Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
227. Abis


__ADS_3

Matahari mulai menyingsing,  sinar keemasanya mulai tampak. Udara yang dingin dan menggoda untuk malas kini mulai menghilang,  berubah menjadi hangat dan mulai mengusik jiwa-jiwa agar segera beranjak.


Ardi pun sudah rapih mengenakan kemeja berdasi. Siap menjalankan kewajibanya sebagai penerus Gunawijaya.


"Lian cocok nggak pakai jilbab ini?" tanya Alya dengan wajah imutnya mencoba jilbab voal terbaru yang dia pesan via online.


"Ck" Ardi hanya melihat dan berdecak.


"Huuumm" Alya cemberut dan mengerucutkan bibirnya. Bukanya mengomentari dan memuji Ardi justru memperlihatkan ekspresi tidak suka.


Lalu Ardi memencet hidung Alya gemas tiba-tiba.


"Iissh nyakitin lagi kaan?" tutur Alya menepis tangan Ardi.


"Mas bilang kalau ke luar rumah nggak usah cantik-cantik! Mas nggak suka!" jawab Ardi mengungkapkan kekesalanya.


"Lian jaga sore kok. Lian nggak pergi. Ini kan cuma nunjukin aja ke Mas. Lian dandan buat Mas, biar Mas pas ke kantor ingatnya wajah terakhir Lian yang cantik" jawab Alya membela diri.


"Ya udah kalau di rumah lepas aja. Pakai yang pendek aja. Nggak usah pakai baju sekalian kalau sama mas, nanti mas akan ingat terus" jawab Ardi ngebanyol.


"Isssh dasar" jawab Alya tanganya memukul lengan Ardi.


"Lhoh iya Sayang, beneran!" jawab Ardi menghindar dari pukulan istrinya.


"Nggak lucu bercandanya. Kalau pagi begini kan Pak Rudi, Mang Diman, Mang Adi, Pak Arlan kan udah berseliweran Mas. Jadi ya Lian pakai kerudung" jawab Lian lagi.


"Yaya, istri Mas memang terbaik" jawab Ardi mendekat kemudian memeluk Alya gemas dari belakang. Dan menciumi bahunya.


"Emmpt" Alya hanya mengeluh kegelian menerima perlakuan suaminya.


"Ikut Mas ke kantor yuuk!" bisik Ardi ke Alya.


"Ngapain?"


"Temenin mas kerja"


"Hemmm Lian pikirin dulu, sarapan dulu ya" jawab Alya jual mahal mengerjai suaminya. Melepaskan tubuhnya dari lilitan suaminya dan mengajak Ardi turun.


"Hemmm" jawab Ardi tak berdaya. Lalu mereka berdua sama-sama keluar menuju ke bawah.


Bu Rita dan Bu Mirna sudah cantik di meja makan. Begitu juga Tuan Aryo. Entah kenapa Alya memandang geli melihat pemandangan itu. Kenapa kesanya kaya Tuan Aryo punya istri dua.


"Isssh" Alya mendesis dan memukul kepalannya sendiri sambil berjalan mengusir pikiran kotornya.


"Kamu kenapa sih Yang?" bisik Ardi melihat Alya aneh.


"Lian nggak suka liat ibu jadi berubah gitu" jawab Lian berbisik. Bu Mirna memakai baju Bu Rita dan berdandan.


"Ibu maju kok nggak suka, bukanya kematin kamu dukung" jawab Ardi lagi.


"Tapi ibu jadi kaya centil gitu" jawab Lian lagi.


"Biarinlah" jawab Ardi membela.


"Ehm" Alya berdehem karena langkah mereka sudah hampir sampai ke meja makan.


"Hai Sayang" sapa Bu Rita.


"Hai Mah, Pah, Bu"

__ADS_1


Alya dan Ardi membalas tersenyum kemudian mencium ketiga orang tuanya itu.


Lalu mata Alya tertuju pada Bu Mirna. Rupanya Alya sudah tidak tahan memendam perasaanya. Meski bahagia melihat Bu Mirna bahagia tapi menurut Alya aneh aja melihat penampilan Bu Mirna.


"Ibu tumben berdandan pakai baju bagus dan pakai make up" tanya Alya terus terang.


Tuan Aryo yang sedang konsen makan sampai berhenti, dan mendelik ke Alya. Bu Mirna jadi tersipu, dan Ardi menyenggol lengan Alya.


"Ibumu jadi terlihat 10 tahun lebih muda kaan?" jawab Bu Rita tersenyum dan terlihat paling bahagia.


"Tapi aneh Mah" jawab Alya jujur lagi.


Bu Mirna menjadi merasa bersalah dikatai anaknya.


Bu Mirna sekarang memakai jilbab voal, padahal biasanya pakai kerudung terusan ala emak-emak di pasar. Bu Mirna juga memakai tunik dan celana bahan mahal. Padahal biasanya gamis kumal atau setelah baju kuno.


"Kamu gimana sih, Nak. Nggak aneh lah. Ibumu mulai hari ini akan bekerja, jadi penampilan harus dijaga" jawab Bu Rita lagi membela, sementara Bu Mirna masih diam mendengarkan karena malu.


"Bekerja?" tanya Ardi dan Alya terkejut.


"Iya, Sinta keluar sayang, kan kasian anak-anak, sayang juga sama fasiliras yang ada kalau kelas memasak ditiadakan, nyari chef yang mau mengabdi di panti kan susah. Jadi Ibu kalian yang menggantikan" jelas Bu Rita panjang.


"Oooh gt" Ardi dan Alya manggut-manggut.


"Tapi kenapa Mba Sinta keluar Mah?" tanya Alya lagi.


"Kata orang-orang panti Sinta mau melanjutkan usaha orang tuanya. Mereka kan punya bisnis di Paris" jawab Bu Rita.


"Oh gt?" jawab Alya mengangguk lagi. Tapi dalam hati Alya membatin kalau Sinta pergi karena Farid.


"Nggak apa-apa kan Nduk? Nak Ardi? Kalau ibu beraktivitas di panti? Ibu punya kok ijazah lulus dari sekolah tata boga" tanya Bu Rita sungkan ke anak dan menantunya. Khawatir mereka menentang.


"Lhoh ya nggak apa-apa to Bu. Ardi sangat mendukung perubahan Ibu, apalagi kalau ibu mau dan betah tinggal di Jakarta, Ardi seneng banget. Syukur-syukur ibu dapet jodoh di sini" celetuk Ardi bahagia. Membuat seisi meja makan mendelik dan menatap ke Ardi. Terutama Bu Mirna.


"Hati-hati Sayang" ucap Bu Rita memberikan gelas ke suaminya.


"Kamu itu ngomong opo Nak Ardi? Ibu sudah tua, udah mau punya cucu. Udah nggak mikirin begituan" jawab Bu Mirna.


"Tapi kalau besan bersedia. Saya banyak kenalan yang menduda, Besan, doa Ardi sepertinya tidak buruk" tutur Tuan Aryo ikut antusias ke obrolan anak dan besanya.


"Iya Jeng. Menikah itu kan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis. Biar kamu ada yang nemenin juga, beribadah juga. Jadi hidupmu lebih berwarna. Kamu kan udah belasan tahun sendiri" tambah Bu Rita membenarkan.


"Nah bener itu Bu" jawab Ardi lagi. Alya hanya menatap ibunya yang terlihat tersipu-sipu.


"Saya betah sendiri kok. Sudah-sudah jangan pada ngelantur. Nanti kalau masih bahas nikah terus. Saya balik ke Jogja aja" jawab Bu Mirna merasa dibully keluarganya.


"Hush yo jangan to!" jawab Bu Rita memilih tidaj membuly lagi.


"Ya sudah jangan ngobrol terus ayo sarapan. Apapun keputusan Besan saya hargai. Tapi kalau berubah pikiran, katakan saja. Rekan saya banyak yang duda dan kesepian" tutur Tuan Aryo melerai tapi masih ingin menggoyahkan niat Bu Mirna.


"Ya udah yuk sarapan" jawab Ardi.


Sebelum Ardi dan Alya turun, Tuan Aryo sudah lebih dulu memanggil Bu Siti. Mewawancarai kenapa bukan Pak Yang yang masak. Bu Siti juga sudah mencicipi semuanya.


Alya celingak celinguk mencari sambel tempe yang dia buat.


"Mas, tadi sambelnya masih ada kan?" tanya Alya ke Ardi.


"Masih banyak"

__ADS_1


"Kok nggak dibawa ke sini?"


"Panggil Bu Siti aja!"


"Kamu nyari apa Sayang?" tanya Bu Rita mendengar percakapan Ardi dan Alya.


"Tadi pagi Lian bikin smbel Mah. Lian mau makan itu. Lian pengen banget" jawab Alya.


"Oh ya udah, coba tanya ke Bu Siti"


"Ya Mah"


Lalu Alya ke belakang mencari Bu Siti. Bu Siti dan Ida terlihat sedang memberesi alat yang digunakan untuk memasak, termasuk cobek yang digunakan Alya sudah dicuci.


"Eh, Non Alya. Ada apa Non?" tanya Bu Siti melihat Alya.


"Sambel tempeku mana?" tanya Alya.


"Lhoh bukanya udah dimakan sama Non Alya dan Den Ardi tadi?" tanya Bu Siti.


"Kita emang udah makan. Nggado sedikit buat obatin kepingin. Tapi masih sisa banyak kok" jawab Alya.


"Oh iya Non?" tanya Bu Siti dengan ekspresi heran.


"Iya" jawab Alya mengangguk.


"Soalnya waktu saya beresin udah abis Non, ini makaya kita cuci" jawab Ida yang membantu Bu Siti.


"Oh gitu? Siapa yang makan ya?" tanya Bu Siti merasa bersalah tidak menjaga makanan kesukaan Alya.


"Ya udah nggak apa-apa besok aku bikin lagi. Makasih ya Bu" jawab Alya ramah.


"Maafkan kami ya Non" ucap Mba Ida.


"Nggak apa-apa. Tadi pagi kan aku udah makan"


"Ya Non" jawab Bu Siti dan Mba Ida mengangguk.


"Ya udah lanjutin pekerjaan kalian"


Lalu Alya kembali ke ruang makan bergabung dengan keluarganya. Memakan menu yang disediakan Bu Siti. Olahan daging, tumis brokoli, wortel, sawi dan udang.


"Mana sambelnya Sayang" tanya Ardi.


"Udah abis kata Bu Siti" jawab Alya membetulkan duduknya dan siap makan seadanya.


"Nggak masih banyak kok" jawab Ardi ingat betul tadi pagi masih banyak.


"Ya nggak tau nyatanya nggak ada" jawab Alya lagi.


Mendengar anak dan menantunya tidak kunjung makan. Bu Rita menegur lagi.


"Ngributin apa sih? Masalah sambel. Minta buatkan lagi. Nggak makan-makan dari tadi, keburu siang" omel Bu Rita.


"Iya Mah maaf" jawab Alya.


****


Hehe Author minta maaf. Semangat author lagi down.

__ADS_1


Kasih semangat author ya, sll like koment positif dan membangun


Makasih udah mau baca.


__ADS_2