Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
44. Atap Gedung


__ADS_3

Sebagai perempuan dewasa yang dianugerahi wajah imut dan cantik. Ini bukan yang pertama, Alya mendapatkan pesan bahwa ada orang yang hendak meminangnya. Tapi Alya tidak habis fikir, dalam waktu secepat ini, Alya harus berurusan dengan masalah laki-laki, kemarin baru selesai Gery dan sekarang Farid.


"Alya..." panggil Bu Rita melihat Alya diam menunduk.


"Iya Mah".


"Farid meminta tolong ke mamah untuk menanyakanya ke kamu, bagaimana perasaanmu?" tanya bu Rita dengan berat. Karena Bu Rita harus meminangkan Alya untuk orang lain, padahal sebenarnya Bu Rita ingin meminang Alya untuk anaknya sendiri.


"Kak Farid laki-laki yang baik, dia sangat sopan dan menghargai Alya. Kak Farid juga sholeh dan penyayang. Alya kagum sama kak Farid" jawab Alya tenang.


"Alya memuji Farid" gumam Bu Rita langsung lemas, bibirnya tercekat tidak membantah perkataan Alya. Bu Rita lebih memilih pasrah mendengarkan apa yang Alya pilih.


"Sudah jarang menemui laki-laki sebaik kak Farid Mah, akan sangat beruntung perempuan yang menjadi istrinya" lanjut Alya. Bu Ritapun semakin lemas.


"Tapi, Alya tidak habis fikir kenapa Kak Farid mengatakan itu ke Mamah, padahal kan Alya baru ketemu Mah?" tanya Alya membuat sedikit harapan pada Bu Rita.


"Mamah tidak tau pastinya Nak. Nanti kamu bisa tanya sendiri, Farid cuma bilang , dia yakin kamu perempuan yang baik dan dia inginkan kamu untuk jadi istrinya"


Alya menarik nafas pelan mendengarkan Bu Rita. Bu Ritapun memandang Alya dengan harap-harap cemas.


Apa Alya akan menerima Farid? Atau masih ada harapan untuk Ardi? Bahkan Bu Rita sendiri mengakui, secara kualitas Farid memang lebih baik dari Ardi. Farid lebih sopan, penyayang, dewasa dan alim. Sementara Ardi, keras kepala, kekanakan, pemarah dan pasti tidak alim.


"Alya belum siap menikah Mah" jawab Alya lirih.


Mata bu Rita langsung berbinar, ada kelegaan di hatinya, setidaknya masih ada kesempatan Bu Rita merayu Ardi untuk berkenalan dengan Alya.


"Kenapa Nak? Apa itu artinya kamu menolak Farid?" tanya Bu Rita memastikan.


"Alya ingin tinggal di Jogja Mah, Alya ke Jakarta cuma pengen menyelesaikan magang. Alya tidak ingin yang lain. Alya juga belum ingin menikah, Alya pengen jadi dokter di Puskesmas, punya klinik di desa. Bantu orang- orang di desa" jawab Alya panjang kali lebar.


Mendengar cita-cita Alya yang banyak, Bu Rita yang tadi sempat semangat kembali lemas. "Apa itu berarti Alya juga akan menolak Ardi? Jika menikah dengan Ardi Alya kan tidak mungkin di Jogja. Aku juga ingin Ardi segera menikah dan punya anak sementara cita-cita Alya masih banyak sekali" gumam Bu Rita menyimpulkan sendiri.


Bu Rita memaksakan senyum menanggapi Alya.


"Apa kamu benar- benar tidak ingin tinggal di Jakarta?" Bu Rita mencoba mematahkan perkiraanya.


"Alya pengen balik ke Jogja Mah"


"Apa ini berarti kamu benar- benar tidak mau menikah dengan orang Jakarta?" tanya Bu Rita lagi.


"Alya sih nggak tau tentang takdir, tapi untuk saat ini nggak Mah, belum ada kepikiran tentang menikah. Alya belum bahagiain Ibu" jawab Alya lagi.


Bu Rita menelan salivanya, keinginan segera menjodohkan Alya dan Ardi harus dibuang jauh- jauh seperti kaya Tuan Aryo. Pertama Ardi menolak, kedua ternyata Alya ingin tinggal di Jogja, dan belum ingin menikah.


"Ya sudah, Mama doakan yang terbaik untukmu, Nak. nanti kamu jelaskan sendiri ke Farid ya?"


"Iya Mah"


"Ya sudah kita siap- siap ke panti ya"


"Iya Mah"


"Nanti kamu jaga malam kan?"


"Iya Mah".

__ADS_1


Setelah membersihkan bekas gelas, mengambil tas dan memoles tipis wajah dengan make up, Alya bergegas mengikuti Bu Rita dan Tuan Aryo ke Panti. Sepanjang perjalanan Bu Rita diam, tidak bertenaga, seperti anak ABG yang patah hati.Bu Rita memikirkan Ardi. Entah bagaimana nasib anaknya, padahal Bu Rita sudah ingin punya cucu.


Sementara Tuan Aryo yang duduk di kursi depan melihat Alya dari spion, Tuan Aryo tampak berfikir, Tuan Aryo teringat laporan anak buahnya, sejauh apa perkenalan dan hubungan Ardi dan Alya. Menurut laporan bahkan 3 kali Ardi bersama Alya. Dan kini Ardi menyetujui proposal kerjasama dengan Tuan Wira hanya karena proyek mereka dekat dengan apartemen.


Karena tidak mengobrol Alya dan Bu Rita tertidur di mobil. Sehingga perjalanan yang macet tidak berasa. Pak Rudi dan Tuan Aryo membangunkan Alya dan Bu Rita setelah mereka sampai di depan asrama panti.


"Sayang, bangun, udah sampai" Tuan Aryo membangunkan Bu Rita.


Mereka bertiga turun dari mobil, segera bergegas menuju kamar Vivi. Anak- anak panti menyambut rombongan Bu Rita dengan bahagia.


"Kak Alya...." Vivi langsung berlari menghambur ke pelukan Alya.


"Sayangkuu, apa kamu baik- baik saja?" tanya Alya. Vivi mengangguk bahagia.


"Vivi kangen kak Alya, Vivi takut nggak bisa ketemu Kak Alya lagi"


"Mmm nggak boleh gitu, Kak Alya kan udah bilang , Kak Alya punya kerjaan di tempat lain jadi sibuk. Tapi kalau libur Kak Alya usahain main"


"Horeee" Vivi dan teman-temanya tersenyum ceria.


Setelah menjenguk Vivi sebentar Tuan Aryo berkeliling panti. Sementara Alya mengobati kerinduan anak-anak panti dengan mendongeng.


Tuan Aryo dan Bu Rita memang tidak begitu dekat dengan anak-anak panti. Meskipun semua orang tau, yayasan dan panti itu milik mereka berdua.


Bu Rita juga tidak lupa mengabari Farid kalau dirinya dan Alya berada di panti. Selesai mengisi kelas di kampus Farid langsung otewe ke panti.


"Siang Tante, Om?" sapa Farid melihat Tuan Aryo dan Bu Rita sedang berdiri mengecek pembuatan kolam ikan.


"Siang Farid" jawab Tuan Aryo dan Bu Rita.


"Nggak apa-apa Nak, Om sudah lama tidak berkunjung ke sini, jadi sekalian jalan-jalan" jawab Tuan Aryo.


"Om Aryo nggak ke kantor?" tanya Farid


"Nggak, Om Aryo ingin istirahat, biar gantian Ardi yang ke kantor".


"Ya om" jawab Farid mengerti.


"Tante sudah sampaikan pesanmu, Nak" Bu Rita menyela pembicaraan Farid dan Tuan Aryo.


"Terima kasih Tante" jawab Farid sopan.


"Dia bersama anak-anak, temui dia" perintah Bu Rita.


"Baik Tante"


Farid berpamitan dari Om dan Tantenya. Farid berjalan dengan hati yang dheg-dhegan tapi juga bahagia. Bahagia karena bertemu Alya setelah sekian hari tidak bertemu. Dheg-dhegan karena hari ini akan ada jawaban dari pernyataan cintanya. Ditolak atau diterima?


"Assalamu'alaikum" Farid mengucapkan salam ke anak-anak sambil membuka pintu.


"Ssssttt! Jangan keras-keras, mereka baru saja tidur" jawab Alya lirih , sambil berdiri. "Wa'alaikumsalam" lanjut Alya tersenyum. Membuat hati Farid meleleh tidak karuan.


"Ikut aku" Bisik Farid.


Alya mengangguk setuju. Mereka berdua keluar dari kamar Asrama, Alya mengikuti langkah Farid.

__ADS_1


"Kemana Kak?" tanya Alya.


"Ikut aja nanti kamu suka" jawab Farid menaiki tangga.


Farid mengajak Alya naik ke atap asrama.


"Subhanalloh, indah banget Kak?" ucap Alya ketika melihat sisi belakang asrama hamparan pohon dan sawah, sisi depan asrama gedung-gedung tinggi kota. Di atas gedung angin bertiup kencang. Sejuk sekali.


"Kamu suka?" tanya Farid menatap ke Alya.


"Iya aku suka, dari kapan Kak Farid tau tempat indah ini?" tanya Alya.


"Dari sejak Tante Rita ajak Kak Farid bergabung di sini"


"Ooh" Alya mengangguk.


Tiba-tiba Farid mendekat ke Alya lalu tangan Farid memberanikan diri meraih tangan Alya. Farid menggenggam tangan erat tangan Alya.


Merasa tanganya digenggam Alya kaget, Alya menoleh ke Farid. Ada sedikit rasa suka, ada rasa dheg-dhegan, sesaat Alya membiarkan dan menikmatinya. Tapi kemudian suasananya menjadi canggung. Alya berusaha melepas genggaman tangan Farid. Alya tidak terbiasa disentuh laki-laki, meski ingin digenggam lebih lama, akal sadar Alya tau, itu sesuatu yang salah.


"Maaf Kak" ucap Alya melepaskan tangan.


Farid menelan salivanya, merasakan tanda-tanda penolakan.


"Apa Tante Rita sudah sampaikan padamu?" tanya Farid.


Alya mengangguk, menundukan kepalanya.


"Menikahlah denganku Alya!" ucap Farid tiba- tiba.


"Kenapa terlalu cepat Kak?" tanya Alya sedikit kecewa, karena sebenarnya di hati Alya terbersit rasa kekaguman ke Farid.


"Orang tuaku menyuruhku menikah, secepatnya"


"Maafin Alya Kak" ucap Alya lirih membuat dada Farid panas terbakar.


"Kenapa?" tanya Farid terbata.


"Alya belum siap menikah, secepat ini!"


"Apa ini artinya kamu menolakku?"


"Alya baru mengenal Kak Farid, Alya juga baru tinggal di sini, Alya juga harus menyelesaikan program profesi Alya"


"Bukankah kamu sudah bekerja, dan usiamu juga sudah siap menikah?"


"Aku masih ingin lanjut sekolah, Alya ingin tinggal dan bekerja di Jogja" jawab Alya tegas.


Farid menelan salivanya lagi, menahan sakit yang menghunjam dadanya. Farid menunduk.


"Apa tidak ada harapan untukku mendapatkanmu?" tanya Farid.


"Jodoh itu di Tangan Tuhan Kak. Tidak ada yang tidak mungkin, tapi kalau untuk saat ini aku mohon maaf. Aku tidak bisa?"


"Apa tidak ada sedikitpun, perasaanmu untukku?"

__ADS_1


"Kaak, kita kenal bahkan belum ada 1 bulan. Aku memang mengagumimu, tapi aku menganggap Kak Farid Kakakku. Perasaanku baru sampai sebatas itu" jawab Alya


__ADS_2