
Kehidupan itu seperti roda, berputar, berbalik. Sesuai dengan perjalanan waktu. Jika dulu saat kecil dilahirkan dirawat dan dibesarkan orang tua, makan ada masanya kita menjadi tua.
Lalu berganti, orang tua kita melemah, menjadi seperti anak kecil, dan kita sebagai anak yang berubah menjadi dewasa dan hebat, harus berganti meengurusi orang tua kita.
Meski belum sepenuhnya sama persis seperti itu. Keadaan itu hampir sama dengan keadaan Alya. Jika dulu Alya yang menjadi tanggung jawab Bu Mirna. Setelah kini Alya bersuami, mempunyai kekuasaan dan Bu Mirna sendiri. Bu Mirna menjadi tanggung jawab Alya.
Memikirkan kebahagianya, tempat tinggalnya, makananya, kesehatanya dan lain sebagaianya. Dan seperti layaknya orang tua, atau wali.
Meski Alya sebagai anak dan Bu Mirna ibunya, Alya kini yang harus pikirkan Bu Mirna. Alya melotot melihat foto yang dikirimkan sahabatnya. Respon Alya seperti ibu yang memergoki anaknya main di luar.
“Ini benar kan jilbab yang ibu pakai tadi pagi? Kok ibu bisa ada di mall sih? Kan harusnya di panti, wah ibu ni, jangan- jangan bener kata Mas Ardi, ibu puber lagi” batin Alya fokus ke ponselnya.
Alya menggeser ponselnya memperbesar foto yang Anya kirim.
Padahal di samping Alya, Bu Rita dan pegawai butik sedang sibuk memilih gaun dan mencobanya. Tapi fokus Alya langsung hilang ke resepsi hilang.
Alya jadi kepikiran ibunya. Lalu Alya berniat membalas pesan Anya. Alya kemudian menyusun perintah.
"Videoin dong. Atau cari tahu seperti apa dan siapa laki-laki itu? Ibuku pergi bareng siapa? Terus ngapain aja!
Belum Alya selesai mengetik dan mengirimnya. Bu Rita datang memanggilnya.
“Sayang, coba deh kamu pakai gaun yang ini!” tutur Bu Rita memberikan pilihanya ke Alya.
“Iy Mah!” jawab Alya menyembunyikan ponselnya dan menunda meminta kejelasan siapa laki-laki yang bersama ibunya.
Lalu Alya mengikuti Dara, masuk ke ruang ganti. Mencoba memakai gaun pengantin yang Dara rancang saat Bu Rita mengabarinya sewaktu masih di Singapore.
“Alhamdulillah pas Mah” ucap Alya berputar memperlihatkan gaun nikah ala princessnya dengan hiasan mutiara yang tampak berkilauan. Gaun yang Dara buat berwarna pink.
“Wah cantiknya, mamah jadi nggak sabar buat sampai ke hari sabtu” tutur Bu Rita memuji Alya.
“Gaun yang lain dong!” ucap Bu Rita.
Lalu Dara mengeluarkan dua gaun lagi, Alya jadi berdecak, mukanya langsung menampakan ekspresi malas dan lelah.
“Kan katanya sederhana kok mamah siapin banyak baju? Aduh bisa pusing nih ikutin saran Mamah, Mas Ardi pasti bete!” gumam Alya dalam hati.
“Mah, emang mau ganti berapa baju sih?” tanya Alya.
Dari ketiga gaun itu Alya hanya suka dengan dua gaun. Yang satunya bagus tapi Alya benci. Karena terlalu besar panjang dan warnanya hitam.
“4 sayang”
“Empat?” tanya Alya kaget.
"Iya"
"Buat apa Mah. Satu atau dua aja ya Mah!"
“4 dong Sayang, kan dari lagi pe sore. Terus sekalian biar orang- orang tau kalau gaun dari Gunawijaya berkelas dan bagus. Mamah bangga pakai produk punya sendiri, jadi harus ditampilkan dong!” jawab Bu Rita percaya diri. Ternyata Bu Rita memang ingin memamerkan menantunya sekaligus butiknyam
“He.. iya sih Mah, tapi kenapa harus Alya?"
"Karena hanya di resepsimu nnti tamu undanganya adalah orang-orangan orng terpilih!"
"Tapi emang nggak ribet ya ganti empat kali? Alya sukanya gaun yang ini dan ini doang Mah, Alya nggak mau pakai yang ini! Udah dua aja ini!" jawab Alya menawar ke Bu Rita.
“Nggak ribet Sayang, banyak kok pengantin yang begitu, jadi kan nanti tamu papah ada 4 gelombang, tiap gelombang ganti yah! Pokoknga empat”
“Mah, ini gaun hanya ada 3, ini juga Alya cuma suka dua, kok mamah mau empat? Terus emang yang satunya lagi seperti apaa? Yang ini Alya nggak suka. Dua aja ya Mah?”
__ADS_1
“Satunya lagi dari desainer artis teman mamah Sayang. Biar bisa dibandingin coba nanti dengan orang yang sama bagusan mana? Jadi biar orang- orang tau desainer dari butik kita itu nggak kaleng- kaleng” jawab Bu Rita lagi.
Ternyata berbekal gamis Alya di rumah. Bu Rita juga menghubungi desainer ternama langganan artis. Bu Rita mau memfoto Alya, di setiap gaunya, lalu membandingkanya produk sendiri dengan punya senior.
“Mah... , tapi menurut Alya, nggak perlu deh begitu, Alya nggak mau jadi peragaan busana buat nunjukin dan bandingin gaun begitu. Tujuan kita resepsi kan syukuran Mah, bukan buat iklan. Mas Ardi pasti nggak suka, Mah!” jawab Alya menolak rencana Bu Rita serius.
Semua rencana pernikahan Alya memang Bu Rita yang bergerak. Tapi Alya tidak mau diintervensi.
Alya yang fokusnya udah ke hp, dan ingin segera menyudahi memikirkan tentang resepsi, Akhirnya berani speak up melawan Bu Rita. Karena menurut Alya kali ini Bu Rita memang salah.
Itu pertama kalianya Alya berani menentang Bu Rita terang- terangan. Bu Rita kemudian diam dan merasa tersinggung dengan penolakan menantunya.
“Ya sudah terserah kamu aja!” jawab Bu Rita ketus.
Bu Roita meletakan gaun Alya. Lalu pergi keluar dari ruang Alya mencoba memakai gaunya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Alya juga ikut tersinggung. Akhirnya mertua dan menantu yang selama ini sangat dekat itupun menemui hari dimana mereka berselisih paham. Bahkan mereka saling diam.
“Duh Mamah marah nih?”
Dara yang menjadi orang ketiga jadi bingung melihat adegan itu. Ternyata benar sebaik-baik menantu dan mertua, tetap ada masa beda pendapat.
“Non” panggil Dara berbisik mendekat.
“Iya”
“Non Alya nggak suka gaun yang ini ya?”
“Iya, itu terlalu berlebihan dan heboh, aku tidak suka! Itu bukan aku”
“Waktu itu Non Intan pernah tanya Non Alya, katanya Non Alya minta dibuatin Non Intan?” tutur Dara berbisik.
“Iya, iya benar. Tapi mamah dan suamiku ngelarang, apa dia tetap membuatnya? Dia kan belum tahu ukuran bajuku?” tanya Alya antusaias.
“Oh iya?” tanya Alya.
“Aku pernah liat gambarnya Non!” jawab Uzi.
“Aku memang ingin beli gaunya dia, tapi mertuaku nggak boleh tau,tolong kamu beritahu dia ya, bawa gaunya ke sini!”
“Oke Non! Nanti saya hubungi ke Mba Intan" jawab Dara.
"Makasih ya!"
"Ya Non sama-sama"
Lalu alya keluar dan berniat minta maaf ke mertuanya.
“Mah" panggil Alya lembut dan mendekat ke tempat duduk Bu Rita. Bu Rita duduk di bangku khusus pemilik butik.
"Maafin Alya Mah”
“Ehm!”
“Alya mau ganti 4 kali, tapi boleh minta syarat nggak?” tutur Alya mulai buat kesepakatan.
“Apa?” tanya Bu Rita tidak bisa diem, lalu akrab lagi.
“Gaun yang keempat, biar Alya yang pilih sendiri, gaunya ya Mah?” tutur Alya mengungkapkan isi hatinya.
“Bener mau ganti 4 kali?”
__ADS_1
“Iya Mah!”
"Emang desain yang kamu mau, yang ingin kmu pakai dapet darimana? Karya siapa?" tanya Bu Rita penasaran
"Besok Mamah tau sendiri!" jawab Alya.
“Makasih Sayang kamu mau nurut sama Mamah. Kamu boleh pilih gaun yang kamu suka. Yang penting ganti 4 kali ya!"
"Iya Mah" jawab Alya.
Ternyata Bu Rita sudah bercerita banyak ke teman arisanya. Jadi Bu Rita akan sangat malu kalau kenyataan tak sesuai rencananya. Bu Rita ingin tetap nomer satu di kalangan arisan sosialitanya.
"Alya, nanti kamu rayu Ardi juga yah biar nggak protes!” pinta Bu Rita lagi.
“Iya Mah” jawab Alya mengangguk..
Entah kenapa Alya ingin memakai gaun dari Intan. Dan ini kesempatanya.
****
“Pah, Papah kan masih sakit. Papah istirahat saja ya!” ucap Intan melihat Tuan Didik sudah berpakaian rapih.
Intan sendiri sedanh fokua ke karyanya. Anaknya baru saja dia tidurkan.
“Nggak, papah udah sehatan, papah harus ucapin terima kasih ke dokter Alya, Papah harus ke rumahnya” jawab Tuan Didik kekeh.
“Pah, papah tau kan? Alya itu istri Ardi, nggak mudah buat nemuiya begini. Sabarlah, biar Intan besok antar Papah!"
"Terima kasih itu jangan ditunda-tunda Intan. Papah harus ketemu!"
"Pah. Tapi memang papah nggak malu berkunjung ke Gunawijaya nggak bawa apa- apa? Kalau mau berterimakasih kita juga harus siapin” tegur Intan lagi.
"Ehm iya juga sih"
"Udaj besok Intan antar kita temui Alya dan Ardi bersama" tutur Intan lagi memberi solusi.
“Benar kamu mau ikut? Apa yang akan kita bawa sebagai ungkapan terima kasih?” tanya Tuan Didik omongan Intan benar. Akan malu berkunjung dengan tangan kosong.
“Papah liat gaun yang Intan buat ini? Ini mau aku berikan ke Dokter Alya sebagai hadiah dan kenang-kenanga” tutur Intan dengan bangga menunjukan karyanya.
“Itu kan gaun pernikahan?” tanya Tuan Didik melihat gaun itu dengan seksama.
“Akhir pekan ini mereka akan adakan resepsi pernikahan mereka, semoga Non Alya mau memakainya” jawab Intan lagi.
“Apa mereka belum resepsi? Bukankah Dokter Alya sudah hamil?” tanya Tuan Didik.
"Mereka memang sudah menikah hampir setengah tahunan , Intan juga tidak tahu pastinya, tapi mereka belum resepsi. Kita datang, berterima kasih sekaligus ucapin itu dan kasih hadiah ini ya!” ucap Intan lagi.
“Baiklah, kali ini Papah ikut kamu!” jawab Tuan Didik akhirnya patuh pada anaknya
“Makasih Pah! Ya udah Papah istirahat, titip baby El ya Pah!”
“Ya Nak!”
Meskipun pesan Intan tidak dibalas Alya, dan Intan ditolak oleh Ardi dan Bu Rita. Tapi mengingat permintaan Alya dan kebaikan Alya, Intan nekad tetap membuatkan gaun untuk Alya.
Bahkan Intan melakukan lembur, tadinya gaun itu mau Intan jual atau diajukan sebuah perusahaan sebagai demonstrai kemampuanya.
Intan mengerjakanya pun santai. Bahkan se. lat ditinggalkan.
Tapi sejak tau Alya menolong ayahnya, Intan bersemangat menyelesaikanya dengan dikebut. Berharap sebelum resepsi sudah jadi.
__ADS_1
Entah kenapa Intan ingin sekali memberikan kenang- kenangan untuk Alya. Dan entah kenapa tiba- tiba Intan sangat sayang Alya.
Bahkan Intan mau memberikan gaun itu gratis. Intan membuat gaun berwarna putih, dengan bawahan melebar dua lapis. Tidak terlalu berlebihan tapi elegan. Pas sesuai dengan selera Alya.