
Rintik hujan yang turun di pagi buta itu, membuat hawa dingin menelusup ke celah-celah lubang udara atap rumah maupun jendela. Meskipun desain istana Tuan Aryo, desain rumah ber_Ac, tapi tetap saja suara hujan dan tetesan air di luar membuat hawa pagi menjadi lebih syahdu.
Sepasang suami istri yang masih dibilang berumur jagung dalam membina rumah tangga, masih bergelung di bawah selimut. Untungnya selimut Ardi selimut mahal jadi terasa sangat nyaman. Meskipun Alya memakai dress tidur bertali terbuka, tidak khawatir masuk angin. Apalagi ada dekapan suaminya yang hangat.
"Emmtt" Alya menggeliat mengerjapkan matanya. Melihat ke tirai jendela seperti masih gelap. Tidak ada semburat kuning atau langit yang memutih. Suara adzan pun tidak terdengar.
"Jam berapa sih ini? Kok aku nggak denger alarm subuh" gumam Alya masih dalam dekapan suaminya sehingga tidak melihat jam dinding. Mau mencari ponsel tapi masih sayang melepaskan dekapan suaminya.
"Aku nggak kesiangan kan? Sepertinya masih gelap, nggak apa-apalah santai sejenak" tanya Alya dalam hati, padahal Alya kesiangan, karena hujan jadi langit seperti masih malam.
Tidak seperti biasanya begitu sadar dan membuka mata langsung bangun. Pagi ini Alya tidak segera bangun, dia masih ingin berada di dekapan suaminya. Dekapan hangat yang 1 hari kemarin dia lewatkan.
Alya memiringkan tubunya, sehingga wajahnya menghadap ke suaminya. Kini dada Alya yang sedikit tebuka menempel di dada suaminya, sehingga belahan buah ranumnya menyembul ke atas dan nampak jika ada yang melihatnya.
Alya tidak lagi malu, gemeteran atau berdebar kencang. Tapi sekarang Alya merasa sangat nyaman. Bahkan tanpa ragu Alya melingkarkan tanganya ke tubuh suaminya erat. Entah kenapa, rasanya Alya ingin memeluk erat suaminya seharian.
Merasa ada gerakan tangan di tubuhnya Ardi terbangun. Aroma wangi rambut Alya menyeruak ke hidungnya, mengalirkan energi yang tidak bisa dijelaskan. Membangunkan benda berharga yang bisa mengantarkanya ke surga dan neraka.
Ardi tersenyum melihat istrinya sedikit lebih agresif.
"Mas udah bangun?" tanya Alya manja mengeratkan pelukan.
Ardi sangat senang mendengar suara manja istrinya serak- serak basah saat bangun tidur begitu. Tidak seperti saat mode galaknya datang dan sangat cerewet. Tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ardi memutar tubuhnya. Menurunkan tali dress Alya. Sehingga dua benda kesukaanya menyembul ke permukaan dan tampak nyata.
Sudah beberapa hari, Ardi absen membuat karya di lahan seninya itu. Sehingga pagi ini tampak bersih putih dan subur. Alya tidak menolak ataupun menepis suaminya. Ardi merasa mendapatkan lampu hijau. Bahkan Ardi lupa peringatan dokter kalau sekarang masih masa rawan.
Ardi beralih dari tidurnya, sekarang di mengungkung Alya di bawahnya. Tanpa permisi dan konfirmasi Ardi mendaratkan bibirnya ke bibir istrinya. Setelah Alya kehabisan nafas, dia memulai hobynya, membuat karya, lukisan abstrak pada media yang hanya khusus untuk Ardi seorang.
Alya gelagapan menghadapi suaminya. Bahasa tubuhnya mengijinkan dan bahkan menikmatinya. Tapi akal pikiranya sadar, apa yang suaminya lakukan, jika dilanjutkan bisa membahayakan janinya.
Alya mulai tidak nyaman. Antara stop atau membiarkan berlanjut dan masuk ke kenikmatan yang Ardi tawarkan. Akal Alya dan sayangnya Alya ke anak di perutnya menang. Matanya terbelalak melihat jam dinding jarum pendek sudah berada di tengah angka 5 dan 6.
"Astaghfirulloh Mas" ucap Alya spontan, menepis kepala suaminya. Tanganya melindungi pabrik pembuat minuman untuk anaknya kelak, agar tidak dijamah suaminya lagi.
"Kenapa? Tanggung Yang" jawab Ardi ingin meneruskan karyanya.
Alya gelagapan, bangun dari posisinya dan menaikan tali dressnya.
"Kita kesiangan, belum sholat!" ucap Alya panik dan menyesal karena ternyata mereka hampir melewatkan waktu subuh. Ardi ikut melihat jam dinding. Lalu menggaruk kepalanya.
"Kenapa nggak bangunin Mas?" ucap Ardi bangun dan kecewa.
"Kok nyalahin Lian. Mas juga salah. Kenapa nggak bangun dari pagi" jawab Lian sambil turun dari tempat tidur.
"Biasanya kan kamu yang bangunin mas"
"Di luar masih gelap, lampu masih nyala. Lian kira masih subuh" jawab Alya membela diri.
"Yang mancing-mancing peluk-peluk duluan siapa?"
"Ehm. Iya aku nyesel. Nggak akan peluk-peluk lagi. Sebbel" jawab Alya ketus masuk ke kamar mandi untuk ambil wudhu.
"Bukan gitu maksudnya, mas suka kok dipeluk-peluk, gitu aja ngambek" jawab Ardi menyusul Alya sambil menggarukan kepala
"Udah buru sholat" jawab Alya selesai wudlu.
"Ya" jawab Ardi singkat lalu ambil air wudhu.
Mereka berduapun sholat berjamaah di kamar.
"Mas kardiganku dimana ya? Perasaan waktu itu Mamah belikan aku outer?" tanya Alya membuka lemari bajunya mencari pakaian tertutup hendak turun ke bawah.
"Mau kemana? Kok nyariin outer?" tanya Ardi melihat Alya sibuk di tempat ganti pakaian.
"Ke bawahlah. Masa di kamar terus?"
"Nggak boleh! Mas mau berduaan sama kamu di kamar" ucap Ardi berjalan ke Alya lalu memeluknya dari belakang.
"Ehm" Alya berdehem merasa ada sesuatu yang keras, menempel di tubuh bagian belakangnya.
Kalau saja Alya tidak sempat flek, Alya akan menyambutnya dengan senang hati sebagaimana mesthinya, bersikap sebagai istri. Tapi sayangnya bayangan berbaring di rumah sakit membuatnya trauma. Alya memegang tangan suaminya dan mencoba melepaskanya.
"Lian pengen masak Mas" tutur Lian mencari alasan.
Lian tau kalau di kamar terus pasti aura dan hawa panas mengajaknya ke arah aktivitas itu terus. Apalagi sudah berhari-hari junior Ardi dianggurkan.
"Banyak pelayan sayang, ngapain masak? Mas bayar mahal Pak Yang buat kerja di sini. Tugas kamu di sini temani mas" jawab Ardi memberi perintah.
Sebenarnya tanpa di kasih tau Alya ngerti. Tapi Alya hanya mencari alasan. Alya sendiri juga menginginkan belaian suaminya, jadi Alya menghindari suaminya. Takut kebablasan.
"Lian nggak suka menu makanan yang dimasak Pak Yang. Lian pengen masak sendiri" jawab Alya mendapat alasan.
__ADS_1
"Nanti mas telp biar Pak Yang masak makanan yang kamu suka" jawab Ardi duduk lagi di tempat tidur.
Alya menelan salivanya berfikir lagi. Mencari alasan agar bisa keluar dari kamarnya.
"Ke taman yuk!" ajak Alya memasang wajah ceria.
"Mas pengen di kamar aja. Sini duduk sini" ajak Ardi menepuk kasur.
Alya menggigit bibir bawahnya, menunduk dan memainkan jarinya sendiri. Berfikir mencari alasan. Melihat istrinya salah tingkah Ardi tau kalau istrinya sedang ketakutan.
"Apa mau ke kamar samping?" tanya Ardi iseng.
"Nggak. Lian cuma pengen liat luar. Ke taman aja?" ajak Alya ke suaminya yang penting tidak di kamar.
"Di luar hujan sayang. Kalau di bawah ada pelayan laki-laki. Mas nggak mau mereka lihat rambut istri mas. Mas mau ngobrol. Sini duduk sini jangan berdiri di situ"
"Bener ngobrol aja ya?"
"Emang kalau lebih dari ngobrol kenapa? Kamu juga suka kan?"
"Ish. Lian takut khilaf Mas"
"Iya ya, mas tau. Jadi daritadi cari alasan buat keluar karena itu?" tanya Ardi dewasa senang membuat istrinya tersipu.
"Ehm. Enggak" jawab Alya lirih dan memanyunkan bibir karen malu.
"Udah hamil juga masih malu-malu. Sini duduk" ucap Ardi lagi menepuk kasur di sampingnya.
Alyapun patuh. Berjalan menunduk dan duduk di samping Ardi. Ardi tersenyum menatap istrinya yang masih belum mandi tapi tetap cantik.
"Mas mau ngomong apa?"
"Kita sebagai suami istri kayaknya nggak pernah ngobrol berdua kan?" tanya Ardi merasa dirinya banyak menyembunyikan sesuatu.
"Iya" jawab Alya menunduk.
Sebenarnya ini waktu yang selalu Alya nantikan. Tapi entah kenapa, ketika berada di dekat suaminya, semua pertanyaan Alya hilang, berganti rasa yang tidak dapat diungkapkan. Rasanya cuma pengen di dekat suaminya menempel dan bermesraan, tapi juga takut kebablasan padahal masih masa rawan. Berbeda saat Ardi tidak ada, semua pertanyaan seakan menyerbu ke otak Alya.
"Semalam kamu ingat apa yang mas bilang nggak?" tanya Ardi melanjutkan rencananya semalam.
"Semalam?" tanya Alya sambil mengingat apa yang terjadi semalem. Karena Alya sangat mengantuk Alya lupa.
"Lupa, He.. "
"Setelah cuti, mas mau, kemanapun, kamu dikawal sopir dan pengawal" ucap Ardi serius.
Mendengar pengawal Alya terhenyak, matanya melotot ke suaminya, tidak habis fikir untuk apa ada pengawal segala.
"Pengawal?" tanya Alya memastikan. Ardi mengangguk tegas.
"Buat apa?"
"Kamu sekarang lagi hamil. Anak kita akan jadi penerus Gunawijaya. Mas mau kamu dan anak kita tetap aman"
"Mas"
"Hmm"
"Kita kan punya Alloh, Lian bisa jaga diri kok! Pakai supir cukup!" jawab Alya mencoba membuat penawaran.
Lian tidak bisa membayangkan jika saat bergosip dengan temanya ditungguin pengawal. Kerja ditungguin pengawal menurut Alya itu sangat lebay. Padahal biasanya Alya kemanapun selalu sendiri, naik taxi, angkot atau ojek. Koas di luar kota juga sendirian.
Ardi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya Ardi memang harus menjelaskan siapa Alya sekarang. Siapa suaminya dan keluarga.
"Sayang, kamu tau apartemen Aerim?" tanya Ardi
"Tau"
"Mulai dari lantai satu sampai atas tempat tinggal kita, itu punya Gunawijaya" ucap Ardi ingin membuat Alya sadar.
"Iyah, Mas pernah cerita"
"Kamu tahu perumahan Indah Regency, Perumahan Indah mentari, Perumahan Indah Lestari? Terus selain di bidang perumahan dan apartemen tau nggak Gunawijaya punya perusahaan apa aja, selain itu, Yayasan Gunawijaya punya apa aja" tanya Ardi menyebutkan nama-nama usahanya yang terkenal.
"Nggak" jawab Alya polos.
"Ehm!" Ardi berdehem merasa gemas ke istrinya. Padahal semua kekayaan suaminya, jadi kekayaan Alya juga. Tapi Alya tidak tahu dan bahkan tidak peduli.
"Mau tau nggak?" tanya Ardi lagi.
"Nggak! Pusing Alya mas ngedengerinya, banyak banget" jawab Alya polos.
__ADS_1
Bekerja sebagai tukang gudeg aja, Alya dan Ibunya sudah merasa lelah, bagaimana dengan suaminya.
"Hemmm" Ardi menghela nafasnya. Merangkai kata, bagaimana caranya agar Alya paham. Alya sekarang sudah menjadi Nyonya Ardi Gunawijaya. Pengusaha muda yang menjadi konglongmerat di negaranya. Bukan lagi anak yatim, dokter magang, anak tukang gudeg yang dapat beasiswa.
"Kamu beneran nggak peduli dan nggak ingin tahu dengan semua aset yang dimiliki Gunawijaya grup, kepunyaan siapa? Dimana aja?"
"Lian pusing dengernya, Lian cuma pengen hidup nyaman, bahagia bareng mas dan anak-anak kita. Bisa beribadah dan amalin ilmu kita. Udah pada intinya aja. Ribet, mas mau omong apa sih? Kenapa harus pakai pengawal?"
"Ya biar kamu tau, sekarang kamu itu Nyonya Ardi Gunawijaya. Dan Gunawijaya sebesar ini, sudah pasti banyak musuh. Baik dari rekan bisnis mas ataupun terkait pribadi mas. Banyak orang yang nggak suka sama mas dan mencari kelemahan mas, lewat keluarga" jawab Ardi lagi.
"Hem" Alya menunduk polos.
"Nggak usah protes ya"
"Emm. Kalau kerja nggak kan?"
"Milih patuh atau mas paksa nggak usah kerja?"
"Iya ya! Lian kan cuma tanya, kan nggak asik banget kalau Lian ketemuan sama Anya, Dinda apa Dokter Mira ditungguin Pak Arlan" jawab Alya mulai keluar mode cerewetnya.
"Pengawal kamu perempuan kok, Arlan ikut mas. Mas butuh dia" jawab Ardi.
"Yaya. Udah ngomong itu aja?"
"Masih banyak. Kenapa memangnya? Ngobrol sama suami kok ekspresinya kaya mau sidang di pengadilan sih?"
"Ya abis mas tema ngobrolnya gitu. Sekali-kali, bahas piknik, baru bahagia"
"Mas janji kita honeymonth setelah resepsi. Tapi kan sekarang udah ada dhedhe di perut kamu. Kamunya nggak boleh capek-capek. Udah di kamar aja"
"Hemm. Mau ngomong apalagi?"
"Farid"
"Kak Farid? Kenapa?"
"Mas mau jujur ke dia tentang kita. Mas merasa sangat berdosa ke dia. Kamu mau ikut nggak?"
"Kapan?" tanya Alya memastikan.
Belum Ardi menjawab, ponsel Ardi berbunyi.
"Bentar ya sayang" ucap Ardi mengambil ponselnya dan berjalan ke balkon.
Alya diam menunduk mengingat tempo hari Farid yang mengantar Alya. Bahkan Farid dan Alya ngobrol banyak. Alya sendiri merasa jahat ke Farid. Bagaiamana reaksi Farid saat tau Alya istri Ardi bahkan sudah hamil. Siapa perempuan yang dijodohkan dengan Farid.
"Cerita nggak ya? Kalau kemarin aku ke danau sama Kak Farid? Ah Mas Ardi pasti akan cemburu dan lebay. Ketemu di panti aja nggak boleh. Aku diam ajalah" gumam Alya memandangi suami tampanya sedang berbicara.Tidak lama Ardi mematikan ponselnya dan masuk ke kamar.
"Sayang, ngobrolnya lanjut nanti malam ya. Kamu di rumah, nggak usah pergi-pergi. Istirahat, kalau butuh apa-apa bilang ke Bu Siti"
"Mas mau pergi lagi?"
"Ada masalah karyawan yang harus diselesaikan"
"Hemm. Boleh minta nomer Pak Arlan dan Pak Dino nggak?" tanya Alya ingat pesan Anya.
"Nggak! Buat apa?"
"Kok nggak boleh?" tanya Alya sewot.
"Mas nggak rela istri mas komuniasi sama laki-laki lain"
"Ish lebay deh!"
"Emang buat apa?"
"Kalau Lian kangen mas, atau butuh kaya kemarin kan Lian bisa telpon mereka"
"Ini nomer kantor dan nomer admin mas, dipegang Dino dan Risa" jawab Ardi memberikan dua nomer umum Ardi yang khusus urusan kerja. Lalu Alya segera mencatat.
"Siapin air mandi dan baju mas ya. Kalau nggak mandi bareng yuk"
"Nggak. Lian takut khilaf"
"Mas janji nggak masuk. Mas bisa tahan kok. Kamu belum mandi kan?"
"Janji nggak maksa dan bisa tahan?"
"Janji, mas kan juga sayang sama anak mas"
"Oke, ayo" jawab Alya mengangguk.
__ADS_1