
"Bagaimana keadaan Alya, Ar?”
Setibanya di rumah sakit, Bu Rita langsung menemui Alya ditemani Ida.
Sementara Tuan Aryo bersama anak buahnya berbicara dengan polisi. Tidak mau tau, hari ini juga Tuan Aryo ingin semua drama menjengkelkan ini berakhir.
Rasanya kepalanya sudah pening, apalagi mengingat tinggal beberapa hari lagi mereka akan menyelenggarakan pesta. Ada-ada saja halanganya.
“Mamah?” pekik Ardi bangun dari duduknya. Dengan wajah lelah dan menyimpan guratan kesedihan Ardi dengan sabar duduk mendampingi istrinya.
Ardi bangung meraih tangan mamahnya menciumnya kemudian memeluknya sebagai topangan dan curahan kalau Ardi juga lelah. Meski Ardi tak mau mengucapkanya. Hari ini anak dan ibu itu akur.
“Hhhh” Bu Rita hanya menghela nafasnya pelan dan mengeluh bahu anaknya pelan. Tidaj banyak kata. Rasanya semua hal membuatnya lesu.
Ida di belakang Bu Rita hanya mengekor, berdiri mwnyaksikan Nyonya dan Tuanya.
“Kandunganya baik- baik saja kan?” tanya Bu Rita duduk di tepi ranjang Alya dan mengelus tangan Alya yang terlelap karena obat.
“Sehat Mah, kata dokter, Berlian hanya butuh waktu istirahat” tutur Ardi lirih.
Bu Rita mengangguk mengerti. Sangat wajar jika Alya syok, dia pasti lelah, bekerja seharian begadang di saat hamil, belum sempat sarapan juga dan menghadapi masalah yang menyebalkan.
Bukan menyebalkan tapi bikin habis kesabaran, rasanya sudah muak dengan Lila. Apa sebenarnya motivasi Lila, tidak ada bosan- bosanya bertingkah.
Dan kenapa harus ada yang pergi. Kenapa tega? Dulu Jack, Mang Adi dan sekarang Mia. Apa yang diingini Lila, padahal Ardi sudah cukup baik tidak membunuh kakaknya dan dirinya.
Tapi rupanya Lila memang lincah seperti belut, dia pandai bersembunyi dan lari. Dan meski sudah diambang kehancuran rupanya Lila banyak kawan yang terus membantunya menuruti kegilaan akalnya. Mungkin karena Lila mempunyai sejuta iming- iming indah.
“Ya sudah rawatlah istrimu dengan baik, jangan biarkan banyak pikiran, apalagi sampai mengganggu kesehatan! Biar papah yang urus semuanya” tutur Bu Rita.
“Maafin Ardi Mah! Seharusnya Ardi yang selesaikan” ucap Ardi merasa bersalah masih merasa merepotkan orang tuanya.
“Jangan tinggalin Alya dia butuh kamu! Papah melakukan ini untuk cucunya” tutur Bu Rita.
“Ya Mah!” jawab Ardi.
“Ya sudah, Mamah urus pemakaman Mia dulu ya!”
“Faisal dan Mang Adi gimana Mah?” tanya Ardi masih sempat memikirkan orang lain.
“Hhh" Bu Rita menghela nafasnya sebentar.
"Ya mau gimana lagi, semua sudah terjadi, mau tidak mau Faisal harus terima semua ini. Kita hanya tinggal mendo’akan Mia, memberikan penghargaan terakhir kita dengan mengurus pemakamanya. Faisal sudah di sini kok” tutur Bu Rita pelan dengan tatapan kosongnya.
Mereka semua memang bukan keluaraga yang terhubung ikatan darah. Tapi mereka semua adalah orang sudah menghabiskan waktu dan harinya mengabdi pada keluarga Gunawijaya dengan setia. Tentu saja Bu Rita ikut bersedih memikirkanya.
“Iya Mah!” jawab Ardi lesu.
“Mamah pulang ya! Sepertinya proses pemandian jenazahnya sudah selesai tutur Bu Rita lagi”
“Ya Mah” Ardi mengangguk mempersilahkan ibu dan pembantunya pergi.
__ADS_1
Ida terus mengekori Bu Rita. Rasanya ingin segera melihat Mia. Otak dan pikiranya seperti tidak sinkron.
Melihat Alya berbaring terlelap dengan selang infus di tangan juga Ida seperti syok. Sebenarnya ada apa dan kenapa kehidupan yang semula terasa sempurna menjadi sedemikian menyakitkan.
Di depan ruang perawatan jenazah, pria muda tampak menundukan badanya dan menangis tanpa tahu malu.
Sangat terlihat dari rambutnya yang acak- acakan dan tatapan matanya yang kosong dan basah. Laki- laki itu memendam sakit dan kecewa yang amat dalam.
Kenapa harus semenyakitkan ini merasakan cinta. Kenapa harus dengan cara ini mereka berpisah. Semua ingatan Faisal masih jelas terbayang.
“Ai cinta abang, ai sayang abang... Maafi Ai Bang. Ai ngelakuin ini buat Abang. Ai ingin menikah dengan Abang"
Kata- kata Mia masih terus menghantuinya. Faisal sangat merutuki perjalanannya, kalau bisa memutar waktu. Faisal ingin mencegah dan membenci cinta Mia yang begitu besar dan membuatnya bodoh.
Kenapa Mia harus mempunyai cinta yang justru membuatnya terpuruk. Cinta yang diinginkan Faisal bukan cinta yang melemahkan.
Kenapa juga Faisal tidak pernah mencari tahu siapa kakak Faisal. Padahal apapun dan siapapun keluarga Mia, Faisal akan menerimnya, Faisal akan menghadapinya dengan jalan yang benar.
Tapi kini nasi telah menjadi bubur. Bukan hanya tidak jadi menikah, Mia sudah pulag ke pangkuan Tuhanya. Mereka akan berpisah untuk selamanya. Mia sudah meninggalkanya, hidup dalam keabadian atas nama cinta.
Lantas bagaimana sesungguhnya detik- detik akhir Mia. Tuan Aryo di salah satu sudut ruang tahanan bersama anak buahnya sedang memeriksa.
“Sabar Bang!” ucap Ida lirih menghampiri Faisal yang duduk sendirian.
Meski tempo hari Ida sangat kesal dan jengkel. Tapi melihat Faisal yang kini tampak lemah dan hancur, Ida jadi kembali bersimpati. Karena Ida juga merasakan hal yang sama, sakit karena kehilangan orang yang sudah melebihi saudara.
Di dampingi Bu Rita Ida dan Faisal duduk bersebelahan. Menunggu jenazah Mia di bereskan. Selang beberapa menit petugas ruang jenazah membuka pintu.
Mereka keemudian berdiri, mengikuti petugas rumah sakit membawa jenazah Mia dibawa ke mobil jenazah.
“Iya Nyonya” jawab Ida dan faisal mengangguk. Lalu mereka berdua masuk ke mobil jenazah mengantar Mia. Semua itu sebagai ujud cinta dan kasih sayang mereka.
Bu Rita kemudian menelpon suaminya. Agar Tuan Aryo menghampiri Bu Rita dan pulang bersama.
****
Istana Gunawijaya.
“Ayo turun Baby” tutur seorang kakek mengulurkan tanganya menggendong cucu lelakinya.
Keluarga kecil itu turun dari taksi online di depan pagar besar sebuah istana yang halamanya luas, mereka membelalakan matanya dengan sempurna.
Dheg
Segala macam terka dan tanya memenuhi kepala anak dan bapak itu. Di depan gerbang besar itu ada bendera putih berkibar menebarkan aura kepiluan.
Intan dan Tuan Didik menelan salivanya dengan deguban jantung yang menderu, seperti bunyi genderang perang bertalu-talu.
“Siapa yang meninggal? Tuan Aryo? Ardi? Mama Rita? Atau Alya? Tidak, tidak mungkin!”
Intan dan Tuan Didik saling pandang. Di balik pagar besar itu di ujung halaman luas istana Keluarga Gunawijaya, tampak tenda kecil. Beberapa orang berpeci dan berapakaian hitam berkumpul duduk di kursi yang disediakan.
__ADS_1
Nafas Intan dan Tuan Didik semakin kencang. Benar memang keluarga rekan mereka sedang berduka.
Tapi kenapa tidak banyak mobil terparkir, bahkan rangkaian bunga ucapan belasungkawa tidak ada.
Tidak ada pula siaran televisi yang meliput. Ini keluarga Gunawijayaa, tidak mungkin rekan bisnis dan koleganya yang sangat banyak tutup mata.
Apa karena Intan dan Tuan Didik terlalu pagi, dan yang menjadi pertama tau makanya masih sepi pelayat. Tapi kemarin Alya masih tampak biasa saja.
Mereka berdua terdiam. Mau masuk atau pulang. Tapi tidak, justru momen begini akan baik untuk memperbaiki hubungan.
“Ayo Pah masuk!” ajak Intan bulat ingun segera masuk, di tanganya menggantung paper bag kado resepsi untuk Alya.
Dengan perasaan campur aduk. Intan dan Tuan didik berjalan cepat segera ingin tau apa yang terjadi.
Sesungguhnya Intan ragu, apa iya paper bag itu akan tetap dia bawa. Kenapa acara yang Intan bayangkan mewah dan meriah menjadi acara berkabung sedih sangat sepi dan mencekam.
Istana Gunawijaya memang terletak jauh dari kota, berhektar- hektar tanaah di sekitar situ kepunyaan Tuan Aryo. Rumah besar itu tidak bertetangga dan tertutup pagar besar yang mengelilingi rumah. Lalu sekitarnya pepohonan rindang. Itulah sebabnya Tuan Aryo tak punya tetangga.
Bahkan hanya orang- orang tertentu yang mempunyai akses bisa masuk ke rumah itu. Tentunya yang dekat dan mengenal anggota keluarga Gunawijaya.
Untuk upacara pemakaman Mia pun. Tuan Aryo mengkoordinasi karyawanya menjemput ulama dan perangkat desa setempat. Yang melayat hanya sesama rekan kerja Mia dari yayasan Gubawijaya. Mia juga akan dimakamkan di makam keluarga Gunawijaya yang tidak jauh dari rumah mereka.
“Ehm” Tuan Didik dan Intan sampaike tenda. Semua yang ada tampak menunduk dan Intan tidak mengenalnya.
Dengan langkah canggung Tuan Didik dan Intan duduk di salah satu kursi selayaknya pelayat. Intan mengintip ke dalam rumah. Tapi di dalam rumah tampak sepi bahkan pintunya tertutup kan aneh sekali. Yang terbuka justru akses ke halaman belakang.
“Sebenarnya siapa yang meninggal” batin Intan.
Kenapa di dalam rumah sepi sekali. Ini di tenda pelayat juga sepi, hanya beberapa orang laki- laki yang mungkin perangkat desa sedang menunggu kedatangan jenazah Mia.
“Maaf Non Intan ya?” sapa seorang pelayan mengenali Intan.
“Eh Mang Diman” jawab Intan menoleh ke pelayan lama Tuan Aryo. Intan hendak bertanya tapi belum sempat.
“Duduk dulu Non. Sebentar saya panggilkan Nyonya besar” jawab Mang Diman sok tahu, dikira Intan memang sudah tau dan mengira Intan tamunya Bu Rita.
Mang Diman masuk ke dalam. Bu Mirna dan yang lain tampak berkumpul di ruangan samping rumah Tuan Aryo. Mereka memang tidak memasukan jenazah Mia di rumah utama.
Tapi di bagian samping rumah Tuan Aryo juga terdapat ruangan besar seperti aula. Itu tempat Tuan Aryo berolahraga. Di situlah Bu Mirna menyiapkan segala keeperluan mengkafani dan menyolati Mia. Ditemani para asisten tumah tangga.
“Nyonya ada tamu” tutur Mang Diman mendekat Bu Mirna, karena sekarang hanya ada Bu Mirna yang ada hubungan keluarga. Dans menjadi Tuanya.
“Oh ya!” jawab Bu Mirna mengngguk, merasa menjadi wakil besanya.
Lalu Bu Mirna bangun dan mengikuti Mang Diman. Menemui tamu yang dibicakan Mang Diman.
Dheg
Langkah Bu Mirna berhenti saat kedua indra penglihatanya mendapati wajah yang berpuluh- puluh tahun tidak dia lihat. Rasanya campur aduk. Kenapa bisa bertemu di sini sekarang.
“Nurmala?” pekik Tuan Didik.
__ADS_1
“Mas Didik?” lirih Bu Mirna.
Kedua insan itu saling kaget dan reflek Tuan Didik berdiri sambil mengesampingkan Baby El. Intan dan Mang Diman menatap bingung ke Bu Mirna dan Tuan Didik. Ternyata Bu Mirna dan Tuan Didik juga saling kenal.