Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
27. Skincare


__ADS_3

"Wah ini hp yang sangat mahal" ucap Dokter Dinda membuka bingkisan di tangan Anya.


"Ini beneran lho, buat lo Al" sambung Dokter Anya memberikan hp ke Alya.


"Waah baik banget ya Dokter Gery, mau dong ponselku dijatuhin juga" imbuh dr. Dinda centil.


Sementara dr. Alya daritadi hanya diam. Dia bingung melihat kedua temanya sibuk dan kegirangan membuka bingkisan dari Dokter Gery.


"Ayo dipake!" Dinda menggoyang lengan dr. Alya.


"Aku tidak mau menerima pemberianya" jawab Alya lirih.


Kedua temanya menghembuskan nafas kecewa lalu menepuk jidat.


"Alyaa" panggil Anya lembut, "Dokter Gery tuh tulus mau minta maaf dan kasih ini ke kamu. Bahkan dia menitipkan pesan ke gue, banyak sekali sampai gue lupa. Intinya dia mau meminta maaf ke Lo!" Anya menjelaskan.


"Iya Al, sepertinya Dokter Gery tulus ke kamu" imbuh Dinda.


"Tapi ini terlalu mahal untukku, aku mau beli hp second aja, udah bungkus lagi!" jawab Alya lalu memerintah ke Dinda dan Anya.


"Iih nggak baik tau nolak pemberian orang, dosa Bu Haji!" jawab Dokter Dinda menekankan ke Alya untuk menerima.


"Aku udah janji sama Dokter Mira, akan aku buktiin, kalau aku nggak ada hubungan apapun sama Dokter Gila itu, dan akan aku buktiin kalau aku nggak tertarik sama sekali" jawab Alya panjang.


Dokter Dinda dan Dokter Anya yang jarang mendengar Dokter Alya ngomong panjang terbengong menyimak.


Lalu mereka menelan salivanya.


"Emang Dokter Mira ngancem kamu?" tanya Dokter Dinda penasaran karena memang dari tadi Alya belum cerita.


Dokter Alya diam lagi, tidak menjawab pertanyaan Dokter Dinda. Dia hanya menelan salivanya. Lalu meraih handphone baru itu dan mengemasinya kembali.


"Dokter Gery berpesan, kalau semua baik-baik saja Al, kamu tidak perlu berfikir macam-macam" Dokter Anya menjelaskan menyampaikan pesan Dokter Gery, berharap Dokter Alya kembali bicara dan mau bercerita. Dan benar saja usahanya berhasil.


"Itu kan kata Dokter Gery. Aku tidak mau mempertaruhkan STR_ku dan masa depanku. Ibuku sudah berjuang untuk hidupku dan cita-citaku" jawab Alya.


Mendengar Dokter Alya, Dokter Dinda dan Dokter Anya semakin penasaran. Apa yang terjadi dengan Dokter Mira dan Dokter Alya.


"Emang apa yang terjadi sih? Ayolah cerita Al" pinta Dokter Anya.


Alya diam melihat jam murahan ditanganya. Dia segera memasukan bingkisan yang sudah rapih itu ke tas punggungnya. Lalu merapihkan jilbab dan gamisnya.


"Dinda, kamu sekarang shift pagi kan? Sudah sana ke ruangan. Aku mau pulang, aku nanti jaga malam" jawab Dokter Alya membuat kedua temanya berhenti berharap mendengar curhatan temanya.


"Iya iyaa" jawab Dokter Dinda kesal lalu meraih tasnya dan pamit ke bangsal tempat mereka magang.


"Aku pulang dulu ya Nya, besok handphone ini akan aku kembalikan. Makasih ya udah bawain" jawab Dokter Alya pelan menahan sedih.


Dokter Anya melihat temanya yang misterius tidak bisa ditebak itu, dia hanya mengangguk tersenyum dan membiarkanya pergi.


"Kenapa dia sangat tertutup sih? Apa susahnya menceritakanya padaku?


Gue jadi sebbel, tapi kasian juga.


Ditaksir laki-laki sekeren Dokter Gery harusnya Alya bahagia, kenapa wajahnya begitu muram.

__ADS_1


Entah apa yang dia pikirkan? Salah sendiri tidak mau cerita".


Dokter Anya ngobrol sendiri dalam hati. Lalu melanjutkan membacanya sambil menunggu waktu jaga sore.


*****


Apartemen Megayu


"Thuut thuut thuut" Alya memencet sandi apartemen. Tidak lama pintu terbuka. Lalu Alya masuk ke tempat tinggalnya.


Mata Alya terperanjak, di meja ada parcel buah dan air mineral yang sudah terbuka.


"Dheeg"


"Apa Bu Rita ke sini atau anaknya?" Alya bertanya-tanya sendiri sambil harap-harap cemas.


"Tidak biasanya Bu Rita datang ke apartemen. Atau jangan-jangan anaknya? Yang kata Mba Mia dan Mba Ida ganteng-ganteng vampir"


Alya memelankan langkahnya, dia masuk ke ruang tivi, mengedarkan pandangan mencari manusia lain yang meletakan buah di meja. Di ruang tivi nihil lalu dia menuju ke dapur.


Benar saja, terdengar gemericik air dari kamar mandi di dekat mini bar. Lalu Alya memilih duduk di sofa depan tv menunggu orang di dalam kamar mandi keluar.


Hati Alya yang tadi sedih berubah menjadi dheg-dhegan, siapa yang datang? Alya berharap Mama Rita yang datang. Karena Alya juga ingin mencatat nomer handphone Mama Rita dan memberitahu hp_nya rusak.


"Cekleeek" pintu kamar mandi terbuka.


Alya langsung tersenyum. Lalu bangkit menghampiri perempuan berumur matang yang masih tetep cantik.


"Kamu sudah pulang, Nak?" tanya Mama Rita.


"Baru saja, Nak" jawab Mama Rita lalu mengajak Alya duduk di sofa. "Mama khawatir sama kamu" ungkap Mama Rita.


Alya diam tertunduk merasa bersalah karena membuat Mama Rita khawatir. "Maaf Mah"


"Dari malam mama telp kamu nggak diangkat Nak" jawab Mama Rita membuat Alya kaget.


"Mama Rita telp Alya? Hp Alya rusak Mah"


Meskipun mereka berdua bukan ibu dan anak karena hubungan darah tapi mereka seperti ada ikatan batin. Saat ponsel Alya rusak entah kenapa Bu Rita ingin menelfon Alya. Tapi sebenarnya Mama Rita bukan khawatir, melainkan merencanakan sesuatu.


"Rusak?"


"Iya Mah" jawab Alya mengangguk mengingat kejadian kemarin malam.


"Kenapa nggak bilang? Ya udah biar mama telp Pak Rudi ya buat nyariin kamu hp"


"Jangan Mah, Alya udah punya lagi, sayang kan kalau nggak dipake" jawab Alya berbohong tidak ingin merepotkan dan berhutang budi.


"Oke. Mama mau tanya kapan kamu libur?"


"Malam ini Alya jaga, besok turun jaga, free"


"Alhamdulillah, besok tidur di rumah ya!" pinta Mama Rita penuh harap.


"Tapi paginya Alya jaga pagi, gantiin temen Mah, Alya nggak janji Mah, biasanya pulang jaga malam Alya istirahat" jawab Alya mencoba menolak.

__ADS_1


"Kan nanti bisa dianter, istirahat di Mamah, yah please!"


"Baik Mah, Alya usahain, tapi Alya nggak janji ya Mah"


"Oke. Oh ya, temani mamah ya!"


"Kemana Mah?" tanya Alya sopan


"Happy-happy" jawab Mama Rita centil membuat Alya mengerutkan dahi.


"Hap_pi? Hap_pi?" tanya Alya mengeja perkataan Mama Rita bingung.


"Ke klinik skincare sayang, udah waktunya mamah facial. Kamu ikut juga, biar glowing"jawab Mama Rita centil.


Alya yang tidak pernah perawatan hanya mengangguk senyum.


"Alya siap-siap dulu" pamit Alya masuk ke kamar hendak berganti pakaian.


Saat Alya berganti pakaian Bu Rita menghubungi anak semata wayangnya.


"Sayang, jemput mamah ya!"


Bu Rita memegang hpnya menunggu balasan anaknya.


"Ddrrrt drrttt" Hp Mama Rita bergetar dengan sigap Mama Rita langsung membuka hpnya.


"Jemput Pak Rudi aja!"


"Mama maunya dijemput kamu sayang" Mama Rita menjawab pesan anaknya setengah memaksa.


"Nggak bisa!"


"Sekali ini saja" Mama Rita kembali meminta.


"Ardi masih meeting, jam 1 ketemu klien dari Malaysia, jam 4 ketemu Farid ke lokasi kafe ketemu arsitek"


"Ya udah nanti jam 3.30 sebelum ke Farid jemput mamah di klinik skincare Beauty, Mama ikut ke danau"


Mama Rita menggigit bibirnya bertekad, rencananya mempertemukan Alya dan Ardi harus berhasil. Tidak lama Alya keluar dari kamarnya.


"Alya siap Mah"


"Sayang pesenin taxi online ya!" pinta Mama Rita.


"Mama nggak bawa mobil?" tanya Alya heran seorang Mama Rita hendak memakai taxi online.


"Tadi sih dianter Pak Rudi, niatnya mau nginep di sini, tapi kamu jaga" jawab Mama Rita menjelaskan.


"Maaf ya Mah"


"Gak apa-apa ya udah yuk berangkat, pesenin taxi ke klinik Skincare Beauty ya!"


"Iya Mah, pinjam hape mamah ya"


"Oke" jawab Mama Rita memberikan ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2