Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
66. Tidur di luar


__ADS_3

"Lurus Din, jangan belok" tegur Ardi ke Dino yang mengendarai mobilnya.


"Tuan sudah pindah rumah? Bukankah kediaman Tuan Aryo belok kanan Tuan?" tanya Dino memastikan.


Setelah selesai menjalankan misi Dino mengantar Ardi ke kediaman Tuan Aryo. Karena mereka pergi dengan satu mobil. Ardi juga sedikit pusing karena harus mengelabuhi tamunya minum alkohol. Untungnya Ardi tidak mabuk parah.


"Rumah papah masih sama" jawab Ardi.


"Lalu kita kemana Tuan?" tanya Dino yang belum tau tentang Berlian.


"Apartemen Megayu"


"Apartemen Megayu Tuan?" tanya Dino meyakinkan. Setau Dino apartemen Megayu bukan apartemen mewah, letaknya di pinggiran. Fasilitasnya juga kurang bagus kenapa Tuanya seorang pewaris perusahaan ternama tinggal di apartemen sederhana.


"Iya" jawab Ardi sambil menahan kantuk.


Lalu Dino berfikir ulang. Alasan tempo hari Ardi lebih memilih konsen menangani proyek Tuan Wira adalah karena dekat dari apartemen Megayu. Dino mengira Ardi hendak menyambut baik perkenalan dengan Lila. Tapi tiba-tiba Dino mendengar kabar Ardi menikah dengan seorang perempuan bernama Berlian. "Ternyata ini hubunganya dengan Nyonya Berlian?" gumam Dino dalam hati


"Maaf Tuan"


"Hemmm"


"Boleh saya bertanya?"


"Tanya apa?"


"Tuan tinggal di apartemen Megayu?" tanya Dino penasaran


"Istriku maunya di sana, aku harus dapatkan hatinya dulu, dia benar-benar keras kepala" jawab Ardi sedikit meracau.


Mendengar jawaban Ardi, Dino hanya diam melirik tuanya di bangku belakang.


"Semoga berhasil Tuan" jawab Dino memberi semangat pada Tuanya.


"Tinggal berdua tanpa pelayan tidak buruk, sangat menyenangkan" jawab Ardi lagi.


"Ya Tuan" jawab Dino sambil mengemudikan mobil Ardi menuju ke apartemen Megayu. "Sepertinya Tuan Ardi sangat mencintai istrinya. Semoga Nyonya Berlian benar-benar menjadi perempuan yang tepat untuk Tuan Ardi" gumam Dino melihat Ardi mulai tertidur.


****


Pukul 02.30 WIB. Dino Dan Ardi sampai di apartement Megayu. Ardi tertidur nyenyak sekali. Dino bingung membangunkanya.


"Tuan, bangun Tuan" Dino membangunkan tuanya perlahan.


"Sudah sampai Tuan" Dino kembali menepuk Tuanya agar bangun. Tapi efek alkohol membuat Ardi benar-benar susah bangun.


Lalu Dino turun dan menghampiri satpam, Dino menanyakan kamar Tuanya. Setelah tau di lantai berapa Ardi tinggal terpaksa Dino memapah Tuanya.


"Thing Thong Thing Thong" Dino memencet Bel. Tapi belum dibukakan pintu.


"Thing thong... " Dino memencet bel lagi


"Tuan Ardi sangat berat, kenapa tidak juga dibuka pintunya" gerutu Dino menjadi tempat sandaran Ardi.


"Thing Thong Thing Thong" Dino memencet Bel lagi.


*****


"Astaghfirulloh, Ya Tuhan benar-benar ya. Ternyata begitu merepotkan berumah tangga. Ini sudah jam setengah tiga tapi dia baru pulang!" gerutu Alya melihat jam mendengar bel.

__ADS_1


"Apa semua istri sepertiku, atau hanya aku karena suamiku benar-benar keterlaluan" Alya berjalan ke ruang tamu dengan setengah kesadaranya, Alya mengepalkan tanganya kesal dan menggerutu.


"Ceklek" Alya membuka pintu. Matanya melotot memlihat dua pria bertubuh tinggi kekar. Yang satunya bersandar dengan rambut acak-acakan sementara satunya sangat rapih dan terlihat sopan.


"Apa yang terjadi dengan suami saya?" tanya Alya kaget melihat suaminya.


"Selamat malam Nyonya! Saya Dino asisten Tuan Ardi" sapa Dino menundukan kepala tanda hormat ke Alya. Karena keberatan dan terlalu lama. Dino sedikit oleng memapah Ardi yang bertubuh lebih kekar. Sehingga Ardi membentur pintu dan bangun.


"Auh" pekik Ardi terbangun.


"Mas!" panggil Alya dengan tatapan kesal. Ardi membuka mata melihat istrinya masih dengan baju tidurnya. Ardi menyadari Dino di sampingnya.


"Sayang?" panggil Ardi langsung memeluk Alya. Dan mengunci Alya dengan tubuhnya.


"Tutup matamu Din!" bentak Ardi ke Dino. Lalu membawa masuk Alya ke kamar dengan kasar.


"Apa sih mas? Sakit tau! Sesak juga! Sukanya maksa" gerutu Alya di kamar.


"Tunggu di sini dulu, jangan keluar-keluar!" perintah Ardi ke Alya setengah membentak. Ardi keluar kamar membanting pintu.


"Ya Tuhan. Aku salah apa lagi, kenapa dia tiba-tiba marah begitu?" gumam Alya sedih menatap pintu ditutup suaminya.


Ardi keluar dengan wajah merah padam. Dino masih berdiri di depan pintu apartemen merasakan pegal di pundaknya.


"Maafkan saya Tuan" ucap Dino mengetahui Tuanya marah.


"Seharusnya kamu bangunkan aku" jawab Ardi marah.


"Maaf Tuan saya sud" Doni berusaha membela diri lalu terpotong.


"Kamu sudah melihat istriku. Gajimu bulan ini aku potong! " sahut Ardi marah tidak ingin mendengar penjelasan Dino


"Malam ini kamu tidur di mobil, lain kali kalau ketemu istriku , tundukan matamu" perintah Ardi posesif. Lalu Ardi masuk ke apartemenya dan membiarkan Dino turun ke mobil.


"Apes-apes" keluh Dino berjalan masuk ke lift.


Ardi menutup pintu sedikit kasar lalu masuk ke kamarnya menghampiri istrinya dengan wajah kesal.


"Sini kamu!" perintah Ardi melihat Alya meringkuk menutup tubuhnya di pojokan kamar.


"Sinih" panggil Ardi lebih keras karena Alya diam saja.


"Hiks Hiks" Alya menangis sesenggukan, di bawah selimut.


"Sayang kamu menangis?" tanya Ardi kaget langsung mendekat ke Alya.


"Sayang" panggil Ardi memegang selimut yang menutupi Alya. Alya masih tetap menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Sayang, buka selimutnya" pinta Ardi cemas mendengar Alya menangis. Alya semakin erat merapatkan selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Ardi semakin frustasi melihat istrinya, "Apa salahku?" pikir Ardi egois.


Lalu Ardi merengkuh Alya yang masih berbalut selimut. Ardi memeluknya dengan erat.


"Maafin mas Lian" bisik Ardi ke dalam selimut sambil memeluk Alya.


"Uhuk Uhuk Uhuk" Alya berusaha melepaskan pelukan Ardi dan membuka selimut. Ardi mengikuti Alya merenggangkan tanganya yang melingkar ke tubuh Alya. Membiarkan Alya keluar dari persembunyian selimutnya.


"Sesak tau mas! Hiks, lepas!" keluh Alya sesenggukan.

__ADS_1


Ardi diam lalu sedikit menjauh dari Alya. Kemudian berbaring miring menghadap ke istrinya yang sedah mengusap air matanya.


"Mas nggak suka punya mas dilihat orang lain" ucap Ardi ke Alya.


Mendengar ucapan Ardi, Alya langsung berhenti menangis, berbaring miring menghadap ke Ardi dan menatap Ardi tajam. Melihat istrinya mode on, Ardi gelagapan. "Siap-siap nih" gumam Ardi.


"Apa katamu tadi?" tanya Alya sudah tidak menangis lagi.


"Nggak, nggak apa-apa, mas ngantuk" jawab Ardi mengalihkan pembicaran dan berbaling terlentang menghindari tatapan Alya.


"Balik nggak! Aku belum selesai ngomong!" pinta Alya menarik Ardi untuk miring menghadap Alya lagi.


"Coba ulangi lagi. Bilang apa tadi kamu Mas?" tanya Alya semakin On Fire.


Ardi menelan salivanya melihat istrinya marah.


"Mas, nggak suka. Istri mas diliat orang lain, cuma mas yang boleh liat, ini ini ini dan ini" jawab Ardi menunjuk rambut, leher, dada dan kaki Alya.


"Terus salah aku gitu?" tanya Alya masih mode on.


Ardi masih diam, menatap istrinya.


"Yang kunciin lemari, dan masukin semua jilbab dan baju panjangku siapa? Yang pergi tengah malam ninggalin istrinya siapa? Mas tau nggak ini jam berapa?" tanya Alya sangat lancar menatap tajam Ardi.


Ardi tidak berkutik berbaring di hadapan Alya.


"Mas itu pulang dalam keadaan, teler, bau alkohol, dini hari. Tau-tau bentak-bentak. Dan mas salahin Lian? Iyah? " omel Lian masih semangat mengeluarkan emosinya


"Lian aja nggak kebayang, apa yang udah mas lakuin sampai pulang dini hari begini! Kenapa juga mau-maunya asisten mas itu bantuin mas pulang kesini, ke napa nggak sana tidur di luar"


"Ssstttt" tangan Ardi menyentuh bibir Lian. Lalu Ardi memajukan tubuhnya dan memeluk Alya.


"Mas minta maaf"


"Ish" Alya mendorong dada Ardi. "Nggak usah peluk-peluk!"


"Kenapa?" tanya Ardi sedih dan kecewa ditolak istrinya.


"Mas bau alkohol, aku nggak suka!" jawab Alya ketus.


"Iya mas lepas baju mas" jawab Ardi bangun hendak membuka baju.


"Nggak-nggak! Ngapain buka baju" tolak Alya melihat suaminya hendak buka baju.


"Katanya bau Alkohol?"


"Kalau mau tetap tidur sama aku. Harus mandi wajib!"


"Alya Berlian Sari istriku, ini jam 3 pagi. Suamimu ini sangat lelah dan ngantuk" jawab Ardi beralasan.


"Kalau tidak mau berarti tidur di luar, atau aku yang keluar"


"Hemmm" jawab Ardi tidak berkutik. "Harusnya kan kita lanjutin yang tadi sayang, kenapa jadi begini?" gumam Ardi sudah tidak ada tenaga berdebat dengan istrinya.


"Satu lagi, kunci lemari dan kunci kamar, mana?" lanjut Alya menengadahkan tangan.


"Mas ngantuk sayang, tidur di sini boleh ya?" jawab Ardi merayu.


"Boleh tapi aku di luar" jawab Alya kekeh nggak mau tidur bareng.

__ADS_1


__ADS_2