
Tidak butuh alasan, entah bagaimana? Malam itu Alya bisa bersikap hangat dan dekat dengan laki-laki. Bahkan tanpa menolak, Alya bersedia makan berdua dengan Ardi. Tidak seperti saat diajak Gery atau laki- laki lain sebelumnya, dimana bayangan Bu Mirna akan selalu muncul di otak Alya saat ada laki- laki mendekatinya.
Alya masih dengan piyama panjang dan jilbab instan bertali. Tidak ada polesan di wajahnya, malah bawahnya matanya tampak membengkak karena pekerjaanya membuat Alya bergadang. Dia berjalan beriringan dengan Ardi. Alya memakai sandal jepit dengan santainya.
Mereka memang tidak bergandengan tangan seperti pasangan kekasih. Tapi dari cara mereka bertingkah, mereka berdua terlihat saling canggung dengan wajah berbinar. Seperti pasangan yang malu- malu jalan berdua untuk pertama kali. Jelas sekali kalau mereka berdua sama-sama dheg-dhegan.
Ardi sangat bahagia menikmati jalan kakinya malam itu. Meskipun itu bukan jalan atau kencan istimewa seperti pasangan lain, ke mall atau ke taman hiburan. Melainkan berjalan ke arah warung tenda di pinggir jalan sebrang rumah sakit, warung tenda lamongan legendaris langanan para perawat dan dokter.
"Ehm" Ardi memulai percakapan dengan memelankan jalanya.
"Boleh tanya nggak?" tanya Ardi melirik ke Alya yang berjalan di sampingnya.
"Tanya apa?"
"Apa pekerjaanmu?" tanya Ardi memastikan, Ardi ingin dengar sendiri dari kalau dia seorang dokter.
"Aku baru selesai kuliah kedokteran mas" jawab Alya jalan menunduk.
"Oh jadi yang dikatakan Pak Yon benar, kamu magang di rumah sakit depan?" tanya Ardi sambil berjalan.
"Mas, tanya-tanya sama Pak Yon?" tanya Alya agak heran.
"Tadi pagi aku kesini"
"Oh, emang Bu Rita nggak kasih tau atau cerita?"
"Sudah kubilang, aku sedang menghindari ibuku"
"Isssshhh, Mas Ardi tuh kaya anak kecil" cibir Alya mengatai laki- laki yang bisa dibilang tua di sampingnya itu.
"Aku lebih baik menghindar daripada harus bertengkar dan tidak bisa menolak keinginanya" jawab Ardi melanjutkan cerita.
"Menurutku sih wajar mas, kalau Tante Rita berusaha nyariin jodoh buat Mas Ardi, Mas Ardi udah nggak muda lagi, apa coba yang ditunggu?" Alya mencoba membela Bu Rita di hadapan Ardi, berharap Ardi bisa berbaikan dengan ibunya.
"Ya , aku juga sadar, aku juga lagi usaha buat bisa menikah" jawab Ardi penuh arti sambil menatap ke Alya. Tapi Alya nggak sadar kalau Ardi jauh-jauh ke apartemen cuma buat liat dia.
"Terus apa masalahnya mas menghindar? Nggak ada salahnya kan Mas Ardi coba kenal sama calon yang diajuin Bu Rita?" jawab Alya lagi tidak maksud dengan tatapan Ardi.
"Masalahnya ibuku ingin menjodohkanku dengan perempuan yang dicintai sahabatku" jawab Ardi yang belum tahu kalau perempuan itu adalah perempuan yang sama dengan partner makan malamnya sekarang.
"Sungguh?" tanya Alya iba sok mengerti perasan Ardi.
"Iya, makanya aku menolak, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau aku menikah dengan orang yang dicintai sabahatku sendiri"
"Yang penting kan perempuan itu hatinya untuk Mas Ardi, nanti lama-lama sahabatnya akan mengerti, sahabat mas Ardi juga akan menemukan jodohnya" jawab Alya sok menasehati. Alya sendiri tidak tahu kalau perempuan yang dibahas itu adalah dirinya sendiri.
"Tetap saja, aku akan menjadi orang jahat, karena sahabatku lebih dulu mengenalnya" jawab Ardi lagi.
Lalu mereka sampai ke warung tenda yang Alya maksud. Aroma harum ayam goreng menghampiri indra penciuman Alya. Alya yang seharian tidur langsung terbayang nasi hangat, lalapan dan sambel bawang. Air liurnya terproduksi dengan sangat baik memenuhi mulut Alya. Untung saja Alya bisa menahanya tidak keluar.
Berbeda dengan Ardi. Matanya terbelalak, melihat tempat makan perempuan unik di depanya ini. Sebuah tenda kecil di pinggir jalan, sudah pasti tidak hygienis. Bahkan di dalamnya terlihat penuh sesak, pembeli duduk bersila di atas tikar yang terhampar di halaman toko.
"Apa kamu biasa makan di sini?" tanya Ardi ragu untuk masuk ikut berdempetan dan berbagi meja dengan pembeli lain.
__ADS_1
Ardi berdiri dengan ekspresi risih, memijat pelipis matanya. Dia tidak menyangka akan makan di pinggir jalan dengan alas tikar di atas lantai paving yang tidak rata. Belum lagi terkena kepulan asap rokok dari sesama pembeli. Tidak ada bangku empuk atau hiasan bunga di meja. Bahkan mejanya adalah meja lesehan panjang, dan harus berbagi dengan pembeli yang lebih dulu datang.
"Kenapa memangnya?" tanya Alya senang melihat ekspresi Ardi yang enggan duduk dan tampak mengacak-acak rambutnya sambil celingak-celinguk mencari tempat duduk.
"Yakin mau makan di sini?" bisik Ardi ke telinga Alya yang terutup jilbab tapi tetap membuat Alya sedikit geli.
"Yakin! Kalau nggak mau, ya udah aku makan sendiri aja" jawab Alya mantap ingin menertawai ekspresi Ardi. Ardi hanya diam menatap Alya dengan tatapan memohon untuk pindah.
"Mau pesen apa? Ayam? Bebek atau lele?" tanya Alya sudah tidak sabar ingin segera makan. Dan menegaskan tidak akan pindah
"Terserah kamu aja" jawab Ardi pasrah karena Alya ngotot mau makan di sini.
"Sini duduk sini" ajak Alya tersenyum menunjukan tempat kosong di pojok tenda.
Ardipun melepas sepatu mahalnya dan jalan menunduk memasuki tenda. Ardi menggerutu karena harus berjalan menunduk. Tenda lamongan itu memang tidak terlalu tinggi, sementara Ardi bertubuh tinggi kekar atletis. Kalau tidak menunduk kepalanya akan mengenai atap tenda dan bisa merobohkanya.
"Kalau bukan buat pedekate sama makhluk satu ini ogah gue makan di tempat sempit begini"
"Pak, ayam goreng dua, sama tempe tahu ya Pak" pesen Alya. "Oh iya, sambalnya ya Pak, double yang banyak"
"Iya Dok, siap" jawab mamang tukang lamongan yang mulai mengenali Alya.
"Kok dia panggil kamu Dok? Kenal?" tanya Ardi yang dari tadi memperhatikan Alya. Ardi tidak habis pikir bahkan Alya terlihat akrab dengan penjua lamongan.
"Iya, kalau jaga sore, aku sering makan di sini" jawab Alya, sedikit memberi tahu kalau rekomendasi rasanya tidak salah, dan Alya yakin Ardi juga akan menyukainya.
"Hemmm" Ardi berdehem mendengar cerita Alya.
"Kamun kan katanya dokter"
"Memang kenapa kalau aku dokter?".
"Ya maksudnya kenapa harus di sini? Kan nggak hygienis"
"Ish dokter kan juga manusia. Ini menu terenak yang aku temui di sini, susah melewatkanya," jawab Alya.
"Memang kamu udah pernah kemana aja? Berani mengatai ini terenak"
"He... belum kemana-mana sih. Aku kan belum lama tinggal di sini. Aku belum tahu tempat-tempat di daerah sini!"
"Pantes"
"Pantes apa?"
"Nggak apa-apa, pantes aja Mamahku suruh kamu tinggal di apartemenku"
"Iya, makasih ya tumpanganya. Jadi aku tidak susah- susah cari kos" jawab Alya nyengir.
"Nggak gratis!"
"Ish, bahkan ibumu yang menyuruhku, kenapa kamu selalu minta bayar?"
Ardi diam melihat bibir Alya yang dari tadi mengoceh dengan imut. Ardi menelan salivanya, menahan rasa yang tidak bisa dikekuarkan. Rasa ingin menutup bibir Alya dengan bibirnya.
__ADS_1
"Baik lah karena sebentar lagi aku gajian, malam ini aku yang traktir ya" sambung Alya masih dengan mode ceria.
"Memang berapa gajimu?" tanya Ardi mengejek mendengar Alya hendak mentraktir.
"Hee, aku kan belum pernah gajian, jadi aku belum tahu berapa"
"Plethak" Ardi menyentil kepala Alya yang tertutup jilbab.
"Auw sakit tau!"
"Dasar sombong, sok sokan mau traktir, tempat aja numpang, baru mau gajian juga" ejek Ardi lagi, gengsi mau ditraktir.
"Ishhh sukanya menghina, ya kan aku belum satu bulan magangnya" jawab Alya kesal mengusap-usap keningnya.
"Kamu harus banyak menabung, lalu lunasi hutangmu" Ardi masih melanjutkan aksinya meledek Alya.
"Hutang apa? Bukanya kemarin kamu bilang melarangku pergi dan tetap tinggal? Bahkan aku sangat bahagia mendengarnya, uangku tidak jadi terkuras untuk sewa kos, kenapa sekarang berubah lagi? Aku harus membayarnya? Ishh, maunya apa sih?" Alya mengomel dengan sangat banyak.
"Apa kamu bahagia tinggal di apartemen?" tanya Ardi dingin, menahan gelora menghadapi bibir Alya yang tidak berhenti bicara.
"Tentu saja, jadi aku bisa berhemat, hehe" jawab Alya nyengir lalu pesenan datang.
"Silahkan Dok" mamang lamongan menghidangkan paha atas ayam kampung dan nasi hangat, tidak lupa lalaban kemangi, sambal terasi dan sambel bawang.
Tidak menunggu lama Alya meraih handsanitizer di sakunya. Mensterilkan kedua tangannya, setelah siap. Alya menuangkan sambel ke nasinya. Alya yang kelaparan langsung melahap nasi lalapan dan suiran ayam.
Sementara Ardi yang baru pertama makan di warung tenda menatapi Alya dengan tatapan heran. Apalagi Ardi tidak suka pedas.
"Kenapa nggak dimakan. Ayo dimakan?" ajak Alya sambil mengunyah makanan, Alya melihat pria di sampingnya hanya menatap makanan di depanya.
"Kalau nggak mau buatku aja, katanya laper" imbuh Alya gemas melihat Ardi pria berumur tua tapi kaya anak kecil.
"Masih panas, apa tidak ada sendok?" tanya Ardi lirih meminta pertolongan karena tidak terbiasa makan dengan tangan.
Alya terkekeh mendengar pertanyaan Ardi. Butuh berapa lama makan lamongan pake sendok, bahkan sambal terasi dan bawang akan terasa sangat nikmat saat tersentuh tangan.
"Pakai sendok ribet mas. Ini enak kok, coba deh, kaya gini cara makanya" jawab Alya reflek , mengambil suiran ayam dan menyuapi Ardi tanganya.
"Enak kan?" tanya Alya menatap Ardi
Ardi pun melahapnya. Indra perasanya mulai bekerja. "Enak" gumam Ardi lalu meniru cara makan Alya.
"Sepertinya kamu suka sekali sambal?" tanya Ardi lagi melihat Alya menuangkan dua jenis sambal ke nasinya.
"Tentu saja, ini nikmat sekali menambah nafsu makanku" Alya menunjukan kepalang nasi sambel ditangan, lalu melahapnya.
"Aku tidak suka pedas" jawab Ardi.
"Ishh ini tidak pedas, cobalah" jawab Alya kembali menyuapi Ardi lagi dengan kepalan nasi sambel dan suiran ayam.
"Baunya aneh" jawab Ardi mencium sambel terasi, laku ikut mencicipinya.
Malam itu mereka makan nasi lamongan dengan lahap. Bahkan Ardi dan Alya menambah satu porsi lagi untuk dibagi berdua, karena satu porsi Alya kurang ternyata belum membuat perut kenyang.
__ADS_1