
“Aaah capek banget gue” keluh seorang gadis melihat pakaian yang menumpuk di depanya. Rasanya ingin memakai jurus hush hup lempar korek lalu jadi abu dan rapih, tapi kok sayang, karena semua pakaian kesayangan yang dibeli dengan banyak uang.
“Ck. Lo nggak waras emang ya? Kok bisa sih baju lo berantakan gini?” ejek temanya yang berkunjung pagi-pagi.
“Ahhhh. Diem lu” jawab gadis itu dengan menyandarkan kepala mukanya sangat kesal dan rambutnya yang berantakan karena belum mandi.
Sepulang dari jalan bersama tunanganya, Anya belum sempat membereskan pakaianya. Bahkan dia tidur di asal dengan kamar berantakan, saking berantakanya Anya jadi males dan bingung sendiri mau merapihkan. Apalagi saat di rumah dia tidak pernah memegang pekerjaan semacam itu.
“Bawa ke loundry aja udah, minta tolong suruh setrikain!” perintah sahabatnya si Dinda.
Anya melirik ke Dinda, dari atas sampai ke bawah. Dinda sekarang mengenakan hijab dan menutup rambut lurus ngeblownya yang buat dia terlihat manis. Anya tidak fokus dengan saran Dinda malah salfok dengan penampilanya.
“Kenapa Lo malah ngliatin gue gitu?” tanya Dinda merasa diperhatikan.
“Ehm, lo seirus pake hijab sekarang?” tanya Anya penuh penekanan.
“Emang kenapa?” tanya Dinda tersinggung sambil merapihkan jilbab pashminanya. Dinda merasa lebih cantik dengan penampilan barunya.
“Ahh kenapa semua harus mencontoh Alya sih. Aku nggak bisa aku nggak kuat!” teriak Anya lagi sambil mengacak- acak rambutnya lagi salah kira dan salah berfikir, Anya termakan cemburu sehingga pikiranya salah.
“Kok lo ngomong gitu sih? Gue nggak niru Alya kok!” jawab Dinda tidak terima dikatain niru Alya.
“Terus kenapa? Apa alasan lo sekarang mau pakai jilbab?”
“He.... gue ngrasa cantik aja pakai jilbab” jawab Dinda polos.
“Yakin karena itu doang?” tanya Anya tidak percaya.
“Hehe nggak sih, awalnya karena Dika. Dika besok mau kesini,”
“Tuh kaan! Bener!” ucap Anya lagi merasa pendapatnya benar.
“Bener gimana?”
“Lo nyadar nggak sih? Lo pakai hijab karena Dika itu suka cewek berjilbab kan? Iya kan?” tanya Anya seperti anak kecil.
“Ya... katanya gitu sih, tapi aku emang suka kok!” jawab Dinda tidak mau disamain kaya Alya. Dan merasa keputusanya itu benar.
“Tetep aja. Kenapa sih, cowok itu nggak bisa suka sama kita karena apa adanya kita” tutur Anya lagi kesal merasa semua cowok menjadikan patokan perempuan baik itu seperti semua yang ada pada Alya. Padahal nggak seperti itu.
“Lo itu sebenarnya kenapa sih? Kok tiba- tiba bahas Alya salah- salahin Alya, emang Alya ngapain? Lo cemburu sama Alya?” tanya Dinda lagi dengan tatapan menelisik.
Anya diam, selama dengan Farid Anya memang tidak menjadi dirinya sendiri. Bahkan Anya juga tidak mau mengakui perasaanya.
Bayang- bayang Farid menyukai Alya masih menghantui Anya. Dan apa yang dia temui semalam semakin membakar bara cemburu Anya, hal yang diinginkan Farid bukan Anya banget tapi itu Alya banget.
Anya jadi terbebani, Anya jadi ragu. Anya jadi tertekan dan merasa harus menjadi orang lain agar Farid beneran suka denganya.
__ADS_1
“Hmmm, ketahuan kan lo lagi cemburu sama Alya. Cerita- cerita sini, emag ada apa? Alya udah bahagia sama suaminya lo nggak perlu cemburu begini” tutur Dinda sok menasehati.
“Gue udah dandan maksimal, gue kira gue mau diajak ngemall dong, apa nonton apa dinner sampai lo liat ini semua. Dan lo tau gue diajak kemana?” ucap Anya menceritakan yang dia temui.
“Kemana?”
“Perpustakaan” jawab Anya lirih.
Sontak Dinda langsung tertawa. Dinda tau pasti Anya sangat kesal karena Anya tidak hoby baca malah ketemu cowok hoby baca.
“Kok lo ngetawain gue? Gue sebbel tau, gue nggak mau jadi Alya”
“Anya, ya itu bukan salah Alya, Lo cinta kan sama tunangan lo? Bentar lagi nikah kalian lho! Lo lah pahami calon suami lo. Dan tetap jadi diri sendiri lo nggak usah maksain apa yang lo nggak suka, terbuka dong. Jangan bohong kalau emang li nggak suka sesuatu” tutur Dinda menasehati lagi. Tiba-tiba sekarang Dinda dewasa.
“Emang lo pakai jilbab nggak terpaksa? Lo kepaksa biar Dika suka kan sama Lo?”
“Nggak! Meski gue suka sama Dika dan pengen Dika lebih respect ke gue, gue juga udah searching duluan tentang ini, gue juga suka liat Alya yang terlihat tenang dan anggun manis gitu? Gue nentuin sesuatu setelah gue yakin itu baik” jawab Dinda lagi.
“Hemmm” Anya kemudian diam lalu Anya melirik ke buku yang Farid beri ke dia sambil berfikir. Satu buku berjudul seperti apa yang Anya tanyakan, dua buku lagi tentang perhiasan terindah di dunia, dan cinta sampai ke surga.
Dinda mengikuti arah pandangan Anya. Dan Dinda langsung mengambilnya.
“Ini buku dari dia yah?” tanya Dinda.
“Iya” jawab Anya mengangguk.
“Ya udah kalau lo nggak mau baca biar gue aja yang baca” jawab Dinda semangat.
“Anya, buka pikiran lo, Aa Farid kasih buku ini ke Lo, dia beneran sayang sama Lo, bukan dia pengen lo jadi Alya atau dia masih suka sama Alya. Dia pengen Lo jadi terbaik buat dia. Kalaupun lo nggak suka baca, ya lo bilang lah ke dia. Kalau lo nggak suka bacaa, lo lebih suka film atau dijelasin, bukan malah lo jadi mikir dia pengen lo jadi Alya” omel Dinda ke Anya.
“Hemmm”
“Udah buku ini gue bawa ya! Lo beresin tuh baju Lo”
“Kok lo minat sih sama buku itu? Lo bukanya nggak suka baca?”
“Siapaa bilang? Gue suka kok!”
“Kok lo jadi berubah sih Din?” tanya Anya dengan tatapan curiga.
Dinda justru senyum- senyum penuh arti. Seperti malu- malu menyembunyikan sesuatu.
“Dika mau ketemu sama orang tua gue” ucap Dinda dengan muka merah.
“What?” tanya Anya dengan muka melongo dan nggak percaya. Dika dan Dinda kan Cuma ketemu sekali.
“Iya, dia bilang gitu?” jawab Dinda mantap dan bahagia.
__ADS_1
“Kok bisa? Mau ngapain?” tanya Anya kaget.
“Gue juga nggak nyangka kalau Dika sekeren itu” ucap Dinda dengan tatapan membayangkan Dika.
Anya semakin tidak mengerti. Apa maksud Dinda. Jangan-jangan Dinda mau menyalip Anya dan Farid.
“Dika itu ternyata meski masih muda dia sangat bertanggung jawab dan dewasa. Kamu tau pas aku chat dia? Tanya kabarnya? Dia jawab, dia jaga jarak denganku. Dia nggak mau terlalu dekat denganku kalau akhirnya buat berharap dan sakit hati. Dia utarain dong perasaan dia ke gue, katanya dia suka sama gue Anya” tutur Dinda dengan wajah berapi- api.
“Oh ya? Syukurlah, terus?” jawab Anya dengan menelan ludahnya. Dinda dan Dika di luar dugaan Anya.
“Ya gue bilang lah kalau gue juga punya perasaan yang sama, dan lo tau dia bilang apa?”
“Apa?”
“Dika nggak mau ngebiarin perasaan kita terjerembab dalam kesalahan dan dosa. Dia istikhoroh, dan katanya dia yakin, dia mau ngajakin gue serius dong! Dia mau nemuin orang tua gue?” tutur Dinda lagi dengan histeris.
Anya justru merespon aneh ke Dinda. Anya aja yang udah kenal dengan keluarga Farid dan cinta masih ngerasa nggak mantap. Apa bisa Anya menyesuaikan sifat Farid. Nah ini Dinda cuma ketemu sekali kenapa sangat yakin.
“What? Din, kalian tuh baru pertama ketemu. Lo belum tau gimana sifatnya , masalalunya keluarganya? Lo mau secepat ini?” tanya Anya meyakinkan ke Dinda untuk dipikirkan lagi.
“Dika nggak mau pacaraan Anya, dia mau taaruf, dan menurutku itu keren, aku jadi merasa berharga” jawab Dinda membela Dika.
“Hooh, jadi lo mau ikut kepercayaan yang begitu?” tanya Anya lagi.
“Emm, emang salah ya? Gue suka kok sama dia”
“Nggak salah sih? Cuma, ini bukan lo banget, gue takut lo salah ambil jalan Dinda, gue takut lo nyesel”
“Nggak! Gue nggak nyesel, dari awal gue udah yakin Dika yang terbaik buat gue” jawab Dinda mantap.
Anya menelan ludahnya, mendengar cerita Dinda seperti disambar petir. Dinda dan Dika tidak pernah kencan, berhubungan kapanpun Anya nggak tahu. Tiba- tiba Dinda sangat percaya diri mau dilamar.
“Oh oke, kalau ini yang terbaik buat Lo, gue dukung lo!” tutur Anya lirih.
Anya masih nggak percaya kenapa semua teman- temanya begitu cepat percaya untuk segera menikah. Kenapa Anya masih takut mau nikah.
“Gue kesini mau minta temenin Lo” ucap Dinda lagi.
“Kemana?”
“Shopping, gue mau beli baju muslim yang banyak”
“Hooh” Anya benar- benar terbengong dengan perubahan Dinda. Bahkan Dinda sangat semangat untuk berhijrah.
“Baju lo masukin ke karung aja, bawa ke tempat setrikaan! Yuk!” ajak Dinda memberi solusi ke Anya.
Anya kemudian mengangguk dan pergi bareng Dinda.
__ADS_1
****
Hehehe makasih masih mau baca.