
"Di butik?" tanya Bu Rita kaget.
Intan mengangguk mengiyakan pertanyaan Bu Rita.
Masih di meja makan yang tertutup kain putih. Dengan hiasan bunga cantik di tengah, yang disusun mewah di vas unik. Bu Rita menatap Ardi dan Alya meminta penjelasan.
Kenapa putranya selalu mengambil keputusan sendiri dalam hidupnya. Bisa-bisanya Ardi mempekerjakan mantan tunanganya tanpa seijin Bu Rita. Bagaimana Ardi menjaga perasaan istrinya. Dan Alya tampak biasa saja.
Alya dan Intan peka dengan tatapan Bu Rita. Sementara Ardi tampak cuek dengan muka jengahnya.
Ardi memang salah, Ardi hanya berniat menolong Intan, tapi bukan berarti Intan harus muncul dan bergabung di meja makanya.
"Maafin Berlian dan Mas Ardi, Mah. Kita nggak ijin sama mamah dulu, waktu itu Mamah masih di Singapure" jawab Alya peka terhadap tatapan Bu Rita. Alya berusaha menutupi kesalahan sumainya.
"Maaf! Kalau Mama Rita nggak suka. Saya akan secepatnya mengundurkan diri, terima kasih sudah memberi kesempatan ke saya untuk berkarya lagi" ucap Intan lagi sadar diri dengan mimik wajah Bu Rita.
Ardi dibuat semakin kesal dengan perkataan Intan. Menurut Ardi Intan hanya bersandiwara. Ardi sendiri menyesal dan berencana memberhentikanya.
Bu Rita sendiri menjadi tidak nyaman, mau mengiyakan perkataan Intan dan menyuruhnya keluar saja, atau mengijinkan, toh Alya sudah tau. Bu Rita menatap Ardi ingin segera minta penjelasan.
"Nggak! Nggak usah Mba Intan. Dara kan belum lulus kuliah. Kita masih butuh Mba Intan. Tetaplah berkarya di tempat kami" ucap Alya lagi menjawab Intan, karena Ardi dan Bu Rita tidak menjawab.
Ardi, Bu Rita, dan Farid dibuat kesal dengan jawaban Alya. Sementara Anya yang tidak tahu apa-apa, merangkai dan menerka sendiri, kalau Intan adalah rivalnya Alya.
"Ngapain sih Yang?" ucap Ardi dengan tatapan marah ke Alya.
"Tidak, Dokter Alya. Saya tau saya harus mengundurkan diri. Dan pumpung di sini ada semuanya. Saya mohon maaf atas semuanya. Kalian berhak bahagia. Kalian semua orang baik. Terima kasih sudah baik ke saya, selamat malam" ucap Intan berpamitan.
Lalu bangun. Dan mengajak anaknya pergi.
Bu Rita menghela nafasnya masih mencerna dengan apa yang terjadi. Intan serius atau tidak? Sementara Ardi dan Farid hanya berdecak, seakan tau kalau Intan hanya bersandiwara.
Sementara Alya melihat Intan pergi, memundurkan kursinya dan hendak mengejar Intan.
Melihat istrinya bangun, Ardi langsung meraih tangan Alya dan mencengkeramnya erat.
"Duduk!" ucap Ardi dingin
"Mas kasian Mba Intan dan anaknya"
"Duduk! Biarkan dia pergi" bentak Ardi lagi.
"Lian minta maaf Mas, sebentar saja yah?"
"Untuk apa kau peduli dengan perempuan seperti dia sayang?"
"Mas percaya Lian kan! Lian akan baik-baik saja. Sebentar aja yah!" ijin Alya lagi
"Mau apa?"
"Lian hanya merasa perlu menanyakan beberapa hal ke Mba Intan, sebentar, please" jawab Alya lagi bernegosiasi.
Ardi menatap istrinya sejenak. Alya menganggukan kepala dan mengerlingkan matanya meminta persetujuan.
"5 menit. Cepat kembali!" jawab Ardi mengalah melihat Alya sangat bersikukuh.
Alya tersenyum senang karen diijinkan, kemudian berlari mengejar Intan.
"Mba Intan tunggu!" panggil Alya melihat Intan di parkiran.
Intan berhenti dan menundukan kepala.
"Kenapa kau mengejarku?" tanya Intan
"Mba Intan tidak sedang bersandiwara kan?" tanya Alya.
"Kalaupun saya jawab saya sungguh-sungguh. Kalian tidak akan percaya kan?" tanya Intan.
"Bagaimana kalau saya percaya?"
"Terima kasih sudah mempercayaiku, ada yang ingin kau katakan?"
__ADS_1
"Saya sudah liat foto itu dari Dokter Mira. Sebenarnya saya juga marah ke Mba Intan, tapi kurasa semua itu tidak ada gunanya. Aku percaya suamiku. Apa tujuanmu sebenarnya Mba?"
"Aku iri ke kalian. Aku ingin kamu enyah dari sisi Ardi. Puas dengan jawaban saya?"
"Ehm. Terima kasih sudah mau jujur. Dan kali ini saya percaya padamu Mbak"
"Tolong jangan permalukan saya dengan kebaikanmu. Jangan berbuat baik padaku. Biarkan aku pergi"
"Apa Mba Intan sekarang sudah mengikhlaskan kami?" tanya Alya lagi.
"Aku tidak mengikhlaskan karena Ardi memang bukan punyaku"
"Apa yang membuat Mba Intan tiba-tiba berubah?"
"Aku tidak akan berubah"
"Maksud Mba Intan"
"Sudahlah, cukup kita bertemu di sini. Saya minta maaf atas keburukanku. Boy memang bukan anak suamimu. Saya selingkuh darinya. Saya permisi" ucap Intan pamit Ke Alya.
"Tunggu Mba!" panggil Alya lagi melihat Boy dengan tatapan kasian.
"Ada apalagi? Secepatnya saya akan pergi dari kalian" ucap Intan.
"Apa Mba Intan serius akan meninggalkan panti dan butik?" tanya Alya lagi.
"Iyah, apa ucapanku kurang jelas?" jawab Intan mantap.
"Bagaimana kalau saya minta Mba Intan buatkan saya gaun pernikahan untuk resepsiku sebelum pergi?" tanya Alya lagi.
"Tujuan awalku meminta pekerjaan ke suamimu, adalah kehancuranmu Dokter Alya. Apa kau masih ingin memakai jasaku?" tanya Intan lagi.
"Aku bukan orang yang mudah dihancurkan. Mba Intan cukup tau itu. Aku hanya sungguh ingin memakai hasil karyamu, karena kualitasmu, dan itu tidak akan terpengaruh apapun" tawar Alya lagi ingin memberi pekerjaan ke Intan.
Intan diam menatap Alya.
"Akan saya pertimbangkan. Permisi. Suamimu pasti sudah menunggumu. Kembalilah! Aku tidak mau dianggap mempengaruhimu" ucap Intan memperingati Alya.
"Tidak"
"Tolong catat nomerku. Aku tunggu jawaban Mba Intan"
"Tidak perlu saya bisa telpon kamu lewat orang butik"
"Baiklah, hati-hati. Daah Boy" sapa Alya ramah ke Intan dan Boy.
"Daah aunty" jawab Boy menggemaskan. Sementara Intan hanya menatap dingin ke Alya.
Intan kemudian masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya pulang.
Alya berdiri menatap mobil Intan sampai menghilang.
"Apa terjadi sesuatu denganya? Tatapan Mba Intan jauh berbeda dari beberapa waktu yang lalu. Anak Mba Intan sangat lucu. Kenapa aku jadi kasian ya?" ucap Alya dalam hati.
Alya menghela nafasnya kemudian kembali ke dalam bergabung bersama suami, dan sahabatnya.
*****
"Jelaskan apa yang terjadi selama Mamah di Singapure Ardi!" tanya Bu Rita mengeluarkan unek-uneknya ke Ardi.
Bu Rita tidak segan hendak memarahi Ardi meski di acara pesta dan disaksikan Farid dan Anya.
"Tidak baik dibahas di sini Mah" jawab Ardi malas.
"Terus sebaiknya dibahas dimana? Bukankah sebentar lagi kamu akan ke Bogor? Jelaskan, bagaiamana ceritanya? Bisa-bisanya Intan kembali ke butik. Hah?" tanya Bu Rita lagi.
"Ardi minta maaf Mah" ucap Ardi malas.
"Bukankah kamu sendiri yang bilang, kamu ingin menghapus semua tentang dia? Kenapa tiba- tiba dia datang lagi? Bagaimana kamu menjelaskan ke Lian"
"Setelah Ardi menikah dengan Lian. Ardi sudah tidak benci atau dendam lagi ke dia. Hati Ardi sudah penuh untuk Lia. Ardi hanya kasian saja dengan kondisi Intan. Dia single parents. Waktu itu dia butuh pekerjaan, jadi Ardi terima saja" ucap Ardi akhirnya bercerita.
__ADS_1
Kini Anya sudah paham siapa Intan.
"Selain keras kepala, kamu juga bodoh Ardi. Tidak percaya mamah sudah melahirkan kamu. Kalau dia nyakitin Lian gimana?" tanya Bu Rita kesal.
"Mamah nyesel nglairin Ardi?" tanya Ardi tersinggung.
"Bukan begitu. Kamu harusnya berfikir jernih kalau ambil keputusan"
"Mamah liat sendiri kan mantu kesayangan Mamah, Lian baik-baik saja" jawab Ardi tidak mau menjadi satu-satunya yang disalahkan.
Padahal awal mula yang salah memanh Ardi. Bahkan sebelumnya Alya sudah melewati beberapa kesalah pahaman.
"Tapi apa kata orang Ardi? Apa kata orang-orang panti saat tau Intan ada di yayasan kita lagi?" tanya Bu Rita lagi.
"Orang-orang panti sudah tahu Mah. Orang-orang panti juga tau Lian istri Ardi"
"Hemmm"
"Lagian Mamah kan dengar sendiri. Tanpa Ardi berhentikan Intan akan mengundurkan diri" jawab Ardi lagi.
"Terus apa yang Lian lakukan? Kenapa Lian menyusulnya, apa mereka sudah saling kenal?"
"Kita tunggu Lian saja Mah, Ardi juga nggak tahu kapan mereka saling bertemu kenal" jawab Ardi.
"Kamu tuh jadi suami gimana sih?" tanya Bu Rita lagi masih marah.
"Ehm. Ehm" Anya dan Farid merasa tidak nyaman menjadi pendengar setia di antara emak dan ibu yang bertengkar itu.
"Farid kau juga? Kenapa tidak ada yang laporan apapun ke Tante mengenai yayasan" ucap Bu Rita menatap kesal ke Farid.
Farid menelan ludahnya.
"Maaf Tante, tapi semua yang di yayasan berjalan dengan baik. Jadi Farid rasa tidak perlu melapor" jawab Farid.
Anya menundukan kepala menggaruk pelipisnya, kenapa waktunya dihabiskan untuk mendengar drama keluarga Alya.
Setelah melihat jam tangan sudah pukul setengah 9. Kapan pulang ke Bogornya. Lalu dari arah luar Alya datang.
"Sayang, Mas marah kamu, kamu sudah lebih dari 5 menit, ngapain sih baik-baik ke orang macam dia" ucap Ardi ke Alya kesal tapi tetep masih sayang.
"Apa katanya? Apa dia menyakitimu? Maafkan mamah sayang, mamah nggak pernah cerita ke kamu selama ini. Apa kalian sudah saling kenal?" tanya Bu Rita.
Alya diam dan duduk dengan tenang.
"Mamah, Mas Ardi, liat sendiri kan? Alya baik-baik saja. Mba Intan baik kok, Mamah tenang aja" jawab Alya tersenyum lembut.
"Yang, kamu sendiri tahu kan apa yang dilakukan Intan ke Mira? Kamu juga tahu perbuatan dia ke kamu. Kamu tuh bodoh apa gimana sih?" tanya Ardi lagi kesal dengan Alya.
"Dengerin Lian Mas. Lian nggak apa-apa. Lian baik-baik aja. Malah Lian ngrasa tatapan Mba Intan itu sedang menanggung kesedihan yang dalam. Lian bisa rasain itu" tutur Lian mengungkapkan perasaanya.
"Kamu tuh terlalu perasa. Kalau begini terus bahaya. Kamu mudah dibodohi kalau begitu" ucap Ardi lagi mengatai Alya. Padahal Ardi sendiri juga mudah empati ke orang.
"Nggak Mas. Kali ini Lian yakin. Penilaian Lian nggak salah. Mba Intan emang udah berubah" tutur Alya lagi.
"Serah kamu lah" jawab Ardi cemberut.
"Mba Intan pamit resign dari butik" sambung Alya memberitahu.
"Syukurlah. Jadi Mas nggak perlu pecat dia. Sekarang Mamah denger kan? Mamah udah nggak salahin Ardi lagi kan sekarang?" ucap Ardi ke mamahnya.
"Mamah sih terserah kalian berdua. Mamah hanya nggak enak sama Lian" jawab Bu Rita menatap Lian.
"Mas kesel sama kamu!" ucap Ardi melirik ke Alya. Alya diam menunduk.
"Rid. Ayok berangkat!" ajak Ardi masih ngambek dengan Alya.
Bisa-bisanya Alya baik-baikin Intan. Sampai-sampai malam itu Alya nyuekin Ardi di waktu tanggungnya mau enak-enak.
"Mas Lian minta maaf" tutur Lian tidak ingin Ardi marah.
"Kita bahas nanti setelah Mas pulang dari Bogor, Ayo Rid berangkat!" ajak Ardi ke Farid.
__ADS_1
Lalu Farid dan Anya bangun dan berpamitan ke Bu Rita dan Alya.