
Kali ini Ardi pergi dengan mobil pajeronya, sehingga Faisal duduk manis di samping Ardi tanpa banyak bertingkah. Hanya saja jantung Faisal dag dig dug tidak karuan.
Kejutan apalagi yang akan diberikan Tuanya itu, sampai dia diajak sarapan bersama keluarga Gunawijaya. Dan sekarang satu mobil dengan Tuan Ardi Gunawijaya, pangeran tampan yang sifatnya tidak bisa ditebak. Dari lur terlihat sombong dan dingin, tapi juga ternyata baik, dan kadang juga seperti anak kecil.
“Adikmu kuliah jurusan apa?” tanya Ardi tiba- tiba mengurai ketegangan.
“Akutansi Tuan” jawab Faisal sopan.
“Sudah semester berapa?” tanya Ardi lagi.
“7 tuan”
“Namanya siapa?”
“Irma Kemala”
“Oh” jawab Ardi mengangguk.
Entah untuk apa tiba- tiba Ardi menanyakan adik Faisal. Raut wajah Ardi datar tidak bisa ditebak.
Tidak begitu lama mereka sampai ke sebuah gedung yang tidak asing buat mereka. Mereka sering melewati gedung itu meski tidak berminat mampir apalagi mengunjungi tempat itu.
Tempat besar di bangun dengan halaman yang indah oleh pemerintah. Tapi di dalamnya menjadi tempay kutukan untuk semua orang kecuali pegawainya.
Di depan gedung itu ada papan nama besar di bangunan tembok khusus, berisikan tulisan tahanan negara. Dan saat itu juga Faisal langsung gelagapan.
Kenapa Tuanya mengajak ke tempat terkutuk itu? Yang bahkan pengemis tidak berminat masuk ke dalamnya.
“Maaf Tuan kenapa kita ke sini?” tanya Faisal.
“Lhoh tujuan kita memang ke sini” jawab Ardi bersikap santai.
“Tapi untuk apa?” tanya Faisal mulai panik.
“Memang polisi belum mengabarimu” tanya Ardi balik berpura- pura.
Padahal Ardi yang meminta polisi agar jangan memberitahu Faisal, kalau orang yang membuat Mang Adi sakit sudah ketemu. Dan Ardi sendiri yang berkata pada polisi akan membawa Faisal.
“Belum Tuan” jawab Faisal dengan muka mulai pucat. Memikirkan jangan- jangan Faisal harus berurusan dengan polisi.
“Oh, aku juga penasaran, nanti kita lihat bersama ya? Kenapa polisi ngundang kita kesini. Aku kira kamu juga sudah tau soalnya kan kamu pelapornya” ucap Ardi masih bersandiwara.
“Maksud Tuan? Pelaku itu sudah ditangkap?”
“Iya, yang celakain bapakmu” jawab Ardi tegas.
“Oh itu, syukurlaah” jawab Faisal lega dan tersenyu.
__ADS_1
Lalu Ardi baas tersenyum, setelah mendapatkan tempat parkir yang nyaman, mereka turun. Faisal kemudian ikut percaya diri melangkah mengekori Ardi, apalagi saat beberapa petugas tampak hormat dan menyambut rombongan Ardi.
Beberapa pengawal yang tadi pagi menyerahkan Mia dan Ciko juga masih di tempat dan menyambut Ardi dengan hormat. Lalu beberapa polisi menghampiri Ardi dan mengarahkan Ardi untuk masuk menemui seseorang.
“Silahkan duduk Tuan” tutur polisi mempersilahkan Ardi dan Faisal duduk.
Lalu Faisal dan Ardi duduk di bangku penjenguk. Faisal semakin dheg-dhega dan kikuk. Faisal sudah bersiap sok-sokan merangkao kaya sebagai ungkapan marah karena bapaknya hampir mati.
Dari arah dalam polisi datang membawa seorang perempuan dengan baju orange. Wajahnya tampak sangat pucat, tatapanya sayu, matanya cekung dan dengan rambut pendek acak- acakan.
Ardi dan Faisal menoleh ke arah mereka. Faisal langsung membulatkan matanya, seperti ada yang mengikat kerongkonganya sehingga terasa sesak dan tidak bisa berkata apa- apa.
Benarkah yang dia lihat? Faisal merasa mengenali perempuan itu. Meski tampak berbeda, tapi Faisal paham siapa dia.
Ardi sendiri tidak mau lama- lama menatapnya. Dalam sekejap Ardi memalingkan wajah menghindari melihat Mia. Entah kenapa rasa kesal, benci dan dendam hilang, tapi Ardi melihat kasian ke Mia.
Untung Alya ataupun Bu Rita yang hatinya selembut sutra tidak ikut, jadi tidak ada drama. Dalam semalam Mia dikurung, penampilanya langsung jauh berbeda. Padahal Mia baru masuk penjara beberapa menit lalu, tapi seperti sudah bertahun- tahun.
“Mia!” batin Faisal langsung lemas.
Mia sendiri seperti mayat hidup tanpa ekspresi. Tapi airmatannya menetes saat melihat Faisal dan Ardi.
“Waktu kalian 30 menit dihitung dari sekarang” tutur petugas yang mengantar Mia.
Kini Faisal dan Mia duduk berhadapan, Ardi yang tadi menemani Faisal memilih pergi.
Suasana hening, tanpa kata, bahkan Faisal menundukan mukanya tidak berani menghadapi kenyataan di depanya. Gadis manis yang berbulan- bulan menjadi penyemangatnya bekerja, mengumpulkan pundi- pundi rupiah untuk meronce masa depan yang indah, kini berubah menjadi gadis yang menyeramkan.
Bahkan meski saat ini mereka berhadapan tanpa sekat, seakan mereka berada di tempat yang jauh tak terbatas, sulit dijangkau. Bahkan keduanya merasa sama- ama tak bisa menggapainya.
Cinta Faisal diuji. Apa iya Faisal akan tetap cinta pada Mia. Kenapa kenyataan ini begitu jahat dan kejam. Bahkan Faisal mengumpati orang yang membuat bapaknya sakit dan ternyata pacarnya sendiri.
Lama mereka termenung, berkomunikasi tanpa bahasa. Diam mereka justru sebagai tanda bahwa terlalu banyak kalimat yang mereka rangkai, tapi karena terlalu banyak justru semua terurai, terbang dan cukup diwakili dengan diam dan air mata.
Menjelaskan betapa mereka saling tersakiti, betapa mereka saling berharap satu sama lain, menjelaskan betapa mereka saling mencintai, tapi di saat yang sama mereka menyerah dengan kenyataan yang mereka perbuat.
“Kenapa kamu melakukan ini Ai?” tanya Faisal dengan bahasa Sayangnya, yang itu artinya, Mia tetap seseorang yang Faisal cinta.
“Ai cinta Abang, Ai nglakuin ini demi Abang!” jawab Mia dengan deraian air mata.
Mia melakukan itu semua sebagai bukti cinta terbesarnya untuk Faisal. Sebuah perjuangan yang Mia pikir sebuah pengorbanan untuk cinta.
Karena saat pertama kalinya Mia mulai menguping dan menghianati Alya. Mia sudah berperang melawan nuraninya sendiri, dan itu adalah hal terberat yang Mia hadapi.
Mia sadar betul bagaimana Alya, jangankan membunuh, berkata kasar pada Alya pun Mia akan sangat berdosa. Bahkan Mia yang pertama kali menebak dan mendukung Alya untuk menjadi Nyonya di rumah itu. Mia juga menganggap Alya lebih dari Tuanya, melainkan seperti bidadari yang selalu membawa tawa dan kehangatan.
Tapi demi cinta, demi bisa menikah, Mia buta. Pertemuan yang tidak Mia inginkan terjadi. Saat Mia hendak ke pasar, dan hampir dijambret, ternyata yang mau ngejambret bapaknya sendiri.
__ADS_1
Mia juga benci ayah dan kakaknya. Bahkan Mia mau melupakan mereka. Tapi sudah menjadi suratan takdirnya. Sejak saat itu, Mia menjadi kembali dengan identitasnya, seorang anak preman. Mia tidak bisa menyangkal dan merubahnya mereka keluarga Mia.
“Demi Abang, Ai kamu bilang?” tanya Faisal dengan mata membulat sempurna.
Bagaimana bisa demi Faisal. Sekasar- kasarnya Faisal, Faisal tidak pernah berfikir untuk membunuh tuanya dengan racun.
Bahkan Faisal menasehati Mia untuk keluar dari rumah itu dengan cara baik-baik. Malah Mia sendiri yang menolak dan beralasan keluar, sehingga Faisal kesal dan bersuudzon dengan keluarga Gunawijaya.
“Bapak babak belur dan masuk penjara karena Tuan Ardi” tutur Mia mulai bercerita.
“Maksudmu? Ai?”
“Bapak Mia preman Aa, bapak Mia residivis, Bapak Mia pembunuh bayaran dan terlibat dalam pengedaran narkoba. Dan semua itu terbongkar karena Tuan Ardi” ucap Mia akhirnya membuka bangkai yang lama dia sembunyikan.
Faisal langsung terkulai lemas, tidak bisa menjawab atas apa yang diungkapkan Mia. Mia hanya bilang selama belasan tahun diasuh di keluarga Gunawijaya. Dia punya orang tua kandung yang baru ditemui.
“Maafkan Ai tidak jujur ke Abang, saat Mia ijin nikah dan meminta bapak Mia buat jadi wali, bapak Mau A’, tapi malam itu bapak digrebek oleh Gunawijaya dan Bapak ketangkep. Bapak nggak bisa jadi wali Ai, karena pasti hukuman bapak lama. Ai minta tolong ke kak Ciko. Kakak mau nikahin Mia, tapi, tapi, hiks”
Mia terbata dan menangis lagi saat hendak melanjutkan ceritanya.
“Tapi apa?” tanya Faisal ingin tau.
“Mia harus bunuh Non Alya, anaknya dan Den Ardi” tutur Mia lagi sambil menangis menyesali betapa jahat dirinya dan keluarganya.
Mendengar penuturan Mia, hati Faisal hancur, seperti dihunjam dengan bebatuan gunung berapi. Cinta Mia yang begitu besar untuknya, perjuangan mereka untuk bersama seharga nyawa dan akal sehatnya.
Sungguh sayang, kenapa Mia harus sebodoh itu.
“Kenapa kamu lakukan itu, kenapa kamu tidak katakan itu padaku Ai?” tanya Faisal lalu mengulurkan tanganya menggenggam tangan Mia.
“Maafkan Mia, Abang, Maafkan Mia, Mia sayang Abang, Mia cinta Abang” ucap Mia lagi dengan menangis tersedu- sedu.
Di saat yang bersamaan Ardi dan petugas tahanan datang.
“Waktu kalian habis” ucap sipir memberitahu dan mengajak Mia ikut.
Lalu dengan terpaksa Mia harus ikut petugas untuk kembali masuk ke tahanan.
Mia berjalan sambil terus menoleh ke Faisal, dan Faisal menatap Mia sampai menghilang dengan perasaab kacau dan tidak bisa dijeaskan.
Ardi kemudian datang menepuk bahu Faisal, pelan.
Faisal menunduk tidak tau mau berkata apa pada Ardi. Mau marah sangat tidak pantas, mau minta maaf tapi tidak tahu dengan perkataan yang bagaiamana. Mau minta tolong bebasin Mia itu sangat memalukan.
“Kita ikuti proses sidangnya, semoga Mia bisa mendapatkan keringanan hukum. Kan kamu sendiri yang melapor kan? Jadi terserah kamu” tutur Ardi mengatakan sesuatu di luar dugaan Faisal.
Memang benar, di sini sebagai korban adalah ayah Faisal. Dan Faisal yang lapor. Meski bukti- bukti Ardi yang serahkan, tapi Faisal yang menentukan.
__ADS_1
Faisal tertegun, pernyataan Ardi sungguh tidak bisa dimengerti dengan akal sehat Faisal. Tapi itu justru membuat Faisal malu. Kenapa Tuan Ardi yang dihianati dan diincar nyawanya, malah Ardi berkata begitu.