Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
207. Jalan malam


__ADS_3

Kata orang Ibu dan anak itu satu kesatuan. Fitrahnya sebagai ibu juga mencintai anaknya dengan segenap hati.


Tidak peduli bagaimana sikap dan balasan anak pada ibunya, tetap saja, bagi seorang ibu anak adalah nomor satu dalam hidunya. Dan itu semua tidak pernah lekang oleh waktu. Bahkan sampai akhir hayatnya.


"Huuuhhhaaaah" Bu Rita mengatur nafasnya. Kembali lagi dan untuk yang kesekian kalianya Bu Rita dibuat sesak dan pusing oleh anak semata wayangnya itu.


Walaupun Ardi sudah bilang dia baik-baik saja. Tetap saja Bu Rita panik bukan main melebihi Alya. Entah mau sampai umur berapa Ardi berhenti membuat ibunya cemas.


"Mamah tenang Mah. Mas Ardi kan udah bilang, Mas Ardi sehat baik-baik aja" tutur Lian mengelus bahu Bu Rita.


"Istighfar Jeng, yang penting anak kita sehat-sehat" imbuh Bu Mirna menghibur sahabat sekaligus besanya itu.


"Mamah harus segera kesana Sayang" tutur Bu Rita ke Alya


"Mah. Tapi kalau asthma mamah kumat, mending mamah di rumah aja. Lian yang kesana ya" jawab Alya juga cemas ke suaminya


"Enggak Sayang, kamu lagi hamil. Sudah kamu di rumah saja"


Gantian Bu Rita melarang Alya.


"Wes to. Jangan pada rebutan. Mending sampaikan pesan anak kita. Hubungi papahmu Al. Kita cukup di rumah saja. Mendoakan" tutur Bu Mirna bijak menengahi.


"Tapi" seru Bu Rita dan Alya beerbarengan. Lalu saling terdiam.


"Tapi aku khawatir Jeng. Aku harus liat keadaan anakku" jawab Bu Rita tidak mau disuruh di rumah saja.


"Alya juga pengen ketemu Mas Ardi Bu. Alya harus pastiin Mas Ardi baik-baik saja. Dia kan belum sembuh" jawab Alya juga.


Rupanya mertua dan menantu itu keduanya terlampau mencintai Ardi dan tidak ada yang mengalah.


"Hhhhh" Bu Mirna menghela nafas.


"Yowes, terserah kalian. Kalau saranku mending kalian di rumah saja. Ndak usah pergi-pergi udah malem. Biar jadi urusanya laki-laki. Sebagai istri dan ibu itu yang doa" tutur Bu Mirna masih bijak menasehati.


Alya dan Bu Rita terdiam menunduk, seperti anak kecil dinasehati. Lalu Bu Rita bangun hendak memberitahu suaminya.


Di kamar mewah, laki-laki paruh baya dengan ubam yang mulai muncul, tapi kegagahanya masih jelas terpancar, tampak terbaring tenang. Dengkuran halusnya terdengar samar-samar.


"Pah, bangun" tutur Bu Rita membangunkan suaminya sambil menepuk pipinya.


"Eeemmmpt" Tuan Aryo hanya menggeliat. Tidak bangun dan justru memiringkan badanya.


"Paah! Bangun! Anak kita kecelakaan" tutur Bu Rita menggoyangkan badan suaminya.


"Mmmmppt" Tuan Aryo yang baru terlelap masih tidak tergoyahkan


Akhirnya Bu Rita kesal memencet hidung suaminya supaya bangun. Dan usahanya berhasil.


"Astaghfirulloh Mah. Ada apa siih?" tanya Tuan Aryo justru mengibaskan tangan istrinya.


"Ardi kecelakaan Pah!" tutur Bu Rita memberi tahu.


"Huh" tanya Tuan Aryo masih belum sadar.


"Ardi kecelakaan Papah!" tutur Bu Rita gemash sedikit mengeraskan nada bicaranya.


"Kecelakaan?" tanya Tuan Aryo akhirnya kabelnya tersambung dengan Bu Rita.


"Kecelakaan gimana?" tanya Tuan Aryo kornea matanya langsung membulat sempurna.

__ADS_1


"Nggak tau Pah. Ardi cuma bilang remnya blong. Ayo kita kesna!" ajak Bu Rita.


"Jam berapa sekarang?"


"Jam 10"


"Dia kan pake mobil papah. Baru diservis kok itu mobil" tanya Tuan Aryo berfikir, Ardi kan memakai mobil kesayangan Tuan Aryo yang dalam sudah dimodif, dibuat agar bisa dibuat tempat tidur.


"Nah itu makanya Mamah khawatir Pah"


"Coba video call" perintah Tuan Aryo.


"Ya"


Lalu Bu Rita menelpon anaknya. Dan mereka tersambung dengan Ardi tapi sayang Ardi berada dalam kegelapan.


****


Setelah memastikan mereka semua aman. Farid, Ardi, Anya dan Pak Arlan turun dari mobil. Untung saja mereka tidak jatuh ke sungai.


Karena beberapa meter di depan gunungan pasir itu sungai yang besar dan penuh bebatuan. Mereka kemudian menyalakan ponsel sebagai penerangan mencari tempat duduk aman. Terhindar dari hewan.


"Gimana Ar, apa kata Alya?" tanya Farid menanyakan nasib mereka.


"Mamah lagi bangunin papah. Gue minta papah anter mobil satu lagi. Biar ini diurus sama mecanik langganan papah"


"Masih lama nggak kira-kira? Kita mau nunggu di sini apa gimana?" tanya Farid menegaskan.


"Ya sabar Bro. Baru juga papa gue mau dibangunin, lo punya dosa apa sih mau lamaran doang begini amat" jawab Ardi sambil mengejek Farid.


"Kok gue. Lo tu, yang jadi orang kebanyakan musuh. Mobil mahal-mahal begini bisa blong" jawab Farid balik mengejek.


"Ye enak aja. Gue ganteng sama baik. Makanya banyak recokin gue. Emang dasar apes lo aja niih , perasaan gue dulu nikah lancar-lancar aja!"


"Nggak sih!"


"Dasar lo, lamaran nggak ngata-ngatain orang"


"Ya kan enakan gue langsung nikah nggak pake ribet" jawab Ardi membela diri.


"Ya suka-suka gue lah" jawab Farid .


"Haciim, haciim" Anya yang kedinginan tiba-tiba bersin-bersin.


Ardi dan Farid menjadi terdiam dan menoleh ke Anya. Malam itu Anya perempuan sendiri.


"Neng baik-baik aja?" tanya Farid mendekat ke Anya perhatian.


"Anya baik- baik aja A'" jawab Anya kalem.


Sebenaranya Anya kedinginan, karena memakai mobil Anya lupa membawa jaket. Anya masih dengan dress warna emas yang diseragamkan dengan Alya untuk kondangan tadi.


Lalu Anya menangkupkan, kedua tanganya dan menggosoknya. Angin malam semilir menyapu kulit Anya, bulu kuduknya merespon pada naik. dan berdiri.


Farid berdiri di sampingnya menatap dan memperhatikan Anya dengan seksama meski dalam remang, diterangi lampu ponsel.


"Neng kedinginan yah?" tanya Farid lagi.


"Nggak" jawab Anya gengsi menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa mau di mobil aja nunggunya, sabar ya" tutur Farid lembut perhatian ke Anya.


"Nggak apa-apa di sini aja'" jawab Anya.


"Ya Tuhan, apa ini artinya aku nggak boleh tunangan sama Aa Farid ya?" batin Anya.


Ardi yang mendengar dan melihat sahabarnya kedinginan berinisiatif melihat kejauhan. Memastikan plang di ujung sana adalag rest area.


"Rid. Kalian ke sana aja. Itu kayaknya rest area deh" tutur Ardi memberitahu.


"Benarkah?"


"Iya, kasian Dokter Anya. Sana kalian jalan ke sana! Biar gue dan Pak Arlan nunggu papah di sini" ucap Ardi lagi memerintah.


"Oke" jawab Farid.


Lalu Farid dengan langkah pasti mendekat ke Anya. Melawan rasa canggung dan malu, Farid meraih tangan Anya, ditelusupkanya jari-jemarinya, sehingga mereka saling terpaut dan menggenggam.


Anya menelan ludahnya dheg-dhegan. Meski hanya pegangan hal itu cukup menghangatkan. Anya menatap Farid dengan penuh penerimaan. Dengan kesadaran, Anya balas menggenggam.


"Yuk kita ke rest area di ujung sana" ucap Farid.


"Huum" jawab Anya mengangguk


Lalu mereka berdua berjalan bersama. Saling bergandengan tangan. Ditemani semilirnya angin, di selingi beberapa deruan kendaraan yang lewat, Farid sangat menikmati jalan malamnya itu.


****


Ardi dengan setia dan pengertian duduk di jok mobil dengan pintu dibuka bersama Pak Arlan menunggu bantuan datang. Tidak lama ponselnya berbunyi. Bu Rita menelponya.


"Ya Mah, gimana?" sapa Ardi menjawab sambungan video call dari Bu Rita.


"Kok gelap sih Nak?" tanya Bu Rita.


"Iya kan emang Pak Arlan banting setir keluar jalan Mah. Alhamdulilillah kita selamat. Papah buruan kesini"


"Ya gimana keadaan mu? Semua aman? Kok bisa? Mobil papah baru diservis lho!" tanya Tuan Aryo memastikan.


"Semua aman. Ceritanya besok aja Pah. Sekarang ke sini dulu aja. Anterin mobil dan mekanik Pah. Kasian temen-temen Ardi" jawab Ardi meminta bantuan ke Papahnya.


"Posisi dimana?"


"Ardi nggak tau. Ardi shareloc ke Lian udah tadi Pah"


"Shareloc ke papah juga. Secepatnya Papa kesana"


"Oke Pah"


"Mamah ikut ya!"


"Nggak usah ngapain? Mamah sama Lian sama Ibu di rumah aja! Ardi sehat kok. Nanti malah mamah sakit. Udah di rumah aja" jawab Ardi melarang keras mamahnya ikut


Dan Bu Rita dan Alya akhirnya patuh seperti yang dikatakan Bu Mirna.


****


Maaf ya.


Author berusaha ngebut ngetik, nyusun alur biar cepet sampai tujuan. Tapi jari dan otak author suka protes. Ini juga disempetin.

__ADS_1


Aktivitas dunia nyata juga padat.


Makasih udah baca.


__ADS_2