Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
92. Ardi Bodoh


__ADS_3

"Al! Ini apa?" tanya Anya kaget dan mendekatkan wajahnya ke leher Alya.


"Nggak mungkin kan ini ruam, atau tanda-tanda perdarahan heh? Trombositmu bagus banget, kamu juga nggak punya alergi kan?" tanya Anya emosi, lalu Anya menatap Alya tertunduk dan wajahnya memerah. Anya menatap ke bahu Alya lalu membuka paksa piyama Alya.


"Anya kamu apa-apaan?" bentak Alya menepis tangan Anya.


Meski tidak terbuka sempurna tapi Anya berhasil membuka sebagian dada Alya. Anya semakin yakin tebakanya benar. Di dekat belahan dada bagian atas Alya juga terdapat ruam ungu. Tapi bukan ungu alergi.


"Lo hamil kan Al?" tanya Anya menyudutkan Alya.


Alya menelan ludahnya gemetar. Air matanya keluar. Alya menangis karena kebohonganya harus terungkap dengan cara seperti ini. Alya juga takut Anya tidak mempercayainya lagi.


Alya ingat dua hari yang lalu saat di kantor suaminya, bahkan setiap hari sebelumnya. Suaminya selalu meninggalkan jejak di tubuhnya. Yang kemarin menghilang, hari ini di buatkan lagi begitu seterusnya. Entah kenapa Ardi sangat suka meninggalkan karya di tubuh istrinya.


Selama ini Alya selalu aman dari kecurigaan teman-temanya, karena Alya menutup auratnya dengan sangat baik. Tapi sekarang dia tinggal sekamar dengan Anya. Alya lupa menutupinya dan menyembunyikanya.


"Nggak nyangka gue Al! Munafik! Lo muna tau nggak?" umpat Anya dengan menghela nafas kasar lalu menghempaskan tubuhnya ke kasur membiarkan Alya menangis.


"Maaf. Aku bisa jelasin Nya" ucap Alya pelan sambil terisak.


Anya hanya diam dan mengatur nafasnya tidak percaya kenyataan terhadap sahabatnya. Alya yang dimatanya sahabat yang kalem, polos dan alim ternyata membohonginya. Anya ingin memaki Alya sepuasnya, tapi Anya juga kasian melihat Alya tampak pucat, murung dan lemah.


"Thok thok, Non Anya" Bu Dati mengetok pintu tiba-tiba.


Alya dan Anya yang sedang tegang pun saling berpandangan. Alya segera mengelap air matanya menatap ke pintu. Anya segera berdiri dan berjalan membuka pintu.


"Ada apa Bu?" tanya Anya ke Bu Dati, tidak biasanya pagi-pagi ketok pintu.


"Di depan ada mobil bagus Non, ada dua laki-laki pake baju hitam, pakai kacamata hitam juga. Saya takut mau bukain pintu Non"


"Laki-laki?" tanya Anya heran.


Aneh banget pagi-pagi ada tamu laki-laki, ini pertama kalinya Anya kedatangan tamu. Seingat Anya, di Jakarta Anya tidak punya teman laki-laki. Apalagi Anya perantauan, kehidupanya di Jakarta hanya kos, rumah sakit dan mall.


Anya pun berjalan ke jendela , membuka tirai dan mengintip dari jendela. Anya kaget melihat dua laki-laki berbadan besar memakai jaket hitam dan kaca mata hitam berdiri di depan pintu. Anya langsung menutup tirai dan masuk lagi.


Alya mendengar perkataan Bu Dati ikut berdiri, mengambil jilbabnya dan mengikuti Anya. "Siapa Nya?" tanya Alya ke Anya.


Anya menatap sinis ke sahabatnya. Anya merasa ini ada hubunganya dengan Alya.


"Siapa sih Lo sebenarnya Al?" tanya Anya tiba-tiba.


Alya menelan salivanya heran dengan pertanyaan Anya.


"Sepertinya mereka nyariin Lo deh. Gue nggak punya utang bank atau berurusan sama orang kaya. Gue juga nggak punya musuh atau saudara di sini. Coba deh lo keluar!" perintah Anya sinis ke Alya.


Alya menunduk dan mengikuti kata Anya. Alya sadar dirinya memang sedang bermasalah. Alya tidak mau merepotkan Anya. Alya berjalan ke pintu dan membukanya.

__ADS_1


"Selamat pagi Nyonya" sapa kedua laki-laki itu lembut dan menundukan kepala. Wajah Alya persis seperti foto yang ditunjukan bosnya.


Alya menatap kedua laki-laki itu heran. Tampangnya seram tapi kata-katanya sopan dan lembut, siapa mereka?


"Maaf, kalian siapa? Ada apa kemari?" tanya Alya lembut.


"Benar dengan Nyonya Berlian?" tanya laki-laki itu baik-baik.


"Iya"


"Kami ditugaskan untuk menjemput Nyonya. Silahkan ikut kami Nyonya" ucap laki-laki itu pelan. Alya hanya tersenyum getir melihat laki-laki itu.


Alya merasa kecewa terhadap suaminya. Kenapa menjemput istrinya menyuruh orang lain bukan dirinya sendiri. Segitu sibukkah? Meskipun Alya kesal dan tidak ingin bertemu Ardi, Alya masih berharap dan ingin melihat perjuangan suaminya, dengan tenaga pikiran dan waktunya. Bukan main suruh orang dengan uang.


"Saya tidak ingin pulang" jawab Alya tegas.


"Saya harus bawa Nyonya pulang, tolong bekerja sama dengan baik Nyonya"


"Sampaikan pada Tuanmu, aku baik-baik saja. Aku bisa pulang sendiri. Tidak usah lebay! Oke!" jawab Alya santai.


"Tapi Nyonya"


"Bilang ke dia. Aku tidak mau dijemput orang lain. Aku mau dia yang jemput" jawab Alya kesal. Meskipun masih belum ingin bertemu suaminya. Alya hanya ingin dua orang ini segera pergi dan tidak membuat Anya takut.


Mendengar perkataan majikanya dua orang itu saling pandang. Kalau pulang tanpa membawa nyonyanya pasti dimarahi bosnya. Tapi mau memaksa pernyataan Alya mengarah ke ranah pribadi yang tidak bisa dicampuri.


"Aku nggak pergi-pergi kok. Tuanmu itu lebay. Sudah sana kalian pulang!" jawab Alya lagi berusaha santai, berharap anak buah suaminya ini mau dikelabuhi. Tapi dua laki-laki itu tampak diam.


Akhirnya kedua anak buah Ardi kalah. Mereka pergi meninggalkan Alya. Mereka juga sudah lelah membuntuti Anya dan mengawasi kosan Anya.


"Lihatlah Nak ayahmu! Ibu pergi saja dia menyuruh orang lain untuk jemput kita. Apa dia tidak ingin melihat kita? Apa ayahmu tidak ingin minta maaf pada ibu atau menjelaskan apa yang terjadi? Apa pekerjaanya lebih penting dari kita? Dasar!" Alya melihat kepergian dua laki-laki itu sambil mengelus perutnya dan berbicara sendiri dalam hati.


*****


Istana Tuan Aryo Gunawijaya.


"Bodoh kalian! Bisa kerja nggak sih?" ucap Ardi membanting gelas di depan anak buahnya. Sementara anak buahnya hanya berdiri menunduk.


"Saya tidak menyuruh kalian memastikan dia baik-baik saja. Saya mau ketemu, dan saya ingin dia dibawa kesini. Sudah ketemu kenapa ditinggal pergi!" lanjut Ardi mengomel, belum mendengar penjelasan anak buahnya.


"Maaf Tuan"


"Maaf, maaf! Gaji kalian saya potong!"


"Tuan, Nyonya Berlian ingin dijemput Tuan" ceplos salah satu anak buah Ardi.


Ardi langsung terdiam, menelan salivanya melirik ke anak buahnya. Ardi diam sesaat, Ardi baru menyadari dirinya memang salah. Kalau Ardi merindukan istrinya kenapa tidak dari kemarin begitu pulang dari hotel Ardi menghubungi istrinya dan menjemputnya langsung pada saat pulang kerja. Pasti Alya tidak akan kabur. Ardi memang belum memprioritaskan istrinya.

__ADS_1


"Kenapa kalian baru bilang sekarang? Kenapa nggak dari tadi malam kalian bilang kalau kalian menemukanya?" tanya Ardi dengan suara lebih rendah tapi tetap mau menyalahkan orang.


"Maaf Tuan. Semalam kita belum memastikan Nyonya Berlian di rumah itu. Kami memastikanya setelah melihat Nyonya membuka jendela subuh tadi" tutur anak buah Ardi menjelaskan. Emosi Ardipun tampak mereda.


"Dimana alamatnya?"


"Mari kami antar Tuan" tawar anak buah Ardi. Ardipun mengikutinya.


*****


Kos-kosan Anya.


Setelah mobil anak buah suaminya benar-benar pergi, Alya kembali masuk ke dalam dan menutup pintu rapat. Alya masuk ke kamar Anya. Alya kaget melihat sahabatnya.


"Anya?" panggil Alya Nanar. Anya berkacak pinggang dan sudah mengemasi barang Alya.


"Aku bantu berkemas!" jawab Anya sinis.


"Anya, aku minta maaf aku bisa jelasin" ucap Alya kaget, Alya tidak menyangka Anya mengusirnya. Alya sendiri tidak tahu selain Anya Alya harus kemana lagi.


"Jelasin apa Al? Aku tuh jijik tau liat orang kaya kamu! Dasar munafik" umpat Anya kesal menahan air mata. Karena Anya sendiri sebenarnya tidak tega melihat Alya dan berkata kasar bukan kebiasaanya.


Sementara Alya sudah meneteskan air mata duluan. Alya tidak punya siapa-siapa lagi di Jakarta selain Anya. Alya hanya bisa menghela nafasnya dan mengeraskan rahangnya. Berusaha mengatur emosinya agar bisa bicara.


"Anya...Aku, Mas Ardi, kita ..." Alya bingung menjelaskan dari mana tapi sudah dipotong Anya.


"Gue nggak peduli ya Al, siapa lo sebenarnya. Gue nggak peduli! Gue nggak peduli siapa bapak anak lo? Atau bahkan mau lo istri simpanan, pelakor atau pelacur gue nggak peduli. Tapi gue peduli karena lo nggak jujur! Lo bohongin gue Al" Anya mengeluarkan semua emosinya, dan tidak tahan meneteskan airmatanya.


"Anya.. " panggil Alnya sambil menangis merasa bersalah.


Anya dan Alya sama-sama menangis dan diam. Lalu Alya melanjutkan perkataanya berusaha menjelaskan.


"Aku udah nikah, 2 bulan lalu. Itu juga"


"Stop Al! Gue nggak peduli, Lo udah bohongin gue. Gue anggep lo temen, gue percaya sama lo. Tapi lo boongin gue, Lo bohongin gue Alya. Gue nggak mau tau lagi. Sekarang lo pergi dari kosan gue!"


"Anya.. "


"Gue tau, lo kabur kan dari suami Lo? Heh? Ardi itu suami lo kan? Itu kenapa lo pingsan di kantin? Gue nggak mau berurusan sama lo lagi Al, sekarang lo pergi!"


Alya menunduk tidak bisa menjawab Anya lagi. Alya hanya bisa menangis menyadari kesalahanya.


"Makasih Nya lo udah baik sama aku" ucap Alya mengambil tasnya.


Anya hanya diam membiarkan airmatanya jatuh. Dan membiarkan Alya pergi.


"Aku minta maaf Anya, karena dari awal aku nggak jujur. Aku nikah mendadak. Tolong sampaikan salamku buat Dinda juga. Makasih" ucap Alya berpamitan. Lalu Alya mengambil tasnya dan meninggalkan kosan Anya.

__ADS_1


Sementara Anya masih berdiri dengan air mata mengalir. Anya merasa syok dengan sahabatnya. Anya kecewa karena Alya berbohong.


Tapi juga bingung, Anya juga berfikir kalau dirinya jahat, Anya tau saat ini Alya sedang hiperemesis, morning sickness dan juga punya masalah. Tapi Anya justru menambah rasa sakitnya Alya. Apa pantas Anya mengusir Alya, sahabat yang selama ini baik ke dia? Tapi Anya juga tidak ingin berurusan dengan orang seperti Ardi.


__ADS_2