
Di siang hari menjelang sore itu. Di taman belakang rumah Tuan Aryo. Dua insan yang dulu berteman saling pandang dengan nafas yang menderu.
Ardi menggandeng istrinya masuk ke rumah. Sengaja membiarkan dua insan itu menyelesaikan masalahnya.
Ardi memilih menikmati waktu berharga bersama istri tercintanya. Membayar rindu yang dia simpan selama bekerja.
"Mas, kok Dokter Gery bisa bareng Mas sih?" tanya Alya sambil membantu membuka pakaian kerja Ardi.
Ardi berdiri menatap istrinya dengan tatapan sayang dan dewasa.
"Ada masalah yang harus diselesaikan sayang, abis ini Mas pergi lagi ya"
"Huh? Pergi lagi?" tanya Alya mendengus, padahal setelah lelah bekerja Alya ingin bermanja-manja dengan waktu yang lama.
"Iya. Maafin Mas, kan ada Mira, ada Fitri, ada Ida, Mamah juga nanti pulang"
"Hummm tapi kan beda"
"Kamu sekarang manja ya?"
"Nggak boleh ya?"
"Boleh, Mas suka kok kalau kamu manja. Tapi kali ini mengertilah. Mas bosa menunggu. Doakan masalah mas cepat selesai ya! Kamu baik-baik di rumah, ingat pesan Mas, jangan keluar rumah tanpa ijin Mas dan harus bareng Fitri!"
"Iya. Lian selalu do'ain suami Lian di setiap saat. Emang mas mau kemana?"
"Mau nemuin tukang rental mobil yang di sewa pembunuh Jack"
"Oh masih tentang Jack?"
"Iya. Besok pagi sidang kasus Riko dan Lila tentang pencemaran nama baik itu. Mas berharap cepat tertangani, pusing berurusan dengan mereka"
"Semoga Riko berhasil dan menang ya Mas"
"Iya. Harus! Kalau minggu ini urusan belum selesai terpaksa Mas minta tolong ke Papa"
"Ke Papa?"
"Huum, Gunawijaya kan juga punya tim sendiri yang tidak kalah handal dari polisi"
"Benarkah?"
"Kamu ingat waktu kamu kabur?"
"Kenapa diingetin sih! Jangan diinget-inget, Lian malu"
"Bukan itu maksud mas. Maksudnya yang jemput kamu, itu orang-orang papah, mereka detektif handal yang dipercaya Papah, itu hanya sebagian kecilnya"
"Kenapa nggak dari awal mereka aja yang bekerja Mas? Biar cepet selesai, Lian takut Mas"
"Kan mas pernah bilang sayang, Mas nggak mau dianggap anak Papah yang nggak bisa selesein masalah. Mas akan tunjukan ke Papah, Mas bisa selesein masalah Mas. Makanya ini Mas pergi sendiri, kalau mentok baru ke Papah. Lagian polisi udah tau duluan"
"Yaya, tapi kenapa pas Lian, mas suruh mereka?"
"Karena kamu hidupku, kamu duniaku. Mas nggak bisa tanpa kamu, mas nggak bisa berfikir kalau kamu pergi. Makanya tetaplah di sisi mas. Dengarkan apa yang mas katakan, mengerti"
"Emmpt, iya Lian mengerti" jawab Alya mengangguk dengan manis.
"Mas peluk bentar ya"
"Ememmpt" jawab Alya merentangkan tangan menyambut dekapan hangat suaminya.
Seperti biasa, sepulang kerja sebelum melakukan apapun. Ardi melepaskan semua lelahnya dan mengisi baterainya dengan memeluk istrinya. Semacam ritual wajib bagi pasangan itu.
Alya seperti gudang energi bagi Ardi, tempat dimana dia bisa menguraikan benang kusut dikepalanya menjadi tatanan jahitan rapih. Tempat dia bisa mendinginkan kepalanya yang seakan mendidih.
Meski masih lengket dan bau keringat, Alya sendiri sangat menyukai aroma tubuh suaminya itu. Meski hanya beberapa detik, memeluk suaminya begitu berarti juga buat Alya.
__ADS_1
"Cup-cup" Ardi menciumi kening Alya dengan gemas.
Alya mendongakan kepala dengan senyum manjanya sebagai balasan.
Setelah hormon dopamin mereka saling tersalur. Alya melepaskan pelukanya membiarkan suaminya membersihkan diri. Kemudian Alya menyiapkan pakaian ganti. Sambil menunggu, Alya menyiapkan teh hangat dan camilan.
****
Di dekat kolam pribadi keluarga gunawijaya yang tampak jernih dan bersih. Di kelilingi dedauanan berwarna warni dari koleksi tanaman mahal Bu Rita. Ditambah sentuhan ornamen keramik yang tertata rapi. Menjadi tempat romantis dan indah untuk bercengkerama.
Dua insan yang saling menahan perasaanya saling bertatapan. Tidak ada orang lain, sehingga mereka saling canggung.
"Hai Mir" sapa Gery harap-harap cemas dan ragu.
Beberapa jam yang lalu, Mira mendorong Gery dengan kasar dan meninggalkanya begitu saja dengan jawaban ngambang.
"Ehm" Mira hanya berdehem menundukan kepala, memegang kedua tanganya, mengalihkan segala rasa canggungnya agar tidak terlihat memalukan.
Entah kenapa, mengingat pernyataan Gery tadi pagi membuat Mira gugup. Mira tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri agar tetap tenang.
"Udah lama?" tanya Gery lagi membuka percakapan berusaha mencairkan ketegangan.
"Lumayan"
"Sering ke sini?"
"Nggak baru pertama, tadi Alya ngajak main"
"Oh" Gery mengangguk. "Ehm" Gery berdehem kemudian ikut duduk di gazebo di samping Mira.
"Ya Tuhan, kenapa aku menjadi terlihat seperti orang bodoh begini.
Jantung, hati, paruku, hormonku tolong berkoordinasilah dengan baik.
Dia hanya Gery, bukan hakim yang akan menyidangku. Huuuft"
Gery menghela nafasnya pelan, kemudian menatap Mira dalam. Ada rasa kekhawatiran dan penyesalan yang menyatu jadi satu di hatinya.
Waktunya tersisa 1 hari lagi untuk membuktikan. Setelah itu Mira diikat orang lain, meski belum menikah, tapi dalam agamanya meminang perempuan yang sudah dipinang dilarang. Jadi Gery harus berjuang, Gerylah yang seharusnya mengikatnya.
"Kenapa tadi pagi pergi?" tanya Gery menoleh ke Mira.
"Gue banyak kerjaan"
"Oh, apa kamu percaya ucapanku?"
"Ehm" Mira berdehem lagi melawan debaran jantungnya yang degupanya semakin kencang.
Meski sudah berusia matang, tetap saja mendapatkan pernyataan cinta dari pujaan hatinya membuatnya merasa berdebar-debar.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, batalkan pertunanganmu"
Kata-kata itu selalu muncul di benak Mira. Kata-kata yang ditunggunya bertahun-tahun. Kata-kata yang selalu Mira perjuangkan.
Gery menatap Mira lagi, wajah Mira terlihat sangat canggung. Gery yakin, Mira di hadapanya itu masih sama dengan Mira yang dulu. Dan Gery menyukai itu.
"Bisakah kau percaya padaku?" ucap Gery lagi.
"Percaya apa?" tanya Mira.
Gery kemudian menatap Mira, menggeser tubuhnya mendekat ke Mira. Mereka kini berhadapan sangat dekat.
"Apa aku harus mengatakanya lagi? Bukankah tadi pagi sudah cukup jelas aku katakan?"
Mira menelan ludahnya, memundurkan duduknya menghindari tatapan Gery. Tapi Mira mentok ke tiang gazebo.
"Perkataanmu yang mana?" tanya Mira gugup.
__ADS_1
"Batalkan pertunanganmu, kembalilah menjadi penguntitku, menikahlah denganku" tutur Gery lagi dengan penuh kesungguhan.
Mira semakin gelagapan. Sebenaranya hatinya sangat senang, antara percaya dan tidak apakah ini mimpi atau hanya halusinasi.
"Aku mencintaimu Mir. Menikahlah denganku" ucap Gery lagi.
Dengan spontan air mata Mira menetes mengaliri pipi putihnya. Mira gelagapan tidak bisa menjawab. Mira berusaha mengelap air matanya.
Belum selesai tangan Mira bergerak, Gery meraih tangan Mira, dan menggantikan dengan tanganya menyeka air mata Mira. Gery membelai lembut pipi Mira dan membuang tetesan air bening itu.
"Maafkan aku membuatmu menunggu terlalu lama, aku belum terlambat kan? Masih ada waktu untukku kan?" tanya Gery lagi.
Mira semakin tidak kuasa menahan air matanya keluar lagi, bahkan lebih deras.
Mira bahagia, ini mimpinya, ini impianya, tapi kenapa di waktu seperti sekarang. Apa ayah dan ibunya akan merestuinya, atau justru akan membuat mereka murka.
"Apa ucapanmu bisa kupercaya?" tanya Mira pelan.
"Tentu saja"
"Bagaimana caranya aku bisa percaya apa yang kamu katakan?"
"Genggam tanganku Mir, beri aku kekuatan. Aku akan buktikan siapa Tito ke keluargamu, dia tidak pantas buatmu"
Gery menatap Mira dalam dan menuturkan dengan lembut. Tanganya meraih tangan Mira.
"Percayalah, tidak ada yang mengerti kamu selain aku, aku akan buktikan itu"
"Apa ini artinya kamu sedang berjuang untukku?"
"Tentu saja"
"Aku tidak mau jadi penguntitmu lagi"
"Kenapa? Apa kamu bosan menjadi penguntitku?"
"Bukan"
"Aku mengerti, maafkan aku Mir. Aku salah mengacuhkanmu, ijinkan aku, biar sekarang aku yang menguntitmu"
"Aku tidak mau!"
"Terus apa? Jadi benar kamu menolakku? Apa sungguh sudah tidak ada lagi perasaanmu untukku? Bukankah kamu menginginkanku? Aku minta maaf, berikan kesempatan untuk menebusnya"
"Aku tidak ingin jadi penguntitmu, tapi aku ingin menjadi ratumu, aku ingin kamu hanya untuk aku, menjadi miliku, seterusnya" jawab Mira lepas dan spontan.
Senyum Gery langsung merekah, rasanya seperti diguyur hujan saat kemarau panjang. Jika punya sayap mungkin Gery akan langsung terbang dan melayang.
Gery menggenggam tangan Mira, menariknya dan memeluknya erat.
Gazebo taman rumah Ardi itu menjadi saksi pengakuan cinta mereka. Angin semilir, dedaunan indah dan ikan-ikan koi koleksi tuan Aryo, seakan ikut bernyanyi dan menari bahagia.
"Kenapa tidak dijawab?" bisik Mira di telinga Gery.
Gery melepaskan pelukanya. Gery menggenggam tangan Mira erat dan menatapnya. Mira membiarkan Gery menggenggamnya dan balik menatap menunggu jawaban Gery.
"Tentu saja, aku milikmu, hatiku cintaku, semuanya. Teruslah di sampingku, jangan pernah berfikir untuk pergi dan berpaling lagi. Kita akan menikah, kita akan bahagia, kita akan terus bersama sampai ujung usia kita"
"Aku janji nggak akan berpaling lagi, tapi bagaimana dengan Tito dan orang tuaku"
"Malam ini secepatnya, akan aku tunjukan siapa Tito ke kedua orang tuamu. Percayalah"
"Emempt"
"Sabar ya"
"Iya, aku tunggu"
__ADS_1