
Hari-hari berlalu, Alya cepat menyesuaikan dirinya di Aerim. Rumah tangganya pun menjadi lebih harmonis. Alya selalu siap sedia kapanpun Ardi menginginkanya. Alya juga sudah mulai hafal apa saja yang harus dia siapkan untuk melayani suaminya. Kini Alya tidak banyak protes ataupun melawan.
Bu Rita juga sering menelfon Alya, mereka saling bercerita. Bu Rita juga banyak memberitahu tentang anaknya, sehingga Alya sedikit banyak tau bagaimana menyenangkan suaminya. Hanya saja baik Bu Rita, Ida ataupun Mia tidak ada yang menceritakan detail tentang Intan. Semua hanya bercerita kalau Bu Rita pernah menjodohkan Ardi dengan seseorang tapi berakhir tidak baik.
Alya juga mulai terbiasa pulang pergi bekerja diantar Pak Arlan. Akan tetapi Alya meminta Pak Arlan turun di luar rumah sakit. Jika sampai ke parkiran, Alya takut Dinda dan Anya bertanya lebih jauh siapa tantenya jika melihat Alya diantar jemput dengan mobil mewah.
Alya juga menjelaskan ke teman-temanya. Kalau tantenya meminta tinggal di rumahnya dan meninggalkan apartemen Megayu. Tentu saja hal itu membuat Gery, Dinda dan Anya kesal. Bahkan Anya dan Dinda mengata-ngatai tante Alya. Padahal tante Alya tidak salah apa-apa, Alya hanya mengarang cerita menyembunyikan pernikahanya.
"Sayang" panggil Ardi seusai mandi.
"Iya mas" jawab Alya menyiapkan pakaian suaminya.
"Kamu tumben udah rapih?" tanya Ardi Alya sudah memakai gamis dan jilbab. Biasanya Alya masih memakai baju pendeknya karena jaga sore.
"Lian berangkat pagi mas"
"Mas Antar ya!"
"Tumben mas mau antar Lian"
"Mau nggak?"
"Hemm, tapi jangan turun di depan IGD!"
"Kenapa?"
"Ya nanti kalau Anya liat gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana lah, sampai kapan sih kamu mau bohongin temen kamu? Udah bilang aja kalau kita udah nikah!"
"Mas kapan kasih tau ke Kak Farid kalau aku istri mas?" tantang Alya balik.
"Farid belum umumin pertunanganya. Nunggu Farid tunangan dulu yah!"
"Kenapa harus nunggu Kak Farid tunangan sih? Katanya sebulan kita udh lebih dari sebulan!" jawab Alya kesal jika harus berbohong terus.
"Udah udah, nanti kita bahas lagi. Mas mau pakai baju!" jawab Ardi mengalihkan pembicaraan. Ardi belum siap dikatai teman makan teman sama sahabat yang dianggap saudaranya.
"Ssssh huft. Selalu menghindar, kalau bahas ini. Mas juga seminggu ini pulang malam terus, Lian nggak dikasih tau, katanya mas mau kasih tau mas pergi seminggu waktu itu kemana? Sampai sekarang mana? Aku udah ikutin semuanya mau mas, tapi belum ada satupun pertanyaanku dan mauku yang mas jawab" omel Alya panjang kali lebar kali tinggi merasa dibodohi suaminya.
Sementara Ardi hanya diam santui dan melanjutkan memakai pakaianya. Ardi tau kalau diladeni waktu paginya akan habis untuk berdebat dengan istrinya.
"Mas!" panggil Alya kesal.
__ADS_1
"Hmmm" jawab Ardi memakai dasi tidak menoleh ke istrinya.
"Denger nggak sih?" tanya Alya emosi.
"Sayang, pagi-pagi nggak baik marah-marah, nanti cantiknya ilang loh" jawab Ardi mengalihkan pembicaraan lagi membuat Alya tambah kesal. Melihat istrinya marah Ardi justru mendekat dan mencium keningnya.
"Cup, sarapan yuk, keburu siang nanti telat loh!" ajak Ardi untuk keluar kamar.
Alya hanya manyun menahan kesal, tetap saja suaminya menjadi orang yang egois dan tertutup.
"Ayuk" ajak Ardi lagi menoel pipi istrinya.
"Ish" desis Alya menepis tangan suaminya. Ardi hanya tersenyum dan pergi ke ruang makan. Meski terpaksa Alya mengikuti suaminya sarapan dan berangkat kerja.
Seperti apa yang dikatakan Ardi. Ardi ingin mengantar Berlian, setelah dua bulan menikah ini pertama kalinya Ardi mengantar dokter cantiknya bekerja.
"Pak, turun di tempat biasa ya!" tutur Alya ke Pak Arlan.
"Baik Non!" jawab Pak Arlan patuh. Sebenarnya Arlan belum terlalu tua. Dia hanya berumur 3 tahun lebih tua dari Ardi tapi karena dia sudah menikah dan punya dua anak Alya selalu memanggil Pak.
Mendengar penuturan Alya, Ardi yang sedang sibuk dengan I_pad nya langsung menoleh heran ke istrinya.
"Memang biasanya turun dimana sayang?" tanya Ardi memasukan i_pad nya ke tas.
"Ehm" Alya menelan salivanya dan menoleh ke kaca mobil, memberi kode kalau dia masih marah ke suaminya. Meski sudah lama istrinya tidak marah. Tapi Ardi sudah paham dengan kode istrinya. Ardi beralih bertanya ke Arlan.
"Ehm" Alya berdehem lagi.
Arlan tidak menjawab hanya menelan salivanya mengetahui Tuan dan istrinya sedang tidak baik-baik saja.
"Jawab Pak. Kalau nggak mau putar balik aja. Nggak usah ke rumah sakit, ikut ke kantor aja!" jawab Ardi dengan nada sedikit mengancam kalau istrinya nggak nurut ijin bekerjanya dicabut.
"Enak aja! Nggak! Tetep ke rumah sakit!" sahut Alya menimpali.
"Ya udah, jawab pertanyaan mas, emang kalau anter turun dimana sih?" tanya Ardi memelankan suaranya merasa pancinganya berhasil.
"Di sebrang jalan, trotoar depan rumah sakit" jawab Alya ketus.
"Serius nganternya di situ? Ck! Sayaang, kenapa harus di luar, kalau pas kamu nyebrang kenapa-kenapa gimana?"
"Kok mas doain istri kenapa-kenapa sih?"
"Ya mas bayar Arlan itu buat anter jemput kamu, mastiin kamu baik-baik aja. Nggak, antar sampai parkiran kalau perlu depan IGD!" jawab Ardi memutuskan.
__ADS_1
"Malu mas!" jawab Alya menyanggah.
"Kenapa malu siih? Apa yang buat malu?"
"Mobil mas!" jawab Alya polos.
"Emang kenapa sama mobil kita sayang? Mas beli mobil ini juga halal. Mas kerja nggak nipu, mas bayar pajak juga"
"Ya pokoknya malu. Di rumah sakit pemerintah yang pake ini tuh cuma Dokter Anestesi sama mas. Beda kalau ke mall, Lian nggak mau mencolok, ditanya- tanya teman Alya" jawab Alya jujur.
"Ck. Ya nggak apa-apalah biar teman-temanmu nggak macem-macem sama kamu" jawab Ardi lagi.
"Nggak! Lian nggak mau temen-temen Lian tau, kalau Lian diantar jemput sopir" bantah Alya lagi lalu diam cemberut melihat ke kaca luar.
Ardi ikut diam dan berfikir. Kalau Ardi menjawab lagi hanya akan menambah perdebatan panjang tanpa ada keputusan. Ardi memilih mengalah berdebat tapi nanti memutuskan dengan tindakan menyuruh Arlan masuk ke parkiran.
Arlan pun hanya menyimak perdebatan tuan dan nyonyanya. Arlan tidak pernah menyangka Alya yang tampak keibuan, ramah, sopan, manis dan dewasa akan sangat manja, cerewet, bawel dan kekanak-kanakan saat bersama suaminya.
Mereka bertiga saling diam. Sekitar 30 menit mobi mewah Ardi sampai di depan rumah sakit.
"Pak berhenti!" perintah Alya.
"Lanjut Pak!" perintah Ardi.
Alya melotot ke suaminya. "Kenapa sih?".
"Sampai parkiran doang, nggak ada yang lihat!" jawab Ardi santai. Pak Arlan pun mengikuti tuanya untuk masuk ke Parkiran.
"Ck. Iyuh" Alya berdecak sebal. Setelah sampai di parkiran tanpa menunggu Pak Arlan membukakan pintu Alya langsung turun membanting pintu. Dan berjalan setengah berlari tanpa berpamitan dengan suaminya.
Melihat istrinya turun dengan tergesa-gesa dan marah Ardi tidak tinggal diam. Dia ikut bergegas keluar menyusul Alya. Ardi berlari dan meraih tangan Alya.
"Jangan buru-buru" panggil Ardi menarik tangan Alya. "Pamit yang bener!" ucap Ardi di bawah pohon di dekat parkiran.
Alya hanya menatap suaminya dengan wajah manyun. Melihat istrinya manyun Ardi langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Alya.
Tidak diketahu Ardi dan Alya di belakang Mobil Ardi terparkir lebih dulu mobil dokter rekan Alya. Rekan Alya itu melihat Alya dari belakang membanting pintu mobil dan berjalan setengah berlari, lalu disusul laki-laki yang tidak tampak wajahnya dari belakang, laki-laki langsung meraih dan mencium Alya. Melihat itu dokter itu langsung turun dan menarik bahu Ardi.
"Bug" Gery menarik paksa bahu Ardi dari belakang dengan kuat tanpa melihat wajahnya. Dan langsung menonjoknya. Gery mengeluarkan seluruh tenaganya dengan mengeluarkan emosi yang membuncah. Gadis yang dikerjarnya dengan susah payah dilecehkan di depanya. Ardi langsung terhuyung dan keluar darah di bibirnya.
"Dokter Gery! Stop" ucap Alya spontan melerai Gery, saat Gery hendak maju melanjutkan toyoranya. Ardi yang tidak siap dipukul tampak sedikit kesakitan memegang lukanya.
Sesaat mereka saling terdiam. Lalu saling pandang. Ardi terbelalak melihat laki-laki yang memukulnya. Gerypun sangat syok ketika laki-laki yang dia pukul berdiri menatapnya.
__ADS_1
"Ardi?" panggil Gery Lirih.
"Gery?"