Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
171. Kencan Ala Farid


__ADS_3

Entah dosa apa yang diperbuat orang tua Farid. Entah apa juga salah Farid. Perjuangan cintanya melelahkan.


Farid seperti kain kusut menunggu jAnya di depan rumah sakit. Farid mengetuk-ngetuk stir mobil, kemudian melihat jam dan melihat keluar. Dokter manis berambut panjang nan cerewet itu tidak kunjung datang.


"Sabar Farid" gumam Farid dalam hati mengingat pesan suhu Ardi.


30 menit sudah Farid menunggu tapi Anya masih belum datang. Akhirnya Farid keluar dari mobil, membeli air mineral dari pedagang asongan di depan rumah sakit.


"Nungguin siapa Bang?" tanya pedangan asongan.


"Nungguin calon pacar Pak" jawab Farid merendah. Lalu menggulung kemejanya.


"Oh masih calon? Pentes" jawab tukang asongan jujur tapi sedikit membuat Farid tersinggung.


"Pantes apa Pak?"


"Pantes sabar nunggunya, hehe. Kalau udah jadi suami mah buat kaya saya waktu buat nunggu mending buat dagang Bang" jawab tukang asongan seakan memberitahu menunggu perempuan itu nggak penting..


"Ehm" Farid hanya bisa berdehem.


Benar juga sih, demi Anya, selepas meeting pribadi dengan Ardi. Farid langsung ke kampus, memajukan jadwal kuliah mahasiswanya.


Bahkan beberapa mahasiswanya mengumpatnya. Tumben-tumbenan Dosen sedisiplin Farid mengubah jadwal kuliah seenaknya. Demi Anya pula Farid kena tilang di lampu merah karena buru-buru takut Anya pulang duluan. Eh, giliran udah ganteng wangi tepat waktu, Anya lama banget nggak keluar.


Karena lelah menunggu baju Farid kini lusuh, bahkan sudah digulung. Bertambah sekarang Farid ngobrol dengan tukang asongan yang merokok. Aroma rokok dan parfum mahal Farid kemudian menyatu di baju Farid.


"Ehm" Anya berdehem di samping mobil Farid.


Akhirnya bidadari Farid yang ditunggu datang juga. Farid dan tukang asongan menoleh ke Anya. Perempuan dewasa yang tampak manis dan elegan.


Anya memakai celana jeans, blouse pink dengan hiasan di bagian depan. Rambut Anya diikat ke belakang menambah kesan dewasa meski sikapnya kekanakan. Anya mengenakan flat shoes cantik membuat Farid tidak risih melihatnya.


Farid tersenyum lega melihat Anya.


"Itu Bang Calonya?" tanya pedagang asongan.


"Iya, duluan Pak, berapa totalnya?"


"5000, manis cantik Bang" jawab tukang asongan. Farid kemudian membayar dan mendekati Anya.


Anya berdiri membuang muka menahan rasa canggung. Sementara Farid salah tingkah juga karena Farid tidak pernah pacaran juga.


"Makasih ya" ucap Farid asal ngomong bingung mau bilang apa.


"Makasih kenapa?" tanya Anya ketus.


"Em, mau nemuin Aa" jawab Farid sambil mengelus tengkuknya.

__ADS_1


"Oh" jawab Anya dingin.


Mereka berdua masih berdiri di luar mobil. Keduanya saling canggung, padahal mereka pernah ciuman. Tapi Farid spontan waktu itu.


Anya diam memegang tasnya, menunggu Farid membukakan pintu mobil. Sementara Farid sendiri bingung agar Anya tidak marah, mau duduk di depan apa belakang?


"Ehm" Anya berdehem memberi kode.


"Duduk di depan ya?" tanya Farid hati-hati tidaj ingin Anya marah.


"Iyah" jawab Anya mengangguk.


Kemudian Farid membukakan pintu mobil untuk Anya. Lalu mereka berdua masuk ke mobil.


Anya masih diam, Anya memilih membung wajahnya melihat ke luar jendela. Sementara Farid menyetir sesekali melirik ke Anya, dan berfikir, kata apa yang akan dia ucapkan agar Anya tidak marah.


"Ehm" Farid berdehem kemudian mereka saling pandang.


"Ya Tuhan, benarkah ini jalanMu? Benarkah Aa Farid jodohku? Kenapa jantungku berdebar gini?" batin Anya kembali membuang muka ke luar jendela.


"Neng udah makan?" tanya Farid lagi membuka pertanyaan.


"Belum" jawab Anya dingin malu-malu membuang muka.


Farid mengangguk tersenyum senang, ada alasan berlama-lama pergi dengan Anya.


"Terserah Aa" jawab Anya dingin.


"Bakso mau?" tanya Farid lagi setelah tengak tengok ada tempat makan yang sedikit berbeda di Jakarta.


Farid juga ingat kalau dulu saat mereka main, Anya girang banget diajak makan bakso. Tapi Farid juga takut setelah menjadi dokter selera Anya berbeda.


"Ehm. Ya terserah" jawab Anya masih dingin.


"Apa makan steak aja?" tanya Farid lagi.


"Gimana sih plin plan banget" jawab Anya sedikit kesal.


Kemudian Farid mengusap tengkuknya.


"Duh salah lagi nih" batin Farid dalam hati lalu melirik ke Anya.


"Ya udah Neng Anya bilang atuh, Naon? Neng pengen apa? Aa ngikut weh? Aa ente ngarti kesukaan neng sekarang"


"Yang ajal siapa? Kan Aa yang ajak" jawab Anya masih ketus dan gemas ke Farid kenapa nggak berubah sih. Masih saja Farid penakut dan gugupan, padahal pas di Jogja sedikit terlihat maco.


"Ya makan steak aja ya" jawab Farid memilih yang mahal takut dibilang pelit kalau memilih bakso.

__ADS_1


"Kok jadi steak sih!" jawab Anya tidak suka steak.


Mendengar jawaban Anya, Farid sedikit kaget dan tersenyum. Berarti penilaian Farid benar Anya masih suka bakso.


Farid kemudian putar balik menujuku warung bakso yang terlihat bersih dan luas. Tukang Bakso itu juga menyediakan berbagai macam rasa bakso. Mulai dari bakso urat, bakso telur, setan, bakso tulang rusuk ataupun bakso bercampur tulang-tulang sapi.


Mereka berdua kemudian turun. Aroma kuah baksos menyeruak masuk ke hidung Farid dan Anya. Anya menelan ludah membayangkan betapa segarnya kuah bakso dicampur sambal.


Farid melirik ke Anya, ternyata gadis kecil di masalalunya tidak berubah. Meski sudah menjadi dokter Anya masih menjadi penggila bakso. Anya juga masih cerewet dan imut.


"Bakso setan dua tanpa mi cukup dengan tauge ya Pak, terus airnya dibanyakin" ucap Farid memesan menu kesukaan Anya yang dia ingat.


Mendengarnya Anya menjadi GR dan terharu.


"Ternyata A' Farid masih ingat kesukaanku" gumam Anya menggigit bibir bawahnya.


Lalu mereka pun mengambil tempat duduk di pojokan. Sebelum tukang bakso mengantar pesanan Farid memajukan kecap dan garam, tapi menjauhkan saos.


"Pedas manis, sedikit asin kan?" tanya Farid lagi ke Anya dengan tatapan hangat.


Anya hanya diam dan mengangguk, terlihat sangat manis di mata Farid.


"Aa Farid masih ingat?" tanya Anya lirih.


"Ingat atuh Neng, sok weh neng tanya, apa lagi. Aa Farid ingat semuanya" jawab Farid lembut membuat Anya salah tingkah.


"Ehm" Anya hanya berdehem menggaruk pelipisnya mengalihkan pembicaraan.


Kemudian pesanan datang mereka berdualun menyantap bakso setan yang pedas manis itu dengan lahap. Mau makan sama Alya atau siapapun Anya memang suka sekali bakso. Meskipun tidak setiap hari dan tetap diselingi makan-makanan sehat.


"Alhamdulillah" ucap Farid agak keras, lalu mengeluarkan uang dan membayarnya.


"Kita ke mall ya" ucap Farid saat berada di mobil.


"Mau apa?" tanya Anya.


Farid menggaruk pelipisnya gemas. Kan Farid mau lamar Anya. Farid ingin diberitahu apa oleh-oleh yang diinginkan keluarga Anya.


"Abah sama umimu suka makanan apa? Neng yang pilihin ya. Aa takut salah nanti mubadzir, Aa pengen beliin Abah sama Umi baju juga" jawab Farid sopan dan dewasa.


"Oh" jawab Anya mengangguk.


Meski saat bersama Alya, Anya memaki-maki Farid, tapi saat di depan Farid Anya mati kutu.


Mereka berdua kemudian masuk ke Mall. Farid dan Anya kemudian ke stand baju. Anya hendak memilihkan kemeja untuk bapaknya. Saat Anya sedang memilih baju, Farid memilih menunggu.


"Kak Farid?" panggil seorang perempuan dari luar mendekati Farid.

__ADS_1


Farid dan Anya kemudian menoleh ke perempuan cantik itu.


__ADS_2