Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
151. Salah sendiri.


__ADS_3

***


Rumah Tuan Aryo.


"Mba Mia.. Mb Ida.." Alya mencari teman curhatnya di dapur.


Karena sudah lewat waktu dzuhur dapur Tuan Aryo sepi. Alya kemudian melihat ke taman belakang. Di taman belakang juga sepi.


Alya melihat jam dinding yang menggantung di tembok. Jarum panjang di angka 12 dan jarum pendek di antara angka satu dan dua. Waktunya para pelayan istirahat.


"Hemmm" gumam Alya diam.


"Non Alya?" sapa Bu Siti tiba-tiba datang dari belakang sehingga membuat kaget Alya.


"Bu Siti. Kaget saya"


"Saya juga kaget saya kira siapa. Tumben Non pakai pakaian pendek keluar kamar"


"Hehe. Nggak ada laki-laki kan?"


"Nggak Non, Non ada perlu apa ke dapur? Biar saya siapkan"


"Saya cari Ida dan Mia Bu"


"Oh mereka ada di rumah belakang Non"


"Oh oke aku kesana"


"Eh jangan Non, biar saya panggil mereka saja. Non nggak boleh kesana, di sana kotor Non" jawab Bu Siti mengingat pesan Ardi untuk menjaga Alya.


"Ih Bu Siti apaan sih!" jawab Alya tidak terima diatur Bu Siti.


Alya tau Bu Siti sama sintingnya dengan suaminya. Masa pelukan doang sama temen perempuan nggak boleh. Dan sekarang main di kamar pembantu masih dilarang juga.


Alya tidak mengindahkan kata-kata Bu Siti. Alya berjalan ke kamar Ida. Waktu saat suaminya kerja adalah waktu emas untuk Alya bebas berekspresi.


"Mba Mia... Mba Ida" panggil Alya.


"Non Alya.. "


Mia dan Ida bergumam bersama, lalu mereka membuka pintu kamar kaget melihat majikanya tampak berbeda.


"Hai. Aku boleh main nggak?" tanya Alya tersenyum riang.


"Bo bo boleh Non, tapi?" jawab Mia terbata.


Lalu mereka celingukan merasa tidak nyaman majikanya mengunjungi markas kebesaranya.


"Suamiku balik kerja lagi, nggak usah takut" jawab Alya langsung masuk tanpa permisi ke kamar Mia dan Ida.


"Tumben Non Alya ke sini, pake baju pendek lagi?" ucap Mia spontan melihat Alya sedikit seksi.


"Iyah, aku kesepian di kamar, aku pengen ngobrol sama kalian?" jawab Alya jujur.


"Oh gitu, ya udah ini kebetulan kita lagi mau bikin rujak Non" tutur ida menunjuka aneka buah.


"Oh ya? Wahh kebetulan banget, kalian sering rujakan?"


"Iya Non" jawab Mia.


"Ish diam-diam ya kalian. Nggak ajak-ajak"


"Bukan gitu Non, saya kan takut salah lagi Non. Den Ardi pasti nggak suka Non makan makanan sembarangan"


"Hemm yaya. Suamiku memang begitu, tapi makan buah kan nggak ada salahnya. Sini aku bantu potong-potong" tutur Alya ramah.


"Jangan Non. Udah non duduk aja, biar kita yang potong" jawab Ida.


Mereka bertiga pun pada rujakan di kamar Ida. Sebagai pengganti jalan-jalanya yang gagal. Alya tetap menikmati liburnya dengan bahagia, makan rujak sambil nonton acara gosip selebriti.


Tidak berasa Alya menghabiskan banyak waktu bersantai bersama pelayanyan sampai ashar tiba. Alya sholat di kamar Ida. Tidak produktif, tapi menyenangkan. Sampai Alya lupa dengan niat mewancarai Ida dan Mia.


Alya ke kamarnya berniat mandi dan memeriksa apa suaminya sudah pulang. Ternyata belum, kemudian Alya kembali mencari teman ngobrol. Dan Alya teringat misinya.


"Eh gue mau tanya dong ke kalian" tutur Alya mulai menyampaikan tujuanya saat sudah kembali di kamar Mia.


"Tanya apa Non?" jawab Mia.


"Kalian ikut Mamah lama kan? Apa kalian tau tentang Mba Intan?"


Mendengar pertanyaan Nyonya mudanya, Mia dan Ida terdiam tidak menjawab. Mereka menelan ludahnya dan saling pandang.


"Kenapa? Ceritain dong!" melihat Ida dan Mia saling pandang Alya curiga.


"Maaf Non. Kenapa Non nggak tanya suami Non aja?" jawab Ida berhati-hati.


"Ya kan aku pengen denger dari kalian"


"Maaf Non kami nggak tahu apa-apa" jawab Ida lagi.


"Ah bohong kalian" jawab Alya manyun.


"Tolong Non. Jangan buat kita dipecat lagi. Kami nggak tahu harus cari kerja dimana, kalau dipecat lagi" sambung Mia tidak ingin membuat kesalahan.

__ADS_1


"Iiissh. Nggak akan. Kalian nggak akan dipecat lagi, aku akan lindungi kalian" Alya mencoba merayu dan meyakinkan Ida dan Mia untuk bercerita.


"Bener Non?" tanya Mia serius.


"Iyah, emang kalian pikir yang buat kalian dijemput lagi ke sini siapa?"


"Non Alya" jawab Ida dan Mia bersamaan.


"Nah itu tau" jawab Alya mengingat jasanya agar Mia dan Ida bisa setia menjadi orangnya.


"Tapi Pak Arlan berpesan ke kami untuk tidak membuat masalah lagi. Memastikan Non Alya tetap di rumah, melayani Non dan pastikan Non baik-baik saja" jawab Mia panjang kali lebar kali tinggi.


"Udah santai aja. Kalian milih siapa? Aku atau Pak Arlan?"


"Non Alya" jawab Ida dan Mia bersamaan lagi. Tentu saja lebih memilih Alya. Kedudukan Alya dan Arlan kan tinggian Alya.


"Ya udah buruan cerita" tutur Alya mulai memerintah.


"Tapi bener ya Non jangan bilang ke Den Ardi?"


"Iya?"


"Yang kita tahu, Non Intan itu mantan tunanganya Den Ardi" Ida mulai bercerita.


"Tapi saya nggak suka Non. Orangnya sombong, dia baiknya kalau ada Bu Rita aja. Kalau Bu Rita pergi berasa udah jadi Nyonya aja di sini. Main suruh-suruh gitu" sambung Mia.


"Terus-terus. Berapa lama mereka tunangan? Sedekat apa?" tanya Alya mulai cari tau.


"Den Ardi dan Non Intan berteman sejak SMA?" jawab Ida.


"SMA?" tanya Alya syok, hatinya mulai terbakar.


Belum apa-apa Alya sudah mulai cemburu dan berfikir macam-macam. Kalau kenal sejak SMA berarti cinta mereka kuat, berarti perkataan Intan benar. Hah.


"Iya, tapi tunanganya setelah kuliah akhir Non"


"Oh gitu? Apa Mas Ardi sering bawa Mba Intan ke rumah?" tanya Alya lagi.


"Lebih tepatnya Non Intan yang datang ke rumah ini? Hampir tiap hari Non Intan cari perhatian Bu Rita. Merasa ini rumah punya dia padahal kan baru tunangan" jawab Mia mencibir Intan.


"Soalnya Bu Rita terlalu baik sama Non Intan. Ya emang sih Non Intan cantik dan berbakat" sambung Ida.


"Apa Mba Intan juga nginep di sini?" tanya Alya lagi tambah cemburu.


"Iya terkadang" jawab Mia polos.


"Benarkah? Nginepnya di kamar mana? Apa dia tidur sekamar dengan suamiku?" tanya Alya menahan cemburu bahkan matanya mulai berkaca-kaca.


Mendengar perkataan Ida, keyakinan Alya semakin bulat. Alya termakan kata-kata Intan dan pertanyaanya sendiri.


"Hiks hiks" Air mata Alya lolos dari pertahanannya. Alya bertanya sendiri tapi terbakar sendiri.


Mia dan Ida kemudian bingung, padahal mereka merasa ceritanya biasa aja.


"Duh Non, jangan nangis! Udah ya Non saya nggak cerita aja" ucap Ida ketakutan.


"Hugh hugh" Alya menangis sesenggukan, tidak bisa menjelaskan betapa sakitnya membayangkan Ardi bercinta dengan Intan.


"Udah Non jangan nangis, itu semua kan masalalu Non. Den Ardi sekarang jadi suaminya Non Alya. Non Intan mah lewat" hibur Ida lagi berharap Alya sembuh dari tangisnya.


"Iya Non. Itu semua masalalu. Kita jadi nyesel kan cerita" sambung Mia lagi.


Tidak memperhatikan omongan Mia dan Ida, Alya membaringkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan bantal. Alya meleburkan rasa panas yang membakar dadanya itu dengan menangis.


Ida dan Mia hanya diam berusaha menghibur. Tidak tahu kenapa tiba-tiba Nonanya itu menangis. Lama-lama tangisan Alya tidak lagi terdengar. Setelah dilihat Alya tertidur.


****


"Sayang Mas pulang"


Sekitar jam 20.30 Ardi pulang ke rumahnya. Ardi segera masuk ke kamar, menemui istrinya yang seharian ini bertingkah aneh. Ardi berharap Alya sudah kembali manis dan agresif lagi.


"Yang"


Ardi mencari istrinya karena di kamar tidak ada. Tidak berhasil menemukanya, Ardi menelpon pelayanya.


"Biii dimana istriku??" tanya Ardi gusar.


"Mohon maaf Tuan. Nyonya muda ada di kamar Ida" jawa Bu Siti.


"Hah? Ngapain?" tanya Ardi kaget.


"Tadi katanya butuh teman ngobrol"


"Kasih tau dia, suaminya udah pulang" perintah Ardi memanggil Alya.


"Baik Tuan" jawab Bu Siti melaksanakan tugasnya memanggil Alya, rupanya Alya tertidur.


Kemudian Bu Siti melapor lagi.


"Maaf Tuan. Non Alyanya ketiduran"


"Ketiduran?"

__ADS_1


"Ya Tuan"


"Ya udah biarin biar gue ke situ"


Demi menemui istri kesayanganya Ardi turun dan pergi ke rumah belakang. Bangunan yang terpisah dari rumah utama, tapi tetap berhubungan. Hanya bersekat jalan beratap, taman dan tempat jemuran.


Di situ ada 7 kamar mengingat pelayan di rumah Ardi belasan. Tapi hanya untuk pelayan perempuan sementara yang laki-laki pulang ke rumah.


Selama 29 tahun hidup di rumah itu, Ardi baru 3 kali datang ke situ. Ardi megetok pintu kamar yang bertuliskan Ida dan Mia.


Sadar kedatangan Tuanya dan mengetahui apa keperluanya. Ida dan Mia keluar kamar dan mempersilahkan Ardi masuk. Ida dan Mia menunduk sangat malu, markasnya dimasuki Tuanya.


"Sejak kapan dia tidur?" tanya Ardi merasa risih hendak masuk ke kamar perempuan pelayanya itu.


"2 jam yang lalu Tuan" jawab Mia menunduk. jangan sampai Ardi tahu Alya menangis sesenggukan karena mereka.


"Ck" jawab Ardi berdecak.


Meski agak risih Ardi masuk ke kamar Ida. Kamar yang dalamnya ada dua kasur kecil, dua lemari dan seperangkat peralatan hidup Ida dan Mia. Jauh berbeda denga kamarnya yang rapih dan luas.


Meski sudah disusun rapih, kamar Ida dan Mia terasa penuh dengan barang-barang. Termasuk baju kotor yang digantung di gantungan tembok. Bahkan di tembok juga ada foto-foto idola Mia dan Ida.


Ardi sedikit heran kenapa istrinya suka main di kamar orang yang banyak barang itu. Bahkan Alya terlihat tidur sangat nyenyak.


Alya berbaring memeluk guling Ida, masih dengan daster pendek kesukaanya. Karena memeluk guling, daster Alya sedikit tersingkap, paha Alya yang putih menjadi nampak.


Melihat pemandangan itu tentu saja antena Ardi bereaksi, apalagi di saat dia lelah, seperti mendapat vitamin kebugaran.


Tapi Ardi sedikit kesal merasa Alya ceroboh. Alya membiarkan bagian yang dia anggap kesukaan dan miliknya tampak di tempat orang lain, untung sesama perempuan.


"Sayang bangun" bisik Ardi lembut sambil mengelus paha Alya dan membetulkan roknya agar tertutup.


"Emmmth" Alya hanya menggeliat dengan gerakan acak tanganya.


Ardi melihat Alya sangat nyenyak. Karena Alya memang baru saja terlelap. Merasa kasian Ardi menggendong Alya dan tidak membangunkanya.


Ardi menggendong Alya dengan mesra dan hangat. Tidak terlihat keberatan atau kelelahan. Meski pelan Ardi melewati dapur ruang makan lalu masuk lift dan tiba di kamarnya.


Saat Ardi mendorong pintu dengan kakinya sebenarnya Alya terbangun. Tapi menyadari sedang dalam gendongan suaminya dan terasa sangat nyaman Alya diam saja.


Saat Ardi hendak membaringkanya. Alya membuka matanya.


"Kamu bangun rupanya? Kenapa nggak bilang, pundak mas kan pegel sayang" tanya Ardi mesra.


"Suruh siapa gendong-gendong!" jawab Alya cemberut.


"Plethak" Ardi menyentil kening Alya.


"Kebiasaan, sakit tau" jawab Alya lagi


"Bukanya terima kasih malah nyalahin" ucap Ardi ingin membercandai istrinya.


Alya diam menatap suaminya. Kata-kata Intan masih terngiang-ngiang di telinga Alya. Alya pun ingin membuktikanya.


"Dimana tahi lalat itu?" gumam Alya.


Kemudian Alya melingkarkan tangnya ke panggul Ardi dan merabanya. Seolah ingin memeluk, padahal bayangan Alya penuh kemarahan membayangkan Intan dan suaminya.


Alya juga bangun dan berusaha melepas baju Ardi.


Mendapati tingkah Alya, Ardi yang atenanya sudah on sejak melihat paha Alya jadi salah tangkap. Ardi tidak tahu kalau istrinya diliputi cemburu yang berlebihan. Ardi mengira Alya sedang menginginkannya.


"Kamu mau sayang? Hemmm jadi dari tadi siang ngegas-ngegas karena ini?" tanya Ardi lembut membiarkan Alya membuka ikat pinggangnya.


Sementara Alya mulutnya diam. Pikiranya campur aduk tidak bisa dijelaskan. Antara merindukan suaminya. Tapi merasa pedih juga membayangkan suaminya menyerahkan badanya untuk orang lain.


"Kalau mau bilang aja. Mas siap kapan pun diamanapun" tutur Ardi lagi lebih lembut mengecup dan membelai kepala Alya.


Kini baju dan celana Ardi sudah tanggal. Ardi sangat senang. Ardi pun membalas membuka baju Alya satu persatu. Membaringkanya di bawahnya. Dan mulai petualanganya.


Sementara Alya, meski pasrah, nafasnya semakin memburu dan semakin sesak. Otak dan badanya terasa di dunia berbeda. Rasanya ingin menyerah saja.


Alya ingin melupakan semua kata-kata Intan dan tidak memikirkanya. Alya ingin tetap bersama suaminya. Tapi kenapa bayangan Intan semakin muncul. Rasanya sangat sakit.


Kini Ardi sudah siap memberi kenikmatan untuk Alya. Tapi kemudian Alya mendorong dan menolaknya.


"Kenapa?" tanya Ardi tersinggung


"Berdiri mas" ucap Alya parau.


"Ok. Kamu pingin posisi berdiri? Oke. Kamu sekarang pintar yah" ucap Ardi salah sangka.


Ardipun bangun dan berdiri. Alya ikut bangun memutar tubuh Ardi. Dan benar apa yang dikatakan Intan. Ada tanda lahir di sana.


"Hiks" Alya menutup mulutnya menahan tangis dan berlari ke kamar mandi meninggalkan suaminya yang masih on.


Melihat istrinya menangis dan berlari ke kamar mandi Ardi kebingungan. Ardi kemudian menyusul Alya. Tapi Alya mengunci dari dalam.


"Sayang, Kamu kenapa?" tanya Ardi panik menggedor pintu.


"Yang, kamu sakit? Heh? Cerita sama mas ada apa?"


"Yang, ayo keluar nanti kamu masuk angin. Oke. Kalau kamu nggak mau, mas nggak maksa. Tapi keluar yah!"

__ADS_1


__ADS_2