
Lampu jalan menyala terang di malam itu. Mobil yang berlalu lalang pun membuat jalanan terasa lebih hangat dan ramai. Apalagi dengan kelap kelip lampu yang saling bertabrakan.
Dengan semangat membara Gery dan Ardi duduk di kursi tengah mobil Alphard Tuan Aryo. Mereka berenam siap bertarung menjadi superhero di hati pujaanya masing-masing.
"Siapkan kamera perekam Ger, lo mau kasih bukti ke calon mertuamu kan?" ucap Ardi memberi peringatan ke Gery. Jika nanti berhadapan dengan Tito harus direkam.
"Oke" jawab Gery paham.
"Malam ini harus beres, malam-malam begini seharusnya gue sedang nonton film sambil peluk istri" ujar Ardi ngebanyol menyindir Gery dan mengurai ketegangan.
"Iya gue ngerti gua juga nggak mau kali Mira nikah sama orang bre*gsek kaya dia" jawab Gery.
"Masih lama nggak Ron?" tanya Ardi ke Roni anak buah Ardi.
"Kalau menurut perkiraaan google masih 1 jam lagi Bos"
"Oke, gue istirahat dulu" ucap Ardi menyandarkan kepalanya ke jok mobil.
Gery mengikutinya sesekali melihat ponselnya. Sekarang layar ponsel Geru berganti tangan Gery dan Mira saat bergandengan saling menggenggam.
Mobil Ardi kemudian berbelok keluar dari jalan utama meninggalkan area ibukota. Rupanya tempat yang ditunjukan Istri Vicky berada jauh dari perkotaan.
Meskipun jauh, Ardi dan rombongan mantap pergi ke tempat itu karena dari pelacakan signal nomer ponsel Vicky, arahnya sama dengan alamat itu.
****
Istana Tuan Aryo
Tidak menunggu persetujuan dari menantunya, Bu Rita keluar dari kamar anaknya. Bu Rita berjalan cepat menemui Tuan Aryo di ruang kerja.
"Ada apa Mah?" tanya Tuan Aryo lembut ke istrinya sambil meletakan kacamatanya ke meja.
"Pah, ini gawat!" tutur Bu Rita dengan nafas memburu.
"Gawat kenapa?"
"Anakmu dalam bahaya Pah?"
"Bahaya gimana?"
"Ardi berurusan dengan keluarga Wiralila"
"Wira, ngapain dia?"
"Bukan Tuan Wiranya, tapi anaknya"
"Mamah tau darimana?"
"Lian cerita, kalau Ardi sekarang lagi nyari orang yang bunuh temanya. Teman Ardi dibunuh, karena dia bantu Ardi kasih tau kelakuan si anak Tuan Wira itu"
"Memang Sontoloyo anak itu. Biarkan dia mempertanggung jawabkan pilihanya" ucap Tuan Aryo sedikir ketus justru terkesan menyalahkan Ardi.
"Pah. Ardi ikut kesana! Papa nggak khawatir sama anak kita?"
"Mamah tenang aja"
"Tenang gimana? Mamah nggak mau dia terluka Pah"
"Mah Ardi laki-laki, dia udah mau jadi ayah. Dia udah mau kasih kita cucu"
"Ya justru, karena dia mau jadi ayah Pah. Kasian menantu dan cucu kita. Bantu Ardi Pah!"
__ADS_1
"Nggak usah khawatir, biar jadi pelajaran buat dia"
"Pah, Ardi anak kita, setua apapun dia, dia anak kita Pah. Masa anak Si Wira itu fitnah anak kita gay, biseksual. Papah nggak Marah? Dia anak kita lho Pah!" tutur Bu Rita mengadu.
"Ardi diam dari Papah. Itu berarti dia bisa selesaikan masalahnya Mah"
"Pah tapi Ardi kesana, Ardi datang ke sarang penjahat. Ardi mau bongkar bisnis Narkoba. Itu bahaya Pah buat dia, gimana kalau musuhnya bawa senjata? Mamah khawatir Pah"
"Udah Mamah tenang aja!"
"Mamah nggak bisa tenang"
"Iya akan papa urus" jawab Tuan Aryo dingin. "Tidurlah lebih dulu atau temani menantu kita. Semua akan baik-baik aja"
"Janji ya Pah"
"Ya"
Mendengar jawaban suaminya Bu Rita berhenti mengomel. Kemudian Bu Rita berbalik mendatangi kamat anak dan menantunya.
Meski Tuan Aryo tampak tenang dan tidak bergeming dari tempat duduknya. Tapi Tuan Aryo mengeratkan rahangnya, mengepalkan rahangnya dan meraih ponselnya. Itu berarti otaknya sedang berjalan dan memikirkan sesuatu.
Tuan Aryo bergerak dengan caranya. Walau bagaimanapun juga Ardi adalah darah dagingnya. Dalam lubuk hati Tuan Aryo, Tuan Aryo sangat menyayangi Ardi. Bahkan hidup Tuan Aryo dan apa yang dia miliki semua untuk kebahagiaan Ardi.
Ardi adalah dunianya, jagoan kecil yang dia perlalukan seperti raja. Hanya saja kini Tuan Aryo sudah mulai memasuki usia senja. Ardi juga akan menjadi seorang ayah, tentu cara mengungkapkan sayangnya berbeda.
****
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, rombongan Ardi tiba di depan rumah tua. rumah itu berada di tengah perkebunan di dekat pantai, seperti bekas gudang.
Tapi anehnya, di parkiran rumah usang itu terparkir 5 mobil. Dan 2 di antaranya mobil mewah.
"Itu kan mobil Tito" celetuk Gery melihat Aston Martin berwarna perak, mobil yang biasa dipakai untuk antar jemput Mira.
"Kurang ajar! Bajigurrr" umpat Gery mengepalkan tangan dan mengeratkan rahang. Gery sangat bernafsu meraih pintu mobil Ardi dan ingin segera turun.
Ardi meraih tangan Gery dan menahanya.
"Sabar Bro!" ucap Ardi memberi peringatan.
"Gue harus kasih pelajaran Ar, Tito ternyata iblis!" jawab Gery bernaf*u.
"Lo mau bunuh diri? Hah! Pake otak lo! Kalau lo turun sekarang, lo bukan hanya kehilangan Mira, karir lo, hidup lo, nyawa lo juga bisa ilang" tegur Ardi mantap.
Gery diam mendengarkan Ardi, Gery memang tidak berpengalaman dalam hal seperti ini. Bahkan ini pertama kalinya menghadapi sisi lain dari dunia yang dia kenal.
"Ya ya, terus apa yang mau kita lakukan?" tanya Gery merendah.
"Lo liat kan, mobil yang terparkir ada berapa? Estimasikan sendiri di dalam ada berapa orang? Atur strategi dulu" tutur Ardi berfikir. ya
"Oke. Gue ikut instruksi Lo"
"Ron" panggil Ardi ke Roni.
"Siap bos"
"Di antara kalian berempat, siapa yang pandai menyusup?"
"Rey Bos" jawab Roni.
"Berani?" tanya Ardi menatap ke Rey.
__ADS_1
"Siap Bos" jawab Rey mantap.
"Pakai jam tangan lo" ucap Ardi menyuruh anak buahnya memakai jam sekaligus alat komunikasi canggih.
"Hitung berapa orang di dalam, kalau situasi aman dan oke. Kita nyusul"
"Siap Bos!"
"Pastikan jangan sampai ketahuan"
"Siap Bos!"
Melewati dinding tembok gedung tua itu. Rey berjalan mengendap-endap. Rey berjalan dibalik tembok yang terhindar dari sinar lampu agar tidak ketahuan.
Rey menyusuri bangunan seram itu. Sayup-sayup terdengat suara musik dan orang tertawa. Rey mengintip dari kejauhan.
Rey mulai menghitung jumlah mereka. Dia juga mengintai kegiatan yang dilakukan di dalam. Di ruang depan gedung itu tidak tampak kegiatan yang mencurigakan. Hanya ada dua orang sedang bermain remi, mendengarkan musik dan merokok.
Kemudian Rey tetap maju, berlindung di balik tiang untuk bersembunyi. Rey berusaha masuk, di ruang tengah tampak beberapa orang sedang bekerja.
Rey membulatkan matanya dan memperjelas penglihatanya dengan sempurna. Memperhatikan apa yang sedang dikerjakan orang-orang itu.
Tampak sekitar 5 orang sedang membungkus benda seperti tepung ke plastik kecil. Di situ ada timbangan mikro, dan beberapa peralatan lain.
Fiks, itu markas Tito dan gudang Tito mengolah barang laknat yang mengancam kehidupan bangsa. Rey kemudian memberi kabar ke bosnya melalui jam tangan pintarnya itu. Rey juga memfoto aktivitas 5 orang itu.
****
Ardi, Gery dan ke 3 anak buahnya menunggu kabar dari Rey dengan harap-harap cemas. Mereka semua tampak tersenyum lega saat membaca pesan dari Rey.
"Hanya ada sekitar 8 orang. 2 lawan satu siap?" tanya Ardi ke tim.
"Siap Bos" jawab anak buah Ardi.
"Nang, lo jaga di sini kalau ada apa-apa cepat bertindak. Hubungi polisi sekarang juga, fiks ini markas mereka" ucap Ardi memberi perintah ke Danang.
"Siap Bos" jawab Danang.
Ardi, Gery, Roni, dan Andik turun dari mobil. Mengikuti jejak Rey, mereka menyelusup, mengendap endap masuk ke dalam melalui pintu belakang. Ardi ingin menangkap basah gudang bandar barang terlarang itu.
Ardi, Roni dan Andik sudah membawa senjata tajam sebagai bekal dan perlindungan mereka. Hanya Gery yang datang hanya membawa tekad dan asa demi cinta.
Setelah berhasil mengelabuhi dua penjaga yang terlena mendengarkan musik. Mereka masuk ke tempat yang Rey ceritakan. Kemudianereka berpencar saat sudah di dalam.
Gery mengekori Ardi, Rey sendirian, Andik dan Roni berdua. Mereka menyusuri ruangan, mencari Tito dan memfoto semua bukti bisnis laknat yang dijalankan Tito.
Gery yang hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk bermain, belajar dan bergelut di ruang operasi terlihat sangat tegang membuntuti Ardi. Untungnya saat di bangku SMP dan SLTA, baik Ardi dan Gery dibekali ilmu beladiri.
Akhirnya mereka sampai di ruang tempat dimana Rey melihat aktifitas karyawan Tito. Ardi masih tetap tenang. Sementara Gery mengepalkan tanganya sangat geram. Ternyata Tito penjahat kelas kakap. Bisa-bisanya mendekati Dokter sepolos Mira.
Tapi sayangnya, mereka berlima belum melihat batang hidung Tito. Padahal Ardi dan Gery yakin Tito ada di dalam rumah tua satu lantai itu.
"Mungkin ada di ruang itu" tunjuk Gery ke satu ruang dengan pintu tertutup. Tapi di depan mereka ada dua pintu.
"Coba kita masuk" ucap Ardi.
Lalu mereka berdua merayap melalui sisi tembok agar tidak terlihat. Ardi berjalan dengan tenang. Sementara Gery berjalan sedikit gugup, tidak sengaja Gery menyenggol saklar lampu di dinding tembok.
"Tap"
Tiba-tiba lampu di ruang gelap itu menyala.
__ADS_1