
****
Kantor Gunawijaya
"Huuuuft" Ardi menghempaskan badanya di kursi empuknya. "Ternyata dia dokter?" gumam Ardi, lalu Ardi memilin bolpoint di depanya, Ardi memikirkan alasan apa ya biar dia bisa datengin apartemen terus.
"Pagi Tuan" Sapa Dino di depan pintu membuyarkan lamunan Ardi.
"Ya Din" jawab Ardi lalu meletakan bolpoinya.
Mata Dino terbelalak heran, bos muda di depanya tampak lebih fresh, dada bidangnya terekspos nyata. Dasi dan kemeja yang membawa kesan dewasa, dingin dan disegani entah kemana. Ardi duduk di bangkunya dengan kaos ketat berkrah dengan kancing terbuka bagian atasnya. Ardi juga menggunakan celana jeans dan sneakers seperti hendak berkencan.
"Ehm ehm " Dino berdehem melihat penampilan bosnya. Berharap mendapat respon diceritai sedikit saja apa maksud perubahan penampilan bosnya itu.
"Kenapa kamu? Ehm ehm gitu?" tanya Ardi tersinggung melihat ekspresi Dino.
"Tuan hari ini ada meeting dengan para pengusaha terkait peluncuran proyek baru baru kita, Tuan Aryo juga datang Tuan"
"Jam berapa?"
"30 menit lagi Tuan" jawab Dino tegas, ingin menekankan, waktu meeting sebentar lagi tolong ganti bajunya.
"Oh" jawab Ardi dengan tanganya mengetuk-ngetuk meja. Entah apa yang dia pikirkan.
"Ehm" Dino berdehem lagi berharap Ardi instropeksi diri tanpa diingatkan supaya mengganti pakaianya.
"Apa kamu baik- baik saja Din?" tanya Ardi tetap belum instropeksi, mendengar Dino mendehem.
"Saya baik-baik saja Tuan"
"Syukurlah"
"Maaf Tuan," sambung Dino sudah tidak tahan ingin menegur.
"Ya Din?"
"Apa Tuan akan datang ke ruang meeting dengan pakaian seperti ini?" tanya Dino gerogi.
Lalu Ardi melihat ke dirinya sendiri dan baru menyadari kalau Ardi salah kostum.
"Ya Tuhan, Makasih Din, kalau gitu gue ganti dulu"
Ardi yang menyadari kesalahannya langsung masuk ke kamar kecil di ruanganya itu. Dibukanya lemarinya, berjajar kemeja mahal dari merek ternama. Bahkan kemeja-kemeja yang tergantung di lemarinya lebih mahal dari kemeja Ardi yang tertinggal di apartemen.
10 menit Ardi keluar dari ruang ganti. Kini Ardi yang berwibawa, tegas dan dewasa sudah kembali. Aroma parfum mahal pun menyebar ke ruangan dan menyeruak ke hidung Dino. Dino mengembangkan bibirnya tersenyum.
"Berangkat sekarang Tuan?" tanya Dino.
"Nggak usah terburu-buru. Santai saja. 15 menit lagi kita berangkat"
"Tuan Aryo sangat disiplin dan tidak mentolelir keterlambatan Tuan" Dino mencoba mengingatkan Tuanya yang mulai berulah.
"Ck, Kamu memerintahku?" tanya Ardi berdecak ke Dino seakan Dino lebih tau tentang Ayahnya.
"Saya hanya mengingatkan Tuan".
"Aku tidak suka berada di ruangan itu lama-lama, apalagi kalau para penjilat itu mulai menanyakan statusku dan menawarkan putrinya" gerutu Ardi menjelaskan ke Dino.
"Ya Tuan" Dino mengangguk kini paham kenapa Ardi tidak ingin buru- buru masuk ke ruang rapat dan menemui para koleganya.
__ADS_1
Dan benar, saat semua peserta meeting sudah berkumpul dan acara dimulai Ardi dan Dino baru masuk. Mereka berdua bahkan masuk paling akhir. Tentu saja menjadi perhatian dan sorotan rekan bisnis mereka.
Tapi bukan Ardi namanya kalau dia takut atau malu. Meski sang ayah menatap tajam ke Ardi. Ardi tetap tenang dan duduk memperhatikan presentasi tanpa rasa bersalah. Selesai presentasi tanpa ba bi bu, Ardi langsung pergi. Padahal Tuan Wira dan putrinya sudah mempersiapkan diri, hendak mengajak Tuan Ardi makan malam sebagai tanda kesepakatan kerjasama.
"Apa jadwalku selanjutnya Din?" tanya Ardi melonggarkan jasnya di bangkunya.
"Ini Tuan, ada beberapa berkas yang belum anda periksa dan tanda tangani?" jawab Dino menyerahkan dokumen pekerjaan ke Ardi.
Ardi dengan teliti membuka lembaran demi lembaran beberapa proposal lalu ditanda tanganinya. Sesaat Ardi melihat jam rolexnya. Sudah waktunya makan siang.
"Mau saya pesankan makanan apa Tuan?" tanya Dino paham kalau Tuanya sudah mulai gelisah melihat jam.
Mendengar pertanyaan Dino, Ardi terdiam. Tiba- tiba Ardi teringat menu makanan aneh pagi itu? Ardi terbayang. Nasi hangat dicampur sambal dengan bentuk tidak bisa diungkapkan warna coklat, rasanya asin, pedas gurih enak. Ah apa ada yang menjual?
"Apa kamu pernah makan dengan menu sambal yang warnanya coklat?" tanya Ardi tiba- tiba.
"Sambal kacang Tuan?" tanya Dino
"Bukan, bukan kacang, itu lebih lembut dan padat?" jawab Ardi membuat Dino semakin tidak mengerti.
"Ah sudahlah kamu tidak akan tahu" jawan Ardi sewot melihat ekspresi Dino. "Sudah pesankan menu biasanya"
"Baik Tuan" jawab Dino lalu memesankan beef steak.
Ardi memang lebih suka makan di dalam ruanganya. Dia tidak suka makan di kantin kantor atau pun kafe. Ardi juga sangat membatasi pergaulanya. Di hadapan karyawan lain Ardi adalah sesosok atasan yang dingin, tidak mudah dijangkau dan tidak pernah menyapa. Tapi berbeda hal dengan Dino dan ketiga sahabat Ardi. Di mata mereka Ardi sangat cerewet dan kekanak-kanakan.
Selesai makan siang Ardi istirahat di kamar khusus di ruanganya. Ardi sempat terlelap satu jam kemudian melanjutkan pekerjaanya hingga pukul 18.00.
****
"Kamu boleh pulang Din" tutur Ardi saat mematikan laptop di mejanya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Ardi merasa diperhatikan.
"Saya menunggu Tuan Ardi pulang juga" jawab Dino.
"Ya ya, saya mau mandi dulu, saya mau ganti baju, apa kamu mau menungguku?" tanya Ardi santai.
Mendengar penuturan Tuanya Dino menoleh kaget ke Tuanya dan berfikir. "Tumben sekali Tuanya itu mandi sebelum pulang ke kantor? Biasanya pulang, pulang aja, malah sering pulang duluan meninggalkan pekerjaan?"
"Ehm.. Saya tidak menunggu Tuan, tapi sebelumnya kalau boleh tau, kenapa Tuan mandi dulu sebelum pulang?"
"Rahasia" jawab Ardi dengan wajah nakalnya, lalu meninggalkan Dino menuju kamar mandi.
Dino hanya bisa mengusap tengkuknya, melihat kelakuan Tuanya, lalu mengambil tasnya meninggalkan rungan Ardi.
"Semoga dia tidak pergi lagi" batin Ardi sambil menyisir rambutnya setelah mandi. Dengan semangat empat lima Ardi meninggalkan ruangan kerjanya menuju ke parkiran. Ardi melajukan mobilnya, bukan untuk pulang ke rumah atau janjian ketemu dua sahabatnya. Tapi ngapel ke apartemen.
****
Apartemen Megayu
"Thing thong" Ardi membunyikan Bel apartemen lalu mengusap- usap kedua tanganya harap-harap cemas apartemen kosong lagi.
"Ceklek" harapan Ardi terkabul pintu apartemen terbuka. Mata Ardi berbinar melihat wajah kalem dan imut berbalut piyama bunga-bunga dan jilbab kuning.
"Mas Ardi?" tanya perempuan bermata bendul kebanyakan tidur, Alya kaget melihat siapa tamunya.
"Boleh masuk?" tanya Ardi sopan.
__ADS_1
"Tentu saja, ini kan apartemenmu" jawab Alya membiarkan Ardi masuk dan memilih tempat duduknya sendiri.
"Kenapa dia suka sekali ke sini sih?" gumam Alya dalam hati melihat Ardi masuk ke ruang tengah.
"Apa kemejaku sudah disetrika?" tanya Ardi tiba-tiba.
"Kemeja?" jawab Alya bertanya sendiri melupakan hal penting buat tamunya itu.
"Haa maaf kemarin sibuk, saya belum setrika" jawab Alya tersenyum karena menyadari dirinya lupa. Kemarin Alya pergi ke panti bersama Bu Rita, hari ini tidur seharian setelah lelah jaga malam di rumah sakit.
"Hemmm" jawab Ardi pura-pura mendehem. Padahal hatinya sangat bahagia jadi dia ada alasan datang lagi dan lama-lama di apartemen.
"Apa Mas Ardi tidak ada kemeja lain selain itu?" tanya Alya hati- hati.
"Tentu saja punya" jawab Ardi ketus.
"Syukurlah, tentu saja punya, anda kan Tuan Mudanya Tuan Aryo" jawab Alya lagi setengah menyindir.
"Kenapa memang dengan ayahku?" tanya Ardi.
"Maksudku , kenapa Mas Ardi harus repot-repot jauh-jauh datang ke sini hanya karena satu kemeja. Mas Ardi kan punya banyak kemeja di rumah. Saya akan kirim pesan ke Mas Ardi kalau kemejanya sudah saya setrika. Jadi tidak perlu ke..." omongan Alya terpotong.
"Bagaimana caranya kamu mengirim pesan, memang kamu punya nomerku?"
Alya nyengir "He, kan bisa minta ke ma-, eh maksudnya minta ke Bu Rita".
"Ini nomerku catat" jawab Ardi menyodorkan handphone mahalnya mencegah Alya membahas ibunya.
"Baiklah sebentar ya" jawab Alya mengambil ponsel dulu. Lalu Alya mengambil ponsel dan mencatat nomer Ardi.
"Aku lapar" ucap Ardi tiba-tiba tanpa rasa malu.
"Hah?" tanya Alya memicingkan matanya menatap heran ke Ardi.
"Apa kamu masak sesuatu?" tanya Ardi ke Alya berharap ada sambel tempe seperti pagi itu.
"Maaf seharian ini aku tidur karena lelah. Jadi aku tidak masak" jawab Alya jujur.
"Apa kamu sudah makan?"
"Belum, baru mau pesen online" jawab Alya.
"Belum pesen kan?"
"Belum" jawab Alya.
"Temani aku makan yuk" ajak Ardi.
"Kemana?" tanya Alya.
"Kafe 11:12" jawab Ardi menyebut nama kafe yang menjual menu makanan western.
"He maaf. Aku seharian hanya makan camilan. Aku lapar sekali aku mau nyari makanan nasi saja. Aku mau pesen nasi lamongan aja" jawab Alya.
"Ya sudah kita cari makan lamongan saja, tapi keluar".
"Baiklah kita makan di lamongan depan rumah sakit aja. Ayamnya besar, sambalnya mantap, makan di situ saja! gimana?" ajak Alya dengan wajah sumringah.
Ardi yang hanya ingin berdekatan dengan Alya mengangguk tanda setuju. Tidak peduli makan dimana. Mereka berduapun berjalan beriringan keluar apartemen menuju penjual kaki lima di depan rumah sakit.
__ADS_1