
Karena tidak mau menjadi beban untuk anak dan cucunya. Tuan Didi patuh dan pasrah sedang segala prosedur dan tindakan dari rumah sakit.
Pak Didi mau sehat seperti apa kata Alya. Pak Didi juga menyimpan dan mengingat nama Alya Berlian Sari di hatinya. Dokter cantik dan manis bak malaikat yang dikirim Tuhan di siang itu.
"Kita periksa ke radiologi dulu ya Pak, biar ketahuan penyebab sakitnya bapak apa?" tutur Dinda ramah melanjutkan perawatan Pak Didi.
"Ya Dok, apa Dokter cantik yang tadi pagi sudah pulang?"
"Benar Pak. Jaga pagi sudah berakhir sejak jam 2 siang tadi, bapak tenang saja. Kami akan merawat bapak dengan baik" jawab Dinda lagi.
"Terima kasih Dokter. Oh iya bagaiamana dengan anak saya? Apa dia sudah kemari?" tanya Pak Didi mengkhawatirkan anaknya.
"Mohon maaf Pak. Nomer putri bapak belum bisa kami hubungi. Apa ada nomer yang lain Pak yang bisa dihubungi?" tanya Dinda lagi.
"Mungkin dia sedang sibuk Dok. Anak saya mempunyai balita Dok" jawab Pak Didi sendu mengingat putrinya.
"Oh begitu, semoga dia segera membuka ponselnya ya Pak"
"Iya Dok"
"Ya sudah nggak apa-apa, yang penting Bapak kita obati dulu ya. Di sini ada saya dan teman-teman lain, bapak nggak sendirian kok" ucap Dinda ramah memberi dukungan ke Pak Didi.
"Terima kasih Dok"
"Bapak setuju kan dengan semua tindakan kami"
"Lakukan yang terbaik Dok"
"Siap Pak. Bapak semangat ya. Dianter perawat ya Pak ke radiologinya!" ucap Dinda lagi.
"Ya Dok, terima kasih"
Perawat kemudian mendorong brankar Pak Didi ke ruang radiologi. Setelah selesai pemeriksaan, perawat memfoto hasil periksa dan melaporkan ke Dinda. Dinda sebagai Dokter umum melaporkan ke dokter spesialis penanggunh jawab.
"Apendik? Duh keknya masuk jadwal operas nanti malam kalau nggak besok nih" tutur Dinda setelah melaporkan hasil pemeriksaan ke Dokter spesialis.
"Gimana Dok?" tanya perawat.
"Advis operasi segera untuk pasien atas nama Didik Budi Atmaja" jawab Dinda ke perawat.
Perawat sedikit ragu karena setahu perawat untuk tindakan seperti operasi harus ada keluarga.
"Coba tanya kapan terakhir dia makan. Persiapkan operasi nanti malam ya" lanjut Dinda memberi advis tanpa menunggu jawaban perawat.
"Maaf Dok. Yakin pasien ini mau operasi malam ini Dok?" tanya perawat yang bernama Dwi ragu.
"Iya, advis Dokter Rena begitu, emang kenapa nggak yakin, dia memang harus dioperasi" ucap Dinda memberitahu hasil konsul dokter spesialis.
"Dia di sini sendirian Dok, walinya belum datang" ucap Perawat Dwi memberitahu.
"Oh iya maaf lupa ada pesen dari Dokter Alya. Wali pasien itu Dokter Alya. Asal pasien menyetujui semua tindakan. Dokter Alya yang bertanggung jawab" ucap perawat Ratna yang tadi bicara dengan Dokter Alya.
"Benarkah?" tanya Dinda.
"Iya Dok" jawab Dwi. Dinda kemudian mengangguk mengerti.
"Wuaah keren ya Dokter Alya" ucap salah satu perawat.
"Emang siapa sih pasien itu?" tanya Dinda lagi.
"Dia tukang sapu yang pingsan di jalan Dok, Dokter Alya yang bawa ke sini" jawab perawat Ratna.
"Tukang sapu? Masa sih? Kalau dari fisiknya dia bersih dan terawat lho" ucap Dinda mengomentari Pak Didi tidak menyangka kalau Pak Didi tukang sapu.
"Tapi nyatanya gitu Dok" jawab Dwi.
"Oh kirain saudara Alya" tutur Dinda mengeluarkan unek-uneknya.
"Bukan Dok"
"Nggak apa- apa sih. Alya mah istri sultan, dia juga berhati baik, pantas dia begitu" ujar Dinda lagi.
"Iya sih Dok"
"Ya udah suruh bapaknya puasa persiapkan operasi ya. Tanda tangan persetujuan tindakan juga. Jangan lupa!"
"Siap Dok"
Setelah ditanya perawat ternyata Pak Didi memang berniat puasa sunnah hari itu. Jadi Pak Didi bisa langsung didaftarkan operasi malam itu. Tentu saja semua dibiayai Alya. Dan Dinda hanya tinggal lapor via ponsel.
Dinda dan perawat juga selalu usaha menghubungi keluarga Tuan Didi. Termasuk mengirim pesan. Tapi belum kunjung terbaca dan terbalas.
Sampai waktu operasi tiba. Akhirnya mau tidak mau Pak Didi dioperasi seorang diri. Tidak ada yang mendampingi, kecuali perawat yang bertugas. Dinda sendiri menjadi iba melihatnya.
Padahal kalau diperhatikan dari postur tubuhnya. Pak Didi itu sehat, tidak terlihat seperti sebatang kara.
"Kemana putri bapak tua itu? Susah amat dihubungi" batin Dinda dalam hati.
__ADS_1
****
Di dalam rumah sempit yang baru dia tinggali, seorang ibu muda tampak sedang mengepel lantai. Itu adalah pekerjaan rumah yang baru pertama dia lakukan.
Karena putranya sedang aktif- aktifnya, pekerjaan ibu muda itu terganggu. Sehingga pekerjaannya tidak kunjung selesai. Padahal dia juga harus masak dan melakukan pekerjaan lain.
"Aaih El sayangnya Mommy, kemon baby dont touch! Itu kotor sayang, ini mainan kamu!" tegur ibu muda itu saat bayinya memberantaki bahan sayuran yang akan dia masak.
"Mamamamaa" anak kecil itu hanya meracau bahagia melihat aneka sayuran
Sore itu Intan berbiat membuat sop ayam. Sehingga sayuranya warna warni. Dan itu menarik perhatian baby El.
"Ya Tuhaan, kenapa begitu melelahkan mengasuh El dan melakukan pekerjaan rumah ini" keluh Intan memegang keningnya.
Selama ini Intan tidak pernah memasak sendiri. Apalagi sambil mengasuh anak. Di rumah Intan yang dulu, setiap pekerjaan selalu dilakukan pembantu.
Dan semua ini adalah dunia yang baru Intan masuki. Belum genap satu hari, Intan sudah frustasi dibuatnya.
Intan sampai melupakan ponselnya, barang yang sebelumnya selalu dia pegang dan melekat di dirinya, kini dia tinggalkan.
Intan kewalahan mengasuh Baby El sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah. Intan tidak tahu ponselnya sudah penuh dengan panggilan dan pesan.
"Kok udah malam begini Papah belum pulang sih?" batin Intan setelah berhasil menidurkan Baby El.
Barulah Intan mengambil ponselnya. Intan memandang sedih karena Alya tidak kunjung membalas. Apa Alya jadi memintanya membuatkan gaun atau tidak. Padahal itu harapanya mendapatkan uang.
"Panggilan nomer baru? Siapa ini?" gumam Intan saat melihat daftar panggilan nomor rumah sakit.
Lalu Intan segera membuka pesan.
"Ya Tuhan. Papah di rumah sakit? Harus operasi? Oh" seketika otot-otot tubuh Intan melemas. Ponselnya terjatuh, Intan melirik ke anaknya yang baru saja behasil tertidur.
"Bagaimana ini? Ini sudah mulai malam lagi" batin Intan melihat jam sudah jam 19.00
Intan tidak bisa berfikir, pikiranya kacau. Intan tidak punya pengasuh lagi. Intan juga sudah tidak punya kendaraan. Apa yang harus Intan lakukan sekarang.
Papahnya di rumah sakit membutuhkan dirinya. Sementara Intan tau anak kecil tidak diperbolehkan masuk apalagi sudah malam. Belum lagi bayangan tentang uang tagihan rumah sakit.
"Ya Tuhan. Kenapa hidupku begini sulit, apa ini hukuman buatku?" batin Intan duduk dinlantai dengan rambut acak-acakan ke depan.
"Apa aku titipkan saja Baby El ke tetangga ya?" pikir Intan kemudian.
"Tapi bagaimana menitipkanya? Aku belum kenal mereka dengan baik? Apa aku bisa percaya?"
"Tapi aku harus memastikan keadaan papah"
Intan terus bermonolog dalam hati mencari solusi.
Intan langsung berselancar di ponsel mencari tempat penitipan anak. Tapi ternyata nihil, mereka tutup jam 18.00.
Akhirnya Intan mencoba datang ke tetangganya untuk minta tolong.
"Spada" sapa Intan ke ibu-ibu yang tampak bergerombol.
"Hmmm" beberapa Ibu menyambut Intan dengan wajah cemberut.
"Ya Tuhan sombong dan ketus sekali ibu ini. Kalian belum tau gue siapa sebelumnya. Gue bisa lebih galak dari kalian" batin Intan dalam hati menahan emosi. Karena saat ini dia tidak berdaya dia harus tetap tenang.
"Ibu, permisi apa saya boleh minta tolong?" tanya Intan.
"Heeh. Minta tolong?" jawab salah satu ibu-ibu itu.
"Iya Bu, saya butuh bantuan untuk menjaga anak saya. Saya harus ke rumah sakit, Papah saya masuk rumah sakit. Saya harus kesana apa saya bisa titip anak saya?" tutur Intan sopan mengiba.
"Ya ampun kasian banget Mba" jawab salah seorang ibu-ibu yang terlihat ramah. Intan sedikit tersenyum berharap ibu itu mauembantu.
Tapi kemudian ibu yang lain berbisik pada ibu ramah itu.
"Eh dia kan punya anak tanpa suami. Emang kalian yakin omonganya benar. Ini kan udah mulai malam, jangan-jangan dia mau melayani pelyanya" bisik salah satu ibu itu yang masih di dengar Intan.
Intan mengepalkan tanganya benar-benar tidak terima. Pikiranya sedang kalut ditambah percakapan panas ibu itu. Akhirnya emosi Intan meledak.
"Cukup ya Bu. Saya mendengar semuanya. Saya bukan perempuan seperti itu. Saya menyesal meminta tolong ke kalian. Dasar perempuan penggunjing tidak berguna" umpat Intan terbawa emosi dan juga memancing emosi ibu-ibu.
"Waah dia mengatai kita. Kamu menantangku? Eh tetangga baru. Kamu pikir kamu siapa. Hah! Enak aja minta tolong-minta tolong. Di dunia nggak ada yang gratis ya, dasar perempuan ja*ang" umpat Si Ibu biang kerok.
"Kau mengataiku ja*ang?" tanya Intan balik semakin terpancing.
"Ya. Kau ja*ang. Kau mengatai kami wanita penggunjing tidak berguna. Enak saja"
"Kalian kan memang penggunjing"
"Kamu sendiri benarkan perempuan ja*ang punya anak tanpa bapak" hina ibu itu ke Intan.
"Ssshhh" Intan mendesis maju dan menjambak pemimpin tiga ibu-ibu itu.
Intan dan tetangga barunya itu kemudian teribat perkelahian dan saling jambak.
__ADS_1
"Dasar kamu ya"
"Kamu yang harus tau rasa"
Mereka kemudian berputar-putar seperti pegulat di arena pertandiangan. 2 ibu lain justru menjadi penonton yang meramaikan. Benar-benar tidak terpuji. Sampai akhirnya Pak RT setempat lewat.
"Ibu-ibu ada apa ini, hentikan!" lerai Pak RT.
Intan dan ibu penggunjing behenti. Dengan nafas ngos-ngosan dan rambut berantakan Intan melepaskan cengkeraman tanganya.
"Kenapa kalian seperti anak kecil begini? Bu Titik dan Bu Ita kenapa hanya menonton dan tidak melerai. BuTejo, Bu Intan ikut ke rumah saya"
"Tidak" jawab Intan dan Bu Tejo bersamaan.
"Kenapa, kalian harus selesaian dan jelaskan ke saya, kenapa bisa terjadi seperti ini?" tanya Pak Rt.
"Dia yang salah!" jawab Intan dan BubTejo bersamaan.
"Kan, kalian harus saya bawa ke kantor desa kalau begitu"
"Saya harus ke rumah sakit sekarang, waktu saya sudah terbuang banyak untuk perempuan tidak berguna ini" ucap Intan masih emosi ke Bu Tejo.
"Kau dasar perempuan ja*ang" jawab Bu Tejo masih ingin melanjutkan ronde kedua pertandingan mereka.
"Sudah cukup!" lerai Pak Rt.
Akhirnya mereka duduk bersama dan disuruh, menceritakan semuanya.
"Ya sudah anak Bu Intan biar istri saya yang jagain. Dan Bu Tejo, tidak baik memfitnah orang lain begitu. Tapi Bu Intan juga jangan terpancing emosi" tutur Pak RT memberi solusi.
Mereka berdua kemudian bersalaman dan Intan segera bergegas ke rumah sakit. Karena Intan terbawa emosi, Intan menjadi kehilangan banyak waktu. Sampai di rumah sakit, sudah dilakukan pergantian petugas jaga.
"Permisi Sus, pasien atas nama Didi Budi Atmaja dimana ya?" tanya Intan di depan informasi.
"Sebentar ya Bu" jawab petugas memeriksa.
Intan menunggu beberapa saat. Dan saat Intan menunggu, tatapan Intan terpaut pada sesosok dokter imut dengan rambut sebahunya.
"Bukankah itu pacar Farid. Oh ya, Alya dan Mira kan bekerja di rumah sakit ini? Apa yang harus aku lakukan" batin Intan memalingkan muka.
Tapi Anya sudah terlanjur melihat dan mengenali Intan. Anya terlihat berjalan mendekat ke Intan.
Tapi belum Anya sampai. Resepsionist sudah memberitahu letak papanya dirawat. Intan pun segera pergi menghindari Anya.
"Aneh, benar kan itu mantan tunangan Kak Ardi, si designer itu?" batin Anya melihat Intan pergi.
Intan berjalan cepat mencari ruangan ayahnya. Setelah bertanya beberapa kali, Intan menemukan kamar ayahnya.
Intan segera masuk ke ruangan Pak Didi. Tapi ternyata Pak Didi belum siuman dari biusnya.
"Ehm, maaf Sus, saya keluarga dari Tuan Didi Budi Atmaja, apa yang terjadi dengan ayah saya" tanya Intan ragu ke perawat jaga.
Perawat kemudian menatap Intan dengan tatapan sinis seakan menyalahkan Intan. Mereka terlihat kesal.
"Daritadi kami menunggu anda Nyonya. Kenapa baru datang?" tanya satu perawat dengan nada malas.
"Maaf saya ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan" jawab Intan.
"Untung ada Dokter Alya" jawab perawat.
"Apa Sus?" tanya Intan mendengar nama Alya.
"Silahkan duduk dulu" perintah perawat lalu mengambil rekam medis dan membuka beberapa lembar.
Perawat kemudian menjelaskan detail keadaan Pak Didi dari awal masuk sampai sekarang. Spontan Intan meneteskan air matanya, menggigit bibirnya kelu karena merasa bersalah.
Intan juga merasa sedih dengan keadaan papanya dan keadaanya sekarang. Entah bagaimana jalanya Intan harus bertahan.
"Jadi Papa saya udah dioperasi Sus?" tanya Intan terbata.
"Iya, baru saja selesai" jawab perawat menjelaskan.
Intan semakin tersentak. Operasi bagaimana dengan biayanya.
"Maaf, untuk biayanya bagaimana Sus?"
"Semua biaya sudah ditanggung Nyonya"
"Ditanggung? Siapa yang menanggungnya?"
"Dokter Alya"
"Alya?" tanya Intan kaget dan tidak menyangka.
"Iya Dokter Alya Berlian Sari. Beliau dokter jaga IGD pagi tadi. Beliau juga yang membawa Pak Didi ke sini"
Intan menelan ludahnya dan menunduk. Airmatanya semakin deras menetes tak tertahan, tidak peduli ditatap oleh perawat jaga.
__ADS_1
Intan menyeka air matanya dan pamit ke kamar menunggui ayahnya. Intan berjalan gontai, menahan sesak. Dunia benar- benar sempit.
"Alya"