Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
158. Aktif lagi


__ADS_3

Riuh ombak terdengar merdu bersaut-sautan seakan berpesta. Dedaunan ikut melambai dan menari dengan gembira. Langit yang biru perlahan memudar menjadi keemasan memancarkan kecantikanya. Alam seperti menyambut kedatangan sepasang kekasih halal yang sedang berbahagia.


Jilbab pashmina Alya terjatuh dan berkibar tersapu angin, tapi itu semua tidak mengurangi kecantikan Alya. Justru membuat Alya semakin anggun. Alya menikmati setiap belaian angin yang menyapu lembut wajahnya. Damai, indah, dan matahari mulai redup turun memperjelas pesonanya.


Alya berdiri di tepian pantai menikmati air asin yang sudah lama ia rindukan. Membiarkan buliran pasir ikut menghiasi ujung gamisnya. Berjalan sendiri meski diam, tapi hati dan jiwanya bernyanyi. Menyanyikan sajak kebahagian yang hanya didengar alam.


Sementara Ardi hanya duduk memperhatikan istrinya dari gazebo di bibir pantai. Membiarkan Alya menikmati dunianya sendiri.


Melihat istrinya tersenyum dan bahagia adalah tujuan utamanya. Senyum Alya yang selalu mengembangkan hati dan mengaliri semangat dalam aliran darahnya.


"Mas nggak pengen main air?" tanya Alya menenteng sepatunya mendekat ke Ardi.


"Nggak" jawab Ardi menggelengkan kepalanya. Ardi memilih duduk di gazebo pantai dengan satu kaki di angkat dan bersila.


"Hemm" Alya manyun melihat suaminya lebih suka duduk-duduk saja, Alya ingin suaminya menemaninya.


Melihat Alya manyun, Ardi justru meregangkan tangan kekarnya dan mengubah duduknya. Membiarkan kakinya menggantung dan menyuruh istrinya duduk.


"Duduk sini sih!" ucap Ardi meminta Alya duduk.


"Kok duduk?"


"Ombaknya gede, anginya kenceng. Duduk aja sini, peluk mas, nggak capek apa?" jawab Ardi dewasa.


"Hummm!" Alya masih manyun, padahal cuma beda 5 tahun, tapi tetap saja dunia dan keinginan mereka beda arah.


Untuk pertama kalinya Alya ke pantai berdua bersama laki-laki. Alya ingin seperti pasangan-pasangan muda yang dia liat di pantai. Ya meskipun sebenarnya telat untuk usianya sekarang. Tapi tetap saja Alya ingin merasakan yang namanya pacaran.


Alya ingin jalan-jalan berdua, berswa foto. Alya ingin bermain air, menikmati angin pantai. Alya ingin menikmati pesona sunset dan menghabiskan senjanya, menggenggam tangan suaminya dan berjalan berdua. Eh suaminya malah pengenya duduk-duduk aja dan masuk ke kamar.


"Mas capek Yang. Coba kalau kamu nggak kerja. Kita bisa nginep di sini. Terus besok pagi-pagi mas anterin kamu jalan-jalan" tutur Ardi menepuk tempat duduk di sampingnya menyuruh Alya duduk.


Ardi tahu istrinya manyun ingin jalan-jalan. Tapi Ardi yang 5 tahun lebih tua memilih duduk menikmati pemandangan.


Alya mengikuti suaminya, duduk di sampingnya dan merapihkan jilbabnya yang tertiup angin.


"Kapan-kapan kalau Lian libur kesini lagi yah. Kita kan nggak pernah kencan" jawab Alya menatap suaminya memohon.


Berpacaran dengan pasanga halalnya seperti pasangan muda lain, menikmati pemandangan adalah salah satu cita-cita yang Alya impikan. Bahkan masuk dalam ceklist mimpi hidupnya. Harusnya sekarang waktunya merealisasikan itu. Tapi suaminya lelah.


Ardi menatap Alya dewasa. Lalu tanganya menyentuh dagu Alya.


"Nggak ada orang, dilepas aja jilbabnya, mas pengen liat rambut kamu terurai" bisik Ardi mencari ikatan pashmina instan Alya


"Lian pengen foto dulu Mas. Fotoin Lian yah!" jawab Alya menepis tangan suaminya dan menolak membuka jilbab.


Alya pengen berfoto cantik ala-ala selebgram dengan latar sunset seperti teman-temanya.


"Ck. Ngapain sih foto-foto segala" jawab Ardi ketus tidak menyadari kepuberan Alya yang terlambat.


"Ya biar ada kenang-kenanganya gitu. Kita foto berdua yah!" tutur Alya beralasan.


"Nggak! Jangan jadi anak alay. Kita udah tua. Buat apa? Buat pamer? Nggak usah" jawab Ardi lagi melarang.


"Ishh!" Alya hanya mendesis manyun.


"Cuma mas yang boleh liatin kamu. Nggak boleh foto-foto, bahaya kalau nanti dicuri orang"


"Nggak Lian upload deh. Buat konsumsi pribadi, yah!" sambung Alya tetap berusaha.


"Ya udah sini!" jawab Ardi diam.


Lalu Alya berdiri dan siap berfoto. Dengan malas Ardi memotret Alya dengan ponselnya beberapa kali.


"Bagus nggak? Lagi dong" ucap Alya beberapa kali dengan centilnya.


Sementara raut wajah Ardi sudah sangat suntuk. Dan akhirnya keluar marahnya. Ardi bangun dan mengajak Alya pulang.


"Mas bukan tukang foto. Kesini mau maen apa sesi foto? Pulang!"


"Ish, iya maaf" jawab Alya manyun menundukan kepala lalu mengikuti suaminya.


Tapi Alya tidak menyerah, sambil jalan Alya menggandeng lengan suaminya, mengarahkan kamera depanya dan berswa foto meski Ardi cemberut. Akhirnya Alya punya foto kencan untuk pertama kalinya.


"Nggak boleh dishare! Awas kamu, udah tua juga" gerutu Ardi merasa aneh karena Alya telat puber.


"Iya ya" jawab Alya mengikuti suaminya nyengir. Yang penting punya foto liburan bareng suaminya.


Mereka berduapun pulang ke rumah Tuan Aryo karena teman Arlan sudah menunggu.


"Nggak bisa diubah apa sayang jadwalnya? Masa mas harus tidur sendiri sih?" gerutu Ardi di perjalanan menyadari malam ini Alya hendak jaga malam di UGD.


"Ya gimana? Cuma dua malam kok. Abis itu libur" jawab Alya sendu.


"Hah? Apa! Dua malam? Yang bener aja. Nggak, nggak!" ucap Ardi tidak terima jadwal Alya dua malam berturut-turut malam terus.

__ADS_1


"Mas, ini bukan yang pertama kalinya Lian jaga malam. Waktu tinggal di apartemen mas ijinin Lian jaga, mas biasa aja. Apa bedanya sekarang?"


"Kemarin-kemarin kamu belum hamil. Mas belum tahu kamu hamil. Sekarang kamu hamil udah sih keluar aja!" tutur Ardi kembali mengungkit Alya untuk segera berhenti kerja.


"Iya, tapi nggak sekarang. Beberapa bulan lagi yah. Biar Lian dapet STR dan surat keterangan melakukan pengabdian" jawab Alya menawar.


"Ck. Ribet banget sih siapa yang bikin peraturan begitu?" gerutu Ardi lagi.


"Hemmmm" Alya hanya bergumam tidak ingin menjawab dan bertengkar. Lalu mereka saling diam selama di jalan.


Alya memilih bermain ponsel melihat foto-fotonya. Sementara Ardi tertidur di mobil.


****


Rumah Sakit


"Benang dan jarum silkam Sus, nomer 2" ucap Dinda ke perawat yang mengasisteni dirinya.


Dengan cekatan perawat menyiapkan seperangkat nail puder, gunting dan klem. Tidak lupa kassa, nacl dan betadin.


Dengan menggunakan sarung tangan, Dinda mengerjakan tugasnya dengan cekatan. Melakukan penanganan terhadap remaja yang datang dengan luka terbuka di tangan setelah berantem dan terjatuh mengenai batu.


Tidak lama Dinda selesai menjahit luka pada pasienya. Dinda membuka hansdcoonya, cuci tangan.


Dinda membiarkan perawat yang membereskan, mencuci dan menutup luka pasienya dengan kassa. Kemudian Dinda kembali duduk, meraih pensil, menulis resep obat dan mendokumentasikan apa yang dia lakukan.


"Perdarahanya udah kita tangani. Jaga kebersihan. Obatnya diambil di apotik, minum teratur ya! Seminggu lagi kontrol" tutur Dinda memandang iba ke remaja laki-laki di depanya.


"Baik Dok!"


"Jangan diulangi lagi. Saya nggak mau tolongin kamu kalau berantem lagi. Apa mau saya laporkan ke polisi" tutur Dinda mengedukasi.


"Jangan Dok!"


"Kenapa kamu berantem?" tanya Dinda lagi ikut prihatin dengan generasi sekarang.


"Dia merebut pacar saya Dok!" jawab remaja itu polos.


"Emang umurmu berapa?"


"16 tahun"


"Ck. Kalian itu ya. Masih sekolah, udah pacar-pacaran, pake acara berantem-berantem segala. Pacaran itu nanti kalau udah kerja. Sekalian nikah" tutur Dinda mengedukasi pasienya.


"Udah sana pulang! Belajar yang bener biar jadi orang sukses. Baru nanti cari perempuan yang setia"


"Iya Dok. Makasih dokter cantik. Selamat malam" jawab remaja itu mengambil resep dan berpamitan.


"Hiish" Dinda mendesis melihat remaja itu pergi.


Setelah pekerjaanya selesai Dinda terdiam. Dinda duduk di bangku nurse station bergabung bersama perawat. Kemudian Dinda terdiam.


"Anak jaman sekarang SMA udah pada punya pacar? Kenapa gue setua ini masih jomblo. Hiks" gumam Dinda dalam hati merutuki nasibnya.


"Padahal temen-temen SMA gue udah pada nikah, punya anak. Alya juga bentar lagi punya anak. Tuhan, kapan aku ketemu jodohku" gumam Dinda lagi membolak balikan ponselnya.


Kemudian Dinda membuka ponselnya. Dinda memasang fotonya saat jalan- jalan di Jogja. Lalu Dinda memandanginya dengan seksama.


"Dika, Dika, kamu berkarisma banget sih. Tapi sayang kamu masih kuliah. Apa mau ya dia gue pacarin? Ahh gue kan cewek. Gimana gue pacarin dia, kapan gue ketemu dia lagi? Nomer hapenya aja nggak punya. Aaah"


Dinda kemudian menjatuhkan kepalanya di meja dan menghentakan kakinya. Perawat di samping Dinda bingung melihat tingkah Dinda.


"Ada apa Dok?" tanya perawat.


"Ah, nggak! Nggak apa- apa" jawab Dinda malu membetulkan rambut pendeknya.


Tidak lama dari itu, dari pintu UGD petugas pengantar pasien dan satpam mendorong brankar pasien. Datang dua pasien satu balita dengan keluhan demam tinggi, satunya laki-laki paruh baya dengan keluhan sesak nafas.


Dinda dan perawat bangun dari duduknya, meraih handsanitizer dan stetoskop. Berjalan cepat dan bersiap menunaikan tugasnya lagi. Sekilas Dinda melihat jam dinding.


"Malam ini Dokter Alya mulai kerja kan sus?" tanya Dinda saat mencuci tangan dengan hansdcrub.


"Iya Dok"


"Syukurlah, siapkan kanul oksigen, posisikan semi fowler" perintah Dinda ke perawat.


Dinda memeriksa pasien sesak dulu. Hatinya sedikit lega karena Alya kembali bekerja. Dinda kemudian melakukan anamnesa dan pemeriksaan ke laki-laki paruh baya. Setelah pasien stabil Dinda menyuruh perawat melanjutkan pemeriksaan rontgen.


Dinda beralih ke balita yang tampak demam tinggi. Dinda mendekatinya dengan ramah. Dinda membawa termometer dan stetoskop. Dinda menyentuh balita itu dengan lembut, kemudian hendak memasang termometer, tiba-tiba balitanya menangis kencang.


"Tata nggak mau doktel itu. Tata mau doktel yang pake kudung" rengek balita itu ke ibunya.


Mendengar ucapan balita itu Dinda sedikit terhenyak. Ada rasa tersinggung karena pasien menolaknya. Tapi Dinda menepis semua perasaan itu, yang penting menyelesaikan tugasnya. Tapi sesaat Dinda juga penasaran siapa rekan dokter yang dimaksud anak ini.


"Maaf dokter, anak saya sangat rewel" ucap ibu balita merasa tidak enak.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Bu, anak kecil memang suka begitu. Tapi kalau boleh tau yang dimaksud adek, dokter siapa ya?"


"Kalau tidak salah namanya Dokter Lia apa Alya gitu Dok?"


"Oh iya, dia teman saya. Sebentar lagi dia datang kok. Sayang sambil nunggu Dokter Alya, Dokter Dinda periksa dulu ya" ucap Dinda merayu balita itu.


Tapi balita itu menangis semakin kencang dan menendang-nendang kakinya menolak Dinda.


Karena tahu Alya sebentar lagi datang Dinda memilih mundur. Dinda juga tahu kalau kondisi pasien ini tidak darurat dan mengancam nyawa.


Dinda menyuruh perawat menyiapkan seperangkat alat infus dan sampling darah. Kemudian Dinda memilih menulis rekam medis sambil menunggu Alya.


Tidak lama Alya datang dengan tergesa-gesa. Dinda tersenyum bahagia melihat Alya kembali mengenakan seragam scrubnya. Dengan segera Dinda mengoperkan pasienya sekilas.


Alya langsung beraksi. Pasien balita itu langsung diam saat disapa Alya. Bahkan pasien balita tampak menurut saat Alya hendak memasang infus di tanganya.


Entah racun dan pelet apa yang Alya berikan ke pasien-pasienya sehingga Alya disukai pasien. Padahal semua dokter juga ramah, cantik dan tampan.


"Huft" Alya mencuci tangan kemudian duduk di kursinya setelah selesai melakukan tindakan.


"Gue seneng banget lo udah kerja lagi" tutur Dinda ramah.


"Aku juga seneng bisa kerja lagi"


"Lo pake pelet apa sih, anak kecil pada nurut gitu sama lo, sesuka itu sama lo?" ucap Dinda polos.


"Jangan anggep mereka pasien, anggap mereka keluarga kita yang sedang butuh bantuan kita, bicara pake hati Insya Alloh mereka kooperatif"


"Hemm lo emang the best doctor Al" jawab Dinda memuji Alya.


Alya memang selalu ramah, tulus dan tidak membedakan kasta. Bahkan Alya pernah bayarin laki-laki tua yang tidak punya asuransi dan uangnya kurang saat periksa ke UGD. Laki-laki itu post jatuh saat perjalanan jualan siomay.


"Aku sedih Din, tiap hari suamiku nyuruh aku di rumah aja, aku nggak tahu harus tetep jadi dokter atau fokus jadi istri" ucap Alya curhat saat Dinda memujinya.


"What? Lo mau jadi IRT? Pasien pada nyariin elu tau. Lo yakin mau keluar? Bukankah ini mimpi lo?" tanya Dinda kaget merasa sayang Alya harus jadi IRT.


"Ya, aku masih coba buat ngerayu dia. Semoga dia ijinin" jawab Alya lemas.


Lalu pandangan Alya beralih ke tempat duduk di dekat pintu UGD.


"Lo liatin siapa?"


"Liat gadis cantik berjaket hitam itu?" jawab Alya menunjuk gadis berambut pendek, berbadan tinggi ramping berpakaian serba hitam.


"Siapa dia?" tanya Dinda memperhatikan perempuan itu.


"Dia namanya Fitri, dia pengawalku. Suamiku sinting kan? Dia bakal duduk di situ terus sampai aku pulang"


"Hah?"


"Ck. Boleh nggak dia aku bawa ke kamar kita? Kasian aku kalau dia begadang di situ terus. Suamiku sering berlebihan, tapi aku nggak bisa mencegahnya" ucap Alya meminta ijin.


"Aku sih nggak masalah. Lo komunikasikan sama perawat dan kepala ruang" jawab Dinda memberi solusi.


"Oke"


"Al. Lo punya nomer ponsel Dika nggak? Minta dong" tutur Dinda tiba-tiba.


"Dika?" tanya Alya kaget.


"Huum"


"Buat apa?"


"Udah sih nggak usah banyak tanya"


"Jangan bilang kamu naksir Dika"


"Kepo!"


"Kamu beneran naksir Dika?"


"Buru mana nomornya!"


"Din, dia berondong, dia masih kuliah lho"


"Punya nggak nomernya?"


"Hehe enggak. Tapi suamiku punya"


"Mintain yah!"


"Jawab dulu pertanyaanku!"


"Mintain yah! Gue tunggu besok!"

__ADS_1


__ADS_2