Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
138. Bakar-bakaran.


__ADS_3

Ardi, Alya dan Bu Mirna sudah sampai di rumah. Dengan sigap dan penuh perhatian Ardi memapah Bu Mirna. Sebenarnya awalnya Alya yang melakukanya, tapi seperti biasa Ardi lebay. Ardi melarang Alya melakukan dan membawa apapun. Pokoknya semuanya biar Ardi yang melakukan.


Tas-tas, barang bawaan Bu Mirna, tas Anya dan bekal yang Alya bawa juga Ardi dan Pak sopir yang membawakan. Tentu saja setelah Ardi beri tambahan uang.


Setelah sampai rumah mereka bersih-bersih dan menunaikan sholat ashar berjamaah. Selesai sholat Bu Mirna tidur di ruang tengah memegang tasbih.Bu Mirna membaca dzikir petang. Sementaa Ardi dan Alya segera bergegas keluar dan bersantai.


"Mas, Lian buatin teh dulu ya" tutur Lian lembut pamit ke dapur ke suaminya. Lian ingin melayani suaminya dan menjadi istri yang baik.


"Kamu nggak capek? Mas nggak mau kamu kecapekan lho, udah sayang duduk aja sini" jawab Ardi justru tidak menyambut baik usaha Alya.


"Ish sukanya lebay deh, bikin teh doang kan nggak capek. Lian lagi mau baik nih jadi istri"


"Ya mas juga mau baik jadi suami. Udah kamu duduk aja, tenaga kamu, kamu simpan buat nanti malem" jawab Ardi dengan senyuman nakal dan iseng.


"Heh? Nanti malam? Apa maksudnya?" tanya Alya pura-pura tidak tahu karena merasa kesal.


"Masa nggak tahu sih? Mraktekin yang diajarin dokter tadi. He.."


"Maas, kan nggak boleh sering-sering! Pusing Lian. Mas bahas itu terus, udah biar Lian bikin teh dulu ya" jawab Alya cemberut.


"Jangan cemberut gitu, mas bercanda kok. Iya nggak sering-sering, sehari sekali kan nggak sering!" jawab Ardi lagi masih menggoda istrinya.


"Hemm, udah stop bahas itunya. Mas tunggu di sini ya. Lian ke belakang dulu"


"Jangan! Kamu duduk aja disini, mas yang buatin. Mas teh kamu susu hamil, iya kan?" jawab Ardi menawarkan diri gantian dia yang melayani istrinya.


"Emem" jawab Alya mengangguk, Alya merasa ide bagus juga gantian Ardi yang bikin minuman.


Lalu Ardi ke belakang, sementara Alya duduk di teras menikmati suasana sore di pegunungan. Dari kampung Alya beberapa kilolagi sudah kawasan merapi. Jadi ketika sore hari udaranya sangat dingin dan mulai berkabut. Tapi hal itu yang membuat Alya betah dan rindu kampungnya.


Belum ada 1 menit Ardi balik ke Alya.


"Sayang. Teh sama gulanya dimana? Air panasnya dimana?" tanya Ardi belum paham dapur Bu Mirna.


"Air panasnya rebus dulu. Teh sama gulanya di lemari atas kompor, susunya di samping gula, jangan sampai salah ya! Dicicipi dulu biar nggak ketuker sama garem" jawab Lian panjang mengajari Ardi.


"Resbus dulu? Nggak ada dispenser atau termos apa Yang?" jawab sedikit kaget. Ardi menawar malas harus rebus air dulu.


"Ibu nggak suka air dispenser, enakan rebus dulu Mas. Bisa nggak?" tanya Lian ragu melihat raut muka Ardi mulai menampakan muka malas.


"Bisa-bisa, mas suami yang bisa diandalkan kok" jawab Ardi spontan ingin menunjukan cintanya ke Alya.


"Oke" jawab Lian mengangguk, lalu mainan ponsel lagi.


Ardi kembali ke dapur. Belum ada 1 menit Ardi balik lagi.


"Sayang, He... " panggil Ardi lagi mau tanya lagi.


"Hmmm. Apa?" tanya Lian lembut dan gemas dengan kelakuan suaminya. "Sekali lagi, balik lagi, mending Lian aja yang selesein" batin Lian


"Rebusnya pakai apa? Seberapa?"


"Ya pakai itu tempat Air, kan ada di samping kompor, teko teko. Diisi air nggak usah terlalu penuh 3/4 cukup!"


"Oke"


Ardipun kembali ke dapur lagi melakukan apa yang diberitahu istrinya. Kali ini Ardi agak lama di dapur, setelah ada bunyi air mendidih tidak lama Ardi keluar. Tapi tidak membawa minuman yang dia buat.


"Yang" panggil Ardi lagi di belakang Lian.


"Hemm, apalagi? Mana susu dan tehnya?" tanya Lian sudah habis kesabarannya.


"Susunya satu gelas berapa sendok?" tanya Ardi lagi.


"3 sendok biar manis. Kan ada di samping kardusnya Mas, ck! Udah Lian aja yang bikin sendiri" jawab Lian ketus dan gregetan lalu bangun dari duduknya.


"Ditanya gitu aja ngambek" jawab Ardi meledek Lian.


"Lah mas timbang bikin minum doang daritadi bolak balik. Kalau nggak bisa bilang aja, biar Lian yang bikin" jawab Lian gemas ke suaminya.


"Tuh di meja di dalem, udah jadi, sekalian buat ibu" jawab Ardi membuat kejutan. "Mas tanya takut salah. Mas udah kasih sesuai aturan kok" jawab Ardi lembut dan menunjuk ke meja makan.


"Ooh" jawab Lian malu tebakanya salah dan sudah marah. Kali ini Ardi benar-benar bisa diandalkan.


"Ibu masih dzikir. Tehnya biar di situ dulu aja kali ya" tutur Ardi melihat meja ruang tamu.


"Iya, mas nggak salah kasih garam kan?" tanya Lian ragu dan meledek Ardi.


"Nggak sayang, udah mas cicipin kok " jawab Ardi mengambil susu dan secangkir teh miliknya ke teras.


Sambil menunggu teman-teman mereka pulang, Ardi dan Alya menikmati suasana sore di teras rumah sambil ngeteh.

__ADS_1


"Kok temen-temen lama ya Mas?" tutur Lian melihat jam tangan sudah hampir jam 5.


"Biarin, mereka semua kan jomblo, masih masa pedekate. Biarin aja mereka jalan-jalan" jawab Ardi enteng lalu menyeruput teh buatanya sendiri.


"Hemmm, kira-kira Anya beneran nikah sama Kak Farid nggak yah?"


"Liat aja, omongan Mas! Udah sih nggak usah mikirin Farid, sayang banget apa sama Farid?"


"Ish....mulai nih, mulai nih! Lian kan tanya, dia kan temen mas juga, salah ya?"


"Mas nggak suka kamu bahas laki-laki lain di hadapan Mas"


"Iya, ya"


"Sinih" tutur Ardi menepuk pahanya.


"Huh, ngapain?" tanya Alya bingung suaminya menepuk pahanya.


"Mas pingin kamu duduk di sini" jawab Ardi ingin memangku Alya.


"Ih lebay banget sih Mas. Lian risih ih, duduk dipangku kaya anak kecil aja, malu tau"


"Kenapa malu? Nggak ada orang juga, mas dingin. Mas juga pengen tahu, sudah seberat apa istri mas, bahagia nggak istri mas sama mas?"


"Harus ya gitu?"


"Udah ikut napa sih!" tutur Ardi lalu menarik Alya dan kini Alya duduk di pangkuan Ardi, untung saja Alya cenderung pendek dan kurus, jadi seimbang.


"Mas merasa mimpi mas jadi kenyataan punya kamu di hidup Mas" tutur Ardi lembut memegang kedua pipi Lian.


"Benarkah?"


"Huum, tetap bersama Mas dan temani Mas apapun yang terjadi"


"Kok tiba-tiba jadi serius dan melo sih?"


"Iya, Mas dari dulu ingin menikmati hidup yang begini. Punya istri solekhah, cantik baik. Hidu di desa. Tenang damai, sederhana, nggak ada yang peduli ataupun tahu siapa Mas" tutur Ardi jujur.


"Hemmm, bener nih solekhah?" tanya Alnya mencairkan suasana.


"Iya"


"Biasanya bilangnya, istri mas galak, cerewet bawel. Gitu"


"Ya udah tinggal di sini aja kalau mas suka di desa"


"Nggak bisa Sayang. Dino udah wa, wa terus. Besok kita balik yah"


"Besok? Lian pengen habisin cuti Lian di sini Mas. Lian nggak ikut yah!"


"Tapi mas nggak bisa jauh dari kamu"


"Ya udah sih, bukanya kata orang pengusaha itu waktunya bebas, bisa tentuin sendiri. Mas sekali-kali kek, nggak usah kerja terus, seminggu lagilah di sini!"


"Ya nanti mas telp Dino biar kirim email berkas-berkas yang harus mas priksa, semoga dia bisa ngehandle yah"


"Bener?"


"Iyah" jawab Ardi tersenyum, lalu mendaratkan bibirnya ke bibir istrinya lembut.


****


"Iyuuh" seru Dinda dari dalam mobil melihat kelebaian Ardi dan Lian di teras rumah.


Tanpa diketahui Lian dan Ardi, ternyata mobil yang disupiri Dika sudah masuk ke halaman rumah Bu Mirna. Semua penumpang di dalam mobil pun melihat adegan hangat dua sejoli itu.


Anya yang masih patah hati dan belum reda menahan tangis melengos tanpa berkomentar. Apalagi di antara teman yang lain Anya yang sudah hafal dengan segala kegilaan suami temanya itu. Sementara Farid memalingkan pandanganya kikuk melihat sahabatnya, lalu Farid melirik ke Anya.


Seakan Farid mau bilang. " Nggak usah iri sama mereka. Kita juga bisa Neng, ayo segera halal seperti mereka" .


Sayangnya Farid masih belum berani mengajak Anya bicara lagi. Farid tahu sudah berbuat salah dan membuat Anya marah. Farid tahu Anya sedang terluka.


Farid masih mendiamkan Anya, memberi ruang untuk Anya berfikir dan menerima kenyataan. Farid tahu dan Anya bisa berfikir dewasa. Jadi Farid memilih menjaga jarak dan kata-kata untuk beberapa waktu ke Anya.


Dinda memang berhasil menenangkan Anya dan mengajaknya pulang. Tapi sepanjang jalan Anya diam saja. Wajahnya selalu melihat ke luar jendela. Entah apa yang Anya pikirkan.


Sementara Dika merasa agak risih dan malu melihat Ardi dan Alya. Tapi Dika juga menaruh kekaguman ke Ardi. Buat Dika Ardi patut dijadikan contoh suami yang baik, begitu sayang dan cinta ke istrinya.


Mendengar suara mobil Alya langsung mendorong suaminya dan segera turun dan berdiri. Alya benar-benar merasa sudah tidak punya muka lagi di hadapan teman-temanya. Berbeda dengan Ardi justru bangga melakukanya.


"Alhamdulillah kalian sudah sampai" ujar Alya tersenyum ramah menyambut teman-temanya.

__ADS_1


"Iyuuh, kalian tuh ya, mentang-mentang udah halal, pacaran terus kerjaanya, nggak di Jakarta nggak di sini!" omel Dinda begitu turun dari mobil. Anya, Dika dan Farid ikut turun tanpa berkomentar.


"Ibadah Din, katanya ibadah, menyentuh istri itu dapat pahala" jawab Ardi ngebanyol. Tapi langsung dihentikan dengan cubitan Alya, mengkode suaminya untuk diam.


Ardi dan Alya kompak salah fokus menatap Anya. Mata Anya tampak sembab, mukanya ditekuk. Anya pun turun dan langsung masuk ke kamar.


"Dia kenapa?" tanya Alya lirih lalu menoleh ke Farid.


Ardipun melakukan hal yang sama menoleh ke Farid menyiratkan tanda tanya. Farid menelan ludahnya dengan ekspresi malas, kemudian mereka duduk di teras rumah. Dika memilih diam tidak berkomentar.


"Habis ada drama di warung makan" bisik Dinda ke Alya dan Ardi.


"Drama gimana?" tanya Alya antusias.


"Drama cinta segitiga, nanti gue ceritain. Gue sampe nggak jadi makan tau gara-gara mereka. Padahal Anya yang nawarin gue makan" tutur Dinda polos bercerita ke Alya merasa dirinya korban php Anya.


"Terus kalian, berarti belum pada makan?" tanya Ardi bersimpati.


"Belum, laper nih gue" ceplos Dinda polos.


Alya sebagai tuan rumah pun berfikir dan merasa bertanggung jawab memberi makan ke tamu-tamunya. Lalu Alya menatap suaminya memberi kode. Mau makan di luar atau pesen makanan. Padahal sore itu sangat dingin dan kabut mulai muncul.


"Dik" panggil Ardi ke Dika.


"Nggeh Mas"


"Di sini dingin-dingin gini enaknya makan apa? Tamu gue kelaperan nih" tutur Ardi melirik ke Farid dengan tatapan meledek.


"Ya paling keluar Mas, pecel lele, lamongan, angkringan, ronde, atau sate kelinci, atau rames Mas" jawab Dika jujur.


"Duh, harus keluar yah? Nggak ada delivery order gitu? Ayam bakar atau apa? Capek gue" Dinda nyeplos jujur.


"Paling keluar Mbak, di sini di atas soalnya, jualan di bawah, jadi harus turun" jawab Dika menjelaskan kalau mereka sedang berada di kawasan pegunungan.


"Istriku lagi hamil Dik, gue mau yang makan di rumah aja" jawab Ardi menimpali.


"Kalau mau, bakar-bakar sendiri Mas, di rumah"


"Wah ide bagus tuh" jawab Dinda menimpali. "Seru kayaknya"


"Gimana Mas Ardi? Setuju nggak kalau masak sendiri?" tanya Dika menimpali.


"Gue nggak bisa masaknya. Emang mau masak apa? Terserah kalian sih. Lo gimana Rid" tanya Ardi menengahi.


"Gue setuju ide Dika. Gue bisa masaknya. Tapi mau bakar apa?" tanya Farid.


"Di rumah saya ada gurameh, Nila sama kelinci Mas, kayaknya lumayan buat dibakar dan disate rame-rame"


"Waaah suka- suka" sahut Dinda kegirangan.


"Oke setuju" jawab Farid dan Ardi berbarengan. Sementara Alya tersenyum mengangguk.


"Ibu juga udah ada arangnya Nak, bumbunya juga udah komplit" imbuh Bu Mirna dari dalam rumah.


Mendengar suara orang bercakap-cakap Bu Mirna keluar dan tampak bahagia. Rumah yng biasa sepi hari ini ramai dan hangat.


"Ya udah keburu maghrib sana ambil kelinci dan ikanya" tutur Ardi memberi perintah.


"Gue belum mandi tapi" sahut Farid


"Entar aja, keburu maghrib susah nangkep Nilanya, sana ke rumah Dika" jawab Ardi


"Lo nggak ikut?" tanya Farid merasa ogah disuruh-suruh Ardi terus. Ardi menoleh ke istrinya.


"Sana ikut!" tutur Alya..


"Ya!" jawab Ardi patuh ke Alya.


Lalu Ardi, Farid dan Dika masuk ke mobil menuju ke rumah Dika yang ternyata tetangga desa Alya. Bu Mirna, Dinda dan Alya masuk. Dinda mencium tangan ke Bu Mirna dan berkenalan.


"Kamu tidur sama Anya ya Din! Biar kamar yang satunya buat Kak Farid" tutur Alya ke Dinda.


"Siap! Gue mau mandi nih, tapi kok dingin banget yak?"


"Rebus air hangat dulu!"


"Oke!"


Dinda dan Alya masuk ke kamar. Di dalam kamar Anya tampak tengkurap menenggelamkan wajahnya ke bantal. Alya dan Dinda berpandangan.


"Gue mau mandi. Sono lo ajak ngobrol Anya!" bisik Dinda ke Alya.

__ADS_1


"Oke!" jawab Alya memberikan jempol. Lalu Alya masuk, duduk di tepi Anya.


__ADS_2