Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
181. Kalah


__ADS_3

"Tap"


Lampu yang menggatung di atas gedung usang itu menyala. Suasana yang tadinya gelap itu menjadi terang. Jika di luar moment itu, seharusnya Ardi dan Gery lebih tenang. Tapi kali ini jantung mereka semakin dheg-dhegan.


"Aiiiissshh ****" dengus Gery merutuki kecerobohanya.


Ardi yang sudah lebih dulu beranjak dan berlindung di balik pintu hanya menepuk jidat. Menaikan alisnya memberi kode ke Gery agar Berlindung. Gery paham dan mendekat ke Ardi.


"Perasaan udah dimatikan. Kok Nyala?" ucap salah satu anak buah Tito.


"Iya, perasaan udah gue matiin, konslet kali" jawab satu temannya.


"Coba cek!"


Anak buah Tito kemudian masuk ke ruang tengah di dekat tempat produksi ke tempat Ardi dan Gery bersembunyi.


Mendengar langkah anak buah Tito, Ardi melangsingkan tubuhnya. Berlindung di balik pintu. Begitu juga Gery.


Anak buah Tito berjalan santai mengecek saklar lampu. Lalu melihat sekeliling.


"Normal kok!"


"Apa ada hantu?"


"Ah kucing kali"


"Lagian saklarnya di bawah gini"


"Ya udah yuk, balik"


"Matikan atau nyalakan"


"Biar nyala aja, takut gue"


"Oke"


Kemudian anak buah Tito meninggalkan lorong itu dan kembali duduk di depan pintu berjaga.


"Haaaaahh" Ardi dan Gery membuang nafas lega.


"Hampir saja"


"Kita balik atau lanjut?" bisik Gery.


"Kita belum nemuin Tito, lanjut!" jawab Ardi.


"Oke" jawab Gery memberi kode.


Gery mengendap lagi mendekati ruangan di depanya.


Sementara Ardi merambat menyusuri dinding. Berjalan sambil melihat-lihat, dimana markas bos mereka. Kenapa ada mobilnya tapi tidak ada orangnya.


Saat Ardi melangkah, Ardi menginjak lantainya sedikit rapuh dan ada retakan seperti ubinya tidak terpasang sempurna.


"Krepek"


Mata Ardi dan Gery melotot. Ubin itu berlubang saat Ardi menginjaknya. Ternyata ubin itu adalah akses membuka pintu bawah tanah dari rumah itu.

__ADS_1


Tapi naas, saat Ardi menginjak lantai itu. Ardi terjerembab, Ardi sedikit limbung, kesleo dan hampir jatuh.


"Brug"


Ardi meraih dinding dan menyentuh tongkat kayu yang tergeletak sehingga jatuh dan menimbulkan suara. Saat Ardi hendak membetulkan jalanya, anak buah Tito memergokinya.


"Siapa kalian?" tanya anak buah Tito.


Ardi yang sudah terlanjur ketahuan, berusaha tegak dan santai. Ardi mengambil nafas dan mengambil posisi kuda-kuda. Gery merapat di belakang Ardi.


Rey, Roni dan Andi sedang mengecek ruangan lain mencari keberadaan Tito.


Mereka berempat saling bertatapan dengan saling menantang. Karena Ardi tidak menjawab pertanyaan, anak buah Tito maju menyerang Ardi dengan tonjokan.


Meski sudah lama tidak berkelahi, untungnya Ardi dan Gery sering berolahraga jadi pukulan mereka masih bisa diperhitungkan rasanya.


Dalam duel satu banding satu itu, Ardi dan Gery unggul. Ardi memang sempat kecurian pukulan di salah satu rahang pipinya. Tapi itu tidak berarti, hanya sedikit ngilu dan memar, masih tetap tampan dan kuat.


Sementara Gery kecurian dua pukulan, sehingga sudut bibirnya mengeluarkan darah. Gery mulai merasakan perih, tapi itu tidak seberapa, daripada perih membayangkan kehidupan pahit Mira bersanding dengan penjahat.


Sementara lawan mereka sudah babak belur tergeletak di lantai. Rupanya dua laki-laki tampan itu bisa diperhitungkan skill beladirinya.


Tapi, dari arah dalam 5 orang karyawan Tito yang tadi sibuk membungkus ladang uang bagi Tito, kini mendekat. Mereka hendak membantu dua temanya yang ambruk. Kini Ardi dan Gery di keroyok 7 orang.


Meski nyalinya sedikit menciut. Tapi Gery dan Ardi mengumpulkan keberanianya lagi. Mereka berdua mengambil ancang-ancang. Mengumpulkan tenaga meladeni 5 orang antek Tito yang masih fresh.


Karena sudah lelah bertarung pada babak pertama, tenanga Ardi dan Gery sedikit berkurang. Beberapa kali mereka berdua kecurian pukulan. Bahkan mereka berdua sedikit kewalahan, tapi belum tumbang.


Mendengar keributan, Rey, Roni dan Andik mendekat, dan bergabung. Di dalam rumah itu kemudian tejadi pertarungan sengit. Mereka saling pukul, beradu keahlian dan kekuatan.


Kelompok Ardi unggul. Tapi sayangnya tidak berjalan lama. Lantai yang tadi sempat diinjak Ardi tiba-tiba terpancar cahaya. Lantai itu terbuka, dan antek Tito keluar. Kini lawan Ardi semakin banyak.


Ternyata di ruang bawah tanah itu terlihat ruangan rapih bersih dan mewah.


Kini Ardi dan rombonganya di kepung. Mereka hanya berempat, sementara lawanya ada 15.


"Kita kalah jumlah Bro? Gimana ini?" bisik Gery.


"Sudah terlanjur basah, biar basah sekalian. Fokus saja, siapkan diri kalian pahan Ron" jawab Ardi.


Gery, Roni, Rey dan Andik mengangguk.


"Siapa kalian?" tanya salah satu antek Tito yang terlihat berbadan lebih bersih daripada yang lain. Dia adalah John, sahabat Tito yang dekat dengan Lila.


"Lo nggak perlu tahu siapa gue? Dimana Tito?" jawab Ardi berani dan tetap meninggi meski wajahnya sudah lebam-lebam.


"Ngapain lo cari Tito"


"Gue akan habisi dia, bersiap-siaplah kalian!"


"Cih. Hah! Hahaha" jawab John tertawa mengejek dan meludah. Kemudian John maju dan mendekati Ardi.


"Lo liat diri lo? Lo yang akan tamat malam ini" ucap John.


"Kita lihat saja siapa yang akan tamat. Gue nggak ada urusan sama lo, mana Tito?" jawab Ardi berani dan percaya diri.


Lalu mereka berdua saling bersitegang dengan pundak saling menyentuh. Mata mereka saling beradu dengan tatapan saling membunuh. Tidak ada yang takut.

__ADS_1


Karena geram Ardi menyerang John terlebih dulu. Mereka kembali beradu jotos. Meski sebenarnya Ardi sudah kewalahan. Tapi dia tidak menyerah dan tetap berambisi.


Lama perkelahian itu berlangsung. Karena kalah jumlah Rey dan Roni tumbang. Gery juga sudah babak belur, tapi Ardi dan Andik, masih berdiri tegak.


Sementara anak buah Tito masih banyak. Keringat Ardi mulai bercucuran. Ardi dan Andik dikeroyok. Saat anak buah Tito hendak menyerang dari bawah lubang itu keluar suara.


"Prok-prok" seseorang bertepuk tangan dan berjalan santai.


Laki-laki berbadan tegap, masih dengan kemeja rapihnya keluar. Dia bersedekap tertawa sinis melihat adegan di depanya.


"Hentikan John, dia tamuku jangan bunuh dulu. Aku belum puas bermain-main" ucap Tito mendekat.


Antek-anteknya kemudian mundur menghentikan seranganya, memberi ruang ke Tito. Tito kemudian melangkah maju mendekati Ardi, diikuti John di belakangnya.


Gery yang wajahnya sudah babak belur dan tergeletak mengepalkan tanganya geram. Tenaganya yang sudah hampir habis, seakan datang lagi entah darimana. Orang mereka cari akhirnya keluarnya juga.


"Selamat datang, Tuan Ardi Gunawijaya" ucap Tito setengah mengejek.


"Cih, jadi ini wajah aslimu, baj*ngan, ib**s" jawab Ardi masih menampakan kegagahanya.


"Pantas adiku tergila -gila padamu, kehebatanmu memang tidak diragukan Tuan Ardi, ternyata kamu bisa menemukanku" ucap Tito pelan kemudian menatap Ardi tajam.


"Kamu tidak akan lolos dariku malam ini" ucap Ardi tidak gentar.


Tito tertawa mendengar ucapan Ardi. Tanganya besedekap, kemudian menggaruk pelipisnya berlagak seperti bos. Ya dia memang bos jahat.


"Anda sendiri yang masuk ke kandang singa tanpa permisi Tuan Ardi, jangan salahkan jika singa itu marah" ucap Tito memancing Ardi lagi.


Ardi menggerakan mulut dan lidahnya menatap Tito dengan keberanian dan tidak gentar.


"Gue nggak takut sama kepa*at kaya lo, lo akan habis malam ini"


"Wo hoho. Anda benar-benar bernyali tinggi Tuan Ardi, sayang sekali, berani menginjakan kaki di sini adalah kesalahan terbesarmu"


"Saya tidak akan menyesal, karena saya akan menyaksikan kehancuranmu"


"Hahaha, rupanya kepercayaan dirimu memang sangat tinggi, kalau boleh saya kasih saran, daripasa bicara tidak jelas begitu. katakan pada saya? Apa pesan terakhir anda untuk istri tercinta di rumah? Hahahaha"


"Saya akan kembali ke rumah dengan selamat, jadi anda tidak perlu menyampaikan pesan apapun" jawab Ardi lagi.


"Baiklah, jika memang sudah tidak ada yang ingin anda sampaikan? Katakan selamat tinggal pada dunia Tuan Ardi" jawab Tito masih mengejek.


Kemudian Tito melirik ke Gery. Tito tersenyum sangat menyebalkan memperhatikan Gery.


"Sepertinya kita pernah bertemu Tuan?" ledek Tito ke Gery yang tadi sudah K.O.


Mendapat ledekan dari Tito, emosi Gery membuncah, dengan menahan rasa sakit, Gery berdiri, maju dan ingin meraih kerah Tito.


Tito mengangkat kedua tanganya dan mundur. Anak buah Tito mendorong dan menghalangi Gery menyentuh Tito. Gery jatuh lagi.


"Woho ho, rupanya kalian berdua berteman? Miris sekali, menyedihkan" ucap Tito.


"Baji**an ke**rat, mati kau!" umpat Gery nekat mendorong Tito meski sempoyongan. Tapi Gery langsung di pukul anak buah Tito lagi.


Tito berjalan mendekati Gery yang terkapar.


"Dokter Gery, Dokter Gery. Padahal saya sudah menyiapkan undangan khusus untukmu? Saya ingin anda menyaksikan pernikahan kami. Kenapa bodoh sekali, rasanya menggelikan melihat kalian begini" ucap Tito sambil. menginjak tangan Gery.

__ADS_1


"Aaaaakh" teriak Gery menahan rasa sakit tanganya diinjak.


__ADS_2