Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
96. Puasa


__ADS_3

Sebagai laki-laki sholeh dan bertanggung jawab. Farid fokus menjalankan tugas dan amanah dari tante dan sabahabatnya. Apalagi keluarga Ardi banyak memberikan donasi ke kampus orang tua Farid. Membuat Farid merasa lebih semangat lagi.


Selain itu, menurut Farid sendiri, panti gunawijaya memang patut dia perjuangkan. Mengingat banyak wajah-wajah polos yang menggantungkan kehidupanya dan masa depanya dari sana. Farid tidak merasa dipekerjakan atau diperalat oleh keluarga Gunawijaya.


Farid justru merasa bahagia dilibatkan dan dipercaya Tante Rita dan Ardi mengurus panti. Sifat Farid yang lembut dan tulus membuat dia merasa ketika dia bisa berbuat sesuatu untuk orang lain di situlah arti hidup dan bahagia sesungguhnya.


Suksesnya tempat usaha keluaran Yayasan Gunawijaya bukan lagi tentang uang atau keuntungan. Tapi semua itu untuk menopang kebutuhan dan kehidupan dari anak-anak panti yang mereka tampung. Ardi dan Bu Rita selalu mengupayakan panti mereka jangan sampai bergantung pada sumbangan. Tapi berusaha mandiri, dan mengajarkan anak-anak asuh mereka mandiri juga.


Kalaupun menerima bantuan harus dipastikan siapa pendonornya. Apa motifnya? Kalau tidak jelas, Ardi menyuruh Farid menganjurkan pendonor untuk mencari yayasan lain yang membutuhkan.


Ardi dan Bu Rita selalu bertekad, wujud syukur, zakat dan penggunaan keuntungan bisnisnya ya mengurusi dan menghidupi anak-anak yatim piatu di panti. Itulah sebabnya Ardi dan Tuan Aryo selalu berusaha berbisnis dengan bersih. Hal itu juga yang membuat perusahaan Gunawijaya semakin maju.


"Sudah siap mbak?" tanya Farid yang sudah di panti bersama Sinta dan anak-anak panti yang hampir lulus SMA.


"Sudah Kak" jawab Sela, salah satu anak panti yang sudah pandai memasak berkat ajaran Sinta.


Lalu Farid berjalan dan berkeliling kafe, mengecek persiapan pembukaan kafe dan restoran danau yang tinggal 2 hari lagi.


"Semoga kafe ini sukses ya Kak" ujar Sinta yang berdiri melihat ke danau di samping Farid.


"Aamiin, Insya Alloh kalau niatnya baik akan dikasih sukses" jawab Farid bijak ke Sinta.


"Besok. Dengar-dengar mau diliput media?" tanya Sinta lagi.


"Buat iklan aja, sama media sosial laman kita. Biar jangkauan pasar kita lebih luas"


"Pasti rame dan meriah, apa Tante Rita akan datang?"


"Tante Rita masih di Singapur. Mungkin Ardi yang akan datang"


"Ardi?" tanya Sinta kaget, lalu teringat sahabatnya.


"Siapa lagi, kita akan mengundang pejabat setempat buat ikut promosiin. Selain menyuguhkan taman tempat bersantai masyarakat biasa. Kita punya aula, taman apung dan kafe. Ini akan jadi prospek yang bagus jika disewa jadi tempat resepsi, pesta atau rapat, jadi pasarnya harus luas tidak hanya masyarakat sekitar" ujar Farid menjelaskan ke Sinta cita-cita dan rancangan Ardi, Farid dan Tante Rita tentang Kafe danau.


"Emang Ardi mau terlibat lagi?" tanya Sinta mengalihkan fokus dari kafe panti.


"Kenapa tidak? Dia owner kafe ini, pasti maulah. Dia juga yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk ini" jawab Farid lagi.


"Yaya, syukurlah kalau Ardi mau balik lagi" jawab Sinta mengangguk. Lalu matanya dan bibirnya memancarkan kebahagiaan seperti orang baru mendapat undian, otaknya langsung tersambung ke sahabatnya Intan. Entah apa yang ada di benaknya hanya Sinta yang tau.


"Gue mau liat persiapan menu andalan yang akan kita hidangkan besok" ucap Farid mengajak Sinta ke dapur kafe.


Sinta pun mengangguk berjalan ke dapur. Sinta merasa sangat bahagia bisa bekerjasama sedekat ini dengan Farid. Apalagi tidak ada orang lain selain Farid dan Sinta. Sinta merasa pendekatanya semakin mulus. Sayangnya Sinta tidak tahu, meski Farid tidak dengan Alya, orang tua Farid sudah menyiapkan jodoh untuk Farid. Dan yang pasti buka Sinta.


****


Rumah Sakit.


"Sayang" panggil Ardi yang baru saja selesai mandi. Kini wajahnya kembali segar dan ganteng maksimal.


"Mmm" jawab Alya yang berbaring di atas tempat tidur rumah sakit memainkan game zombi.


"Kamu nggak kangen sama Mas?"


"Heh?" Alya hanya menjawab singkat pertanyaan suaminya dengan tanda menanyakan ulang perkataan suaminya.


"Kamu nggak kangen sama Mas?"


"Kan kita udah bareng lagi" jawab Alya masih fokus ngegame.


"Maksudnya bukan itu"


"Yah kalah, ck. Mas sih Ah, Lian lagi fokus juga malah diganggu" keluh Alya kesal karena kalah dalam ngegame.


"Ck. Malah hape yang dipeduliin. Sinih hapenya" tarik Ardi merebut ponsel istrinya.


"Jangan!" jawab Alya menyembunyikan ponselnya.

__ADS_1


Merasa tidak terima dicueki padahal sangat ingin bermesraan dan diperhatikan. Ardi berusaha merebut ponsel Alya. Pasangan orang dewasa itu pun berebut ponsel seperti anak kecil.


"Yah mas, infusnya lepas" ucap Alya spontan selang infusnya lepas dan darahnya menetes ke perlak dan bajunya.


"Astaghfirulloh kok bisa sih?" tanya Ardi merasa istrinya ceroboh.


"Hah? Malah tanya kok bisa? Ya mas rusuh sih nyenggol-nyenggol tangan Lian" jawab Alya tidak terima disalahkan.


"Mas yang rusuh apa istri mas yang rusuh?" jawab Ardi menyindir karena Alya tidak patuh.


"Ck. Malah ngajak berantem. Buru panggil perawat!" dengus Alya kesal suaminya tidak segera menyelesaikan masalah malah berdebat.


"Ya udah tuh pencet belnya" jawab Ardi melirik ke bel panggilan perawat.


"Oh iya. He" jawab Alya tersenyum menyadari dirinya sendiri yang lemot. Lalu melihat infusnya berharap busa membetulkan insfusnya sendiri.


"Makanya dibilangin suami itu nurut, nggak berubah berubah. Bawel terus! Jadi kotor kan? Sakit nggak?" sambung Ardi lagi ikut ngecek infus istrinya.


"Nggak! Makanya juga jadi suami jangan suka main paksa. Aku kan cuma ngegame" jawab Alya masih ngeles dan tidak terima dikatai bawel.


"Masih juga bawel, kalau ada suami, ponsel itu taroh, hargai suami. Giliran mas kerja ditangisi, ngambek-ngambek sampai pergi dari rumah, mas di sampingnya ade, dicueki!" gerutu Ardi memarahi istrinya.


Sementara Alya hanya manyun berusaha menahan pembuluh darahnya biar darahnya tidak mengucur terus. Ternyata silikon abocat_nya (selang yang masuk ke pembulu darah) benar-benar keluar dan tidak bisa diperbaiki. Sepertinya harus diinfus ulang.


Alya juga mendengarkan suaminya tanpa membantah. Memang benar apa yang dikatakan Ardi, kalau Ardi pulang telat sedikit Alya akan mencurigainya. Bahkan kemarin pagi Alya menangis menahan kangen yang membuncah.


Tidak lama perawat ruang rawat Alya masuk membawa peralatan infus.


"Pagi Dokter Alya, gimana kabarnya Dok? Sudah membaik?" tanya perawat ramah.


"Baik Kak, Alhamdulillah udah mendingan. He, Maaf infusnya lepas" ucap Alya ramah ke rekan kerjanya.


"Iya bawel orangnya Sus" imbuh Ardi menimpali.


Perawat yang dari tadi menundukan pandangan dari suami pasien menoleh ke Ardi. Spontan perawat kaget dan menjatuhkan peralatan karena syok melihat siapa suami Dokter Alya.


"Kenapa Kak?" tanya Alya merasa tidak enak melihat ekspresi kaget perawat melihat suaminya.


"Ehm" Ardi berdehem merasa dirinya mengejutkan perawat.


"Maaf Dok" ucap perawat gemetaran memunguti alat-alat.


"Kenapa dengan suami saya?" tanya Alya paham kalau perawat pasti syok melihat kenyataan ternyata Alya istri Ardi Gunawijaya yang hari lalu berseliweran di tivi dan internet.


"Saya nggak salah lihat kan Dok?" bisik perawat ke Alya memberanikan diri mengkonfirmasi kebenaran.


"Iyah, jangan bilang-bilang ke yang lain nanti heboh. Dia suamiku. Kenalkan, Mas Ardi" jawab Lian jujur, kalau suaminya memang laki-laki yang menjadi bahan gosip teman-temanya dan berbagai media.


Ardi yang mendengarkan percakapan istri dan rekanya paham kalau dirinya menjadi bahan gunjingan. Dan kini berefek pada istrinya, karena di komunitas seperti rumah sakit ternyata hal-hal seperti itu sensitif. Tidak seperti dunianya, yang penting meeting mencapai kesepakatan, mengejar target dan tidak sempat melihat gosip atau televisi.


"Ardi" ucap Ardi berusaha ramah memperkenalkan dirinya demi nama baik istrinya.


"Saya Susan Tuan, perawat ruang VIP" jawab Susan lebih tenang. Karena ternyata seorang Ardi Gunawijaya ramah dan benar-benar tampan.


"Harus diinfus lagi yah?" tanya Alya mencairkan suasana.


"Iya Dok. Kan dokter kemarin hasil labnya anemia, terus masih harus masukin obat antimual juga, kandungan dokter juga masih diobservasi dan diberi obat penguat kandungan. Oh ya selamat ya Dok atas kehamilanya"


"Makasih Kak"


"Dokter nikah nggak kabar-kabar sih?" tanya Perawat susan sambil mencari pembuluh darah Alya.


"Kita emang belum resepsi kok Sus, tunggu ya. Nanti kita kabarin" celetuk Ardi enteng membuat Alya melotot.


"Emang mau resepsi?" batin Alya nggak kebayang menghadapi resepsi di saat dirinya berbadan dua dan hiperemesis.


"Iya Tuan, saya tunggu undanganya. Tarik nafas dulu ya Dok, sakit sedikit" ucap perawat lembut, lalu memulai memasang infus lagi setelah menemukan pembuluh darah terbesar Alya. Setelah infus terpasang susterpun sekalian memeriksa keadaan Alya dan memasukan obat.

__ADS_1


"Tekanan darahnya udah naik ko Dok, cepet sehat ya Dok" ucap perawat ramah selesai melakukan pemeriksaan rutin.


"Makasih Sus" jawab Ardi merasa bahagia istrinya membaik.


"Perdarahanya tambah banyak atau berkurang Dok? Mules nggak?"


"Alhamdulillah nggak" jawab Alya tersenyum merasa dirinya lebih baik.


"Ya sudah infusnya dijaga ya Dok, sehat-sehat ya! Permisi Tuan Ardi. Kalau ada yang diperlukan pencet bel lagi. Mari" ucap perawat Susan ramah.


Alya dan Ardi mengangguk sopan dan berterima kasih. Lalu Ardi mengunci pintunya.


"Kok dikunci Mas?" tanya Alya heran melihat kelakuan suaminya.


"Biar nggak ada yang ganggu"


"Emang ganggu gimana? Ini rumah sakit lho mas, ingat"


"Mas kangen sayang" tutur Ardi manja lalu duduk di samping bed Alya.


"Lha ini kan kita udah bareng" jawa Alya merasa gemas melihat suaminya mulai berulah.


"Cium boleh?"


"Perasaan dari tadi udah nyium deh"


"Itu kan bentar dong. Mas pengen yang lebih" ucap Ardi melirik ke dada Alya.


"Ish, tumben ijin"


"Boleh kan? Bahaya nggak sih buat Si Utun?"


"Kalau sini, sini bahaya! Bolehnya sini doang!" jawab Alya menunjuk bagian sensitifnya yang dilarang disentuh Ardi untuk beberapa saat.


"Haish. Mas dapet apa doang dong?"


"Udah dikasih tau juga!" jawab Alya kesal.


"Sampai kapan sih junior boleh ketemu?"


"Sampai lahiran" jawab Alya berbohong. Sebenarnya Alya tau orang hamil boleh bercampur dengan suami asal sehat. Tapi Alya merasa dirinya tidak baik-baik saja dan janinya terancam. Jadi Alya membohongi suaminya demi kebaikan anaknya.


"Hah? Serius? Lama banget kasian mas dong. Kayaknya nggak deh, setau mas boleh kok!" jawab Ardi tidak terima jika harus puasa 9 bulan. Lebih tepatnya 8 bulan lagi karena usia kehamilan Alya baru 6 mingguan


"Mas!"


"Hemmm"


"Berhenti mesumnya! Alya tuh pendarahan, masih bersyukur Alloh kasih janin kita kuat. Jangan egois, mikir yang penting janin kita sehat dulu. Mas nikah 29 tahun kan? Bisa jaga, masa beberapa bulan doang nggak!"


"Iyah, sayang, tapi kalau di dekat kamu hawanya mas beda nggak kaya waktu jomblo gimana dong?"


"Puasa!" jawab Alya merasa senang mengerjai suaminya.


"Cium doang nggak bahaya kan?" tanya Ardi menawar.


"Huum"


Ardi langsung tersenyum senang mendapat lampu hijau. Meskipun cuma dapet jatah sedikit. Lalu Ardi duduk ke atas bed istrinya, mendekatkan wajah dan menarik tengkuk istrinya yang terbalut jilbab agar mendekat.


"Thok Thok" belum sempat bibir kedua suami istri itu mendarat. Alya menjauhkan wajahnya dari suaminya dan melihat ke arah pintu.


"Haish ganggu aja" gerutu Ardi melepaskan Alya.


"Bukain dulu pintunya, siapa tahu penting"


Dengan malas Ardi berjalan membuka pintu ruangan.

__ADS_1


__ADS_2