__ADS_1


__ADS_2