
Di dalam sebuah mobil, seoarang perempuan bersama dengan 4 anak buahnya membawa sebuah karung. Yang ternyata isinya makhluk hidup yang sengaja di beli untuk membunuh seseorang.
“Semua persiapan sudah beres Nona” lapor salah satu anak buah perempuan itu.
“Ok, bagus, pastikan nggak ada yang liat! ”
“Kamarnya ada di pojok belakang, aman dari cctv. Hanya saja di situ dekat gudang kita harus waspada kalau ada perawat datang” tutur anak buahnya lagi.
“Lo harus profesional buat nyamar jadi pegawai rumah sakit! Pokoknya senjata ini harus ada di kamar dokter itu! Dan aku mau malam ini, si dia menjadi teman mesranya" ucap si perempuan menunjuk karung yang dibawa anam buahnya itu.
“Siap Nona!”
“Gue mau nyawa dia hari ini juga, gue mau dia dapatkan hukuman yang setimpal dengan hukuman kakak gue” ucap perempuan itu lagi.
“Baik Nyonya”
“Kapan dia akan datang? Sekarang udah jam 1”
“Kalau dari jadwal biasanya dia akan datang 30 menit lagi”
”Oke kita tunggu dokter nyebelin itu datang!” ucap si bos mereka.
Dan mobil itu tetap di tempatnya, terparkir di parkiran rumah sakit tempat Alya magang. Mereka sedang menunggu incaran mereka yaitu Alya.
*****
Masih di kosan Anya. Kelima insan bersahabat itu betah bercengkerama meski hanya dengan sajian makanan sederhana.
Setelah mendapat kenyataan mencengangkan siapa Pak Didik, dan mengkonfirmasi. Alya menutup sambungan teleponya dengan Intan.
Alya menghargai niat baik Pak Didik dan Intan untuk menemuinya dan mengucapkan terima kasih. Meski belum, bercerita dengan Ardi, Alya merasa keputusanya benar.
Alya melirik ke luar melalui jendela yang terbuka rupanya Ardi dan Farid masih asyik ngobrol, entah apa yang mereka bahas.
“Mas Ardi harus tau keadaan Pak Didi, Mas Ardi nggak boleh suudzon lagi sama Mba Intan” batin Alya melihat suaminya yang tertawa lebar.
Jika sudah bersama rekanya itu, Ardi memang menjadi lepas dan bahagia. Apalagi sebentar lagi satu teman yang lebih heboh akan datang lagi. Membahas hal privasi dan sensitif sepertinya bukan di sini tempatnya. Alya memilih berfikir sendiri dan menyampaikanya nanti.
Alya kemudian membawa kesadaranya kembali keteman-temanya, menghadirkan senyum, mengambil caamilan yang ada di depanya dan mulai masuk ke obrolan dengan topik baru.
“Al” panggil Anya
“Hemmm, ada apa?” tanya Alya
“Sory gue nggak sempet videoin laki- laki yang bareng ibu lho!” ucap Anya kembali ke topik yang dari kemarin merisaukan pikiran Alya.
Alya langsung mengunyah cepat makanan di mulutnya, ditelan dengan buru-buru, mengambil minum, dan memasang mode on. Meminta sahabatnya menceritakanya.
“Ehm, ceritain apa yang kalian lihat! Ibuku ngapain aja di mall? Kok bisa ketemu kalian? Dia ngapain aja sama laki- laki itu? Ibuku sama siapa? Tau nggak laki- laki itu siapa? Gimana orangnya?” tanya Alya panjang kali lebar kali tinggi membuat kedua temanya menelan ludahnya dan geleng- geleng kepala.
“Satu- satu napa tanyanya!” jawab Dinda.
“Gue penasaran!” ucap Alya sangat ber*psu untuk tanya.
“Kita cuma lihat sesuai yang di foto Al, nggak sengaja pas kita lagi milih baju liat nyokap lo lagi ngobrol. Kita nggak tau awal mulanya” jawab Dinda.
“Hemm” Alya berdehem kecewa.
“Nggak lama kok, tetiba ada perempuan nyamperin emak lo, terus emak lo pergi ninggalin laki-laki itu, ya gue kira?” sambung Anya.
“Berarti ibuku nggak sendirian?” tanya Alya.
“Enggak!” jawab Dinda dan Anya bersamaan.
“Hoh syukurlah, berarti ibu pergi bukan sengaja berkencan mungkin nggak sengaja ketemu” celetuk Alya menghela nafas dan menyandarkan bahunya ke sofa.
Mendengar perkataan Alya, Anya dan Dinda melotot.
__ADS_1
“Emang kalau kencan kenapa Al? Ibu lo kan single?” tanya Anya.
Lalu Alya nyengir.
"Lucu aja bayanginya, masa gue punya bapaak tiri” jawab Alya, tidak menolak tapi tidak mendukung, hanya belum siap kalau Alya punya keluarga baru.
“Tapi mereka tampak asik ngobrol dan mesra lho! Gue kaya nggak asing sama laki- laki itu, tapi lupa” ucap Anya lagi.
Waktu pernikahan Gery, Anya kan datang ke resepsi. Jadi Anya merasa pernah melihat Dokter Nando. Karena melihat dari kejauhan dan sisi belakang agak samping wajah, jadi Anya tidak bisa memastikan.
“Ya udahlah,nanti aku tanya ke ibuku” jawab Alya.
Lalu di saat yang bersamaan dari luar terdengar gaduh dan tertawa. Mereka bertiga menoleh ke luar.
Ternyata sang penganten baru tiba, siapa lagi kalau bukan pasangan dokter spesialis yang lagi hangat- hangatnya.
****
“Wahh, penganten baru datang, lo tambah seger aja Ger! Nikah langsung sehat Lo, udah dapet pasokan protein yang banyak ya? Jangan- jangan lo pura- pura sakit doang kemarin” goda Ardi keras tanpa tahu malu.
“Sialan Lo, gue sakit beneran lo katain pura- pura, gua tonjok Lo!” jawab Gery menggigit bibir bawahnya gemas.
“Alya dan yang lain kemana?” tanya Mira risih kalau gabung para lelaki nongkrong di luar.
“Di dalam! Masuk aja!” jawab Farid mempersilahkan sebagai calon Anya sang tuan rumah.
Lalu Mira masuk ke dalam bergabung bersama para perempuan. Dan Gery menempatkan diri, duduk di teras, langsung menyomot sisa siomay Ardi dan Farid.
“Laper gue, lumayan nih ada siomay” ucap Gery tanpa ditawari langsung makan
“Telat lo, harus nya dari tadi lo abisin tu segrobak!” jawab Farid.
“Sumpah Ger, gue liat lo beda banget sekarang! Auranya jadi makin gimana gitu” ledek Ardi lagi sambil ngeliatin Gery. Padahal Gery biasa aja.
Meski sambil makan kaki Gery bergerak nendang kaki Ardi nggak terima diledekin terus.
“Brisik banget si Lo?” timpal Gery setelah menelan makanan di mulutnya.
Sementara Farid hanya menyimak sambil menelan ludahnya.
“Makan yang banyak biar seterong, Ger! Mau gue resepin vitamin nggak? Hahaha” ledek Ardi lagi.
“Sory ya, gue nggak perlu begituan. Gue udah strong dari sononya, emang lo doang yang bisa? Sekarang gue udah bisa” ejek Gery lagi.
“Yaya, tapi kan lo belum kebukti, gue kan udah langsung tok cer”
“Yaelah sombong amat, gue kan baru, lo liat aja nanti, gue susul Da” jawab Gery lagi malah berdebat dengan Ardi.
Entah kemana arah mereka berdebat, Farid memilih diam karena merasa tidak setower.
“Ehm” Farid berdehem lalu menyeruput air teh yang disediakan tunanganya. Farid memilih menyimak.
Mendengar Farid berdehem, Ardi dan Gery yang rese paham dan mengerti.
“Sory Bro, gue emang sengaja bikin lo iri” ucap Ardi menepuk bahu Farid.
“Gue nggak iri, sory bukan level gue iri! Sok kalian lihat, ada masanya gue juga bisa” jawab Farid tidak mau kalah.
“Ah ngomong doang Lo. Emang kapan lo nyusul Dur?” tanya Gery mau mengejek Farid lagi.
“Secepatnya! Kalian siapin aja kado yang mahak buat gue” jawab Farid
"Enak aja. Lo aja utang sama kita”jawab Gery.
“Utang apaan?” tanya Ardi lupa.
Ternyata mereka pernah seru-seruan, kalau mereka udah nikah semua mereka mau honeymoonth bareng. Dan yang nikah terakhir dia yang bayarin.
__ADS_1
“Yang terakhir nikah bayarin kita liburan!” ucap Gery lagi.
“Wah cocok, suka gue nih!” seru Ardi menimpali, meski Ardi yang paling kaya tetap aja seneng gratisan dari temenya.
"Iya, ya siap. Tapi gue yang tentuin tempatnya!" jawab Farid.
"Yoi"
Di saat mereka bertiga kembali bercengkerama, Alya keluar, memberitahu sudah waktunya berangkat kerja.
"Mas udah jam 1 lebih, berangkat yuk! Belum sholat dzuhur juga lho" tutur Alya pelan.
"Ya nanti sholat di masjid rumah sakit" jawab Ardi.
“Udah sono lu, pergi lu lu pada!” usir Farid ke Ardi, sebel Farid di godain mulu. Niat Farid kan ngapel berduaan mau bahas nikah, malah diganggu temen- temenya.
“Baru juga gue datang, udah diusir. Pada mau pergi aja?” tanya Gery yang baru aja nyampe.
“Gue kan emang mau anter bini sama anter baju, gue cabut” jawab Ardi, lalu Ardi bersiap- siap mengambil sepatunya karena Alya sudah menunggu.
Setelah Alya masuk ke mobil. Dinda dan Mira menyusul keluar, mereka semua sudah membawa baju masing- masing untuk acara resepsi Alya.
“Pulang yuk Ger!” ajak Mira juga minta pulang.
"Ayok!" jawab Gery
Lalu dari dalam Dinda juga pulang.
“Makasih ya!” ucap Anya melambaikan tangan mengantar teman- temanya, sementara Farid berdiri di belakang Anya. Dan kini tinggal Anya dan Farid berduaan.
*****
Alya dan Ardi sudah di mobil menuju ke rumah sakit.
“Mas Lian udah tanya ke Kak Mira” ucap Alya memulai pembicaraan dengan suaminya.
“Tanya apa, Sayang?”
“Yang foto ibu! Pasti mas lupa’”
“Terus? Apa jawab Mira?”
“Kata Kak Mira iya, bajunya sama kaya yang dipakai Dokter Nando berangkat kerja!”
“Emptt” Ardi langsung tertawa.
“Tapi Kak Mira juga ragu, soalnya di rumah sakit juga ada jadwal operasi, seharusnya di jam segitu Dokter Nando kerja! Mau ditanyain dulu sama Kak Mira” jawab Alya lagi.
“Hmmm ya udah sih ngak usah diributin, Mas kan udah kasih tau, kita doain aja. Mereka tuh orang tua bukan abg, kamu nggak usah terlalu pata”
“Ya tapi kan”
“Nggak ada tapi- tapian, jangan kepoan, emang dulu ibu kepo sama kita?”
“Ibuku sih nggak, papah sama Mamah!”
“Hehe, tapi sekarang kamu seneng kan? Udah ah nggak usah bahas orang tua!”
“Ada satu lagi”
“Apa lagi?”
“Ingat yang waktu Lian cerita ada bapak tukang sampah yang Lian tolongin?”
“Iyah, gimana? Udah sembuh?” tanya Ardi antusias.
“Dia bapaknya Mba Intan, Mas!” tutur Alya memberitahu.
__ADS_1
Mendengar kata Intan ekspresi Ardi langsung berubah dan Ardi langsung mengerem mendadak. Untung sampai di parkiran rumah sakit dan menabrak mobil di depanya